Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
26 Sebuah Fakta dan Cerita


__ADS_3

“Merri? Kamu bicara dengan siapa?” tanya Arinda.


Merri membulatkan matanya. Dia merapatkan kedua bibirnya, seolah menyesal dengan yang baru ia ucapkan. “Baru saja di bilang Mbah untuk hati-hati aku udah teledor seperti ini. dari semua orang yang ada di SMA ini kenapa harus Arinda sih?” pikir Merri dengan penuh penyesalan.


Arinda masih menunggu, mata bulat gadis itu tampak sangat penasaran. Hal itu membuat Merri harus memutar otak, “MENGUSIR TIKUS KECIL, BILANG SAJA SEPERTI ITU.” usul gema suara di telinganya. Itu suara Rohi. Merri mengerutkan dahinya. Dia tidak suka ada makhluk lain ikut campur denngan urusannya, terlebih ia adalah Rohi.


“Ga ada apa-apa kok, aku Cuma ingat dialog dari sinteron aku tonton semalam.”Merri berbohong dengan cara dia sendiri.


“Memang kamu nonton apa?”tanya Arinda.


“Sinteron yang ibu tirinya jahat itu loh.” Seru Merri sedikit kikuk. Walau sudah agak berani menghadapi para hantu, Merri tetap lah gadis kaku dan canggung jika bertemu dengan teman lainnya. Suaranya juga kecil dan lemah.


“Ooo aku juga nonton semalam.” Seru Arinda. “Tapi kok tumben telat?” tanyanya kemudian.


“Hmm aku tadi nganterin nenek ke bandara.” Jelas Merri. Lalu dia baru sadar akan suatu hal, Arinda di luar kelas padahal saat ini masih pergantian mata pelajaran “Kamu kenapa tidak masuk kekelas?” sekarang Merri yang penasaran.


“Ooo hehee..” bergantian, kali ini giliran Arinda yang tertawa dan gestur tubuhnya menjadi kaku, “Aku bosan aja di kelas.” Jawab Arinda sekenanya. Merri hanya mengangguk pelan, namun dalah hati ia masih penasaran. Melihat reaksi Merri yang terdiam dengan tatapan penuh tanda tanya, Arinda lansung di rangkul tangannya, “Yuk


kekelas, sebelum guru yang ngajar berikutnya masuk.” Ajak Arinda yang menarik Merri. Merri mengikuti langkah Arinda.


Saat itu ia menoleh kebelakang, ada bayangan hitam yang tengah mengintainya. Merri meyakini jika Rohi masih membututinya. Dia kemudian menoleh kedepan, berpura-pura tidak melihat dan mendengar makhluk itu adalah


satu-satunya jalan terbaik.


.


.


.


.


Sesampainya di kelas, semua mata menoleh kearah Merri dan Arinda yang baru saja masuk. Bahkan, mata Karin begitu sadis meihat Merri yang bisa akrab dengan Arinda. Rangkulan tangan Arinda membuat Karin terbuang. Dia


membencinya, begitu juga dengan Fitri yang juga agak janggal melihat pemandangan itu.


Tito yang duduk di bangku Arinda karena mengobrol dengan Karin dan Fitri juga menoleh. Kali ini pandangan Tito hanya tertuju kepada Merri. Sejak di tolong Merri kemaren Tito merasa berhutang budi dengannya. Cowok berkaca mata ini juga penasaran dengan gadis berutubuh kurus dan kecil ini. Dibenaknya Merri tidak selemah apa yang terlihat.


“To, minggir!” usir Arinda dengan suara dingin.


Tito tersadar, ia lalu segara beranjak menuju bangkunya yang ada di bagian paling belakang di barisan keempat di kelas. Tapi matanya tetap menoleh ke Merri. Gurat penasaran itu terbaca jelas di wajahnya. Hal itu membuat Merri


secara tidak lansung merasa di awasi.

__ADS_1


“Jadi ini yang terjadi jika aku membantunya tanpa ia minta tolong?” batin Merri. "Aku sungguh menyesal."


"Pagi anak-anak!!" Gurupun memasuki kelas. Kali ini pelajaran matematika.


"Pagi Pak!" seru semua siswa dengan nada agak lemah.


“Kita kuis!” ucap guru yang membuat seisi kelas terperanjat kaget. Seruan dengan suara lemah itu seketika heboh setelah mendengar satu kata sadis tersebut "KUIS"


“HAA KUIS?? Janganlah pak!”


“Saya beri dua soal, nilainya akan saya gabungkan dengan ulangan harian.” Jelas guru tersebut.


“Pak kok gitu sih...??!!”


Meski semua siswa tidak mau, namun titah guru tersebut tidak bisa di tolak. Kuis mematikan bagi semua siswa itu tetap di laksanakan dalam waktu sepuluh menit. Saat itu semua orang berkonsentrasi. Kelaspun menjadi hening.


Merri menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia memecahkan soal dengan sederet angka itu dengan beberapa baris rumus yang memanjang kebawah.


“Saya selesai, Pak....” Ucap Merri.


TUIIIIIINGGGG


Merri terdiam dengan apa yang ia lihat didepan. Mikha berdiri di depan kelas. Tepatnya di depan papan tulis yang menunjukkan dua soal matematika.


dari wajah separoh hancur itu. Selain itu, sepasang mata Merri juga menangkap satu benda asing yang di pegang Mikha. Tangan kanan gadis itu tengah memegang sebuah benda yang  terbuat dari kayu dan dimana disatu ujungnya tertancap batok kelapa dan ujung yang adalah bilah bambu yang terlihat runcing.


Berlahan dia mengangkat benda itu, yang kemudian membuatnya semakin terlihat jelas. “Jailangkung.” Lirih Merri ketakutan.


