
Arinda pulang. Ia terlihat lelah. Kedua bola matanya sembab
karena menangis seharian ini. Pundaknya terasa sangat berat. Setelah
melemparkan tas dan sepatunya di sembarangan ia memilih untuk mandi dan
membasahi kepalanya. Ia ingat sebuah nasehat ketika setelah dari acara
pemakaman, harus mandi dan keramas agar badan tidak merasa kesakitan. Percaya atau
tidak, kegiatan itu ternyata bisa membantu lebih rileks kembali.
Arinda menyiapkan air hangat di bathup, memasukkan sabun mandi beraroma bunga. Beuty dream, begitulah merek
dari produk yang ia pakai. Kemudian, ia membiarkan seluruh badannya tenggelam di
dalam bak berbusa lembut itu. Membiarkan kepalanya tetap diatas. Tak berapa lama Ia tertidur di dalam bathup.
.
.
.
“Rin, aku boleh curhat
tentang sesuatu?” Mikha membisikkan sesuatu. Saat itu mereka berada di kelas. Saat
pelajaran Sejarah, seorang guru menyuruh mereka merangkum mengenai sejarah
kemerdekaan kedalam buku catatan.
“*Apa Miki?” tanya
Arinda. Ia suka memanggil Mikha dengan sebutan Miki.
“Aku belum mati.”
Arinda yang masih
sibuk menulis hanya tertawa mendengar lelucon absurd Mikha. “Haha ini nih kalau
keseringan dengar cerita Karin, ikutan gilakan?”
“Aku serius, Rin!”
Arinda menoleh ke
Mikha. Ia duduk sambil menundukkan kepalanya.
“Mik.. Plis jangan becanda deh. Aku ga suka kalo udah kayak gini." tidak ada tanggapan. "Miki....”
Arinda menggoncang tubuh Mikha. Gadis itu tidak bergeming.
“Mikha!!” Arinda
menggoncangnya sedikit keras. Tubuh Mikha terjatuh dari kursi. Sebuah
pemandangan yang mengerikan. Wajah Mikha terlihat pucat pasi, dia rubuh dan tak
sadarkan diri dengan mata yang masih melotot. Anehnya, darah merah kehitaman
keluar dari kedua bola matanya.
“MIKHAAAA!!!” Arinda
teriak. Ia mencoba memberitahu guru. Tapi entah kenapa, suasana kelas
seketika menjadi gelap. Hanya ada satu cahaya temaram dari lampu kelas yang
berdekatan dengan papan tulis. Sebuah tulisan yang awalnya bertuliskan
pelajaran SEJARAH itu berubah menjadi AKU
BELUM MATI.
Arinda melihat sekitar,
berharap ia bisa meminta pertolongan kepada teman-temannya dan juga guru di
depan. Namun sayang, semua teman-temannya tiba-tiba tergantikan dengan
orang-orang yang mengenakan pakaian serba hitam dengan kepala tertutup hoodi
berwana hitam pula.
“GYAAAAA!!!”
gemetaran, Arinda teriak dengan suara gemetar. Ia merasakan kedua kakinya tidak
bisa diajak kompromi. Kaki itu bergetar hebat karena ketakutan.
Para jubah hitam itu
menoleh kepadanya dengan serempak. Mereka mengacungkan telunjuk tepat di depan
wajah yang sama sekali tak terlihat dan memberi instruksi agar Arinda diam. “Ssstt...!!!”
Pintu kelas di buka,
membawa cahaya bewarna merah dari sana. Begitu juga dua orang berbadan tinggi
tegap yang mengenakan jubah bewarna merah. Mereka mengangkat tubuh Mikha,
kemudian menyeretnya.
“Mik...Mikha...!!!”
Arinda tidak tau harus berbuat apa.
Ia mencoba meraih kaki
Mikha agar tidak diseret paksa seperti itu. Sayang, mereka menyeret terlalu
cepat. Arinda gagal meraihnya. Namun sebaliknya, sesuatu telah memegangi
pundaknya.
