Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 53. Segila-gilanya Dari Orang Gila


__ADS_3

"Ini, Kau masih suka bukan?" Raka menyerahkan sebungkus es krim mangga ke tangan, Airin.


Laki-laki itu tidak bertanya karena dulu seingatnya, Airin menyukai es krim mangga. Entah kenapa, ingatan itu masih terlihat tersimpan jelas di memori kepalanya.


Airin yang mendapati itu, langsung berbinar. Dia hendak meriah es krim yang saat ini disodorkan oleh, Raka. Namun, mulut wanita itu menganga dan matanya membulat saat, Raka menarik kembali tangannya yang tadi menyodorkan es krim.


"Eh, ada apa?" Dengan bingung, Airin bertanya.


Raka yang mendengar itu hanya bisa terkekeh, "Akan aku bukakan untukmu." Dengan sedikit tersenyum, laki-laki itu berbicara membuat lesung pipinya muncul.


"Emang kamu tahu caraku membuka bungkusnya?" tanya Airin dengan sedikit terenyuh.


"Tau dong." Raka menjawab dengan sedikit bernada. Laki-laki itu duduk di sebelah, Airin. Dia mulai menyobek salah satu ujung bungkus es krim hingga terbuka setengah.


Raka mendorong es krim yang ada di dalamnya, hingga ujung warna kuningnya keluar dari celah sobekan yang tadi dia buat.


Setelah itu, Raka menarik ujung bungkus es krim yang masih utuh, membuat makanan yang ada di dalam sana, muncul, "Gimana?" Raka menaik turunkan alisnya. Dengan mimik wajah yang jumawa, laki-laki itu berucap.


Airin melirik dengan mimik wajah yang hanya mengeluarkan seutaz senyum kecil, "Bisa aja kamu mah." Wanita itu menyambar es krim yang ada di tangan Raka.


"Bisalah. Aku kan udah mengenalmu dari kecil, Rin. Jadi, jangan kaget." Raka berbicara dengan mimik wajah yang masih setia menunjukkan kesombongan.


Airin tidak menimpali. Dia lebih memilih fokus menikmati es krim dengan kedua mata menatap ke puncak monas.

__ADS_1


Raka ikut diam. Laki-laki itu menepuk kedua tangannya, untuk membersihkan air dari lelehan es yang menempel di sana.


Raka ikut menatap ke puncak monas, "Makasih yah, Ka." Laki-laki itu menoleh ke arah Airin yang saat ini juga melihat ke arahnya dengan sedikit menyengir dan menempelkan ujung es krim di bibir bawahnya.


Imut.


Itulah yang Raka tangkap dari ekspresi wajah Airin sore hari ini, "Makasih, untuk apa?" tanya Raka dengan tersenyum.


Airin tersenyum. Wanita itu menghedikkan bahu sembari kembali menatap ke arah puncak Monas, "Entah, tapi yang jelas aku hanya ingin berterima kasih," jawab, Airin dan itu berhasil, membuat Raka tersenyum.


Saat ini Airin dan Raka sedang berada di Monas. Katanya, mereka mau bernostalgia mengingat dulu mereka pergi ke tempat ini dengan hanya menaiki sepeda. Itu pun masih menggunakan baju sekolah.


Mereka sampai ke tempat itu beberapa menit lalu. Kemudian sedikit berjalan mengitari, hingga tepat saat senja mulai terlihat, Airin dan Raka memilih untuk duduk.


"Terima kasih karena sore ini kah sudah menghiburku, kemudian membuat aku lupa tentang kejadian penolakan Julian siang tadi, dan makasih untuk semuanya. Aku senang."


Airin yang kesal, mengutarakan apa yang dirasakannya sore ini. Iya, tidak bisa dipungkiri kalau saat ini dia sangat bahagia.


Jujur, Airin merasa dieinya beruntung. Di saat sang suami menorehkan begitu banyak luka, ada laki-laki lain yang memberikan bahagia.


Airin tahu ini salah, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Toh semua ini rencana dari suaminya sendiri. Jadi, yang mau bagaimana lagi. Dia mau tidak mau harus mengikuti permainan pria yang berstatus suami itu. Lagian, laki-laki yang suaminya pilih adalah, mantan cinta pertamanya.


Airin yakin. Dia pasti bisa mengantikan posisi Julian dengan Raka. Terlebih lagi, sikap Raka yang manis dan murah senyum, sering kali membuat dia salah tingkah.

__ADS_1


Di sisi Raka. Saat ini laki-laki itu tengah menatap ke arah Airin yang terlihat senyum-senyum sendiri. Bahkan dia melihat kalau wanita itu lupa dengan es krim yang saat ini menempel di bibirnya.


Raka tersenyum miring. Laki-laki itu bergerak menyenggol sikut, Airin, membuat es krim yang dia bawa bergerak naik ke hidung.


Raka tertawa dan itu sangat keras. Sementara, Airin. Wanita itu langsung dipenuhi kekesalan. Kedua matanya memicing, bibirnya mengeram marah.


"Rakata-kata!" jerit Airin dan itu berhasil membuat, Raka berlari menjauh.


Airin yang kesal, melempari Raka dnegan es krim yang ada di tangannya, "Anak TK aja bisa ngelempar kek gitu." Raka mengejek.


Airin tidak terima. Wanita itu bergerak bangkit dari duduknya dan langsung mengejar, Raka.


Raka berlari mendekat ke bangun, Monas. Laki-laki itu meliuk menghindari orang-orang yang berlalu lalang dengan pelan.


"Ada orang gila ngejar!" Raka menjerit. Kelakuan saat mereka masih kecil dulu, kembali dia keluarkan.


Airin yang mendengar teriakan itu semakin dibuat kesal. Dia berlari semakin kencang untuk mengejar Raka.


Mereka berdua Gili, segila-gilannya dari orang gila. Tidak peduli banyak pasang mata yang melihat, Airin terus saja berlari. Raka pun begitu, dia merasa bahagia, melihat Airin yang tersenyum dalam kekesalannya.


Dia melukaimu, aku akan menyembuhkan itu. Bukankah kita dulu seperti itu, Rin, batin Raka dan laki-laki itu menghindar saat merasakan ada sendal melayang.


...T.B.C...

__ADS_1


__ADS_2