
Langit kota Jakarta tampak mendung. Awan tebal berwarna gelap mendominasi, sehingga memberikan kesan kelabu di awal musim penghujan tahun ini. Merri dengan langkah gontai mencoba menyemangati dirinya agar bersikap biasa saja. Dia tidak mau orang-orang di sekolah memperhatikannya. Akan tetapi, mimpi
yang ia peroleh semalam masih membayang di benaknya. Gadis yang berada di ruang
ICU dan makhluk mengerikan yang menelan jiwanya. Sungguh.Merri tidak ingin kembali ketempat itu lagi.
“Kenapa aku sesial ini?” dia memukul keningnya dengan pelan.
“Itu takdirmu, terimalah. Itu takdirmu, terimalah.Itu
takdirmu, terimalah. Itu takdirmu, terimalah.”
Merri menerima suara bisikan yang saling bersahutan. Suara itu sangat dekat, seperti ada yang membisikkan di daun telinganya. Saat ia
menoleh ke kiri dan kanan, tidak ada siapa-siapa. Kecuali, sosok yang terus berdiri di dekat tiang bendera. Sosok sama, yang terus mengintainya sejak pertama datang ke sekolah ini.
Tidak mau memiliki pekara dengan makhluk satu itu, Merri segera mempercepat langkah kakinya menuju kelas. Namun, ada hal lain yang lebih
mengejutkan menunggunya. Di dalam kelas ia telah disambut dengan pemandangan
yang beda. Sebuah buket bunga berwana putih dan kartu ucapan bewarna putih tertata
rapi diatas mejanya.
Apakah ini tradisi sekolah ini? pikir Merri. Ia merasa canggung dengan sambutan yang tidak biasa. Tidak berlama-lama, pikiran Merri
akan segera berubah. Saat ia mengangkat surat beramplop putih itu, disana tertulis nama MIKHA, bukan namanya.
"Ooo Mikha." dia ingat bangku yang ia tempati ini sebelumnya di tempati Mikha.
Merri meletakkan surat itu di tempat semula. Walau tidak paham apa maksud dibalik buket bunga bewarna putih ini. Merri mengagumi kecantikan bunga itu. Mungkin ada siswa lain yang diam-diam naksir kepadanya.
Saat Merri menoleh kesekitar, ia tidak melihat siapa-siapa selain siswi yang duduk di pojok belakang yang masih satu baris dengannya.
Merri ingin menanyainya mengenai bunga ini, ia tidak ingin ada kesalah pahaman nantinya dengan si pemberi bunga.
“Permisi, kamu tau siapa yang naroh bunga ini?” ia mulai mendakti siswi itu. Siswi yang duduk
itu masih menundukkan kepalanya. Sepertinya ia sedang membaca buku pelajaran yang ia buka di atas pahanya.
“Maaf, kamu tau siapa yang naroh bunga disana?” Merri mencoba menanyainya kembali.
Hening.
Gadis itu hanya menunduk. Merri berjalan agar bisa lebih dekat dengannya. Namun langkahnya segera terhenti saat ia melihat tagname di
seragam siswi itu tertulis nama “MIKHA.”
“Ooo kamu Mikha, maaf, aku duduk di bangkumu kemaren. Kamu boleh duduk disana, aku akan pake bangku yang lain.” Jelas Merri.
“Merri, kamu ternyata udah sampe juga?”
Merri segera menoleh ke depan kelas. Arinda ternyata sudah berdiri di sana. Merri melihat Arinda juga membawa buket bunga bewarna
putih. Dengan wajah tampak sedih, Arinda meletakkan buket itu di meja yang
sama. Arinda memejamkan matanya sesaat. Satu bulir air mata menetes di pipinya.
Setelah persekian menit, ia membuka matanya, seperti yang di lihat Merri, Arinda baru saja berdoa.
"Tapi untuk apa?" fikir Merri dalam hati.
“Mikha...” Merri hendak menunjukkan jika Mikha ada disini. Namun mulut Merri lansung bungkam saat ia menoleh di meja bangku belakang. Bahwa disana tidak ada siapa-siapa. Gadis itu hilang. Barulah Merri sadar jika yang barusan bukanlah
manusia.
“Iya, Mikha, selama ini dia duduk di bangku ini. dia teman sebangku aku.” Arinda menjelaskan dengan wajah masih sedih.
“Kenapa dengan dia?” tanya Merri. Matanya terus melirik ke belakang bangku kosong itu.
“Aku tidak tau. Semalam aku dapat kabar jika dia sudah sembuh, tapi tiba-tiba saja penyakitnya kumat. Orang tuanya membawanya di rumah sakit, tapi malam itu di ternyata malam terakhir dia.” Jelas Arinda, bulir-bulir air mata kembali jatuh dan membasahi pipinya.
"Bunga ini awalnya untuk ngerayain kalau dia udah bisa masuk sekolah lagi. Tapi ternyata jadi hiks.. ini bunga perpisahan!" Arinda meneteskan air mata. Sangat Jelas Arinda terpukul sekali akan kepergian Mikha.
