Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
24 Buku Petunjuk Mbah Uti


__ADS_3


Merri mengangkat cawan tersebut. Dia mencium aroma kopi yang sangat beda dari biasannya. Aroma pada minuman ini sedikit berbau lumpur.


“Minumlah!” perintah Mbah Uti.


Merri melihat ke arah ibunya. “Lakukan saja, nak!” perintah Kusuma.


Tidak ada pilihan, mau nanti atau besok, minuman ini tidak akan berubah menjadi es dawet. Dia tetap minuman dengan warna dan aroma yang aneh. Merri memejamkan matanya dan memencet hidung agar aroma itu tidak mengganggunya.


“Gluk..” tegukan pertama, Lidah Merri mengecap rasa manis. Dia melepas jari yang menjepit hidungnya, “Gluk..” Merri masih merasakan rasa manis yang sama, namun sudah agak berkurang. Dia merasa pede untuk bisa meminum air tersebut tanpa rasa khawatir.


“Gluk... Byuuuuurrrrrr!!!!!” Merri seketika menyembur kopi dari mulutnya. Lidahnya merasa getir dan pahit yang amat terasa sangat, sampai-sampai lidahnya mati rasa. Untung mbah Uti dan Kusuma yang sejak awal sudah tau efek kopi itu menghindar, sehingga mereka terselamatkan dari semburan gadis itu.


“Hueeek.. hueeekk.. pahitt, ihh pahit...” rintih Merri.


“Ini minum teh manis ini.” sodor Kusuma.


“Jangan, biarkan beberapa saat, biar si iblis tengik itu juga tersiksa, pasti dia tidak akan muncul dalam beberapa lama karena minuman ini membuat bangsa siluman setengah ular akan beser. Hahahaha...!!!!” Mbah Uti tertawa terkekeh-kekeh. Tentu beser yang dia maksud memiliki makna lain. Sebab di alam sana, Rohi tiba-tiba merasa kesakitan dan kehilangan keseimbangan. Dia meerang kepanasan di batang tenggorokannya, sehingga membuat dirinya sungguh sangat tersiksa.


“TUA BANGKAA SIALAANNNNNNN!!!!” Teriak Rohi yang bergema di kepala Merri dan mbah Uti.


“HaHAHAHAHA!!!” Mbah Uti hanya tertawa penuh kemenangan. “Siapa suruh kau ganggu cucuku.”


PRANK!!!!


Sebuah foto lukisan yang terpajang di dinding ruang tau itu retak dan jatuh seketika. Kusuma dan Merri kaget melihatnya, tapi mbah Uti masih saja tertawa.


“Dasar iblis, ngambekan!!” ledek mbah uti.


PRANK...


KLONTANG...


PRANK...


Ternyata bukan hanya satu lukisan, beberapa lukisan lainnya juga retak dan berjatuhan. Begitu juga dengan benda-benda disekitar rumah. Bahkan di depan mereka meja ruang tamu itu terlempar keras ke pintu, yang menyebabkan meja dan pintu menjadi rusak.


“Gyaa?!” teriak Merri.


“Duduk di sampingku!” perintah Mbah Uti yang  lansung di laksanakan Kusuma dan Merri. “Kusuma, bantu aku memantapkan mantranya.” Kusuma mengangguk.


“Rohi itu mengamuk! Dia tidak melihatkan wujudnya tapi dia merusak isi rumah, berarti dia membututiku beberapa lama ini.” pikir Merri dalam hati.


Mbah Uti dan Kusuma mengucapkan mantra. Sedangkan seisi rumah sedang di kacaukan oleh Rohi. Baik pintu dan jendela bergerak seperti ada yang membuka dan menutup. Lampu juga begitu, berkdip-kedip padahal listrik di


rumah tidak mengalami masalah. Barang di sekitar rumah berhamburan. Merri bahkan mendengar keributan yang terjadi di dapur.


Ceklek...


Merri mendengar seseorang menyalakan kompor dan aroma gas menyentuh lubang hidungnya. Dia menyadari akan suatu hal, jika ia diam saja, rumah ini akan meledak akibat gas bocor. Ia segera bergegas kedapur, saat ini


ia tidak boleh diam, selagi nenek dan ibunya mengusir si iblis itu, dia harus bisa menjaga rumah ini.


Sesampai di dapur, Rohi memperlihatkan wujudnya yang sangat mengerikan. Wajah angkuh itu menyeramkan, dia terlihat hitam seperti ada seember oli hitam yang membasahi wajahnya.


