Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
50 Menangkap si Pencuri


__ADS_3

“Gerbang? Dimana jalan keluarnya?”


Langkah kakinya terus menapakkan tanah yang sama. Tempat yang sama. Walau berlari kearah selatan atau utara, ia selalu berakhir di titik yang sama. Seolah ia terjebak pada taman labirin tanpa ada jalan keluar. Namun ini bukanlah taman labiri, melainkan sebuah tempat yang sangat ia kenali. Dimana sudah dua tahun ia singgahi.


Enam hari dalam seminggu. Dari pukul tujuh hingga pukul dua siang. Tapi entah kenapa, untuk malam ini ia tersasar di gedung tempat ia bersekolah selama ini.


“Hah.. hah... hah..!!” nafasnya mulai terengah-engah. Dahinya mulai berkeringat.


“Kenapa gue selalu disini?” pikirnya. Ia meraih ransel di punggungnya dan membuka isi ransel hitamnya. “Apa gara-gara boneka jailangkung ini?” pikirnya lagi.


Ia tatap boneka itu lekat-lekat. Sepintas boneka beruang yang sudah di kotor itu tampak biasa saja. Namun siapa sangka, di balik bentuknya yang sangat biasa, ada banyak bencana yang telah ia bawa. Termasuk untuk anak ini. i.


PLAK!!


Satu pukulan mengenai punggungnya. Dia merasakan benda tumpul melayang dan mengenai punggungnya dengan keras. Rasa sakit dan kaget itu menjalar menuju batang leher hingga kepala hingga ada rasa pening. Ia kehilangan keseimbangan dan juga kesadaran yang membuatnya berakhir pingsan di depan kelas dua IPA A.


“Dasar maling!” ucap pria tua itu dengan wajah kesal. “Kau pikir dengan mengenakan seragam sekolah aku bisa di tipu ha?” lanjutnya. Si penjaga sekolah bernama Asep itu membalikkan wajah pria yang ia pukul. Kemudian ia terkejut dengan wajah dan nama yang menempel di seragamnya.


“Agus? ******, saya kira maling.” Pak Asep terlihat cemas. Dia tidak mau terlibat masalah dengan wali murid. Dia takut di tuntut orang tua siswa dan jabatannya sebagai penjaga sekolah bisa hilang. Wajah panik itu kemudian terfokus kepada benda asing yang menampakkan diri dibalik tas Agus.


“Ini? bukannya yang bikin heboh siang ini?” pikir pak Asep. Matanya kembali berbinar. “Saya bisa serahkan ini kepada bu Lira. Mainan jailangkung yang di pakai anak-anak kelas dua IPA itu, hehehe dengan begitu saya dapat bonus lagi... hehehe!!” serunya dengan wajah penuh kemenangan.


Pak Asep melihat Agus yang masih belum sadarkan diri. Dia tampak tidak cemas lagi, bahkan bisa di katakan tidak peduli. Pak Asep hanya membawa boneka Jailangkung tersebut dan pergi meninggalkan Agus.


Dalam keadaan masih pening dan mata berkunang-kunang Agus membuka matanya. Dia berusaha melihat keadaan sekitar. Ia melihat punggung pak Asep yang melangkah menjauhinya. Agus mengucek matanya dan memfokuskan penglihatan di malam yang minim cahaya tersebut. Pak Asep membawa boneka terkutuk dan itu membuat Agus terlihat ketakutan.


“Paaak...!” suara Agus serak memanggil pak Asep. “Pak Asep!!!” panggilnya lagi. Pria tua sama sekali tidak bergeming. Ia terus melangkah semakin menjauh. Agus berusaha berdiri dan mencoba mendekati pak


Asep.  Saat tubuh tinggi itu berdiri sempurna, langkah kakinya tiba-tiba saja membeku. Agus tidak mengalami keram. Dia hanya gemetar ketakutan dengan apa yang ia lihat. Niat hati hendak menghalang pak Asep untuk membawa boneka tersebut, namun apa daya, sebuah makhluk mengerikan tengah berjalan mengiringi langkah pria tua itu. Dia sangat tinggi dan besar. Kakinya juga seperti kaki gajah dengan kuku panjang di setiap jarinya yang tanpa alas. Badannya tidak gembrot namun memanjang keatas dengan rambut teurai panjang ke bawah. Walau hanya nampak punggung, aura ngeri dan kejam makhluk itu sangat tajam. Di tambah lagi dengan tanduk dan juga lidah menjutai panjang yang menyapu lantai dan meninggalkan noda merah di lantai yang di pijak.


