
Tito meletakkan ganggang telfon. Baru saja dia menelfon Arinda. Suara Arinda membuat Tito meniup gendang telinganya. Arinda sekali marah memang sangat bahaya.
“Huft!! Masalah cewek kok gue yang bingung ya?” batin Tito.
“Kenapa lo? Habis nelfon cewek ya?” Itu Tuti, kakak pertama Tito.
“Hahaha dia mana ada cewek sih?” sahut Teti kakak perempuan keduanya.
“Apa-apaan sih kalian, ga usah ikut campur masalah gue bisa ga sih?” bentak Tito.
“Alah, ga usah sok galak lu, gua ngambek gua ga bakal masakin mie rebus buat lu.” Ledek Tuti.
“Iya lo, gua ga bakal minjamin duit jajan buat lu. Lu juga ga boleh ambil cemilan gua, komik-komik gue, sama streotape gua. awas aja lu.” Tambah Teti.
“Idih kak Teti pelit amat.” kali ini si kecil Teta yang nyahut. Dia dari tadi duduk di balik Teti dan sibuk menggambar.
“Biarin, week!!” cibir Teti yang dua tahun lebih tua dari Tito. Dia mahasiswa tahun kedua di sebuah universitas negri.
“Ga bisa dewasa.” gumam Teta yang kemudian melanjutkan aktivitas menggambarnya. “Bang Tito jangan tiru sifat tidak terpuji seperti kak Teti, ya?” lanjut Teta, dia memang paling bungsu. Tapi gaya bicara dan sikapnya tidak sesuia dengan usianya. Bisa dikatakan dia sok tua.
"HAhaha...!" Tuti hanya tertawa melihat si bungsu. "Kalian malu tuh sama Teta, berantem mulu sih!"
“Udahlah, gua mau rubris." ucap Tito. Dia kembali mengambil ganggang telfon dan kali ini memencet nomor rumah seseorang.
"Tuh kan, Si Tito pacaran mulu dia." ledek Teti.
"Emang dia udah punya pacar?" tanya Tuti penasaran.
"Emang bang Tito ada kemampuan buat dapat cewek, orang dia sama Toto mulu." pikir Teta.
Tapi yang di omongin ga mau rubris. Sebagai minoritas dia lebih memilih diam agar ketiga saudarinya tidak semain gencar menjahilinya.
"Halo..." sapa Tito.
"Halo... siapa?" tanya suara gadis di sebrang.
"Karin, lu ada waktu ga?" tanya Tito.
"Kenapa?"
Tito hendak mengutarakan maksudnya, namun keheningan di belakangnya membuat dia menjadi penasaran.
**Kemana perginya tiga kunti berisik? **pikir Tito.
Saat ia menoleh kebelakang, ketiga saudarinya; Tuti, Teti dan Teta tengah berdiri di belakangnya dan memasang daun telinga lebar-lebar. Tak tanggung-tanggung, mereka menggunakan gelas agar bisa menangkap dengan siapa Tito berbicara.
"KALIAN NGAPAIN SIH?!" bentak Tito.
"Hanya penasaran." jawab ketiga saudarinya datar.
Tito meninggalkan semua saudarinya dan pergi menuju kamar. Didalam sana Toto, kucing laki-laki satu-satunya tengah tertidur pulas. Ya, selain di huni para kaum hawa, seperti ibu dan ketiga saudarinya, Tito juga memelihara seekor kucing jantan berbulu hitam legam. Hanya Toto yang menemaninya kalo ketiga miss kunti ceriwis itu berisik di luar sana. Setidaknya Toto bisa menjadi teman ngobrol yang pas sementara sampai ayahnya libur dari tugas melaut.
Tito membiarkan kucing hitam dengan tubuh tambun itu tidur di kasurnya. Mata cowok itu sekarang sibuk mengambil sebuah majalah. Majalah apalagi kalau bukan majalah misteri milik Karin. Dia ingat cerita si gembul
__ADS_1
Fitri yang bilang kalau Karin terlihat aneh sewaktu insiden di kamar mandi wanita tempo hari.
“Tangan Karin itu seolah-olah berontak sendiri, dia ingin cekakakan Arinda, tapi Karinnya ga mau.
Emang aneh tapi itu yang gua lihat. Kan lo tau sendiri, se barbar apapun Karin
dia ga akan mau mukulin orang, apalagi temannya sendiri. Jangan kan itu, lihat
*kecoa aja dia taku***t**.”jelas Fitri setelah kejadian di sekoah waktu itu.