“SRAAAAAKKKKKK!!!!” Rohi teriak kesal dan kesakitan, mulutnya menganga sangat lebar sehingga memamerkan semua taringnya. Lidahnya juga menjulur keluar dan panjangnya menyentuh langit-langit.


“SRAAAAAAAAKKKKKK!!!! KHAUUUUU!!!” sekarang lidah itu melilit leher Merri.


“Hek!!” Merri memegang lidah basah dan lengket itu. Ia sadar, saat ini ia kembali di dimensi dimana iblis ini tinggal. “S sial, ka kau menjebakku!!” bengis Merri.


“SRAAAAKKKK! Kau memang bodoh!!” ucap Rohi dengan wajah penuh amarah. “SRAAAAKKKK!!!” Rohi kembali menjerit kesakitan.

__ADS_1


Lambat laun kuping Merri mendengar gema suara yang aneh. Suara-suara yang tidak yang pahami. Semakin lama gema itu semakin jelas. Dia berbalik, di pintu penghubung antara dapur dan ruang tengah, ia melihat sosok


neneknya. Anehnya pakaian neneknya sangat berbeda dari yang ia kenakan tadi. Jika tadi pakaian itu sangat mencolok dan glamour, kali  ini neneknya datang dengan pakaian berupa jubah panjang bewarna putih, tanpa motif dan bordir.


Dia membawa sebuah pedang panjang dan kemudian tanpa ampun memotong lidah rohi dalam sekali tebasan.


“SRAAAAAKKKK SSSIAAAALLLL, TUA RENTA... MASIH SAJA KAU menggangguuu... tunggu pembalasanku!!!!” Rohi menggelinjang dan kemudian menghilang, keadaan juga kembali seperti semula.


Merri terkulai lemas dan badan kecil itu di tangkap Kusuma.


Ceklek..


Gas yang di nyalakan Rohi di matikan semua oleh Mbah Uti. Merri melihat neneknya, pakaiannya kembali seperti semula, sangat penuh warna dan bordir.


“Kau sudah banyak berubah ya, Cu.” Senyum mbah Uti tulus.


.


.


.


.


Malam menjelang, Mbah Uti masih saja mengajak Merri mengobrol. Malam ini Merri memutuskan untuk tidur dengan neneknya itu. Walau memiliki wajah agak galak dan berbicara yang jauh dari kesan lembut, Merri merasa nyaman dengan beliau.


“Ini, buku yang harus kau pelajari.” Mbah Uti memberikan dengan kover yang sangat kuno dan sedikit rusak.


“Buku apa, mbah?” Merri membuka tiap halaman. Semua tulisannya sangat kuno dan aneh.


“Untukmu, ini panduan agar sisi baik dan jahatmu selalu seimbang.”


“Aku tidak bisa bacanya.”


“Mata batin? Apa aku punya?” tanya Merri polos.


“Trus selama ini, kau melihat mereka dengan apa?” Mbah Uti malah mengomeli Merri. “Padahal udah keluar masuk demensi lain, ternyata masih bodoh saja.” Tambah Mbah Uti. Merri hanya tersenyum canggung, dia minim akan istilah dunia mbah dan ibunya. “Kenapa kau mirip kakekmu, lamban dalam mencerna infomasi?” tanya Mbah Uti.


“Aku ga tau.”


“Ibumu tipekal yang bisa belajar cepat, tapi dia tidak bisa melangkah lebih jauh karena kemampuannya tidak sebesar diriku. Kusuma tidak bisa masuk ke demensi lain seperti yang kau dan aku lakan tadi. Tapi setidaknya


anakku sangat cerdas, kamu harus banyak belajar. Paham.”


“Iya mbah, aku paham.” Sahut Merri.


“Sekarang tidurlah, besok kamu mau sekolahkan?”


“Iya, aku dua hari absen.” Merri tiba-tiba ingat akan satu hal, “Mbah, di sekolah baru terjadi suatu hal aneh, ini berawal dari kematian seorang anak di kelas itu.”


“Bawa buku itu, lindungi teman-temanmu.” Perintah mbah Uti. “Tapi dengan syarat, satu jika mereka minta bantuanmu dan kedua jika setan itu mengganggumu.”


“Apa ciri-cirinya jika dia menggangguku?”