“Ap apa itu?” gemetar Agus kembali terduduk lemas. Ia memeluk kedua kakinya yang gemetar hebat.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


Semilir hembusan lembut menyentuh tengkuk leher Merri. Rasa dingin itu kembali membuat bulu kuduknya merasa merinding. Ia tau, ini bukan perbuatan angin. Makhluk yang menyerupai Mikha itulah pelakunya. Sedari tadi, makhluk itu terus mengekorinya. Ia sengaja mengatur jarak dan menyamai langkah dengan Merri.


Gerbang kedua sekolah yang nyaman lansung berubah mencekam. Gerbang yang hanya di lewati beberapa langkah saja, tiba-tiba menjadi perjalanan panjang dan cukup lama.  Merri mulai bingung. “Apakah ini pengaruh dari makhluk yang ada di belakangnya?”


Merri mengepal tangannya. Ia berusaha lebih tegar dan juga lebih kuat. Kelemahan adalah makanan mereka, untuk itu Merri sebisa mungkin menyembunyikan perasaan cemas apalagi takut. Ia tidak mau makhluk di belakangnya mengacaukan semua rencananya.


“Huft...!!” Merri menghembuskan nafas dan kemudian membalikkan badan. “Kau!” Ucap Merri dengan tegas. Namun makhluk yang ingin di sapa lansung menghilangkan diri begitu saja. Merri menoleh arah kiri dan kanan, depan dan belakang. Ia mencari keberadaan makhluk tersebut. Tapi gelap, tidak ada satupun tanda kehadirannya.

__ADS_1


“Kemana perginya?” pikir Merri, “Kenapa hilang gitu aja?” pikirnya lagi.


Tidak mau bingung terlalu lama, ia segera mengambil kesempatan itu untuk pergi meninggalkan gerbang tersebut. Ya, hanya dalam beberapa langkah saja ia berhasil melewati gerbang kedua sekolah.


“Berarti benar, makhluk tadi mengacau konsentrasi aku. Tapi kenapa dia menghilang begitu aja?” pikirnya. “Sudahlah Merri, mari kita kekelas dan ambil boneka jailangkung biar ibu bisa musnahin boneka itu.” Ucapnya kepada dirinya sendiri.


Gadis bertubuh kurus dan mungil itu segera menyusuri koridor sekolah. Dia berjalan secepat langkah yang ia bisa agar sampai di kelasnya sendiri. Dan lagi, dia tidak mau ketahuan sama penjaga sekolah yang terkenal sangat setia kepada kepala sekolah.


Saat melewati beberapa kelas, tanpa ia sadari ada beberapa pasang mata yang mengintainya. Merri tersadar saat melewati dua IPS A. Dia melihat seseorang yang berdiri di balik jendela kelas tersebut. Sebuah bayangan seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam. Langkah kaki Merri terhenti. Dia ingin memastikan dengan sosok di balik jendela tersebut.


Benar saja, Merri tidak melihat bayangannya sendiri. Melainkan seseorang yang memiliki postur tubuh tinggi. Ia memakai jubah berwarna hitam yang menutupi seluruh badan hingga wajahnya.


“Ini kah manusia berjubah yang di maksud Arinda?” pikir Merri. Dia berdiri mematung melihat sosok itu. Di balik jendela tersebut, makhluk tersebut juga diam memperhatikan Merri. Kemudian tangan kanan dari makhluk itu terangkat dan menunjuk lurus kearah kanan. Tepat arah kelas Merri.


Merri tersadar. Ia menggelengkan kepalanya agar semua lamunannya hilang. Dia harus kembali fokus akan tujuannya. Merri melanjutkan langkahnya. Namun mata itu masih mengawasi jendela dari tiap kelas. Kali ini


setiap jendela kelas, makhluk yang sama berdiri dengan posisi yang sama dan menunjuk ke arah yang sama pula.


Raut wajah Merri menjadi cemas. Sifat makhluk itu semakin tidak jelas. “Mereka di pihak siapa?” pikir Merri was was. Langkahnya semakin cepat dan Merri bisa di katakan berlari. Hingga saat ia mendekati kelasnya, dia mendapatkan pemandangan yang tidak kalah mengejutkan.


“GYA!!” teriak Merri kaget dan hampir kehilangan keseimbangan. Badannya terduduk di lantai dan mendapati penampakan yang mengenakan seragam sekolah, duduk jongkok memeluk lututnya dengan erat. Mendengar teriakan Merri, sosok tersebut mendongak kepalanya dengan sangat hati-hati. Dia juga terlihat sama ketakutannya.