Merri tidak bisa berkata apa-apa. Sebuah kotak pandora terbuka di benaknya. Satu bayangan muncul. Kejadian semalam. Seorang gadis yang
di siksa makhluk menyeramkan hingga makhluk itu menelannya. Merri mematung. Ia
__ADS_1
lihat bangku kosong yang belakangnya, siswi dengan nametag bernama MIKHA duduk
dan menatapnya. Wajah pucatnya, sama persis dengan pasien yang ia lihat semalam.
"Aku belum mati...!" bisik makhluk itu dengan suara serak.
.
.
.
.
Hari ini langit mengaum. Melepaskan keluh
kesalnya dalam bentuk gerungan tidak jelas. Kilat terus menyambar, membuat langit kota terlihat yang gelap semakin mencekam, seolah ia mengancam para manusia dengan
kehebatannya. Di bawah langit yang tidak bersahabat itu, jenazah Mikha di
kuburkan. Semua teman kelasnya hadir melihat proses pemakaman. Hari itu, wali kelas mereka sengaja mengosongkan jadwal belajar demi bisa melihat Mikha untuk terakhir kalinya.
Sebanding dengan langit yang meronta dan bersedih, pemandangan di pemakaman pun juga terlihat sama. Arinda, Karin, Fitri dan Tito melihat bagaimana sang Ibunda Mikha, Tante
Ira meraung. Beliau tidak ikhlas dan terus menangis. Bahkan ia meronta saat jenazah
itu mulai ditutupi tanah pemakaman.
“MIKHA... jangan tinggali mama, nak. Mama gak mau pisah sama kamu.” Raung Tante Ira. “MiKha... Mikha bangun... Mikhaaaa...!” tante Ira
bahkan di pegangi dua orang agar tidak merusak proses pemakaman.
Suaminya, Pak Randi juga menahan dan memeluk istrinya. Ia tampak sedih, namun dengan sikap
dewasa, ia berusaha bersikap lebih rasional.
“Ira, orang yang mati tidak akan hidup lagi. Ikhlaskan Mikha, ikhlas ya...!” ia berusaha menenangkan Istrinya yang bersikap kekanakan.
“Tapi Pah... Mikha belum mati, Mikha itu belum mati...!!” mimik wajah sangat yakin. Dia terpukul, tapi memalingkan wajah dari kenyataan yang tampak di depan mata.
“TIDAAAAKKK!!!” Tante Ira masih bersikeras. Dimata Arinda dan kawan-kawan pemandangan itu sungguh sangat memilukan.
Mereka pernah bertemu beberapakali dengan orang tua Mikha. Semasa hidup, mereka pernah bermain bersama almarhum. Mikha anak yang sederhana dan ceria. Di kelas ia juga anak yang aktif dan pintar. Terutama saat pelajaran yang berkaitan dengan hitungan. Kadang sebelum ujian
harian matematika, Arinda dan kawan-kawan suka belajar bareng dengan Mikha di rumahnya. Tante Ira senan tiasa membuatkan cemilan seperti gorengan atau kue bolu kukus agar tamu anaknya betah dirumah.
Melihati Mikha yang tiba-tiba pergi dan tante Ira
yang tidak ikhlas, membuat hati mereka tersayat-sayat. Sedikit banyak mereka juga di landa rasa bersalah. Perasaan itu juga membuat mereka juga ikut menangis.
“Mikha, maafin kami ga terlalu sering lihat kamu di rumah sakit.” Fitri berucap dengan suara kecil. Ia terisak. Arinda memeluk Fitri. Karin yang juga tidak kuasa ikut memeluk dua sahabatnya.
Tito menundukkan kepala, ia menahan agar tidak memecahkan bendungan airmata yang semakin menggunung di kedua bola matanya. Namun perasaan sakit paling dalam, rasa
penyesalan yang sangat besar, bendungan itu jebol, Tito menumpahkan air mata.
Beberapa teman kelas lainnya pun juga merasakan hal yang sama.
Isak tangis pemakaman itupun di sambut limpahan air hujan yang membasahi tanah sirah. Doa di lantunkan dan angin kencang menyambutnya dengan kasar, seolah mereka menolak. Tapi sekali lagi, manusia hanya sibuk akan kesedihannya. Tidak sadar jika suatu hal aneh telah menimpa gadis malang yang
terbungkus kain kafan tersebut. Ketika tubuh telah di tanam di ke dalam tanah, maka semua urusan yang ada di duniapun juag telah berakhir. Tapi bukan untuk kasus MIKHA.
.
.
.
Jauh dari luar pintu pemakaman, Merri memperhatikan kesedihan itu di dalam bis. Ia tidak berani turun. Satu matanya menagkap
bayangan gelap disana dengan mata merah. Ia duduk di atas pemakaman Mikha,
tersenyum penuh kemenangan, menari-nari diatas kuburan Mikha. Sosok itu, sosok
yang sama saat ia lihat di rumah sakit. Ia yang menelan Mikha, dia yang membuat
Mikha menjalani sakaratul maut yang tidak wajar. Dan dia juga yang membuat Merry tidak berani keluar dan menghadiri upacara pemakaman itu.
__ADS_1
“Kau tau, aku seharusnya belum mati.”