“Arin...!!!” seseorang
memanggil namanya.. Dengan nafas yang tidak teratur, jantung yang rasanya ingin
lompat dari tubuhnya, Arinda menoleh. Kali ini wajah Mikha tapi dengan kepala
yang penuh darah dan sebagian badan yang meleleh. Beberapa tulang tangan dan rusuknya
terlihat. Bahkan wajahnya beransur-ansur meleleh, seperti lilin yang di bakar.
“Itu ragaku, tapi
jiwaku masih hidup. Mereka membunuhku.” Jelas Mikha dengan wajah yang semakin
lama semakin lumer. Bahkan mata kirinya turun meluncur dan jatuh ke lantai.
“GYAAAaaaaAAAAAAAAAAA!!!!!!”
Arinda menutup mata dan telinganya*.
.
.
.
Arinda terjaga. Ia tidak menyangka bisa tertidur danh bahkan
bermimpi semengerikan ini. Arinda memutuskan untuk mengakhiri kegiatan
mandinya. Ia segera mengenakan pakaian rumah yang santai. Saat hendak menuruni
__ADS_1
anak tangga. Ia mendengar suara ayahnya dan gelak tawa seorang wanita. Arinda
semakin mempercepat langkahnya.
Di ruang tamu, ayahnya sedag mengobrol dengan seorang wanita
yang terlihat sangat muda. Dia mengenakan pakaian kasual yang agak ketat.
Wajah wanita itu juga diolesi bedak agak tebal dengan lipstik merah merona.
“Heii Arinda, sudah pulang nak?” sapa Ajar.
Arinda mengangguk. “Bunda mana, Yah?” tanyanya.
“Belum pulang yang pasti. Sepertinya Ibumu mau menjenguk
keluarga siswa yang meninggal. Teman kelas kamu kan?”
Arinda kembali mengangguk. Lalu matanya kembali menoleh ke
arah wanita yang duduk di samping ayahnya. Ajar membaca arah mata putrinya.
“Dia Dewi, mahasiswi tingkat akhir. Lagi bimbingan skripsi.”
Ajar mengangkat lembaran kertas yang menumpuk di atas meja. Dewi memberikan
senyuman yang ramah, namun tidak bagi Arinda. Riasan wajahnya memberikan
intuisi yang beda. Dia berfikir jika Dewi adalah ancaman keluarganya.
"Oo ya, keliatan kok, mahasiswa lama." ucapnya.
Ajar membelalakkan matanya. Tidak menduga anaknya akan berkomentar seperti itu kepada tamu sekaligus mahasiswinya. Begitu juga wanita yang ada di depannya, dia agak bingung, apakah itu sebuah hinaan ataukah hanya ungkapan biasa.
Arinda meninggalkan ruang tamu dan segera menuju ke dapur.
Seharian ini ia baru sadar belum mengisi perutnya dengan apapun. Melihat wajah
Dewi membuatnya lapar. Jika dia bukan manusia, dia ingin menyantap wanita genit
itu. Setidaknya itulah yang terlintas di benak Arinda.
.
.
.
.
Merri lansung mengunci diri di dalam kamar. Kusuma yang
menyadari kehadirannya lansung menghampiri kamar putrinya. Tidak biasanya Merri
bertingkah agak kasar.
“Merri...!!” panggil Kusuma sambil mengetuk pintu kamar.
Hening, tidak ada jawaban.
“Mer... makan duluan, nak.” Pinta Kusuma.
Sekali lagi hening. Merri tidak menjawab.
Di balik bilik itu, ia merebahkan badannya diatas kasur.
Membiarkan dirinya terlelap untuk sesaat. Tubuh kecilnya sangat lelah. Ia
terlalu banyak melihat hari ini. Bahkan sosok yang menyerupai Mikha juga
mengikutinya. Untunglah sosok itu lansung hilang saat ia sudah mengijaki kaki
di rumah.
