Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
7 Beauty Dream


__ADS_3

Arinda pulang. Ia terlihat lelah. Kedua bola matanya sembab


karena menangis seharian ini. Pundaknya terasa sangat berat. Setelah


melemparkan tas dan sepatunya di sembarangan ia memilih untuk mandi dan


membasahi kepalanya. Ia ingat sebuah nasehat ketika setelah dari acara


pemakaman, harus mandi dan keramas agar badan tidak merasa kesakitan. Percaya atau


tidak, kegiatan itu ternyata bisa membantu lebih rileks kembali.


Arinda menyiapkan air hangat di bathup, memasukkan sabun mandi beraroma bunga. Beuty dream,  begitulah merek


dari produk yang ia pakai. Kemudian, ia membiarkan seluruh badannya tenggelam di


dalam bak berbusa lembut itu. Membiarkan kepalanya tetap diatas. Tak berapa lama Ia tertidur di dalam bathup.


.


.


.


“Rin, aku boleh curhat


tentang sesuatu?” Mikha membisikkan sesuatu. Saat itu mereka berada di kelas. Saat


pelajaran Sejarah, seorang guru menyuruh mereka merangkum mengenai sejarah


kemerdekaan kedalam buku catatan.


“*Apa Miki?” tanya


Arinda. Ia suka memanggil Mikha dengan sebutan Miki.


“Aku belum mati.”


Arinda yang masih


sibuk menulis hanya tertawa mendengar lelucon absurd Mikha. “Haha ini nih kalau


keseringan dengar cerita Karin, ikutan gilakan?”


“Aku serius, Rin!”


Arinda menoleh ke


Mikha. Ia duduk sambil menundukkan kepalanya.


“Mik.. Plis jangan becanda deh. Aku ga suka kalo udah kayak gini." tidak ada tanggapan. "Miki....”


Arinda menggoncang tubuh Mikha. Gadis itu tidak bergeming.


“Mikha!!” Arinda


menggoncangnya sedikit keras. Tubuh Mikha terjatuh dari kursi. Sebuah


pemandangan yang mengerikan. Wajah Mikha terlihat pucat pasi, dia rubuh dan tak


sadarkan diri dengan mata yang masih melotot. Anehnya, darah merah kehitaman


keluar dari kedua bola matanya.


“MIKHAAAA!!!” Arinda


teriak. Ia mencoba memberitahu guru. Tapi entah kenapa, suasana kelas


seketika menjadi gelap. Hanya ada satu cahaya temaram dari lampu kelas yang


berdekatan dengan papan tulis. Sebuah tulisan yang awalnya bertuliskan


pelajaran SEJARAH itu berubah menjadi AKU


BELUM MATI.


Arinda melihat sekitar,


berharap ia bisa meminta pertolongan kepada teman-temannya dan juga guru di


depan. Namun sayang, semua teman-temannya tiba-tiba tergantikan dengan


orang-orang yang mengenakan pakaian serba hitam dengan kepala tertutup hoodi


berwana hitam pula.


“GYAAAAA!!!”


gemetaran, Arinda teriak dengan suara gemetar. Ia merasakan kedua kakinya tidak


bisa diajak kompromi. Kaki itu bergetar hebat karena ketakutan.


Para jubah hitam itu


menoleh kepadanya dengan serempak. Mereka mengacungkan telunjuk tepat di depan


wajah yang sama sekali tak terlihat dan memberi instruksi agar Arinda diam. “Ssstt...!!!”


Pintu kelas di buka,


membawa cahaya bewarna merah dari sana. Begitu juga dua orang berbadan tinggi


tegap yang mengenakan jubah bewarna merah. Mereka mengangkat tubuh Mikha,


kemudian menyeretnya.


“Mik...Mikha...!!!”


Arinda tidak tau harus berbuat apa.


