Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
5 Kiriman


__ADS_3

Malam menjelang, menjadi raja di


dunia kegelapan. Ia menitih singgahsana sang surya yang akan mucul di saat


Fajar menjemput. Pada saat ini lah, semua jiwa mulai lelah dan memilih untuk


tidur. Melepaskan rasa penat agar besok bisa kembali beraktifitas seperti


biasanya. Namun, disisi lain, beberapa jiwa mulai terjaga, mereka mengeluarkan


taring untuk siap memangsa. Tentu tidak akan ada kisah manusia Srigala dan juga


Drakula yang haus akan darah. Yang ada, manusia yang haus akan nafsu dunia dan


dendam yang menumpuk di hati paling dalam.  Dengan sikap angkuh dan tamak seseorang, di


pastikan malam ini akan ada satu nyawa manusia lagi yang akan di pertaruhkan.


Seperti di kediaman rumah besar


dengan bangunan tua yang terlihat sepi. Kusuma kedatangan tamu yang sama sekali


tidak ia inginkan.


“Kusuma, maafkan saya bertamu


malam-malam.” Ia memasang wajah agak menyesal. Kusuma tau, itu hanyalah basa


basi belaka.


“Lansung saja ke inti, kali ini


maumu apa?” tanya wanita kepala empat dengan penampilan yang tidak biasa. Di


era dua ribu, ia masih setia mengenakan kebaya dengan atribut konde yang


menempel di kepalanya. Sebuah kesan yang menunjukkan jika dia memang wanita


yang tidak sembarangan.


“Kamu tau saja maksud dan


kedatangan saya. Ini yang saya suka darimu,  Kusuma.” Pria itu tertawa terbahak-bahak.


Kusuma tidak bergeming, wajahnya tetap tegas dan keras. Pria itu menghentikan


tawanya dan kemudian memasang wajah jahat.


“Haha...Saya ingin dia dan usahanya


hancur. Saya tidak suka ada pengganggu seperti dia.” Pria itu menyerahkan


selembar foto yang di belakangnya bertuliskan nama dan sebuah alamat.


“Tawaran apapun tidak bisa aku


tolak.” Jawab Kusuma. “Tapi, semua tindakan jahat ataupun baik memiliki


ganjaran yang setimpal.” Lanjutnya.


“Hahaha...!!” Pria itu tertawa,


dia paham apa maksud dan arah pembicaraan Kusuma. “Saya sudah siapkan.” Dia


memberi sebuah amplop yang berisikan sejumlah uang. “Cukup?” tanyanya.


“Bukan masalah uang.” Kusuma


kembali menegaskan. Pria tersebut terlihat bingung.


“Apa ini belum cukup? Atau perlukah


saya memberimu selembar cek kosong?”


Kusuma menggeleng. “Kali ini bukan


uang, melainkan hal lain. Sasaranmu yang sekarang cukup besar. Dia tidak


gampang di rubuhkan. Dia memiliki apa yang kau miliki juga. Dia memiliki


penjaga yang sama kuatnya denganmu. Jadi kau butuh pengorbanan yang cukup besar


agar penjagamu bisa lebih kuat darinya.” Jelas kusuma tegas.


“Apapun, akan aku terima


resikonya. Aku bukanlah orang yang bisa ditandingi. BIKIN DIA MENDERITA


KUSUMAAAAAA....!!” pria itu tertawa dan marah disaat bersamaan. Wajahnya terlihat


menyeramkan dengan gelak tawa yang menggema di tengah ruangan.


Sekali lagi, Kusuma tidak


bergeming. “Tidak ada kebahagiaan dari manusia serakah, kau akan mendapat apa yang


kau inginkan, dan kau akan kehilangan satu yang telah kau sia-siakan. Seperti


malam ini, kau tertawa dan marah di waktu bersamaan. Kemudian besok kau akan


menang sekaligus bersedih di waktu yang sama pula.”


“LAKUKAN SAJA KUSUMA, SAYA TIDAK


PEDULI DENGAN CERAMAHMU... TUNJUKAN KEAJAIBANMU. MENOLAK KAU AKAN MENDERITA.