.
.
.
.
pakaian, pria berkaca mata itu juga terduduk diatas kasur. Di dalam bilik
berdinding penuh dengan poster tokoh karakter superhero itu, Tito merasa hampa.
Dari semua tempat, ia paling membanggakan kamarnya. Semua hal yang ia sukai
berada disini. Selain poster ukuran A3 dengan kualitas gambar dan kertas yang
tinggi, ia juga memiliki kasur yang nyaman, satu set komputer, koleksi komik
dan buku bacaan, video game dan juga beberapa piala dan penghargaan dari lomba
karya tulis ilmiah. Satu dari semua hal membanggakan itu, yang paling ia sukai
adalah satu bingkai foto yang terpajang diatas meja belajarnya. Di dalalam
frame putih polos itu ada Arinda, Fitri, Karin dan Mikha yang berdiri di
sampingnya.
Ia ingat, saat pengambilan gambar itu, dirinya hanya ingin
berdua dengan Mikha. Namun saat hitungan ketiga, Karin, Fitri dan Arinda yang
iseng lansung menyerang mereka jadilah mereka berlima. Awalnya Tito kesal,
sebab kesempatan foto berdua dengan Mikha jadi gagal. Tapi lama-kelamaan ia
bisa mengiklaskannya. Dia berjanji dengan Mikha akan mengajaknya berfoto berdua
saja tanpa ada yang ganggu.
Tito masih ingat dengan jelas, saat pertama kali Mikha
bermain di kamarnya, ia memuji koleksi buku dan komik miliknya. Ia orang
pertama yang memuji hobinya sangat Keren. Berbeda dengan Karin dan Fitri atau
bahkan kakak-kakaknya yang menilai hobinya terlalu kekanakan untuk usianya.
“*Lu masih suka baca
komik?” tanya Mikha mengambil satu komik avengers.
“He...iya, kenapa?
Aneh ya.” Tanya Tito kikuk. Dia cemas dinilai kekanakan dengan Mikha.
“Ga, keren kok.” Seru
Mikha.
“Serius?” wajah Tito memerah,
tapi ia masih kurang yakin kalau Mikha memujinya. Bisa jadi itu hanya
basa-basi. “Bukannya hobi yang paling keren itu basket, cewek-cewek suka lihat
cowok main basket dari pada duduk baca komik, soalnya pasif kan?” tanya Tito.
“Ya secara fisik, mereka
tinggi dan keren. Tapi cowok yang hobi baca komik lebih enak di ajak ngobrol.
Mereka pintar, wawasannya luas, ga banyak dari mereka juga jago gambar.” Mikha
mengambil buku gambar dan melihat hasil coretan Tito. “Ini pahlawan super apa?”
__ADS_1
tanya Mikha melihat gambar Tito. Sebuah gambar pahlawan super dengan logo T di
tengah kostum yang di kenakan.
Tito lansung meraih
gambar itu. Wajahnya memerah, dia malu jika Mikha sadar jika ia masih suka
berimajinasi menjadi pahlawan super dengan badan tinggi dan kekar.
“Hhaha..!!” Mikha
tertawa, dia paham arti gambar tersebut. “Ehem, maaf!” Mikha mengatur suaranya,
“Satu hal yang gue suka dari orang yang suka baca komik, mereka imajinatif yang
menunjukkan kalau mereka itu cerdas, bukan kekanakan.”
Tito tersipu malu*.