Ia mencoba meraih kaki


Mikha agar tidak diseret paksa seperti itu. Sayang, mereka menyeret terlalu


cepat. Arinda gagal meraihnya. Namun sebaliknya, sesuatu telah memegangi


pundaknya.


“Arin...!!!” seseorang


memanggil namanya.. Dengan nafas yang tidak teratur, jantung yang rasanya ingin


lompat dari tubuhnya, Arinda menoleh. Kali ini wajah Mikha tapi dengan kepala


yang penuh darah dan sebagian badan yang meleleh. Beberapa tulang tangan dan rusuknya


terlihat. Bahkan wajahnya beransur-ansur meleleh, seperti lilin yang di bakar.


“Itu ragaku, tapi


jiwaku masih hidup. Mereka membunuhku.” Jelas Mikha dengan wajah yang semakin


lama semakin lumer. Bahkan mata kirinya turun meluncur dan jatuh ke lantai.


“GYAAAaaaaAAAAAAAAAAA!!!!!!”


Arinda menutup mata dan telinganya*.


.


.


.


Arinda terjaga. Ia tidak menyangka bisa tertidur danh bahkan


bermimpi semengerikan ini. Arinda memutuskan untuk mengakhiri kegiatan


mandinya. Ia segera mengenakan pakaian rumah yang santai. Saat hendak menuruni

__ADS_1


anak tangga. Ia mendengar suara ayahnya dan gelak tawa seorang wanita. Arinda


semakin mempercepat langkahnya.


Di ruang tamu, ayahnya sedag mengobrol dengan seorang wanita


yang terlihat sangat muda. Dia mengenakan pakaian kasual yang agak ketat.


Wajah wanita itu juga diolesi bedak agak tebal dengan lipstik merah merona.


“Heii Arinda, sudah pulang nak?” sapa Ajar.


Arinda mengangguk. “Bunda mana, Yah?” tanyanya.


“Belum pulang yang pasti. Sepertinya Ibumu mau menjenguk


keluarga siswa yang meninggal. Teman kelas kamu kan?”


Arinda kembali mengangguk. Lalu matanya kembali menoleh ke


arah wanita yang duduk di samping ayahnya. Ajar membaca arah mata putrinya.


“Dia Dewi, mahasiswi tingkat akhir. Lagi bimbingan skripsi.”


Ajar mengangkat lembaran kertas yang menumpuk di atas meja. Dewi memberikan


senyuman yang ramah, namun tidak bagi Arinda. Riasan wajahnya memberikan


intuisi yang beda. Dia berfikir jika Dewi adalah ancaman keluarganya.


"Oo ya, keliatan kok, mahasiswa lama." ucapnya.


Ajar membelalakkan matanya. Tidak menduga anaknya akan berkomentar seperti itu kepada tamu sekaligus mahasiswinya. Begitu juga wanita yang ada di depannya, dia agak bingung, apakah itu sebuah hinaan ataukah hanya ungkapan biasa.


Arinda meninggalkan ruang tamu dan segera menuju ke dapur.


Seharian ini ia baru sadar belum mengisi perutnya dengan apapun. Melihat wajah


Dewi membuatnya lapar. Jika dia bukan manusia, dia ingin menyantap wanita genit


itu. Setidaknya itulah yang terlintas di benak Arinda.


.


.


.


.


Merri lansung mengunci diri di dalam kamar. Kusuma yang


menyadari kehadirannya lansung menghampiri kamar putrinya. Tidak biasanya Merri


bertingkah agak kasar.


“Merri...!!” panggil Kusuma sambil mengetuk pintu kamar.


Hening, tidak ada jawaban.


“Mer... makan duluan, nak.” Pinta Kusuma.


Sekali lagi hening. Merri tidak menjawab.


Di balik bilik itu, ia merebahkan badannya diatas kasur.


