Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
44. Kelas Terkutuk


__ADS_3

“AGH!” Arinda menerima pukulan hebat di kepalanya.


Pukulan itu di layangkan Karin dengan sangat keras dengan menggunakan sebuah kamus bahasa inggris berkover tebal. Badannya terhuyung lemah. Pemandangannya lansung samar karena beratnya rasa pening yang ia tahan.


“KARIN... KWENWAPWA LU PWU...kul...Ari....daaa!” ia mendengar suara Fitri yang membelanya. Makin lama suara itu makin pelan dan kemudian gelap lalu hening.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


Karin terlihat senang dengan apa yang ia lakukan. Ia memukul Arinda, melempar Tito dan dua orang siswa bertingkah aneh setelah mendekatinya. Gelagat mereka seperti di serang epilepsi. Namun jauh dalam hatinya, ia bingung kenapa ia bisa setega itu kepada orang-orang dikelasnya. Terlebih dia bingung kenapa tangan ini, sekali lagi telah mencelakai Arinda. Kemudian ia juga tega membuat Tito juga tidak sadarkan diri.


Rasanya ia ingin berteriak, namun yang keluar dari mulutnya adalah: “Ha ha ha!!” Tawa yang menggelegar.


“Karin kenapa menakutkan sekali...?” Fitri yang bersembunyi di balik badan Merri hanya bisa melihat apa yang terjadi.


 “GYAAA!!! GRAAAYAAA!!!” beberapa siswa tiba-tiba berteriak dan meracau tidak jelas. Mereka menekan kepalanya yang seketika terasa berat dan pening.


“Karin hentikan!” perintah Agus sambil menahan siswa yang menggeliat tersebut.


“Tidak bisa!!!” teriak Karin menangis. Lalu mata itu tiba-tiba melotot dan kembali menyunggingkan senyum, “TIDAK AKAN BISA... SEbeLUM KAU IKUTI SemUA PERINTAHKU!” dia kembali menunjuk Merri. Kali ini ekspresi wajah itu tersenyum.


Merri menarik nafas dalam-dalam. Dia tidak suka dengan situasinya kali ini. Kenapa harus di sekolah dan kenapa harus di depan teman sekelasnya.


“Aku hanya ingin sekolah dengan tenang, kenapa kamu mengganggu kami?” tanya Merri. Wajah itu tidak menunjukkan ekspresi apapun. Datar, persis seperti Kusuma. Ya, dia meniru gaya ibunya jika berhadapan dengan orang-orang yang butuh kemampuan darinya.


“APA?!” Karin melompat di atas meja milik Merri. Kemudian menatap tajam. “Kau yang pertama kali ikut campur, iblis kecil!” dia hendak meraih dagu kecil Merri. Namun tangan Merri, lebih tepatnya Merri yang berbagi kesadaran dengan Rohi, menangkisnya.


“Aku tau kau bukan mencari anak ini, tapi Aku.” Ucap Rohi.


Karin tersenyum sambil memamerkan sepasang bola mata bewarna merah. Dengan kata lain, sosok yang bersembunyi di balik tubuh Karin tengah menunjukkan jati dirinya. Begitu juga Rohi yang memamerkan mata kuning yang bersarang di mata kiri gadis itu.


TOK TOK TOK


Pintu kelas di gedor dari luar. Semua siswa berteriak.


“BUKA PINTUNYA BUK!!!” seru mereka.


Namun guru yang di luar juga bingung kenapa ia sendiri juga tidak bisa membukanya. “KALIAN BUKA PINTUNYA!!!”


“GAK BISA Buk!!!”


Karin menoleh kearah pintu kelas yang di tutup rapat. Ia juga melihat anak-anak yang ketakutan. Kemudian ia kembali menatap Merri. “Mau yang lebih menarik lagi?” tawarnya.


Merri menyeringit. Dia penasaran kemana jalan pikiran setan ini. Tak lama kemudian, dan tanpa perlu tanggapan dari Merri. Karin yang berlinang air mata, dengan senyum licik menghiasi wajah pucatnya, sebuah energi lain membuka pintu kelas. Membuat sang guru masuk. Kemudian saat bersamaan, Karin menghempaskan dirinya ke papan tulis dengan keras.


Oke di larat, maksudnya, Setan dalam tubuh Karin sengaja memutar balikkan  keadaan. Ia sengaja menghempaskan tubuh Karin ke papan Tulis agar guru yang melihat lansung menuduh Merri. Sebagai setan yang licik dia tau titik kelemahan Merri.


