Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 10. Menemani Si Dia.


__ADS_3

"Iya, ini aku. Hai? Sendiri lagi?" Tanpa menunggu persetujuan dari Airin, Raka langsung duduk. Tangan kanannya yang sedari tadi membawa secangkir kopi bergerak meletakkan pantat cangkir ke atas permukaan meja.


Laki-laki itu memajukan kursinya agar lebih mepet dengan meja yang ada di depannya. Setelah itu dia duduk diam dengan mimik wajah yang memancarkan kebahagiaan.


Entah lah. Setiap Airin melihat Raka. Dia seperti tidak menemukan secuil pun penderitaan di mimik wajah laki-laki itu.


"Apakah ini suatu kebetulan lagi?" Airin menebak dengan mimik wajah yang sudah tersenyum, pun satu alis terangkat.


Raka tersenyum semakin lebar. Airin yang melihat itu langsung dibuat memalingkan wajah, "Sepertinya begitu, Rin. Tadi aku duduk di sana." Raka menunjuk kursi paling pojok di bagian kiri dan Airin mengikuti arah telunjuk Raka.


"Nah aku lihat tadi kau datang dengan seorang wanita. Aku mengira kalau kalian berdua akan duduk bersama, tapi wanita itu malah tua itu malah pergi. Akhirnya aku memutuskan untuk menemanimu."


Seperti biasa, Raka berbicara dengan penuh ekspresi dan itu tentu langsung membuat Airin tertawa.


Jujur, bagi Airin tidak ada yang lebih menggelikan dibandingkan Raka. Namun, biar pun terlihat lucu, entah kenapa ketampanan Raka tidak memudar. Malahan saat dia bercerita, cahaya kebahagiaan yang terpancar di wajah laki-laki itu justru menambah kadar ketampanannya.


Itu loh lesung pipinya pasti bisa membuat siapa pun wanita jatuh hati. Tak terkecuali, Airin dan itulah kenapa wanita itu selalu memalingkan wajahnya.


"Raka, Raka." Dengan kepala menggeleng tidak percaya, Airin berucap pun suara kekehan wanita itu mulai berubah menjadi tawa.


Raka sontak membulatkan mata. Jujur, laki-laki itu tadi tidak sedang melucu, tapi entah kenapa wanita di depannya ini tertawa.


"Apa ada yang lucu?" tanya Raka dengan ekspresi kebingungan.


Airin menggeleng dan suara tawa wanita itu semakin pecah, "Tidak, tap- astaghfirullah. Mukamu itu loh, Ka."


Airin tidak bisa berkata-kata, karena wanita itu sudah tidak bisa menahan suara tawanya. Raka yang mendengar perempuan di depannya ini menyenggol kata, muka.


Raka tentu langsung mundurkan wajahnya, "mukaku? Iya, mukaku memang tampan, benar begitu kan?" Entah dapat rasa percaya diri dari mana, Raka berucap. Dia bahkan membuat ekspresi wajah yang cool.


Airin meredam suara tawanya, "Iya, kau tampan, tapi sayang belum laku." Raka terkekeh dan laki-laki itu tanpa sadar mengulurkan tangan dan dia tiba-tiba saja mencubit hidung Airin.


"Kau menggemaskan sekali." Raka memuji dengan masih tidak sadar.


Sementara, Airin. Wanita itu sudah diam tak bergeming, "Raka, apa yang kau lakukan?" tanya Airin dengan tatapan mata yang tajam.

__ADS_1


"Apa yang aku lakukan?" Bukannya me jawab, laki-laki itu malah membeo dengan wajah yang masih terlihat Baisa saja, tapi sedetik kemudian dia terdiam, "Iya, apa yang aku lakukan?" Raka malah mengulangi pertanyaannya, tapi bedanya dia sekarang melihat ke arah tangan yang tadi dia gunakan untuk mencubit hidung, Airin.


***


Malam sudah menjelang dan Adzan Isa sudah dari beberapa menit lalu berhenti berkumandang. Di kediaman, Airin, sekarang wanita itu tangah duduk di sofa ruang kerja suaminya.


Dia sekarang sedang menemani sang suami yang ternyata lembur, "Mas, butuh kopi lagi?" tanya Airin sembari meninggikan kepalanya agar bisa melihat Julian yang duduk di belakang meja kerjanya.


Julian yang mendengar perkataan istrinya Han bersikap acuh. Dia lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan laptop dan beberapa tumpukan berkas kerja sama yang harus dia periksa.


Airin yang diacuhkan menghedikkan bahu. Sekarang laki-laki itu sudah rapi dengan pakaian tidur dan tentu tanpa hijab.


Kalian juga harus tahu. Baju tidur Airin itu bukanlah sebuah gaun, tapi celana kaos bergambar kepala beruang kecil-kecil dan itu senada dengan bajunya. Satu set gitu lah.


