
Merri berdiri di depan rumah berdisign minimalis sekaligus trendi. Rumah dengan halaman yang tidak luas
namun asri menunjukkan siapa pemilliknya. Ya, dia depan rumah kepala sekolah bernama Lira. Rumah yang rapi dan tampak sejuk di pandang dengan tembok bewarna putih gading dan pintu serta jendela bewarna coklat tanah. Bukan hanya itu, halaman rumahnya juga di tata sebagus mungkin sehingga taman ukuran mini terlihat kondusif sebagai penyejuk mata dengan mahkota bunga bewarna putih. Merri mengagumi rumah ini.
“Ini hanya tampak luar saja.” Ucap Arinda yang membaca raut wajah merona Merri.
“Hmm maksudnya?” tanya Merri.
“Bukan apa-apa.” Jawab Arinda. “Yok masuk!” ajaknya membukakan pintu dan dua gadis itu masuk ke dalam rumah tersebut.
Persis yang di bayangkan Merri, rumah ini memang tampak sempurna. Dekorasi dan tatanan di dalamnya sekali lagi mencerminkan siapa pemilik rumah ini. Tapi saat kaki Merri memasuki rumah tersebut, ia merasakan hal lain. Rumah ini dan isinya memang terlihat hebat, tapi bukan dengan keadaan mereka para penghuninya. Rumah ini sangat gelap dan suram.
“Kamu duduk di sini dulu ya, aku ambil minum dulu di dapur. Kamu mau minum apa?” tawar Arinda. Dia mempersilahkan Merri duduk di sofa yang ada di ruang TV.
“Bebas aja.” Jawab Merri.
“Oke!” seru Arinda yang kemudian melangkah ke dapur rumahnya.
Selagi di tinggalkan Merri memperhatikan disekitar ruangan itu. Di ruang tengah rumah ini, selain terdapat
tv tabung dengan layar cukup besar, disana juga di pajang banyak sekali foto keluarga dan piagam penghargaan. Wajah dan nama kepala sekolahnya, Lira yang paling mendominasi. Merri mendekatkan diri dan memperhatikan foto yang di pajang dalam figura kecil. Foto kekompakan keluarga kecil dengan satu anak mereka.
“Bukannya dia punya kakak? Kenapa hanya ada satu anak?” pikir Merri. Dia ingat curhatan Arinda kemarin siang.
“Karena aku memang tidak dianggap.” Seru suara yang menyahut di dibelakangnya.
Merri segera membalikkan badannya. Gadis berwajah pucat itu berdiri tepat di belakangnya. Merri sempat
kaget. Terlebih lagi gadi itu terlihat pucat dengan gaun tidur bewarna biru langit motif bunga tulip kecil.
“Kau siapa?” tanya Merri.
Gadis berwajah pucat itu hanya diam dengan raut wajahnya yang tanpa ekpresi. Satu pemandangan aneh lagi yang
__ADS_1
menarik perhatian Merri adalah dengan benda yang ia pegang.
Gadis itu memegangi sutas tali besar berukuran panjang di kedua tangannya. Tanpa banyak bicara ia berjalan meninggalkan Merri. Ia berjalan dengan langkah lemah dan tak bertenaga. Merasa khawatir, Merri berniat membantu. Terlebih lagi rumah Arinda memang tidak ada siapa-siapa lagi untuk diminta tolong.
“Arinda?” panggil Merri. Namun tidak ada balasan sahutan.”Mungkin Arinda di kamar mandi.” Merri mengikuti gadis yang terlihat seumuran dengannya itu. Ia juga menitih anak tangga, sedangkan gadis tersebut sudah berada di lantai atas.
Saat Merri berhasil mengikutinya, si gadis tersebut sudah berdiri tepat di pintu kamarnya. Ia menaiki kursi
belajar lalu mengikat tali itu di ventilasi pintu kamar. Merri dapat menebak apa yang berikutnya terjadi, gadis itu berniat bunuh diri dengan menggantungkan dirinya dengan tali yang ia bawa.
“Jangan, jangan lakukan itu!” tahan Merri. Ia mendekati si gadis tersebut. Tapi seolah tidak terlihat dan mendengar, gadis itu tetap melanjutkan aksinya. “Kamu tidak boleh seperti ini!” Tahan Merri yang memegangi kakinya agar tidak lompat dari kursi tersebut. Tapi tetap saja, gadis itu tidak bergeming. Dia tidak mengindahkan larangan Merri. “ARINDAAA...!” Merri panik, dia memanggil Arinda. “Arindaaa!!!” ulang Merri. Tak ada jawaban, tak ada sahutan. “Kemana Arinda?” pikir Merri sekarang ketakutan.