Beberapa siswa mencoba kabur, “Ibu kami tidak mau belajar di kelas ini lagi!!!” teriak mereka.


“GYAAA... Astaga... apa-apaan ini?!” guru yang masuk kaget dan histeris. Tiga siswa terkulai dan tidak sadarkan siswa, lalu ada dua siswa yang menggeliat dan mengejang. Bola mata mereka sudah putih semua.


Karin yang terkulai lemah dengan luka darah yang mengalir di dahi dan bahunya berusaha berdiri. “Bu Gu ru...!” ucapnya Lirih. Dia kemudian menunjuk ke arah Merri, “Dia pelaku nya...Gyaaa Gyaaaa KYAAAAAAA!!!!!” Karin kembali terjatuh duduk. Ia menekan kepalanya yang sangat pening. Rasa sakit itu seperti ada bor yang menancap di kedua sisi kepalanya. Rasa sakit itu menyiksa Karin.


“GYAAAAAAA!!!!!” beberapa siswi yang melihat kejadian itu secera serempak juga mengalami hal yang sama.


Guru semakin panik. Ia bingung dengan keadaan siswanya. Ada yang tidak sadarkan diri dan ada yang bertingkah aneh. “Apakah mereka kesurupan? Bukankah ini kelas angker karena di buat ritual jailangkung oleh anak-anak ini?” pikir Guru tersebut. Dia menoleh ke arah Merri yang juga bingung dengan tingkah karin yang tiba-tiba berubah-ubah. “Apakah benar gosip tentang anak ini? anak pembawa sial?” pikir guru tersebut.


“AKU INGIN PULANG... PAPI... MAMI...!!!” rengek Fitri masih bersembunyi di bawah meja. Dia melihat tubuh ramping Karin melayang dan menghantam papan tulis. Lalu dia lihat bagaimana Karin tersenyum licik sebelum menuduh Merri.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


Arinda membuka matanya. Teriakan dan kegaduhan terus menendang gendang telinganya. Suara rintihan dan juga tawa terus menerus mengusiknya. Mata almond yang sama-samar itu akhirnya melihat dengan jelas apa yang tengah terjadi. Tubuh itu bangkit dan terduduk di atas kasur dengan selimut bewarna biru. Disekitarnya adalah tirai putih khas milik ruang kesehatan sekolah.


“Arinda kamu udah sadar?” Fitri memeluk Arinda erat-erat.


“Aku dimana?” tanya Arinda, “Yang lain mana?” tanyanya lagi.


“Karin ada di mushola, lagi di urus sama guru agama sama ustad. Katanya Karin keserupan. Teman-teman yang lain juga kesurupan.” Jelas Fitri menahan isak tangis.


“Kesurupan?”

__ADS_1


“Iya.” Angguk Fitri.


“Tito?”


“Itu!” Fitri membuka tirai yang membatasi ranjang Arinda dan juga Tito. Di atas kasurnya, Tito juga baru terbangun dari pingsannya. Dia terduduk dan melamun. Wajah pria itu terlihat bingung.


“Gue pingsan karena apa?” tanya Tito Ke arah Fitri dan Arinda.


“Di bogem Karin.” Jelas Fitri.


“Tapi gue rasa Karin belum nyentuh gue. Tapi perasaan gue mimpi kalau Karin di sekap setan tinggi hitam dan bermata merah.” Ucap Tito. Arinda kaget mendengar cerita Tito. Baginya hal berbau mistis seperti ini sangat masuk akal, mengingat pengalaman yang ia alami sebulan terakhir ini.


“Hiks... hiks... kok jadi gini sih...!” rengek Fitri.


“Lalu Merri mana?” tanya Arinda.


“Dia di ruang guru.”


"Kok di ruang guru?”


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


“GYAAAAAAAAAA KYAAAAAA!!!” ruang mushola yang seharusnya di isi dengan kegiatan ibadah, seketika menjadi suram.