Membiarkan dirinya terlelap untuk sesaat. Tubuh kecilnya sangat lelah. Ia


terlalu banyak melihat hari ini. Bahkan sosok yang menyerupai Mikha juga


mengikutinya. Untunglah sosok itu lansung hilang saat ia sudah mengijaki kaki


di rumah.


.


.


.


.


pakaian, pria berkaca mata itu juga terduduk diatas kasur. Di dalam bilik


berdinding penuh dengan poster tokoh karakter superhero itu, Tito merasa hampa.


Dari semua tempat, ia paling membanggakan kamarnya. Semua hal yang ia sukai


berada disini. Selain poster ukuran A3 dengan kualitas gambar dan kertas yang


tinggi, ia juga memiliki kasur yang nyaman, satu set komputer, koleksi komik


dan buku bacaan, video game dan juga beberapa piala dan penghargaan dari lomba


karya tulis ilmiah. Satu dari semua hal membanggakan itu, yang paling ia sukai


adalah satu bingkai foto yang terpajang diatas meja belajarnya. Di dalalam


frame putih polos itu ada Arinda, Fitri, Karin dan Mikha yang berdiri di


sampingnya.


Ia ingat, saat pengambilan gambar itu, dirinya hanya ingin


berdua dengan Mikha. Namun saat hitungan ketiga, Karin, Fitri dan Arinda yang


iseng lansung menyerang mereka jadilah mereka berlima. Awalnya Tito kesal,


sebab kesempatan foto berdua dengan Mikha jadi gagal. Tapi lama-kelamaan ia


bisa mengiklaskannya. Dia berjanji dengan Mikha akan mengajaknya berfoto berdua


saja tanpa ada yang ganggu.


Tito masih ingat dengan jelas, saat pertama kali Mikha


bermain di kamarnya, ia memuji koleksi buku dan komik miliknya. Ia orang


pertama yang memuji hobinya sangat Keren. Berbeda dengan Karin dan Fitri atau


bahkan kakak-kakaknya yang menilai hobinya terlalu kekanakan untuk usianya.


“*Lu masih suka baca


komik?” tanya Mikha mengambil satu komik avengers.


“He...iya, kenapa?


Aneh ya.” Tanya Tito kikuk. Dia cemas dinilai kekanakan dengan Mikha.


“Ga, keren kok.” Seru


Mikha.


“Serius?” wajah Tito memerah,


tapi ia masih kurang yakin kalau Mikha memujinya. Bisa jadi itu hanya


basa-basi. “Bukannya hobi yang paling keren itu basket, cewek-cewek suka lihat


cowok main basket dari pada duduk baca komik, soalnya pasif kan?” tanya Tito.


“Ya secara fisik, mereka


tinggi dan keren. Tapi cowok yang hobi baca komik lebih enak di ajak ngobrol.


Mereka pintar, wawasannya luas, ga banyak dari mereka juga jago gambar.” Mikha


mengambil buku gambar dan melihat hasil coretan Tito. “Ini pahlawan super apa?”

__ADS_1


tanya Mikha melihat gambar Tito. Sebuah gambar pahlawan super dengan logo T di


tengah kostum yang di kenakan.


Tito lansung meraih


gambar itu. Wajahnya memerah, dia malu jika Mikha sadar jika ia masih suka


berimajinasi menjadi pahlawan super dengan badan tinggi dan kekar.


“Hhaha..!!” Mikha


tertawa, dia paham arti gambar tersebut. “Ehem, maaf!” Mikha mengatur suaranya,


“Satu hal yang gue suka dari orang yang suka baca komik, mereka imajinatif yang


menunjukkan kalau mereka itu cerdas, bukan kekanakan.”


Tito tersipu malu*.