Di kamar ini juga Tito juga mendengar cerita-cerita dan
mimpi Mikha. Bahkan mereka berbagi rahasia. Di balik wajah yang selalu tersenyum,
ternyata Mikha sangat kesepian. Dia tidak suka dengan ayah tirinya, bahkan
mereka tidak akrab. Demi ibunya yang sangat mencintai ayahnya, Mikha yang saat
itu berusia tujuh tahun harus mengalah. Mendengar cerita Mikha, Tito tidak bisa
berbuat apa-apa. Dia hanya memeluk gadis itu sebagai tanda ia peduli. Saat
wajah mereka bertemu dan mendekat, Tito semakin yakin jika Mikha cinta
pertamanya. Namun, sebelum satu kecupan mendarat di bibir Mikha, gadis itu
segera menjarak dan mendorong tubuh Tito.
“*Aku harus pulang,
terimakasih udah mendengar cerita aku.” Ucap Mikha.
“Mikha, yang barusan
maaf, aku tidak ada maksud.” Tito menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia
takut Mikha menilainya buruk.
Mikha melihat wajah
lugu Tito sambil tersenyum. Dia mengusap lembut kepala Tito.
“Gapapa kok. Tapi aku
tidak suka suatu hal yang terburu-buru. Itu tidak sehat.” Ucap Mikha.
Tito hanya tertawa
simpul. Wajahnya memanas menahan malu. “Mau antarin pulang ga?” minta Mikha.
“Maulah, naik vespa
gapapakan? Mobil di bawa mama aku ke salon.” tawar Tito.
“Hahaha... boleh-boleh
aja*.”
Kenangan itu dan
suara tawa yang renyah itu hanya tinggal kenangan. Mengingat hal itu membuat
Tito kembali menangis. Ia limpahkan semua air mata itu diatas kasur. Ia
menggigit bantal agar tidak ada yang mendengar. Ya, dia tidak mau siapapun
mendengarnya, ia tidak ingin keluarganya tau kalau dia dalam keadaan terpuruk.
Dari semua hal yang pernah ia alami, baru kali ini ia merasa sedih, dan
kehilangan.
.
.
.
.
Walau dalam keadaan berkabung, siswi kelas dua IPA
C harus tetap masuk sekolah. Karin yang sudah dari subuh terlihat paling siap.
Dia membawa semua keperluan sekolah, bekal makan siang, dan juga payung. Namun
lebih dari itu, diantara buku pelajaran yang di tumpuk masuk kedalam ranselnya,
ia tidak lupa akan satu benda yang tidak kalah penting; majalah misteri-nya.
Semalam saat berada di ruang tengah, ia melihat lembaran dari
majalah itu terbuka karena terbawa angin. Memang semalam hujan turun dengan
sangat lebat. Iringan petir dan kilat juga menyambar dengan sangat kencang. Karin
yang disuruh orang tuanya untuk mengunci semua jendela lansung memperhatikan
majalah yang sempat ia beli tempo hari.
Lembaran itu terhenti di halaman yang sempat ia bahas
bersama teman-temannya. “JAILANGKUNG PARTY. Alias Pesta Jailangkung.
Satu kolom dari halaman itu memberikan penjelasan, salah
satu narasumber mengaku berhasil berkomunikasi dengan temannya yang sudah lama
meninggal. Hal inilah yang membuat gadis ini memiliki ide gila. Dia ingin membahasnya
kembali bersama teman-temannya di kelas.
Pagi ini, dengan langkah sangat pasti. Dia terlihat optimis.
Saat ia berada di dalam kelas dimana semua siswa telah rame, karena masih mendiskusikan hal kemaren, ia lansung
mengeluarkan majalah misteri itu dari ranselnya.
PLAK
Semua siswa memperhatikannya. Begitu juga Arinda, Merri dan
Tito. Bahkan Fitri hampir berteriak saat melihat buku apa yang di lempar Karin.
“Kita bisa tanyai lansung kepada Mikha, dia meninggal karena
apa?!” Ajak Karin.
“De.. de.. dengan apa?” tanya Fitri gagap. Dia selalu takut
jika Karin sudah berkeinginan.
“Dengan main Jailangkung.” Jawab Karin.
.
.
.
__ADS_1
.