"Ya sudah," gumam wanita itu acuh. Airin bergerak menidurkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di sana.


Rambutnya hitam panjangnya sengaja dia biarkan tergerai hingga hampir menyentuh lantai.


Wanita itu tidak berniat tidur. Dia harus terjaga seperti suaminya. Dari awal menikah dengan Julian. Airin sudah diberikan wejangan kalau dia tidak boleh tidur sebelum suaminya tidur.


"Mas, paket dataku habis." Airin kembali mencicit dan Julian tak bergeming.


Wanita itu menggigit bibir bawahnya. Padahal dia ingin membuka Instagram untuk menyibukkan diri, agar tidak bosan dan mengantuk.


"Satu sampai sepuluh."


Airin sedikit mengangkat tubuh untuk melihat suaminya yang tadi mencicit, "Satu sampai sepuluh?" beo Airin yang sepertinya kebingungan dan tak mengerti maksud perkataan suaminya.


Namun, sedetik kemudian dia tersenyum, "Makasih, Mas." Dengan tersenyum lebar, Airin mengucapkan terima kasih, karena laki-laki yang selalu bersikap dingin dan selalu tidak menyukainya itu, memberikan password WiFi.


"Mau aku buatkan kopi untuk dijadikan biaya sewanya?" Julian mengebrak meja dengan keras dan itu berhasil membuat Airin sedikit tersentak kaget.


"Aku sudah memberikanmu akses internet. Jadi, diam dan kerjakan apa yang ingin kau lakukan. Kalau perlu pergi keluar dan jangan di sini!" Dengan kesal Julian berbicara.


Airin langsung diam. Wanita itu kembali tidur dan dia tidak mau mencicit lagi. Padahal maksudnya baik loh. Dia ingin membuatkan kopi, walau di meja sana sudah ada sebuah cangkir yang masih mengepulkan uap panas.

__ADS_1


Julian yang sudah tidak mendengar suara, Airin menghela napas lega. Laki-laki itu kembali fokus ke pekerjaannya.


Sementara Airin. Wanita itu mulai bermain dengan ponselnya. Dia membuka aplikasi chat saat mendapati notifikasi pesan masuk dari Raka.


Airin cekikikan saat ternyata Raka mengirimkan dia sebuah video lucu. Ketakutan yang tadi dia rasakan langsung menguap di gantikan rasa bahagia.


Wanita itu bergerak mengetikkan pesan balasan. Mulutnya tidak berhenti mengeluarkan cekikikan. Julian yang mendengar suara tawa kecil itu melirik ke arah sofa.


Dia melihat Airin menyunggingkan senyum penuh kebahagiaan, cantik sih, tapi laki-laki itu tetap saja acuh. Dia sedikit tenang karena rongsokan itu tidak akan mengganggunya.


Beberapa menit telah berlalu dan entah kenapa, Julian merasa sedikit kesepian. Dia kembali melirik, Airin.


Julian melihat wanita itu masih belum tidur, tapi entah kenapa malam ini dia tidak banyak bicara seperti malam-malam sebelumnya.


Namun, lagi-lagi Julian tidak perduli akan hal itu. Dia kembali fokus ke layar laptopnya, tapi entah kenapa matanya selalu saja ingin melirik ke arah, Airin.


"Rongsokan!" Julian memanggil dengan nada bicara yang sedikit tegas.


Airin yang dipanggil dengan nama sebutan khususnya itu, bergerak bangkit dari tidurannya, "Ada apa, Mas? Sepertinya aku tidak merasa melakukan hal yang mengganggu." Airin bingung karena tiba-tiba sang suami memanggilnya dan ini tidak seperti biasa.


"Tinggalkan ponsel itu dsn pergi buatkan aku kopi sekarang!"


Tanpa membantah, Airin mengangguk kepalanya. Dia meletakkan ponselnya di atas meja kecil.yang ada di tengah-tengah sofa yang melingkar dan setelah itu dia berlari pergi keluar dari ruang kerja.


Disaat sang istri pergi, Julian bergerak bangkit dari kursi kerjanya. Laki-laki itu berjalan ke meja kecil yang ada di tengah-tengah sofa. Dia penasaran tentang apa yang dilakukan Airin hingga wanita itu tidak banyak bicara malam ini.


Julian meraih ponsel dan laki-laki itu menghidupkan layarnya, "Raka?" gumam laki-laki saat melihat notifikasi chat masuk dari kontak yang bernama Raka.


...T.B.C...


...Bab terakhir hari ini, guys. ...


...Ketemu besok lagi yah....


...Makanya kirim hadiah banyak-banyak agar aku bisa semangat update, kirim tiket vote juga, dan komen juga, pun jangan lupa share...

__ADS_1


Satu kata buat Julian dan coret di sini yah👉


__ADS_2