“Kalau kamu merasa berat, ketindihan dan pusing, lansung saja usir mereka. Kalau masih sekedar mencium aroma dan penampakan biarkan saja, siapa tau mereka hanya numpang lewat.” Jelas Mbah Uti yang berbaring sambil memejam matanya.


“Mbah udah tidur?” tanya Merri lagi.


“Hmm?!”


“Aku masih mau nanya?”


“Cepat katakan.”

__ADS_1


“Di sekolahku, teman-teman main jailangkung, dan mereka memanggil teman mereka yang sudah meninggal. Tapi sepertinya mereka di teror. Soalnya ada satu anak kelas yang kesurupan, lalu...”


“Pasti salah satu dari mereka membuat kesalahan saat memainkannya. Hmm... kenapa anak muda sekarang sok berani. Sudah jelas sangat berbahaya. Kenapa tidak main komputer saja, bukannya sekarang komputer lagi tren ya?”


“Mbah...”


“kamu mau komputer ga? Biaya internet mahal ga ya?”


“Mbah mau beli buat aku?” tanya Merri.


“Biar kamu pintar dikit.”


“Mbah...?”


“Apalagi?! Ini udah larut Merri??” Mbah Uti mulai kesal.


“aku Cuma mau nanya, kenapa mbah di panggil mbah, bukan nenek. Kesannya kek sapaan cowok.” Tanya Merri.


“Biar keren aja!” jawab mbah Uti apa adanya


“Ooo... !” angguk Merri paham. “Selamat malam, Mbah...” ucap Merri menarik selimutnya.


“Ya cu!!”


Merri memikirkan kejadian beberapa hari ini. Rohi dan dia memiliki kaitan. Saat tanda ini hilang, dia sangat marah. Kenapa? Kenapa harus dia? Begitulah yang ada dipikiran Merri.


“Merri..” panggil mbah Uti yang ternyata belum benar-benar tertidur.


“Ya mbah?” Merri membalikkan badannya, ia melihat neneknya yang masih memejam kan mata.


“Mulai hari ini dan kedepannya, kau harus mulai mengontrol emosi. Jangan biarkan amarah menguasaimu, sebab si cucu Tibbir tak guna itu telah menanam benih di hatimu. Jangan biarkan ia tumbuh. Mungkin kau nanti akan terbiasa berbohong, menghina dan mengumpat tapi jangan biarkan semua hal itu menguasai dirimu.”


“Baik, Mbah!”


“Dulu salah satu cucu Tibbir juga melakukan hal yang sama denganku, walau agak lama akhirny ia bisa aku taklukan.” Mbah Uti membuka matanya.


“Berapa lama Nek?”


“Aku lupa kapan, tapi saat aku menikah ketiga kalinya, aku sadar hidup itu harus memiliki keseimbangan. Seperti Yin dan Yan, Putih dan Hitam, baik dan buruk, harus seimbang.” Jelas Mbah Uti. “Apa kau bisa menjaga itu?” kali ini mata tua itu menatap Merri.


“Aku tidak tau, mbah. Aku tidak tau apa aku siap.”


“Hmm... kau harus siap, Cu!” Mbah Uti kembali memejam matanya dan ia tertidur dengan sangat pulas.


Merri hanya merenung dalam hati, matanya belum mengantuk sama sekali. Dia memikirkan masa depan dirinya.


"Apakah aku siap? Bagaiaman jika aku malah jadi budak Rohi? hmm aku tidak mau, lebih baik mati saja." pikir Merri.


Merri kembali bangkit. Ia meraih buku kuno yang di beri neneknya. Tulisannya sangat aneh, jelas ini bukan tulisan biasa. setiap barisnya terlihat bentuk huruf yang tidak pernah ia kenal. Bisa di katakan setiap kalimat yang ada di helai halamannya terlihat seperti susunan sayur toge dengan bentuk tekstur dan lengkungan yang tidak sama.


"Mata Batin?" Merri mencoba memikirkan caranya. Ia memejamkan mata sejenak, memusatkan pikirannya, lalu mata Merri kembali membuka. Jajaran huruf aneh itu bergerak sendirinya. Buku itu menuntunnya untuk memahami isi dari buku tersebut.


"INDIGO." baca Merri. "Astaga, aku bisa membacanya." Ia terlihat takjub dengan kemampuannya.


Malam itu, Merri menghabiskan waktunya untuk membaca isi buku tersebut.



.


.


.

__ADS_1


__ADS_2