
Airin langsung bersembunyi di balik spanduk yang berdiri tepat di depan toko aksesoris ponsel. Wanita itu memunculkan sedikit kepalanya dan tidak berselang lama, dia melihat Clara dan ternyata pria pria yang menemani wanita itu adalah, bapak-bapak berperut buncit.
Airin menajamkan matanya, layaknya seorang mata-mata, "Apa dia simpanan para sugar daddy?" Airin bergumam. Wanita itu dengan langkah perlahan keluar dari persembunyiannya.
Dia menoleh ke kanan dan helaan napas lega terdengar keluar dari mulut wanita itu, saat dia tidak mendapati seorang pun yang menatap aneh ke arahnya.
Setelah selesai mengecek sebelah kanan, Airin menoleh ke kira dan wanita itu langsung menjerit kaget saat melihat laki-laki muda berdiri tepat di depannya.
"Eh, Mas, ada apa?" Airin dengan kikuk bertanya kepada laki-laki muda yang berpakaian khas penjaga toko ponsel dan jangan lupakan topi promo yang bertengger di kepalanya.
Mas-mas penjaga toko itu hanya menatap datar Airin, membuat wanita itu salah tingkah, "Permisi yah, maaf." Dengan wajah secerah mentari di luar mall, Airin meminta maaf dan dia langsung ngacir pergi.
Sekarang wanita itu harus mengikuti Clara si jal*ng simpanan sugar dedeh. Dia harus melakukan itu, karena Airin bisa menjadikan kelakuan Clara di belakang Julian.
Padahal ini yah, Clara itu cantik. Dia seorang model, walau itu dari bantuan Julian juga sih. Jika saja dulu, Julian tidak merekomendasikan wanita itu, mungkin Clara akan menjadi seorang pengangguran.
Tidak bisa Airin pungkiri, kalau Clara itu wanita yang sangat cantik. Tubuhnya mungil dan enak di peluk, kata Julian yang kadang mengigau saat tidur.
Iya, Airin sering mendengar suaminya seperti itu. Mungkin karena dia merasa stress dengan adanya istri yang tidak berguna seperti dirinya.
"Hai, Intan, wah kah sudah besar. Udah gendut pula. Pasti makannya banyak. Dulu SMA kau enggak gini-gini banget." Airin tiba-tiba mengajak bicara seorang wanita asing dan lebih parahnya dia memanggil perempuan itu dengan nama yang ada di kepalanya.
Itu semua dia lakukan saat tiba-tiba, Clara berdiri sembari memegangi perutnya. Sementara wanita yang dipanggil Intan itu hanya menatap, Airin dengan wajah mencibir.
__ADS_1
Pasalnya, wanita asing yang ada di depannya ini menganggap dirinya gendut. Padahal saat ini dia tengah hamil enam bulan.
"Mbak," wanita yang di panggil intan itu mulai bersuara,
Airin yang mendengar panggilan itu hanya berdeham. Dia tidak terlalu fokus dengan Intan yang ada di depannya dan malah menoleh untuk melihat Clara yang sepertinya tengah berbicara mesra dengan sugar dedehnya. (Itu pemikiran curiga, Airin)
"Maaf yah, Mbak. Sepertinya kau salah orang deh. Saya buka intan atau apalah."
"Iya, yah. Nanti aku hubungi lagi, Ntan. Sampai jumpa di reuni. Doakan aku ikut."
Airin kembali mengikuti langkah Clara yang sepertinya terburu-buru. Sementara si Intan a.k.a Sonya itu hanya menatap cengo wanita yang langsung dia cap aneh.
***
Setelah bersemedi cukup lama di dalam bilik toilet. Wanita bertubuh mungil yang selalu membalut dirinya dengan sebuah dress itu keluar.
Clara berjalan mendekat ke wastafel. Wanita itu menghidupkan keran air dan langsung membasuh tangannya.
Setelah selesai dia bergerak meronggoh sling bag yang bergelantungan di pundak kanannya.
Clara mengeluarkan tissue. Wanita itu menarik helai demi helai kain tipis dan dia langsung mengeringkan tangannya.
Dirasa sudah tidak lembab lagi, Clara kembali meronggoh tasnya dan mengeluarkan sebuah lipstik.
__ADS_1
Clara menegakkan tubuhnya dan sekarang wajah cantiknya terpantul oleh cermin yang tertempel di tembok, tepat di hadapannya.
Wanita itu mulai bergerak memoles bibir bawahnya, "Apa uang dari suamiku tidak cukup, hingga kau menjual dirimu ke suami orang lain?" Clara menaikkan dua alisnya saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
Wanita itu menoleh dan sudut bibirnya terangkat saat dia melihat Airin berdiri tepat di depan pintu, "Wah ada rongsokan." Fanpa tahu malunya, Clara mencibir membuat Airin tersenyum merendahkan.
"Aku rongsokan, tapi kau apa? Barang siap pakai, kah?"
***
Pa.So.La Restoran
Hening, menyelimuti ruang VIP restoran. Di sana hanya ada Julian yang tengah duduk di kursi sofa dengan sebatang rokok yang terselip di sela jari telunjuk dan tengah.
Laki-laki berwajah tegas itu sekarang tengah memfokuskan pandangannya ke arah pintu masuk ruangan tersebut.
Dia tidak bergeming dan tidak juga mencicit. Di tempat itu hanya ada suara terbakarnya pucuk rokok, karena sang empunya menyesapnya.
Julian mengembuskan asap rokok itu dengan perlahan, membuat asap keluar dari mulut dan hidungnya.
Laki-laki yang sekujur tubuhnya terbungkus pakaian kantor itu, kembali menyesap rokoknya. Sekarang dia melakukannya lebih lama dan dirasa sudah cukup, Julian langsung menekan Putung rokok ke permukaan asbak.
Gerakannya itu tenryata bertepatan dengan terbukanya pintu yang sedari tadi dia tatap, "Maaf membuat kau menunggu lama, Julian," ujar Raka dengan wajah ramah khas miliknya dan Julian yang melihat itu hanya menunjukkan raut datar.
__ADS_1
...T.B.C...