Tito juga percaya akan hal itu. Setahun mengenal Karin, dia belum pernah melihat Karin memukul atau menganiaya orang lain. Hanya sekali, itupun saat kelas satu, dia ikut tawuran dengan kakak kelas, itupun dia menggunakan tangan kosong dan yang ia hadapi juga siswa sekolah lain yang badannya cukup gede. Waktu itu dia bilang ; tawuran untuk latih mentalnya buat ikut turnamen tapak suci.
Oke Tito sudah membuka halaman yang dimaksud, Efek bermain Jailangkung. Mata teduh cowok itu membaca tiap baris halaman tersebut. Ada sebaris kalimat yang membuat matanya terpaku sesaat.
"Setelah memainkan Jailangkung, semua peserta wajib mengakhirinya, jika tidak arwah yang di panggil minta di bopong untuk di antar pulang. Kasus terseram, mereka menginginkan cendramata seperti darah hewan atau manusia."
“Mampus!” Tito menutup mulutnya. “Tapi waktu itu ga terjadi apa-apa sih.” Pikir Tito lagi. “Permainan itu nihil, tidak ada yang di panggil, tidak terjadi apa-apa selain si Asep sialan itu datang.” pikir Tito. Dia memegang dagunya, lalu melihat ke atas kasur, “Menurut lo gimana To?” kosong, kucing itu tidak ada di kasurnya.
“To, toto?” panggil Tito. Mata Tito melihat kearah jendela. Si kucing berbulu hitam itu tengah duduk mematung melihat arah luar dari jendela kamar Tito.
“Lo ngapain To?” tanya Tito. Kucing itu tidak menoleh ke tuannya, matanya hanya terus terpaku pada sesuatu yang ia lihat di luar jendela. Tito menghampiri, memang di luar jendela kamar Tito ada sebuah pohon jambu yang cukup tua. Pohon itu sudah ada dari zaman neneknya masih pacaran dengan kakeknya.
“Ada tupai ya, sana?” tanya Tito. “Gue nelfon Karin lagi deh.” Ucap Tito. Dia pergi meninggalkan kamar dan Toto begitu saja.
Saat tuannya telah pergi, kucing hitam itu semakin menajamkan tatapannya. Kemudian dia menampakkan taring giginya, “Meeeeeooongg!!!” eong si Toto dengan kesal. Apapun yang ia lihat, dia tampaknya tidak suka makhluk itu mendekati kamarnya. “Meeeeoong!!! SRRRAAAAAAKKK!!!” bengis kucing tersebut yang memamerkan taring tajamnya.
“Lo percaya?” tanya Karin.
Tito dan Karin akhirnya memutuskan untuk bertemu disebuah kafe. Mereka duduk di meja dengan nomor 09.~~~~ Disana juga ada Fitri yang sibuk menyusun burgernya, dan kemudian melahapnya kedalam mulutnya. Sehingga cewek gembul imut itu persis seperti tupai yang menyimpan banyak makanan cadangan di pipi mereka.
“Gue udah di ceritain Fitri, makanya lu jangan marah-marah mulu.” Jelas Tito.
“Ya Sorry, gue malas aja, sapa tau lo lebih belain Arinda. Secara kalian udah temanan dari kecil.” Karin memasang wajah sedih.
“Teman sih tetap teman. Tapi kalau urusan ini ya gua bakal belain lu juga, lu juga korban. Trus gimana lukanya, udah kering?” tanya Tito menunjuk perban yang membalut tangan kiri Karin.
Karin tersipu malu, dia tidak tau jika perhatian Tito yang sederhana membuat hatinya bisa se_senang ini.
“Lumayan, makasih udah nanya.” Jawab Karin singkat. Dia tidak mau terlalu menunjukkan sisi feminimnya didepan Tito walau dia ingin. Setidaknya tidak di depan Fitri yang suka ember ini.
“Kalian ga makan?” tanya Fitri yang baru saja menghabiskan satu porsi burgernya.
“Buat lo aja, gue lagi ga nafsu makan.” Ucap Karin yang menyodorkan hot dog ke Fitri.
“Tumben? Biar kurus ya kayak Merriya?!" Ledek Fitri.
“Ga lah jelek.” Sembur Karin. “Eh ngomong-ngomong soal Merry, gua dapat cerita dari Agus kalau tuh anak baru juga ga masuk ya selama dua hari.” Tanya Karin.
“Agus?” tanya Tito. “Lu sering telfonan sama Agus.” Tanya Tito.