Di kamar ini juga Tito juga mendengar cerita-cerita dan


mimpi Mikha. Bahkan mereka berbagi rahasia. Di balik wajah yang selalu tersenyum,


ternyata Mikha sangat kesepian. Dia tidak suka dengan ayah tirinya, bahkan


mereka tidak akrab. Demi ibunya yang sangat mencintai ayahnya, Mikha yang saat


itu berusia tujuh tahun harus mengalah. Mendengar cerita Mikha, Tito tidak bisa


berbuat apa-apa. Dia hanya memeluk gadis itu sebagai tanda ia peduli. Saat


wajah mereka bertemu dan mendekat, Tito semakin yakin jika Mikha cinta


pertamanya. Namun, sebelum satu kecupan mendarat di bibir Mikha, gadis itu


segera menjarak dan mendorong tubuh Tito.


“*Aku harus pulang,


terimakasih udah mendengar cerita aku.” Ucap Mikha.


“Mikha, yang barusan


maaf, aku tidak ada maksud.” Tito menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia


takut Mikha menilainya buruk.


Mikha melihat wajah


lugu Tito sambil tersenyum. Dia mengusap lembut kepala Tito.


“Gapapa kok. Tapi aku


tidak suka suatu hal yang terburu-buru. Itu tidak sehat.” Ucap Mikha.


Tito hanya tertawa


simpul. Wajahnya memanas menahan malu. “Mau antarin pulang ga?” minta Mikha.


“Maulah, naik vespa


gapapakan? Mobil di bawa mama aku ke salon.” tawar Tito.


“Hahaha... boleh-boleh


aja*.”


 Kenangan itu dan


suara tawa yang renyah itu hanya tinggal kenangan. Mengingat hal itu membuat


Tito kembali menangis. Ia limpahkan semua air mata itu diatas kasur. Ia


menggigit bantal agar tidak ada yang mendengar. Ya, dia tidak mau siapapun


mendengarnya, ia tidak ingin keluarganya tau kalau dia dalam keadaan terpuruk.


Dari semua hal yang pernah ia alami, baru kali ini ia merasa sedih, dan


kehilangan.


.


.


.


.


Walau dalam keadaan berkabung, siswi kelas dua IPA


C harus tetap masuk sekolah. Karin yang sudah dari subuh terlihat paling siap.


Dia membawa semua keperluan sekolah, bekal makan siang, dan juga payung. Namun


lebih dari itu, diantara buku pelajaran yang di tumpuk masuk kedalam ranselnya,


ia tidak lupa akan satu benda yang tidak kalah penting; majalah misteri-nya.


Semalam saat berada di ruang tengah, ia melihat lembaran dari


majalah itu terbuka karena terbawa angin. Memang semalam hujan turun dengan


sangat lebat. Iringan petir dan kilat juga menyambar dengan sangat kencang. Karin


yang disuruh orang tuanya untuk mengunci semua jendela lansung memperhatikan


majalah yang sempat ia beli tempo hari.


Lembaran itu terhenti di halaman yang sempat ia bahas


bersama teman-temannya. “JAILANGKUNG PARTY. Alias Pesta Jailangkung.


Satu kolom dari halaman itu memberikan penjelasan, salah


satu narasumber mengaku berhasil berkomunikasi dengan temannya yang sudah lama


meninggal. Hal inilah yang membuat gadis ini memiliki ide gila. Dia ingin membahasnya


kembali bersama teman-temannya di kelas.


Pagi ini, dengan langkah sangat pasti. Dia terlihat optimis.


Saat ia berada di dalam kelas dimana semua siswa telah rame, karena masih mendiskusikan hal kemaren, ia lansung


mengeluarkan majalah misteri itu dari ranselnya.


PLAK


Semua siswa memperhatikannya. Begitu juga Arinda, Merri dan


Tito. Bahkan Fitri hampir berteriak saat melihat buku apa yang di lempar Karin.


“Kita bisa tanyai lansung kepada Mikha, dia meninggal karena


apa?!” Ajak Karin.


“De.. de.. dengan apa?” tanya Fitri gagap. Dia selalu takut


jika Karin sudah berkeinginan.


“Dengan main Jailangkung.” Jawab Karin.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2