Merri menoleh ke samping. Siswi dengan tagname Mikha duduk disampingnya. Rambut hitam yang terurai panjang itu membuatnya terlihat sangat menakutkan di mata Merri.
“Dia.” Siswi itu menunjuk keluar jendela, tepat di acara pemakaman, “Dia merebut kehidupanku.”
Merri menoleh keluar. Dia melihat sosok menyeramkan itu. Kali ini sosok itu tengah mengikuti kemana rombongan keluarga hendak
meninggalkan makam.
.
.
.
“Mikha sakit apa?” tanya Merri kepada Tito.
Semua siswa sudah kembali di bis sekolah dan dalam perjalanan pulang. Arinda masih terlihat berkabung. Ia duduk bersama Fitri yang
juga masih menangis. Karin lebih terlihat tabah berusaha menguatkan dua temannya. Sedangkan Tito yang duduk di kursi paling belakang dan kebetulan duduk di samping Merri hanya melamun sambil memutarkan hpnya.
Merasa di ajak bicara, Tito memasukkan hanphonenya. Dia melihat wajah pucat Merri.
“Katanya Tipes.” Jawab Tito. “Dia sebulan ga masuk.” Lanjut Tito, suaranya terdengar gemetar. “Sebulan ga sadarkan diri.” Mata Tito kembali
berkaca.
Karin mendekati Tito dan Merri. “Udah, lu jangan nangis. Doa yang banyak buat Mikha.” Karin menepuk pundak Tito pelan.
“Tapi anehnya, sebulan masuk rumah sakit, dalam keadaan koma, dokter bilang dia gejala tipes kan.” Seorang siswa angkat suara. Nametag
nya menyebutkan namanya Agus. “Tapi kalian tau kan kalau Mikha sempat sadarkan diri dan di bawa pulang?” lanjut Agus.
"Maksudnya?" tanya Karin. Semua mata tertuju ke siswa bernama Agus.
"Mikha sempat sadarkan diri, lalu bapaknya minta dia dirawat dirumah saja agar bisa lebih di perhatikan lagi dan dekat dengan keluarga. Anehnya, sehari dirumah, Mikha tiba-tiba kejang dan panas tinggi, dia di bawa kerumah sakit dan seketika di hari itu juga Mikha meninggal dunia di ruang UGD." jelas Agus.
"Berarti Mikha belum seratus persen sembuh dong?" tanya Karin. Arinda dan Fitri juga tertarik untuk mendengarkan. Sebab Arinda juga mendapat kabar yang sama.
"Ya sepertinya, tapi yang lebih aneh lagi. Di saat bersamaan usaha bapaknya Mikha juga semakin berkembang." kali ini Agus mendapat respon tatapan aneh dari teman-temannya.
"Hubungannya apa coba penyakit sama usaha resto bapaknya?" Karin menodong pertanyaan, dia tidak bisa terima cerita Agus yang terkesan di buat-buat.
“Soalnya kakak gue kariawan sana juga. Dulu itu hanya tempat makan kecil aja. Punya lima kariawan, terus dalam waktu singkat punya lima
puluh kariawan trus buka cabang dimana-mana. Seluruh pulau Jawa tau kali resto
bebek bakar bapaknya Mikha. Itu dalam
waktu sekejap loh, kan aneh.” Jelas Agus.
“Tapi ga ada sangkut pautnya sama penyakit kali.” Karin merasa bingung.
“Itu kan pendapat gue aja. Lagian gua heran aja kenapa orang koma sampe sebulan, trus dokter ga tau penyebabnya. Lalu tiba-tiba sadarkan diri. Lalu tiba-tiba kejang-kejang. Trus tiga hari yang lalu salah satu pekerja yang ada dirumah orang tuanya Mikha juga kesurupan. Menurut
kabarnya hantu yang masuk meneror pak Randi, mereka minta tumbal.” Lanjut Agus.
“Ih, cerita horor mana lagi lo baca?” tanya Karin.
“Gue kan udah bilang, kakak gue pernah kerja disana, gua ga ngarang.” Agus bersikukuh akan pendapatnya.
Siswa lain yang mendengar mulai bersuara, riuh. Mereka mempercayai perkataan Agus. Walau tidak masuk akal, setidaknya ada pembicaraan
seru yang pasti akan menghebohkan SMA Kasanova.
"Pasti bualan." gumam Arinda. Fitri mengangguk setuju.
“Kalian berdua, kalau tidak ada obrolan yang lebih
berkualitas, lebih baik diam saja.” Perintah bu Tatum yang membuat mulut siswa yang seweleran yang sibuk beragumen tertutup rapat.
Merri menyandarkan tubuhnya kembali. Ia senang jika tidak ada orang yang menggubris kematian Mikha. Agus benar, kematian Mikha memang tidak
wajar. Seseorang telah menyerangnya secara tidak adil. Ia tau siapa yang akan bertanggung akan hal ini. masalahnya, Merri tidak tau bagaimana cara
menghadapinya, saat ini diam dan bersikap tidak tau apa-apa adalah jalan terbaik dan paling aman untuknya.
__ADS_1