Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
EPILOG


__ADS_3

Pertaman Merri Dan Rohi sudah terjalin sejak Merri masih dalam bentuk janin.


Merri kecil dengan pipi menggemaskan tampak sibuk mengurus boneka-bonekanya. Dia senang bermain boneka dan berbicara dengan mereka semua. Usianya menginjak empat tahun, namun imajinasinya semakin tampak nyata.


“Yang ini namanya Alinda, dia cuka bikin baju cantik. Duitnya banyak. Ini teman Alinda, namanya Tito, dia cuka bikin Alinda ketawa. Tapi Tito cibuk, dia ngajal di cekolah." Merri memperkenalkan dua boneka kelinci. Lalu ini Kalin dan Ajus, meleka cuka beli baju ke Alinda. Kalin ini kelja di kantolan. Kalo Ajus juga kelja di kantolan. Meleka satu kantol. Cuka beli baju camaan." Merri mengambil dua boneka beruangnya. Kemudian ia juga mengambil satu boneka lumba-lumba berwana merah jambu. "Telus ada Iti, dia cuka bawain macakan yang enak buat alinda. Dia punya toko Loti cama coklat. Iti cuka makan coklat. makanya dia gemuk.” Ucap Merri yang menyusun boneka karakter hewan tersebut di atas kasur. Dari semua bonek yang ia punya, dia paling suka boneka bertampang galak dengan ukuran besar.  Boneka itu ia kasih nama “Lohi kamu bagusnya jadi apa ya? Gimana jadi ibu doktel aja?”


“Merri kau tau ini apa?” Tanya Rohi mengangkat sehelei daun kelor.


“Aku tidak tau Lohi, Aku masih kecil.” Jawab Merri kecil dengan pipi yang menggemaskan.


“Kau harus tau!”


“Tak Mau!”


“Hmm.. kenapa iblis seganas dan menyeramkan seperti aku harus menjaga bayi? Kalau bukan karena bapakmu, mana aku mau!” dumel Rohi.


“Ayah? Ayahku ciapa?”


“Ayahmu itu pria lemah, dia katanya mendalami ilmu bela diri dan juga ilmu anti kebal, tapi malah mati di tabrak truk. Hmm!!:


“Oo ya?!” tanya Merri.


“Ya, karena kita teman baik.” Jawab Rohi, “Tapi sekarang dia sudah mati. Inilah resiko berteman dengan manusia. Mereka berumur pendek. Bikin males.”


“Ooo kacihan!” jawab Merri polos.


“Kok nggak sedih?” tanya Rohi.


“Kan ada Lohi. Aku tuh kecepian. Ibuk cibuk belajal macak. Katanya ibu mau buka lumah makan."


“Ibumu juga sama payahnya. Kamu harus jadi paranormal yang hebat ya. Biar aku bantu.”


“Nggak mau, Meli mau jadi doktel.”


“Ngomong aja belum becus mau jadi dokter aja.”


“Lohi lohi lohi.”


“Ya apa?!”


“Main petak umpet yuk! Lohi yang jaga aku yang ngumpet.”


“Kenapa harus aku?”


“Karena aku masih kecil, masih empat tahun. Lohi halus


ngalah sama anak kecil.”


“Terserah kamu. Cepat sembunyi aku hitung sampe sepuluh.”


“Jangan, celatus aja atau nggak celibu!!”

__ADS_1


“Udah buruan aku hitung sampe sejuta kalau kamu mau.”


“Gya hahahahaa... aku ngumpet!!!!” Merri kecil berlari meninggalkan kamarnya. Membiarkan Rohi menutup mata dan menghitung angka semaunya.


“Satu sepuluh, lima puluh, seratus, lima ratus, seribu, seribu lima ratus, lima ratus ribu, sembilan ratus ribu, sejuta. Oke... aku cari ya!!”


Rohi mencari Merri di sekitar kamarnya. Setelah di pastikan tidak ada ia segera keluar dari kamar gadis kecil bewarna merah jambu itu.


“Merri... dimana kau?” tanya Rohi dengan suara rendah dan pelan. Memang terdengar menakutkan, namun bagi Merri itu suara Rohi yang paling ia sukai.


“Merri.... sembunyi dimanakah dirimu...!!!”


“Hmm kenapa aku larut dalam permainan yang bodoh ini. Seharusnya aku bisa mencarinya dengan indra penciumanku. Dasar, lama-lama main dengan anak kecil membuat jadi lemah.” Gumam Rohi.


Tiba-tiba pintu rumah tersebut terbuka. Mbah Uti dan Tejo tampak sibuk. Mereka dengan terburu-buru masuk kedalam rumah sambil membawa sebuah benda yang di bungkus dengan kain hitam yang penuh dengan motif


mantra-mantra. Merasa penasaran, Rohi pun mencoba mengikuti mereka.


Mbah Uti memasuki ruang prakteknya yang kemudian di ikuti Tejo. Rohi juga segera melompat keatas Loteng rumah dan mencuri dengar disana.


“Ini lah jawaban setelah bertapa tujuh hari tujuh malam di dalam gowa keramat.” Ucap Mbah Uti dengan suara berbinar.


Tejo hanya diam dan mendegarkan. Dia tipekal orang yang tidak suka banyak bicara.


“Dengan begini saya akan menjadi kekal dan tidak akan terkalahkan. Terlebih lagi saya mulai muak dengan mulut-mulut pria tua yang sok tau itu. Padahal dia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ilmu yang saya


pedalami.”