Tiga belas siswa termasuk Karin terpaksa di Ruqyah. Guru agama dan juga ustad sibuk menangani mereka. Rintihan itu mengundang penasaran siswa lain. Rumor kelas angker menjadi semakin kuat karena tragedi ini. Mereka lansung membahas rumor kematian Mikha dan juga permainan jailangkung yang terjadi di kelas sebelas IPA A itu. Namun ada hal baru yang lebih menarik perhatian para siswa yang kepo itu. Mereka seketika penasaran dengan Merri. Sebab dalam proses Ruqyah, Karin tidak henti-hentinya menyebut nama Merri dan membicarakan hal buruk mengenai dirinya.


“GYAAAAAA!!!!” teriak Karin, “MERRRI AWAS KAUUUU!!!” teriak Karin.


“Keluarlah kau setan, kau tidak pantas berada di tubuh anak ini!” guru Agama mencoba membaca doa. Namun Karin tetap membandel dan terus menyebarkan cerita tidak benar.


“AKU TIDAK AKAN KABUR SELAIN KALIAN MENYERAHKAN ANAK PEMBAWA SIAL ITU. MERRI ITU NAMANYA, BERIKAN KEPADAKU BIAR AKU BAWA. INI DEMI KEBAIKAN KALIAN. KARENA DIA... AYAHNYA MATI... KARENA DIA... IBUNYA SENGSARA... AKU TIDAK AKAN BIARKAN KALIAN BERNASIB SAMA!”


“DIAM!!!” bentak ustad dan guru agama. Ya bagi mereka, itu hanya kebohongan. Namun bukan bagi para siswa yang mencoba mendekat ke mushola dan mencuri dengar apa yang di teriaki Karin. Kesimpulan dari otak dangkal sekumpulan siswa itu pun lansung menyimpulkan. “Merri pembawa sial.”


“Merri siapa?”


“Ga pernah tau.”


“Anaknya emang ga gaul kayak Arinda atau Karin.”


“OO anak yang akrab sama Arinda itu ya? Jadi dia pembawa sial?”


“Hust! Itu ga mungkin!”


“Tapi betul juga sih, pas dia masuk, Mikha meninggalkan?”


"Iya juga, sejak dia masuk kelas favoritnya bu Lira jadi banyak masalah. Ini aja kesurupan masal."


"jadi benar dong, Merri anak pembawa sial..serem ya!"


Kabar buruk itu lansung tersebar begitu saja. Kemudian di waktu yang sama, ia juga di panggil wakil kepala sekolah bagian kesiswaan.


"Saya lihat anak itu terlempar jauh hingga nge hantam papan!" jelas guru tersebut. "Kalau bukan anak ini lantas siapa?"


"Tenang bu Rahma, biar saya tanyakan dulu kepada anaknya." ucap Pak Ruslan selaku wakil kepala sekolah.


"Kalau perlu hukum dia, saya dari awal curiga kenapa anak ini pindah dari sekolah lamanya. Pasti dia menimbulkan sebuah masalah."ucap guru tersebut.


"Biar saya tangani dulu. Bu Rahma lebih baik keluar dulu." pinta pak Ruslan sopan. Guru tersebut masih kurang puas. Dia merasa takut dengan Merri. Tapi dengan perasaan kesal campur aduk, ia meninggalkan ruangan tersebut.


Merri sedih, dia cemas dan takut. Kejadian yang sama terulang kembali. Semua siswa dan guru membencinya karena kemampuannya. Semua siswa dan guru takut kepadanya karena pernah membantu mereka. Semua siswa dan guru ingin dia keluar karena tidak aman dekat dengannya. Merri hanya duduk, diam membisu. Dia pasrah dengan ganjaran yang ia terima karena membantu orang lain.


“Lebih baik aku tidak terlibat dengan masalah mereka. Lebih baik aku diam saja. Aku salah memahami maksud dari meminta bantuan terlebih dahulu.” Batin Merri.


“Jadi apa yang telah terjadi di kelas itu?” tanya Pak Ruslan.


Merri hanya menggeleng. Tangannya gemetar.


“Kenapa tidak jawab? Bukannya kamu berada di kelas dan terlibat masalah dengan anak-anak yang kesurupan itu?” desak Pak Ruslan.

__ADS_1


Merri tertunduk dalam. Dia menggenggam tangannya erat-erat.


“Apa Kamu bertengkar dengan siswa bernama Karin? Jika benar saya akan men-skor dia kembali, sebab dia ada di daftar siswa yang harus di perhatikan.” Jelas Pak Rusla.


“Bu bukan!” jawab Merri gugup. “Bu bukan itu.” Merri terbata-bata. Pikirannya juga tak menentu. Apa yang harus ia jelaskan dengan guru ini.


