
Merri terlempar jauh, seingatnya, tubuh kecil gadis ini seperti di sapu angin yang kuat. Hanya saja ujung jari kaki dan tangannya terasa kesemutan. Dia tidak tau apa yang sedang ia alami saat ini. Namun saat sepasang matanya dibuka, ia tidak lagi menemukan ibunya. Ia tidak melihat tirai putih yang menggantung di ruang kesehatan. Dia tidak di atas kasur di ruang kesehatan. Dia tengah berdiri di tanah bewarna abu-abu tandus. Di bawah langit gelap dan awan hitam.
“Haiiiii Merri.....!” suara serak dan berat menyapanya dengan irama yang pelan dan membuat bulu kuduknya merinding.
Merri menoleh kesekitarnya, dia tidak melihat siapa-siapa. “Si siapa? A aku di dimana?” tanyanya dengan suara yang menggigil.
Didepannya, pasir itu tiba-tiba bergerak yang kemudian terbang setinggi badannya. Kumpulan pasir itu membentuk satu bayang dan kemudian dengan sempurna membentuk sebuah wujud anak manusia.
“Haa...!!!” Merri mundur selangkah. Dia juga tidak menyangka jika sosok di depannya adalah Mikha. Tepatnya wujud Mikha dengan seragam yang rapi dan tanpa luka. Sangat berbeda dari apa yang biasa di perlihatkan
disekolah.
“Kau benar Mikha?” tanya Merri. Dia belum pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya.
Gadis itu mengangguk pelan. Lalu dia menunjuk kebawah. Merri mengikuti arah yang dimaksud. Sebuah kuburan.
“Sejak kapan?” pikir Merri. Beberapa menit lalu dia melihat tanah tandus. Namun sekarang disekitarnya adalah tanah yang di padati dengan batu nisan. “Bukankah ini pemakaman umum... Mikha, jangan-jangan...!”
Merri membaca nama yang tertera di atas batu nisan itu. “MIKHA!” Merri kemudian melihat sipemilik makam dengan wajah takut namun juga penasaran. “Kamu tidak mau bangkumu saya ambil?” tanya Merri.
“Aku tidak pernah mati!” ucapnya dengan wajah datar. Anehnya air mata mengucur begitu saja.
“Mikha, maksud kamu apa?” tanya Merri yang ketukan.
“Merri, kau melihatku. Di rumah sakit, kau melihatnya. Aku tidak mati!” ucap Mikha dengan wajah datar, air mata itu semakin deras mengalir membasahi mimpinya. “Tapi!!!” Mikha menekan ucapnnya. Wajah itu terlihat
bengis. Kulit wajahnya juga mengering, seiring itu air mata itupun juga mengental dan mengeluarkan warna itam pekat. “KENAPA KAU MEMBIARKANKU MATI?!!!!” Suara itu semakin besar dan nyaring, begitu juga wajahnya yang semakin bengis seolah ingin memakan Merri.
“GYAAA!!!” Merri teriak ketakutan.
Hal yang paling ia benci adalah kulit wajah Mikha yang mengering itu pecah dan mengelupas, sehingga memamerkan wajah yang separoh rusak dan hancur. Di balik jari-jarinya, Merri melihat bola mata kirinya yang
menggantung dan sekitarnya ada lendir bewarna merah jambu yang meleleh dan jatuh ketanah.
“Merri tatap mataku!!!!!” tangan kurus Merri di genggam erat. Rasa dingin lansung menjalar seolah bersentuh dengan es, tapi ini beda, es yang sangat lengket dan berlendir.
“Gyaa lepaskan!! Saya tidak tau apa yang anda maksud!!” Merri berusaha menghindar. Tapi genggaman itu cukup kuat.
“Kau melihatnya dan kau bisa melepaskannya, tapi kau lebih memilih lari dan membiarkan makhluk busuk itu memakanku!!!” Jelas Mikha dengan suara yang sangat marah.
“Maafkan sayaaa!!!” Merri meerang katutakan dan dia menangis. Meronta tidak membuatnya terlepas, makhluk itu sekarang menggeggam kedua bahu Merri sehingga wajah menakutkan itu tepat didepan Merri.
“Gyaaa... huekss!!” Aroma busuk mengganggu indra penciumannya. Aroma amis yang sulit di jelaskan, aroma itu membuat perutnya lansung kacau dan ingin muntah. “Hueeekss!!!”
Tanpa rasa peduli Mikha yang mengerikan itu memaksa Merri untuk melihatnya, “Kau harus menerima akibat dari perbuatan mu Merri. Sebagai gantinya aku akan memakai ragamu biar bisa membalas dendam kepada mereka semuaa!!!” Jelas Mikha.