ITULAH PERJANJIANMU DENGAN MEREKAKAN??” dia menekan Kusuma.


“Perintahmu tidak akan mampu aku


tolak.” Jawab Kusuma dengan wajah tanpa emosi.


Pertemuan itu berakhir. Pria itu


pergi meninggalkan ruangan tersebut. Kusuma yang mendapat titah lansung menuju


sebuah ruangan yang tersembunyi. Ia mengambil satu wadah yang terbuat dari


aluminium kuning. Wadah tua dan tampaknya sering di pakai, sebab terlihat agak kusam.


Diatasnya telah tersedia beberapa bahan ramuan, seperti bunga dan daun-daun


hijau, akar-akar serabut, seutas benang berwarna hitam yang terlihat seperti


rambut, matak katak, dan bunga melati.


Wadah itu ia bawa kesebuah


ruangan, dimana ia harus menuruni anak tangga. Tempatnya agak tersembunyi dan


terpisah jauh dari halaman belakang rumah. Kusuma harus melewati kolam renang


yang sudah lama tidak diisi air. Ia harus melewati kebun bunga yang lebih


terlihat sekelompok semak belukar. Lalu kemudian masuk kesebuah rumah mungil


yang sepertinya berguna sebagai dapur tungku. Di dapur itulah, ia melewati satu


pintu yang mengarahkannya kepada sebuah tangga yang akan membawanya kepada


ruang bawah tanah. Ia meniti satu persatu tanpa merasa takut. Bahkan ia


bersenandung membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kegelapan.


“Nana...nana...nanana...”


Angin membawa irama dari sandungan


khas sinden Jawa. Membiarkan suara itu bergema dan menguasai malam itu. semakin


jauh ia melangkah, semakin gelap tempat itu, maka angin pun semakin kencang


berhembus. Menggoncangkan ranting pohon sekitar rumahnya. Anehnya, suasana


angin ribut itu hanya terjadi di rumahnya saja. Seolah menggambarkan jika itu


bukan angin sembarangan.


Akhirnya kakinya menapaki anak


tangga terakhir. Pintu kayu yang disegel itu ia buka. Gelap itu pun berganti


dengan cahaya kuning kemerahan. Warna dari lampu yang telah menyala di ruangan


tersebut. Bukan ruangan yang besar. Hanya ukuran kecil, ukuran tiga kali empat


meter. Tanpa jendela, hanya fentilasi. Di bawahnya tergantung kepala bangkai


rusa yang telah di awetkan. Kepala kambing jantan, topeng-topeng dengan


berbagai ekspresi dan juga rangda.


Selebihnya benda-benda tua yang tidak bisa di pahami apa dan fungsinya.


Di tengah ruangan itu terdapat


meja kayu beralas terpal merah yang setiap ujung juntainya terukir motif


beraksara sangserkerta. Diatasnya juga terdapat beberapa piring dan wajan


bewarna kuning perak. Didalamnya ada berbagai ramuan. Bahkan disana kita bisa


melihat ada sisa kepala tikus dengan badannya entah tau dimana.


Kusuma bersenandung panjang.

__ADS_1


Membuat ruangan itu seakan panggungnya. Lampu berkelap-kelip, lilin yang padam


bergoyang yang lambat laut menyalakan lilin diatasnya. Kusuma duduk dibelakang


meja kayunya, lagu pun berakhir saat ia mendaratkan pantatnya di atas karpet


bewarna merah dan hijau.


Pintu kayu yang terhubung dengan


dimensi lain itu berguncang. Kusuma menarik nafas dalam. Ia tau, undangannya


telah tersampaikan. Dia (kau tidak akan tau siapa) datang. Pintu kayu terbuka


pelan, lalu kemudian tertutup. Kusuma menundukkan kepalanya, ia memberi salam


hormat kepada tamunya.


“Padamu kupersembahkan anggur yang


lebih merah dari buah saga, wangi dan juga manis. Teguklah persembahan dari


anak cucumu, dan biarkan kami melihat kebijaksanaanmu.” Kusuma bersujud. Batang


hidungnnya menyentuh karpet dan ia membiarkan dirinya seperti itu untuk sesaat.