Gadis itu menendang kepala Merri sehingga ia jatuh terduduk. Ia melanjutkan aksinya, menerjunkan dirinya dari pijakan kursi dan membiarkan dirinya mati berlahan dengan leher menggantung di tali.
“TIDAKKK!!!” pekik Merri.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba pintu kamar yang berada di sebarang kejadian tersebut terbuka. Arinda keluar
dari sana. Wajahnya agak beda, dia terlihat muda dengan rambut agak pendek, tubuh agak lebih kecil dengan seragam SMP.
“ALISYAAA...!!” teriak lelaki yang tidak lain adalah Ajar, ayah dari Arinda. Ia segera menurunkan tubuh kaku yang menggantung itu. “Denyut nadinya masih ada. Bunda segera telfon ambulans!”
Lira sejak kapan dia datang. Dia menahan tubuhnya yang begetar hebat. Bulir-bulir air mata jatuh dipipinya, tapi
tidak ada tindakan apa-apa yang ia lakukan selain memeluk tubuhnya sendiri dan duduk tersungkur karena melihat satu putri gantung diri.
Merri mundur dari drama keluarga itu. Ia menyadari jika sebenarnya ini adalah kejadian yang sudah lama berlalu.
Ia hanya di giring sang gadis yeng merupakan kakak Arinda yang telah mati dua tahun yang lalu. Inilah sumber dari kegelapan rumah ini. Sebagai orang yang mengakhiri hidupnya sendiri, arwah Alisya masih terperangkap dirumah ini.
“Merri, lo ternyata disini?” Panggil Arinda mendapati Merri menatapi pintu kamar kakaknya yang tidak pernah
terbuka lagi.
__ADS_1
Merri menyeka air matanya segera. “Hmm.. aku tadi... hmm mau cari toilet.” Merri berusaha bersikap biasa saja.
Tapi wajahnya yang terlihat pucat dan kacau membuat Arinda cemas.
“Lo kenapa? Lo nangis?” tanya Arinda.
“Ga, ini ga kenapa-kenapa kok. Tadi kelilipan.” Jelas Merri bohong, “Toilet kamu dimana?” tanya Merri.
“Oo ya, sini!” Arinda menunjukkan arah kamar mandi keluarganya.
Merri segera kesana dan mencuci wajahnya agar kembali segar. Pemandangan itu sungguh membuatnya ketakutan dan remuk. Kenapa dia bisa melihat itu semua? “Sejak kapan aku bisa melihat sejauh itu? Apa ini gara-gara Rohi atau apa?” pikir Merri.
“Merri? Lo masih lama?” panggil Arinda.
“Oo ya!” Merri memutuskan untuk menanyakan hal itu ke ibunya nanti. Kali ini ia harus bisa bersikap normal.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G
Merri diajak bermain di kamar Arinda. Kamar yang rapi dan juga wangi aroma terapi. Dekrorasi kamar itu juga
simpel, ada satu kasur, meja belajar, meja rias yang serab di cat putih dan satu tanaman hias hijau terawat di depan jendela yang agak besar itu. Dari sana matahari cukup masuk dan membuat kamar ini terang dan nyaman. Di tambah lagi kamar ini bewarna biru laut sehingga membuat mata menjadi teduh melihat sekitarnya.
“Lu suka tanaman juga?” tanya Merri. Ia melihat tanaman hias yang memiliki daun yang segar.
“Bukan gue sih, ini kakak gue.” Jelas Arinda. Dia memperhatikan mahkota bunga yang mulai mekar. "Kaktus-kaktus ucu ini juga punya dia." tunjuk Arinda ke kaktus mungil yang tersusun rapi.
“Katanya kamu lihat lansung kakakmu waktu meninggal, dia meninggal karena apa?” tany Merri. Arinda menoleh.
Dia merasa tidak nyaman, “Apa dia sakit ? Aku hanya kepikiran aja, soalnya aku tidak melihat foto kakakmu di ruang keluarga.” Jelas Merri lagi. Dia berusaha agar tidak di curigai Arinda.
“Hmm... maaf ya Mer, aku belum bisa cerita. Nanti kalau sudah siap akan aku ceritakan.”
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// Bersambung...
__ADS_1