“Secangkir darah perawan murni dan berikan kepada benda ini, maka semua energi baik ini akan lansung menyerap di dalam tubuhku. Terlebih lagi aku dan Maerta telah melakukan sebuah perjanjian. Perjanjian yang


berlansung selama aku dan dia masih hidup di dunia ini. Hehehe!!!”


Dari arah tirai jendela, pemandangan langit biru lansung berubah menjadi gelap. Anginpun juga berhembus dengan cepat. Bersamaan dengan itu satu sosok bayangan hitam pun masuk kedalam ruangan mbah Uti. Ia menyembunyikan bentuk aslinya di balik tirai bewarna hitam. Tepat disamping Merri kecil yang sedang bersembunyi.


Rohi yang mencium aroma bencana lansung bertindak. Terlebih jarak Merri dan makhluk tersebut juga dekat.


“MAERTA... selamat datang!” sambut mbah Uti.


Maerta yang mengenakan jubah hitam melihat kearah Rohi yang tengah mendekati tirai. Ia lansung menjetikkan jarinya sehingga Rohi di dorong kekuatan angin dan tubuhnya terpelanting kebelakang.


“Kurang Ajar!!!”


“LOHI!!!” teriak Merri yang keluar dari persembunyiannya.


“Tejo urus iblis berandalan itu, sementara biar saya urus anak ini. Mbah Uti lansung mengambil Merri dan membisikkan sebuah mantra sehingga gadis itu tertdiur di pangkuan neneknya. Sementara Rohi diikat dengan sebuah tali bewarna merah oleh Maerta sehingga tubuhnya tidak bisa digerakkan.


“Kurang Ajar!!” bentak Rohi.


“Tejo buang jauh iblis itu.” Perintah Mbah Uti. “Saya akan menyegel memori Merri mengenai dirinya. Setidaknya Merri tidak akan ingat siapa iblis kecil ini untuk selama-lamanya.”


“TIDAKK SAYA PASTI AKAN KEMBALI...INGAT ITU WANITA TUA!!!”

__ADS_1


“Coba saja!”


Kehebohan singkat itu berakhir begitu saja. Rohi dibuang jauh dari kediamannya. Entah kemana Tejo melempar kendi berisi Rohi yang malang. Sedangkan Merri tertidur pulas di kamar tempat Mbah Uti bersemedi. Maerta terus memperhatikan Merri.


“Aku tidak bisa membunuhnya, dia cucuku.” Ucap Mbah Uti seolah tau apa yang ada di pikiran Maerta. “Mungkin nanti ketika dia sudah bisa melawanku. Selama itu belum terjadi kau belum boleh menyentuhnya.”


Maerta lansung pergi begitu saja. Sedangkan mbah Uti hanya bisa diam dan mengelus rambut sang cucu. "Dia penerusku sekaligus akan menjadi musuhku. Dilema sekali."


Seketika mata Merri berlahan membuka. "Mbah Uci...!" panggil Merri dengan suara serak baru bangun. Dia mengucek matanya. "Ibu mana? Aku kangen ibu...!" rengek Merri kecil.


"Aduh sayang-sayang. Sini mbah gendong. Kamu baru bangun. Tadi habis main apa?" tanya mbah Uti.


"Hmm Main... main... main lari-larian." jawab Merri lupa-lupa ingat.


"Sama siapa?" tanya mbah Uti.


"Sama Arinda, Tito, Karin, Fitri dan Agus." jawab Merri antusias.


"Mereka siapa?"


"Teman-teman aku. Kan mbah Uti yang beliin buat aku." jelas Merri.


"Oh ya?" mbah Uti terlihat bingung.


"Itu loh, boneka kelinci, boneka beruang sama lumba-lumba. Total ada lima." seru Merri mengacung empat jarinya.


"Hahaha!" Mbah Uti hanya tertawa. Dia lega yang di maksud Merri adalah boneka yang ia beli. "Selain itu ada lagi?" tanya mbah Uti.


"Ada!"


"Siapa?"


"Pak Tejo!!!" tunjuk Merri ke pak Tejo yang hanya tersenyum seperti biasanya.


"Hahaha... cucu pintar. Hmmm mbah jadi seneng. Kamu ngomongya udah gak cadel lagi ternyata."


"Ya dong aku kan pintarr kayak ibu."


Mbah Uti mengangkat Merri tinggi-tinggi. Di usia yang terbilang senja, ia masih memiliki tenaga yang segar dan bugar layaknya orang muda. Mbah Uti merasakan kenikmatan dari ilmu yang baru ia geluti dan ia belum puas dengan semua itu. Terlebih dia akan menghadapi takdir yang luar biasa. Takdir ketika cucu yang di timang-timang ini tumbuh dewasa dan kembali bertemu dengan pengasuhnya kembali. Namun sayangnya, untuk sementara keduanya sama-sama lupa akan hubungan erat tersebut.


PESTA JAILANGKUNG Era 2000 THE END


pesan buat kamu yang udah sampai di halaman ini... ya kamu... aku hanya bilang THANKU SO MUCH Ya!


Makasih atas suport dan komentar positif yang bermanfaat. Berkat kalian Pesta Jailangkung bisa terselenggara hingga selesai. Jika ada sumur di ladang, hati-hati sapa datu Sodaku lagi manjat tali sumur, nanti malah kecebur lagi di sumur.. (Maaf konsepnya salah) Jika ada sumur di ladang jagung, jangan ganggu boneka ladangnya ya, siapa tau itu si The Hust yang lagi nyari teman buat jahit topeng. (Maaf konsepnya meleset lagi)


intinya... makasih dan sampai jumpa di cerita bergenre horor/ comedi/ crime lainnya... See yaaa !!!



by

__ADS_1


Panitia pesta Jailangkung


__ADS_2