BRAG...


“Arinda... jangan masuk!!” disaat bersamaan Arinda, Tito dan Fitri menerobos masuk keruang wakil kepala sekolah. Pak Ruslan dan Merri kaget.


“Pak, Merri tidak salah, pak!” seru Arinda membela Merri.


“Iya pak!” tambah Tito.


“Lalu Karin yang salah?” tanya Pak Ruslan.


Merri menatap teman-temannya dan menggeleng. Arinda juga bingung harus jawab apa. Dia juga tau masalah Karin. Apalagi jika sampai Pak Ruslan tau kalau Karin juga memukulnya hingga pingsan, pasti Karin lansung di skors atau di keluarkan dari sekolah.


“Pak Karin kesurupan!” jawab Fitri nangis, “Jangan hukum Karin atau Merri, hukum setan yang selama ini sering gangguin Karin, Pak. Huaaa!!!” isak Fitri.


“Karin di ganggu setan?” tanya Pak Ruslan tidak percaya.


“Dia ga pernah tidur nyenyak seminggu ini Pak. Awalnya saya juga ga percaya, tapi kalau lihat kondisinya sekarang yang ternyata kesurupan saya merasa berdosa jadi temannya, pak!” terang Fitri polos.


Tito menilai Fitri, “Apa benar? Ini boongan atau apa?” pikir Tito menilai Fitri.


Fitri menoleh ke Tito, “Tito juga tau, Pak. Arinda juga tau, Merri juga tau. Tapi kita ga percaya. Tapi ternyata dia ga boong. Huaawaaaaaaaa aku berdosa jadi temannya karena ga percaya sama masalah yang di hadapi Karin!!” tangis Fitri.


Pak Ruslan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kalian apa-apaan. Jangan pernah bohong sama guru!” bentak pak Ruslan.


“Maaf pak, tapi itu fakta, hikss!!” jelas Fitri.


“Merri apa itu benar?” tanya pak Ruslan kepada Merri yang diam dan menatap ketiga temannya. Yang jelas Fitri tidak bohong sama sekali. Kalau boleh jujur, Merri mencurigai kalau Karin juga terlibat bermain jailangkung bersama Mikha.


PRAAAANKKKK.....


Suara kaca pecah,.


“GYAAAAAAAAA!!!!!!”


Teriakan para siswa.


“ASTAGFIRULLAH...!!!” guru agama yang teriak nyaring.


“HA HA HA!!!” dan gelak tawa Karin yang lepas.


Merri, Arinda, Tito, Fitri dan Pak Ruslan hening. Mereka mendengar kericuhan yang terjadi di luar kelas. Entah kenapa, mereka berempat terinterupsi untuk tidak bicara satu sama lain, namun lebih kepada tindakan waspada, seolah-olah ada bencana yang akan menimpa mereka. Ini bukan kekuatan indra keenam, namun lebih di tekankan akan perasaan takut.


Bohlam lampu di ruang Pak Ruslan tiba-tiba pecah. Ruangan itu mengalami kekurangan pencahayaan. Terlebih saat ini langit siang menjadi mendung, sehingga membuat suansana semakin mencekam. Ruangan


guru dan kepala sekolah yang berada di lantai dua itu tengah di datangi sosok Karin dengan wajah lebih pucat dari sebelumnya. Mata lebih merah dan penampilan lebih kacau.


“Ka Karin?” Pak Ruslan yang pertama melihat kehadirannya di depan pintu masuk.


Gadis itu berjalan, tanpa alas kaki. Sepasang telapak kaki itu kotor dan meninggalkan jejak tanah coklat yang basah.


DUAAARRRR!!!


Di langit mendung, petir menyambar dan mengeluarkan cahaya kilat. Sepintas wajah Karin terlihat, dan ia semakin terlihat menyeramkan.


“Karin Akan Ma ti!” ucap Karin yang kemudian berlari kearah jendela ruang guru tersebut.


“KARIN!!!!!” teriak mereka yang ada disana.


PRANKKKKKKKK !!!! Kaca itu pecah karena hantaman tubuh Karin.


“KARIIIIIIINNNNN!!!!” teriak Arinda. Semua bergegas sebelum tubuh itu terjun bebas dan mendarat di halaman sekolah yang lantainya telah di semen.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung...

__ADS_1


__ADS_2