
Tidak ada yang seantusias Karin. Dia memang paling terbaik jika melakukan suatu acara. Ibarat boss, kata-kata dan permintaannya akan
selalu di setujui teman-temannya, walau mereka tau ide Karin tidak ada yang benar. Mereka bisa saja menolak, tapi Karin tidak akan menerima penolakan itu.
Gadis itu akan terus berusaha hingga kemauannya dapat di penuhi. Seperti malam ini, dia sudah berhasil membawa sepuluh orang temannya termasuk Fitri di dalam mobil. Demi bisa mengangkut semua siswa sebanyak-banyaknya ia rela meminjam mobil kijang bapaknya.
“Kita udah sampai.” Seru Karin. Dia membuka pintu mobil penumpang dan menyilahkan satu-persatu teman kelasnya untuk turun.
“Gila lu, niat juga.” Puji Agus dia sungguh tidak percaya jika Karin segila ini.
“Ini belum seberapa, dia hampir mau minjam metro mini biar bawa orang lebih.” Sela Fitri yang cembetut.
“Apaan sih, Ndut. Tenang, pas pulang gua traktir bakso depan noh.” Seru Karin.
“Bodo amat.” Cemberut Fitri.
“Ooya teman-teman, nanti kalian duduk melingkar di dalam kelas, jadi kalian seperti tameng kita, nanti yang pegang jailangkungnya hanya
tiga orang.” Jelas Karin kepada sepeluh anggotanya.
“Serius? Jadi kita ga perlu megangin?” beberapa orang terlihat senang. Lagian siapa mau megang boneka angker kek gitu.
“Ya, cukup gue Tito sama Agus aja.” Tambah Karin. Semua sisiwi tersebut sumringah. “Yok kita kekelas, rapiin meja dulu.” Ajaknya.
Semua siswi kelas dua IPA C berjalan menyusuri koridor. Agus juga menarik Tito yang tampak kurang antusias. Dia mulai berfikir, apakah ini
benar? Tapi melihat teman-teman yang sudah banyak berkumpul, dan Agus yang begitu yakin, dia hanya bisa pasrah.
“Apapun yang terjadi, semoga tidak membahayakan siapapun.” Pikir Tito.
Ia menyusul teman-temannya yang sudah berada di kelas. Dari arah kejauhan. Pak Asep terus memantau. Ia memagang celurit tajamnya. Matanya bak elang tidak melepaskan pandangan sedikitpun.
Sekolah sudah lengang, tidak ada siapa-siapa lagi, kecuali dia yang memang tinggal di kawasan tersebut. Pak Asep dengan celuritnya siap
menyusul para siswa setelah mereka semua masuk ke dalam kelas. Berlahan dan tidak mengeluarkan suara, pria tua yang tampak sangar itu melangkah dengan yakin.
“Malam ini adalah malam panennya? Nikmati pesta seorang diri.” Seru pak Asep dengan senyum penuh kejahatan.
.
.
.
.
Formasi telah di atur sesuai rencana. Semua meja dan bangku telah di geser pinggir dan belakang. Siswi lain termasuk Fitri duduk melingkar
di lantai kelas. Mereka saling berpegangan tangan. Tito mematikan lampu kelas,
lalu Karin menyalakan lilin-lilin merah dan membentuk lingkaran yang sekiranya
pas diisi mereka bertiga. Suasana terlihat mencekam. Hanya kegelapan dan lilin
sebagai sumber pencahayaan. Fitri mulai terlihat gelisah. Agus meletakkan atribut, seperti kertas dan boneka jailangkung.
“Issshhhh serem!!!” semua berseru katakutan pas melihat boneka jailangkung.
“Ssstt!!” Karin memberi intruksi diam.
“Kita mulai ya teman-teman.” Ucap Karin. “Kalian ikutin apa yang aku ucapkan, lalu pada lafalan ke tiga kita ucap barengan ya? Disini diingatkan kembali, jangan ada yang bercanda, jangan ada yang kabur, jika kalian takut, pegang erat-erat tangan teman yang ada disamping. Jika kalian
kabur, aku tidak menjamin kesalamatan kalian nantinya. Kita ikuti aturan mainnya dari awal hingga selesai.” Jelas Karin.
Semua mengangguk. “Mari kita mulai.” Ajak Agus.
“Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesta
__ADS_1
kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak diantar.” Karin memulai ucapan mantra dengan suara yang lantang. Tapi setelah ia berhenti tidak ada yang mengikuti, Karin menoleh dan ia tampak kesal “Ikutin!” perintah karin.
Dengan terpaksa; “Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesta kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak
di antar.”
“Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesta
kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di antar.”Karin mencoba sekali lagi yang diikuti teman-temannya.
“Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesta
kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak diantar.”
Kali ini mereka mengucapkannya bersamaan;
“Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesta
kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di antar. Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesta kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di antar. Jelangkung jelangsat,
disini ada pesta, pesta kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di antar. Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesta kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak diantar.”
Angin malam itu berhembus cukup kencang. Beberapa poster dan hiasan dinding di kelas dibuat bergoyang oleh ulahnya. Begitu juga dengan api yang menyala diatas lilin. Beberapa siswa menyadari jika angin malam itu
pertanda tidak bagus, mereka menggenggam tangan satu sama lain dengan sangat
erat. Namun bukan berarti mantra itu berenti begitu saja.
“Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesta
kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di antar. Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesta kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di antar. Jelangkung jelangsat,
disini ada pesta, pesta kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di antar.”
Kali ini bukan hanya angin, petir juga mulai menyambar diluar sana. Musim penghujan memang, tapi jika suasana sudah seperti ini pastinya membuat semua jantung siswa yang ada di kelas termasuk Karin berdegup sangat
kencang. Tapi mantra itu masih terus di ucapkan.
“Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesta
kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di antar.”
“Gya!!”
“Mama!”
“AYAM eh ayam.” Bahkan ada yang latah. Karin Agus dan Tito berusaha konsentrasi. Malam ini malam yang pas. Hujan deras dan petir sebuah
suasana mencekam yang pas. Dalam setiap film horor yang mereka tonton, hantu atau setan biasanya selalu muncul di suasana seperti ini.
“WOI!!!” suara berat yang menyapa mereka membuat mereka berhenti. Arah suara itu tidak jauh, sangat dekat dengan mereka. Begitu juga
bayangan hitam tinggi yang menutupi wajah Karin.
Semua mata siswa terarah kesana, tepatnya di depan pintu kelas. Sosok itu terlihat hitam dan dia memegangi sebuah celurit yang semakin membuat siswa mati ketakutan.
“KALIANG NGAPAIN??????!!!” teriaknya.
“GYAaAAAAAAAAAAAAA!!!!” Karin, Fitri dan siswa lainnnya teriak sejadi-jadinya. “Seeetaaann” mereka yakin jika setan telah terpanggil.
Seklar yang berada di depan yang juga dekat dengan pintu kelas di nyalakan. Sosok itam itupun terliat nyata. Ya dia seorang pria tua
yang tak lain adalah pak Asep sang penjaga. Hanya saja ancamannya sungguh
menakutkan. Bisa di simpulkan semua siswa semakin ketakutan, takut memiliki
masalah dengan pria tua tampang bengis itu.
__ADS_1
“SAYA LAPORKAN KEPADA BU LIRA JIKA KALIAN TIDAK PULANG SEKARANG JUGAAAA!!!” ancam pak Asep.
Secara otomatis, semua kaki disana lansung kabur.
“AMPUN PAK!!”
“PEACE LOVE AND GAUL PAK!!!”
“Kalian jangan pergi dulu!!!” teriak Karin. Tapi tidak ada yang mendengarkan. Ibu Kepala sekolah mereka lebih menakutkan dari hantu.
“YA udah pulang ajalah.” Tito juga menyerah.
“Loh, To!” panggil Karin. “Agus?”
Manusia itu ternyata lebih dulu kabur dan mungkin sudah naik mobil bareng yang lainnya. Alhasil Tito yang muak liat Karin yang mau sok berani lansung menarik tangan gadis itu. “Jangan pernah punya masalah sama pak Asep, dia mata-mata bu Lira.” Ingat Tito.
“Pergiiii... sana pergiiii!!! Di suruh pulang malah
kesekolah. Di suruh sekolah malah bolos. Anak zaman sekarang!” dumel pak Asep.
Kelas mulai hening. Pak Asep melihat kondisi kelas Berantakan. Ada lilin dan juga sebuah boneka jailangkung. Pak Asep hanya
geleng-geleng kepala dengan apa yang dia lihat. “Anak zaman sekarang, masih aja
main hal ginian.” Dumelnya lagi sambil memungut sampah-sampah itu. Lilin-lilin
dan juga kertas karton putih. Diatas kertas itu tertulis satu kata : “HAI’”
Tapi pak Asep sudah meremukkan kertas itu dan akan menjadi barang bukti yang sangat berharga untuk di berikan kepada guru dan kepala
sekolah. Dengan begitu, gajinya pasti akan di naikkan akan hasil kerja kerasnya
kali ini.
“Pak asep!” sapa seseorang.
Pak Asep segera menoleh, Tidak ada siapa-siapa. Semua kosong. Pria tua itu segera meninggalkan
kelas. Saat lampu kelas di padamkan, satu sosok sedang berdiri di tengah-tengah kelas. Dimana Karin, Tito dan agus duduk. Dia mengenakan seragam sekolah, dengan kaki yang pucat dan tidak menapaki lantai tentunya. Wajah itu tidak kalah pucat, dengan mata merah dan rambut kusut yang tidak teratur. Sepintas wajahnya
seperti wajah Mikha. Tagname seragam
itu juga menyematkan nama Mikha. Tapi percayalah, dia bukan Mikha. Dia hanya
penganggu yang mencoba mencari perhatian siswa di sekolah.
Berbahayakah dia? Aku belum yakin.
.
.
.
.
Tapi setidaknya Merri kembali terbangun dari mimpi buruknya. Dia segera melihat kearah langit-langit kamarnya. Matanya terbelalak, begitu
juga dengan hela nafas yang terdorong kuat. Keringat dingin membasahi wajah
hingga rambutnya. Ia segara duduk dan memegangi liontin yang selalu menggantung
di lehernya. Ia coba manarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.
Setelah keadaannya kembali tenang, sepasang mata Merri melihat ke arah jendela kamarnya. Dari luar, jendela itu meninggalkan jejak
sebuah telapak tangan. Ia membaca garis dari jejak yang agak kotor itu.
__ADS_1
“Hmmm...!!” Sepertinya hari ini, dia akan mengalami hari yang cukup rumit.