“Ga juga sih, pas kemaren aja, dia merasa bersalah gua di skors, tapi tuh Merri si anak baru kenapa sampe ga masuk? Beneran dia sakit atau kesurupan kayak si Sintia?” tanya Karin. Ooo ya Sintia adalah siswi yang kesurupan dikelas itu ya... hehehe.
“Katanya sakit. Tapi ga tau sakit apa.” Jelas Fitri.
“Kok bisa?” tanya Karin.
__ADS_1
“Namanya juga orang sakit ya gimana lagi, kan kita ga tau. Lagian badan kurus kek Merry rentan dakit tau. Mending kek gue, gendut dan sehat” Jawab Fitri.
"Itu menurut lu...!" ledek Karin, “Tapi iya sih, gue juga lihat dia di UKS, dia ga sadarkan diri pas gue di marahin sama si kepsek gelo itu.”
“Iya, gua juga lihat, dia jatuh ga sadarkan diri di halaman. Kan yang bawa ke ruang UKS kan gua, asal kalian tau ya, Merri sumpah, ringan banget, ga ada beban. Gue kayak bawa kucing gue si Toto tau.” Jelas Tito. Karin tiba-tiba merasa tersudutkan, ada perasaan sedih sekaligus iri.
“Ya Ya gua paham, jangan di lanjutin!” seru Karin.
“IYA!!” seru Fitri menambahkan, “Gue jadi ga pengen makan!” Fitri juga ikutan ngambek.
“Loh, kok kalian malah marah?” tanya Tito tidak peka sama masalah dua perempuan di depannya.
“Ya iyalah gue marah, secara dari body gue sangat body Latin banget. Jadi gue merasa terintimidasi, coba saja kalo yang jatoh pingsan itu gue, apa yang lo lakuin?” tanya Fitri ke Tito.
“Ambil gerobak, trus bawa lu pake gerobak. Mungkin yang dorong bukan cuma gue, gue butuh bantuan anak kelas lainnya lah. .” Jawab Tito.
“Tuh kan, sebel, gua juga mau di gendong kek Merri.” Rengek Fitri.
“Yeeee gue ga mau, yang ada badan gue remuk!!! Bukan badan lu yang gua angkut, malah tangan gue yang copot!!” seru Tito yang membuat Fitri semakin cemberut.
“Oi mbem, sadar diri aja, jangan terlalu di permasalahin! Lagian lo ga bakal pingsan. Bukannya lo gembul yang sehat, hah?!” omel Karin.
“Ya Allah mulut wanita ini!!” Ucap Fitri yang membuat Tito tertawa.
"Hahahaa... parah lu!!"
“Biarin!!” Karin sedikit badmood. Dia tidak tau kenapa dia begitu sedih secara tiba-tiba. “Huft!!” dia menghembuskan nafas dengan kuat.
“Yang sabar aja, Senin lo udah mulai masukkan?” ucap Tito yang sama sekali tidak tau-menau dengan isi pikiran dan hati Karin. Dia hanya mengangguk, sebagai seorang teman dia tidak mau bersikap egois lebih lanjut,
yang ada Tito akan benci dengannya sama seperti Arinda yang sekarang tidak suka dengannya.
“Tapi gue masih penasaran dengan Merri.” Ucap Karin.
“Kalo gue penasaran dengan permainan kita waktu itu.” Ucap Tito. “Sebenarnya kita berhasil manggil satu entitas atau enggak sih?” tanya Tito.
Karin dan Fitri sama-sama menoleh. Seketika bayangan di kamar mandi itu membuat Karin ingat akan satu hal.
“Kenapa kalau berhasil?” tanya Fitri cemas.
“Kita harus mengembalikan entitas itu dengan menutup permainan kita.” Lanjut Tito. “Jika tidak, ada kemungkinan yang lebih buruk terjadi.”
“Hiii??!” Fitri memegang bulu kuduknya yang tiba-tiba merinding. Dia memang paling penakut dan tidak suka dengan hal-hal berbau hantu.
“Sebenarnya...” Karin membuka suara, dia agak ragu untuk menceritakannya kepada teman-temannya. Tapi setelah ia pikir-pikir lagi, merekalah yang sangat tepat untuk mengetahui apa yang dia lihat.
“Apa?” tanya Fitri semakin takut.
“Gue lihat bayangan Mikha di cermin kamar mandi. Dia berdiri di belakang gue dan menggenggam tangan kiri gue dengan erat.” Jelas Karin.
DEG!!
Jantung Tito dan Fitri tiba-tiba bergemuruh. Entah apa yang ada di benak mereka, namun untuk beberapa menit kedepan meja dengan nomor 09 itu hening sesaat.
__ADS_1