Terlihat jelas, jika Kusuma sangat menghormatinya.  Tapi siapakah dia, Kusuma sendiri tidak pernah


melihatnya lansung.


Sosok itu mengenakan pakaian


putih, ada rambut panjang bewarna putih perak yang sangat panjang. Saking panjangnya,


rambut itu menjuntai hingga ke lantai. Aromanya khas melati. Ia memiliki bentuk


kaki yang mirip seperti kaki kuda. Kadang ia juga memperlihatkan jari-jari


kakinya layaknya manusia. Namun sejak awal di perkenalkan dengan sosok


tersebut, Kusuma disuruh untuk tidak menatap wajahnya, begitulah ibunya


mengingatkannya.


Yang jelas, setiap makhluk itu


hadir, angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya. Seolah ada yang lewat dan


terbang, pintu itu kembali terbuka pelan dan tertutup dengan kencang.


Dalam diamnya, Kusuma mulai


berkeringat dingin. Darah mengalir dari hidungnya itu tanda pesannya telah


tersampaikan dan keinginannya akan segera di kabulkan. Kemudian lilin memadam


kan apinya, dan ruangan hening seperti semula. Kusuma bangkit dengan darah


mengalir dari hidung dan juga air mata kesedihan. Ia tau, ini adalah tugas yang


tidak ia inginkan namun tidak bisa ia tolak. Itulah kelemahan dari ilmu yang ia


peroleh dari keluarga ibunya.


.


.


.


.


Angin semakin bertiup kencang. Menggoyangkan


ranting pohon jambu yang tumbuh tinggi di pekarangan rumah besar itu. Saking kencangnya,


ranting itu memukul jendela kamar yang berada di lantai dua rumah tersebut.


Merri yang belum sepenuhnya


tertidur pulas, setiap saat mencoba memejamkan mata dan mengubah posisi


tidurnya. Ia mencoba menarik selimutnya hingga menutupi lehernya. Tapi entah


siapa yang usil. Selimut itu di tarik. Merri mencoba menarik kembali selimut


tersebut. Ia ingin tidur malam ini. Ia tidak mau di ganggu. Tapi sekali


lagi,  selimutnya di tarik kencang hingga


jatuh ke lantai kamarnya.


“HAH!!!” Merri terbangun dalam


siapa-siapa.


Tuk Tuk Tuk...


Jendela kamarnya di ketuk oleh


jari yang panjang. Dalam keadaan takut Merri segera menyalakan lampu kamar. Ia


melihat kembali ke arah kaca jendela yang tertutup tirai putih. Bukan jari,


yang mengetuk itu ranting pohon jambu yang ada disamping rumahnya. Merri


bernafas lega. Ia menuruni ranjangnya untuk mengambil selimutnya. Saat tangan


kurus itu mengambil selimut, Merri merasa ada yang aneh. Jari-jari kurusnya sama


seklai tidak menarik selimut putih motif bintang itu. Bukan. Ada yang bangkit


dari balik selimut teresebut. Sosok itu berdiri dan tingginya melebihi tinggi


badan Merri.


Dalam keadaan kaget, sekaligus


takut, Merri menarik selimutnya. Kosong. Tidak ada satupun sosok atau


sejenisnya di balik selimutnya. Tapi ia melihat sepasang jejak kaki yang basah.


Apapun itu sesuatu telah berdiri disini. Badan kecilnya seketika gemetaran.


Merri mundur hingga ia telah


berada kembali di atas ranjangnya. Ia menutup wajah dan dua daun telinganya.


Saat itu lampu seketika padam. Cahaya tersisa hanya pantulan sinar rembulan


yang masuk kejendala. Tapi hal itu lah yang semakin menakutkan bagi Merri.


Terlebih saat tirai jendela bewarna putih itu menggulung dan kemudian


memanjang. Tirai yang tidak lebih dari dua meter itu seolah semakin memanjang.


Ujung-ujung tirai menyentuh lutut. Merri meronta.


“SUDAH PERGI!!!” erang Merri.


Tapi kain itu terus membelit


tubunya.