“Hueeeksss!!!!” Merri tidak berdaya, bisa jadi dia tidak mendengarkan saat ini. Tubuh kecil itu semakin lemas saat ini. Belum lagi aroma busuk yang membuatnya pecah konsentrasi. “Lepas sa-hueekkkss!!!!”
Mikha tersenyum jahat. Ketidakberdayaan Merri menjadi kesempatannya untuk merasuki raga gadis itu. Tapi saat ini, Hantu Mikha hanya sejenis kerdil licik yang tidak ada harganya. Terlebih di dunia entah berantah ini. Manusia sejenis Merri yang terlahir agak berbeda memiliki aroma khas bagi penghuni lainnya. Bisa dikatakan Merri sasaran yang empuk atau mangsa yang gurih. Yang jelas dari arah berjauhan, satu makhluk yang sudah mencium
aroma Merri segera terbang dan menuju mereka.
Dia memiliki rupa yang aneh dan tak kalah menakutkan. Wajah menyerupai
__ADS_1
anjing dengan tindik berbetuk segitiga di wajahnya, lehernya yang panjang
bersisik itu tak henti-hentinya menari di udara, begitu juga lidah panjang
bewarna hitam itu, dintara mulut yang ditumbuhi taring halus yang tajam, lidah
bewarna hitam pekat itu tak henti menjulur seolah ia merasakan aroma Merri yang
begitu nikmat. Dengan cekatan pemilik tubuh bawah yang mirip kadal itu segera
meluncurkan taring kakinya menuju Mikha.
Disana, sebelum Mikha melancarkan aksinya untuk merasuki
Merri, ia sudah di hajar oleh makhluk tersebut.
Gyaaa!!!
Mikha terjorok, matanya kirinya nyaris copot. Beberapa kulit
wajahnya bahkan semakin terkelupas sehingga memamerkan tulang dan giginya.
“Siapa kau?!” teriak Mikha kesal.
“Rohi Cucu Tibbirr!” jawab makhluk itu penuh percaya diri
dengan memamerkan senyum sangat licik dan sangat jahat.
Mikha terlihat kaget seolah dia tau berhadapan dengan siapa.
“Kau hanya Jin kasta terbawah, beraninya kau berhadapan
serak mengerikan itu.
“SRAAAAAKKKKK!!!” Mikha teriak dengan suara yang terdengar
aneh.
“Tidak ada gadis yang berteriak seaneh itu, beraninya kau
meniru dengan cara terburuk!!!” ejek Rohi.
Sementara Merri yang sudah mengumpulkan tenaganya hanya
terduduk kaku melihat satu sosok iblis yang lebih besar darinya.
“Rohi cucu tibbir?” begitulah di benak Merri. Nama itu yang
dia dengar dari kumpulan lalat, lalau nama itu juga yang membuatnya akhirnya
jatuh pingsan.
“Sekarang pergilah sebelum kepala busukmu aku hancurkan!!”
ancam Rohi.
__ADS_1
Mikha pun kabur dalam kabut tebal itu. Walau sosok yang bau
busuk telah tiada, bukan berarti Merri terselamatkan. Justru wajah mengerikan
lainnya ini terlihat lebih berbahaya. Dunia manakah saat ini Merri berada.
.
.
.
.
Sementara di dunia manusia, Kusuma mengangkut tubuh kaku
Merri yang tidak sadarkan diri. Tanpa pamit dengan pihak sekolah Kusuma segera
membawa Merri kedalam mobil untuk segera di bawakan pulang. Arinda yang
kebetulan berada di parkiran mobil juga kaget.
“Tante, Merri kenapa?” tanyanya kaget.
“Sepertinya harus di obati!” jawab Kusuma sekenanya. Menjelaskan
sama saja buang-buang waktu. Saat ini nyawa putrinya dalam bahaya. “Tolong
bukakan pintunya!!” Perintahnya tegas.
Arinda mengitu perintah Kusuma. Gadis itu membuka pintu
belakang mobil sedan, lalu membantu Kusuma merebahkan tubuh Merri disana.
“Terimakasih!!” jawab Kusuma kepada Arinda dengan singkat.
Tanpa buang waktu lagi, mobil sedan itu lansung keluar dari
parkiran dalam satu putaran dan kemudian meninggalkan sekolah dengan injakan
gas yang sangat kuat. Mobil sedan yang terlihat antik dan tua itu melaju begitu
cepat dan menyisakan kabut di parkiran. Arinda menatap dan takjub dalam
beberapa detik.
“Keren!” bisiknya dalam hati. “Semoga Merri baik-baik saja!!”
ucap Arinda yang kemudian kembali dalam kesadarannya.~~~~
.
.
__ADS_1
.
.