“Merri?” tanya Agus balik. Dia memperhatikan kepala hingga kek kaki Merri. Wajah itu sangat pucat, pasti dia ingin memastikan gadis di depannya seorang manusia atau kuntilanak sekolah. “Merri... Merri... Merri bawa gue keluar dari sini, bawa gue keluar dari sekolah ini. Gue tidak bisa keluar dari sini, tolong!!!!” Ucap Agus yang lansung berdiri. Wajahnya panik dan ia gusar.


“Kenapa kamu ada disini?” tanya Merri.


“Gue belum pulang Mer, gue ga bisa pulang. Sekolah ini udah kayak Hotel Overlook. Gue ga mau mati disini.”


Merri menyeringitkan dahi. Dia tidak paham apa yang sedang di bicarakan Agus.  Merri kembali memperhatikan pintu kelas. Ia membiarkan Agus meracau tidak jelas.


“Mer, lu mau ngapain lagi?” tanya Agus.


“Aku mau ambil barang yang tinggal.” Jelas Merri datar.


“Barang yang tinggal?” Agus sedikit bingung. Kemudian matanya tertuju kepada papan yang menggantung di atas pintu kelas. “Kelas dua IPA A? Siaaallll kenaga gue benci dengan kelas ini?!” pikir Agus kembali panik.


Merri mengabaikan Agus. Dia mencoba membuka pintu kelas. Sayangnya pintu itu tidak bisa di buka. Sepertinya semua kelas sudah di kunci oleh penjaga sekolah.


“Mer, gue tadi dari sini, tapi kenapa gue masih berada disini? Lalu tepat disini juga gue dipukul sama si Asep brengs*k itu. Sialnya dia bukan selamatin gue tapi pergi bawa boneka jailangkung si Karin...”


“Bawa apa?” tanya Merri.

__ADS_1


“Boneka jailangkung.” Jawab Agus.


“Lalu, bapak itu sekarang dimana?” desak Merri.


“Kenapa, kenapa lo emosi?” tanya Agus dengan wajah datar. Dia agak kaget melihat gadis pendiam ini tiba-tiba meninggikan nadanya.


“Agus, jawab gue, kemana bapak tua itu pergi?!” desak Merri.


“Gue ga tau...!” jawab Agus.


“SIAL!!!” bengis Merri. “Kenapa dia mengambilnya? Pria tua sialan!!” ucap Merri kesal.


“Awalnya boneka itu di tangan gue, mau gua balikin ke Karin lagi biar kita balikin ke rumah Mikha. Soalnya boneka itu kita ambil di rumah Mikha.” Jelas Agus.


Merri melihat Agus dengan tatapan tajam. “Boneka itu sudah diserahkan oleh keluarga Mikha ketangan nyokap gue. Dengan kata lain, kalian bukan mengambil barang Mikha lagi, melainkan benda  berbahaya yang seharusnya di jaga oleh nyokap gue! Sampe sini gue paham, kenapa boneka itu sampai ditangan kalian, itu karena


lo dan Karin telah mencurinya dari nyokap gue yang memang ada urusan dengan bapak Randi, ayak MIKHA!!” jelas Merri yang termakan emosi. Dia menjelaskan itu semua dengan nada tinggi sambil menunjuk batang hidung Agus. "Jika terjadi hal-hal yang mengerikan menimpa orang tua itu, maka lo yang harus tanggung jawab, paham!"


Tubuh boleh kecil, wajah boleh sendu. Sekali-kali emosi, Merri mampu membungkam mulut Agus, membuat mata pria berbadan tinggi itu terbelalak dan menggetarkan semua otot kekarnya. Hal yang paling menakutkan dari kemarahan Merri adalah, bola mata sebelah kiri Merri yang  seketika berubah menjadi lebih kuning terang dengan pupil meruncing seperti jarum jam.


BLAM


BLAM


BLAM


Tiap-tiap pintu kelas di sekitar koridor terbuka dengan keras. Merri dan Agus memperhatikan fenomena aneh sekaligus mengerikan itu. Sepengetahuan mereka, semua pintu kelas pasti telah terkunci. Namun kenapa


semua terbuka secara mendadak. Bergantian di mulai dari kelas yang berada di ujung hingga pintu di kelas mereka. Di saat bersamaan, sebuah cahaya merah menyala di setiap ambang pintu tersebut.


“Ap ap apa ini?” tanya Agus ketakutan.


Merri diam dan memperhatikan semua pintu kelas yang telah terbuka itu. Dia juga sama penasarannya. Terlebih dengan sosok bayangan yang akan keluar dari kelas tersebut.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


“Wahai Merriku, apakah kau memanggilku?”


“Jangan sekarang, Rohi!”


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung...

__ADS_1


__ADS_2