“Kalian mau apa? Jangan ganggu


saya!!!” teriak Merri lagi. Tapi sia-sia, tubuhnya terbugkus tirai dengan sempurna.


Kemudian satu sosok mendekati nya. Bibir hitam dengan taring tipis seperti hiu


itu berbisik dengan cepat.


“Merri...!!”ia memanggil nama


Merri dengan suara serak.


Bulu kuduk Merri merinding. “Per...pergi...


hiks!” Merri menangis.


“Hadapi kenyataan ini... terima


takdirmu.... hadapi kenyataan ini, terima takdirmu, hadapi kenyataan ini terima


takdirmu!!”


“Jangan lagi, jangan...!!!!” Merri


memohon dalam tangisnya.


“Hadapi kenyataan ini, ini


takdirmu. Hadapi kenyataan, ini takdirmu. Hadapi kenyataan, ini takdirmu. Ini


takdirmu. Ini takdirmu. Hadapi kenyataan. Ini takdirmu.” Suara itu semakin lama


semakin cepat dan bisiskan itu seoah tidak dilakukan oleh ia sendiri. Suara itu


saling bersahutan dan membuat Merri semakin tidak berdaya.


“TIDAAAAKKK!!!” Merri berteriak,


tidak tahan dengan bisikan-bisikan itu.


Tubuh kecilnya kembali meronta

__ADS_1


agar lepas dari lilitan kain. Berhasil. Tangannya bebas dan ia menurunkan kain


yang menutup matanya. Namun sayangnya, satu pemandangan yang sangat mengerikan


telah menunggunya.


Satu sosok dengan empat mata


bewarna hitam, sosok itu berambut hitam panjang tak terurus. Sosok itu juga


memiliki hidung seperti ikan pari dan senyum lebar dengan bibir hitam. Ia tertawa


saat bertatapan lansung dengan gadis itu.


“GYAAAAAAAAAA!!!!” Merri berteriak


kencang. Disanalah makhluk itu semakin mendekati wajahnya dan memasuki sesuatu


yang tidak bisa di pahami oleh akal sehat manusia normal. Yang jelas, Merri


sekarang di bawah kendalinya, dengan membawanya kesebuah pemadangan yang jauh


dari rumah..


.


.


.


Pemandangan dimana Merri dapat berpijak di dalamnya. Dapat merasakan


ketakutan yang terjadi di dalamnya. Di lorong panjang putih itu, beberapa orang


berseragam putih tengah berlari, mereka panik. Bahkan mereka tidak peduli sudah


menabrak tubuh kecil yang hanya memakai baju tidur tanpa alas kaki. Seolah ada


suatu hal yang lebih genting saat ini.


Merri bingung. Ia mengusap air mata yang masih membasahi pipinya. Di tegah


ketakutan dan kebingungan itu, ia mencoba mencari jalan keluar. Namun langkah


kakinya malah mengantarkannya kepada ruang UGD. Saat ia mencoba mencari jalan


lain, lagi-lagi pemberhentian itu selalu berakhir di depan ruangan UGD. Seolah jalan


di rumah sakit ini bagaikan labirin yang berakhir disana.


Takut dan penasaran, Merri mencoba memasuki ruangan itu. Disana telah


berkumpul orang-orang dengan seragam putih yang barusan menabraknya. Mereka tengah


menghadapi seorang remaja yang tengah mengalami kejang. Wajah gadis itu


menegang. Ia melotot tanpa berkedip dan meringis. Menahan sakit.


“GYAaaaaa.....!!!!” tiba-tiba pasien itu berteriak. Menggeliat. Dokter


berusaha menahannya.


“Dok bagaimana ini? Semua organ vitalnya dalam keadaan stabil.” tanya


perawat. Mereka berusaha bersikap profesional meski mereka sadar hal ini di


luar akal dan logika.


“GYAAAAAAA!!!!”  pasien itu


kembali meronta. Kali ini matanya yang bulat besar da sangat menakutkan melihat


ke arah Merri. Tangannya menunjuk Merri, “TOOOOOOLLOOONG......!!!!!”


