
"Turunlah!" Julian memerintah setelah dia membukakan pintu mobil untuk, Clara.
Clara yang masih ada di dalam mobil tersenyum, membuat sebutir air muncul dari sudut matanya. Iya, wanita itu menangis, atau lebih tepatnya pura-pura menangis agar Julian— kekasihnya tidak terlalu banyak bertanya.
"Makasih," ujar, wanita itu dengan nada yang sedikit bergetar.
Clara bergerak keluar dari dalam mobil. Julian menutup pintu kendaraan roda empatnya itu dan setelahnya, dia langsung bergerak merangkul sang kekasih dengan penuh sayang.
"Sudah jangan nangis." Laki-laki itu berucap sangat lembut. Dia mulai melangkah untuk menuntun, Clara masuk ke dalam gedung apartemennya.
Clara hanya menganggukkan kepalanya, tapi wanita itu tetap mempertahankan mimik wajah yang dia buat sesedih mungkin.
"Kenapa teman-temanku setega itu, Yan? Mereka semua main tinggal." tanya Clara dengan nads bicara yang merengek.
Julian tidak menjawab. Dia memilih untuk menekan tombol lift, agar pintunya terbuka. Setelah selesai melakukan itu, Julian langsung kembali berdiri di sebelah, Clara.
Mimik wajah laki-laki itu sekarang sudah sedikit tenang. Berbeda saat di mall tadi, "Kenapa tidak bawa mobil?" tanya Julian sembari bergerak menggandeng tangan sang kekasih dan langsung melangkah masuk ke dalam lift.
"Katanya mereka mau pakai satu mobil aja. Nah itu kenapa aku enggak bawa," jawab Clara dengan wajah yang terlihat sangat kesal. Lihatlah, wanita itu sangat hebat dalam berlakon. Mungkin jika dia mengikuti casting, tidak ada yang akan menolaknya.
Sementara, Julian. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya percaya begitu saja. Entah, di mana sekarang dia menitipkan kepintarannya, hingga dia tidak bisa membedakan mana yang benar dan tidak.
"Kau sendiri, kenapa bisa ada di sana?" tanya Clara dan Julian yang baru saja menekan tombol angka nomer enam, langsung diam.
Laki-laki itu mulai menggunakan otaknya dan sekarang dia tengah berpikir, "Dia." Julian mencicit sembari melihat ke arah, Clara yang langsung menaikkan kedua alis matanya.
__ADS_1
"Dia?" beo wanita itu tidak mengerti.
"Istriku. Aku meninggalkan di sana," ujar Julian kembali dan Clara yang mendengar itu langsung memanyunkan bibirnya. Dia cemburu.
Namun, Julian yang sekarang tengah memikirkan Airin tidak begitu perduli dengan ekspresi, Clara. Laki-laki itu langsung menggeret, sang kekasih keluar dari lift setelah pintunya terbuka.
"Ara, maafkan aku. Aku harus menyusul dia. Mungkin sekarang dia kebingungan, karena tidak mendapatiku ada di sana." Setelah mengatakan itu, Julian memutar tubuhnya dan hendak berjalan.
Namun, langkahnya terhenti saat jemari, Clara menggengam lengannya, "Kenapa kau perduli dengan rongsokan itu? Lebih baik kita menghabiskan Minggu pagi ini di apart-"
"Maaf, aku tidak bisa sekarang, Ara. Dia pergi bersamaku dan sesudah sepatutnya aku tidak meninggalkannya. Mungkin lain kali saja."
Julian berucap sembari menyingkirkan tangan, Clara dengan gerakan pelan. Setelah melakukan itu, Julian menghadiahkan satu kecupan singkat di bibir sang puan, "Aku mencintaimu."
Laki-laki itu berlari masuk ke dalam lift. Clara hanya tersenyum kecut melihat, Julian yang tiba-tiba menjadi peduli kepada, wanita yang dulu selalu dia tidak inginkan kehadirannya.
Clara meronggoh tasnya. Wanita itu mengeluarkan ponsel dan sebuah nomer yang tidak di save, terpampang nyata di layar benda pipihnya.
"Berani sekali kau meninggalkanku, sialan!"
Suara serak seorang laki-laki yang terdengar penuh akan kekesalan, langsung menyalami gendang telinga, Clara, membuat wanita itu bergidik ngeri.
"Maaf, aku akan ketempatmu sebentar lagi."
***
__ADS_1
Sore harinya, Airin sudah berada di rumah. Sekarang wanita cantik itu tengah memasak untuk makan malam nanti.
Raut wajah, Airin terlihat berbeda. Dia yang setiap harinya menyunggingkan senyum, sekarang malah memamerkan wajah yang begitu datar dan tak berekspresi.
Airin menegangkan kepalanya, kala suara mesin mobil yang terdengar dari luar menyalami gendang telinganya.
Airin membasuh tangan, mengerikannya dengan lap, dan langsung berjalan ke depan. Dia berniat untuk membukakan suaminya pintu.
Namun, baru saja dia sampai di pintu depan. Julian dengan wajah yang kesal sudah masuk ke dslam rumah. Sekarang laki-laki itu tengah menatap Airin dengan tajam.
"Kenapa kau tidak mengabari jika sudah pulang? Apakah aku harus meneleponmu dulu, begitu kah?"
Julian langsung mengomel. Saat ini Julian sedang kesal dan penyebabnya adalah, dia tidak menemukan Airin di pusat perbelanjaan. Padahal dia mengira, kalau wanita itu masih ada di sana.
"Aku membuang waktu berkeliling pusat perbelanjaan hanya untuk mencari kau, tapi otak bodohmu itu emang tidak bisa berpikir." Julian mulai menunjuk kepala, Airin dengan nada bicara yang kesal.
Dia tidak marah, tapi hanya kesal karena, Airin tidak menghubunginya jika sudah pulang. Julain tahu, Airin pulang karena dia menelepon. Mungkin, jika tidak menelepon, dia pasti masih kelimpungan mencari istrinya di sana.
"Maaf," jawab Airin, "tumben sekali kau peduli padaku di saat kau sedang bersama, Clara," imbuh wanita itu dengan nada bicara yang tidak seperti biasanya.
Iya, Julian tahu pasti bagaimana cara istrinya berbicara dan hari ini laki-laki itu seperti tidak mengenal, Airin. Dari cara bicara, hingga gerakan yang dia lakukan tidak menunjukkan kalau itu adalah Airin yang dia kenal.
Airin menatap remeh ke arah suaminya. Wanita itu menaikkan satu sudut bibirnya, "Seharusnya kau tidak perlu seperti itu. Lebih baik bersikap seperti biasanya, agar aku tidak ditinggalkan di tempat umum seperti itu lagi."
Julian diam. Sungguh, kali ini dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, "Tapi, beruntunglah ada, Raka. Laki-laki itu sangat baik. Dia menyelamatkan harga diriku yang ditinggalkan oleh orang tidak bertanggung jawab yang pergi, tanpa membayar sepeser pun," imbuh Airin dan wanita itu langsung pergi meninggalkan sang suami yang sepertinya tidak bisa bereaksi sedikit pun.
__ADS_1
...T.B.C...
...Kita mulai yah. dari sini. ...