Mikha mengangkat boneka jailangkung. Senyum kebencian itu terus menggores di wajahnya. Menyeringai seolah senyum itu semakin melengkung panjang dan merobek pipi hingga hampir mengenai kelopak matanya. Saat boneka itu sejajar dengan kepalanya, Mikha melototkan mata. Tapi tatapan itu tidak tertuju untuk Merri melainkan untuk orang yang duduk disampingnya.


“SRAAAAAAKKKKKKK!!!” pekik setan Mikha yang kemudian berlari kencang menuju Arinda yang tidak sadar apa-apa. Bersamaan dengan itu juga, tubuh Merri membatu. Ia tidak bisa menggerakkan tangannya, memiringkan kepalanya agar menleh ke arah Arinda sangat sulit. Bahkan suaranya hilang. Hanya air mata yang jatuh kepipinya.


“SRAAAAKKK!!” sedangkan setan Mikha berlari menuju Arinda dan menusukkan boneka jailangkung ke kepala Arinda.


Boneka itu tertancap dan membuat Arinda mematung. Cairan hitam keluar dari kepala Arinda. Merri ingin teriak, tapi tetap saja, suara di tenggorokannya hilang.


“Mau bermain denganku, Merri?” tanya Mikha dengan senyum mengerikan itu.


Merri hanya membelalakkan matanya, dia jelas ketakutan dengan apa yang dia lihat. Nafasnya tersengal-sengal. Namun bayangan Mikha lansung hilang seperti debu saat seorang siswa jalan dan melintasi hantu tersebut.


Barulah keadaan kembali seperti semula. Merri dapat menggerakkan tubuhnya. “Ha..!” begitu juga suaranya. Namun bayangan Mikha seolah meninggalkan kesan penuh misterius di benak Merri. "Padahal hampir semua anak kelas ini ikut memainkan jailangkung, kenapa Arinda yang di teror. Dia tidak ikut serta sama sekali." pikir Merri.


“Lo udah kelar?” tanya Arinda yang sepertinya juga baik-baik saja. Kepalanya masih utuh dan bersih dari noda hitam. Arinda menggaruk kepalanya, "Kok pusing ya?" gumamnya tiba-tiba.

__ADS_1


“Ooo Agus, tumben kamu selesai pertama..” seru Pak guru.


“Iya pak, belajar Pak.” Jawab agus sekenanya sambil tersenyum ramah.


“Bagus...!!” ucap si guru bangga. “Ada lagi yang sudah siap?” tanya guru.


“Susah Pak!!” seru siswa lain.


Merri memperhatikan Agus yang kembali ke bangkunya. Merasa di perhatikan Agus hanya melempar senyum kearah Merri. Merri tidak membalas, ia segera menyerahkan lembar jawabannya kemeja guru.


Kelaspun berakhir. Sebelum meninggalkan kelas, Pak Guru mengumumkan hasil kuis hari ini. Nilai sempurna di raih Merri dengan skor 100 sedangkan Agus hanya memiliki skor lima puluh aja.


“Percuma nomor satu selesai kalau poinnya hanya separoh!” ledek Pak guru.


“Maaf pak.” Sahut Agus salah tingkah. Dia hanya tertawa terbahak-bahak. Merri kembali menoleh ke arah Agus. Dia menaroh curiga, tapi Merri belum tau masalah apa itu.


.


.


Arinda hanya mendapat skor enam puluh delapan. Hasil akhirnya meleset tapi penggunaan beberapa rumusnya masih terbilang betul. Arinda menatap nilai itu dengan perasaan sedih. Dia meremas kertas jawaban itu lalu membuangnya ke tong sampah. Dia tidak ingin nilai itu berada di tangan Lira. Bisa mati di ceramahi dua jam kalau Lira sampai tau.


Arinda memang tidak begitu hebat di beberapa mata pelajaran. Dia lemah di matematika ataupun Fisika. Saat tes akademik di awal tahunnya dulu, Arinda memang lebih cocok di kelas Ilmu Sosial atau Ilmu Bahasa tapi karena ibunya seorang yang berpengaruh Arinda harus mengikuti kelas IPA. Padahal kelas mana saja pasti bagus. Namun tahun 2000 kasta jurusan itu ada, terutama dimata para wali murid.


“Arinda...?” sapa Fitri yang mendekati Arinda. “Kamu dapat berapa?” tanya Fitri kepo.


“Oo udah gue buang kok, gue lupa berapa, lo berapa Fit?” tanya Arinda.


“Delapan puluh, Tito sembilan delapan, kalau Karin Tujuh puluh.” Jelas Fitri terlalu lengkap membuat Arinda semakin gondok. “Kita rencana mau belajar bareng di rumah aku, kamu mau ikut ga?” tanya Fitri, entah kenapa Fitri terdengar sangat hati-hati.


“Di rumah lo? Sama Karin juga?” tanya Arinda.


“Iya.” Angguk Fitri, inilah yang di takuti si gembul manis ini.


“Gue udah ada janji, sama Merri.” Ucap Arinda dengan antusias. “Merri...!!” Arinda memanggil Merri di dalam kelas, lalu menarik gadis itu kembali kehadapan Fitri. “Gue udah janji belajar bareng sama Merri.” Ucap Arinda tersenyum puas.


Merri hanya diam dan ekspresinya terlihat bingung dengan apa yang di lakukan Arinda.


“Kita pergi dulu ya..dadah!!” ucap Arinda yang merangkul tangan Merri. Mereka meninggalkan Fitri yang hanya melongo.


“Makin akrab aja.” Pikir Fitri.


BERSAMBUNG 🖤

__ADS_1



__ADS_2