“Berikan suntikan penenang!” perintah dokter. “Hanya itu yang bisa kita


lakukan sekarang.”


“GYAAAAAAAAKK!!!” pasien wanita yang mungkin seusia dengan Merry itu


kembali mengerang kessakitan. Matanya mendongak ke langit-langit.


Merri yang berdiri tepat di depan pintu UGD juga mengekori arah


pandangnya. “AAAAAAAAAA!!!!!” Merri menutup kedua mulutnya. Ia tidak bisa


menduga jika melihat pemandangan yang jauh lebih mengerikan.


Diatas gadis itu satu sosok wajah yang tidak kalak mengerikan tengah


berdiri didinding tepat dimana gadis itu tengah berbaring. Dia dengan wajah


lebar berkumis tebal, mata bula bewarna merah. Wajah itu mirip Harimau, tapi


dengan hidung botol seperti hidung ****, di bawahnya ada kumis tebal yang dihiasi


taring panjang dan tajam. Kumis itu tersambung dengan rambut gondrong. Lalu badannya


persis seperti kera. Kera dengan kuku-kuku yang panjang dan hitam. Jari-jari


itulah yang sedari tadi menarik rambut remaja tersebut yang kemudian dia


mengulumnya sambil sesekali menariknya.


Merri terduduk. Kakinya gemetar dahsyat. Ini pemandangan apa lagi?


mungkin itulah kata-kata yang terucap atas air matanya yang menetes.


“Ja.. ja..jangan lakukan...!!!” Merri memohon. Entah kepada siapa. Dia


hanya bicara kepada dirinya sendiri. Ia terlalu takut berhadapan dengan makhluk


itu lebih dekat lagi.


Saat bersamaan, si pasien semakin meronta. “GYAAAAAAAAA..... TIDAAAAKKKK...


GYAAAAAA!!!” dia meronta kesakitan, dia ketakutan. Tapi sayangnya tidak ada


yang bisa membantunya.


Senyum makhluk itu semakin melebar. Garis bibirnya menyentuh hingga ke


atas kepalanya, melebihi letak dua matanya yang berwarna merah.


“GYAAAAAAAaaaaaAAAAAAA.....!!!!” teriakan panjang itu mungkin akhir


dari penderitaannya di dunia.


“GYAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaAAAA...!!!” begitupun Merri yang tidak kuasa


melihat.


Tanpa ampun dan kasihan, makhluk itu menarik rambutnya dengan cepat dan


menyimpan jiwa remaja yang terpisah dari raga ke dalam mulutnya. Ia menyeringai


dan kemudian melihat ke arah Merri.


Merri yang sudah di makan rasa takut tidak tau harus berbuat apa-apa. Kakinya


tak kuasa untuk berdiri apalagi berlari. Sepanjang lorong itu ia merangkak


secepat mungkin. Saat dikira agak jauh, ia mencoba berdiri dan berlari secepat


ia bisa. Lorong rumah sakit itu semakin lama menyempit. Ia tidak peduli dengan


Kedua kaki telanjangnya. Ia terus berusaha meninggalkan tempat menakutkan itu.


Meski jauh, ia bisa melihat makhluk itu masih mematung dan memperhatikannya.


.


.


.


Pagi datang menjelang. Merri


terduduk di kamarnya. Matanya gelap. Setelah menerima pemandangan yang sangat


mengerikan itu, ia tidak berani memejamkan mata. Remaja itu, kemudian makhluk


itu masih tersimpan dengan jelas di benaknya.


“Bangun, saatnya berangkat


sekolah.” Ibunya masuk kekamarnya. Ia membuka jendela kamar Merri.


“Ibu masih menerimanya? Membunuh


orang?” tanya Merri.


Kusuma menoleh ke arah Merri. Ia tersadar,


anaknya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Merri menangis dan kedua matanya


sembab karena itu.


“Kenapa ibu tidak bisa menolak


permintaan mereka?” tanya Merri lagi.


Kusuma mendekati wajah Merri yang


semakin pucat, ia memeluknya seraya berkata, “Maafkan ibu, Nak!”

__ADS_1


__ADS_2