
"Aku tunggu yah, Baby." Clara bangkit dari pangkuan Julian sembari meraba garis wajah laki-laki itu.
Julian tersenyum. Laki-laki itu bergerak menggenggam tangan mungil, Clara yang masih bergerilya di garis rahangnya.
Dengan genggaman tangan yang sangat lembut, Julian bergerak menarik tangan sang puan yang sudah menduduki hatinya sedari dia lajang dulu.
Julian dengan gerakan pelan layaknya sebuah kapas yang berterbangan jatuh ke tanah mendekati tangan mungil Clara ke depan bibirnya.
Laki-laki itu mengecup punggung tangan Clara dengan penuh cinta, "Terima kasih karena sudah sabar menunggu. Aku tidak janji, tapi akan aku usahakan kalau wanita itu akan pergi bulan ini."
Julian memberikan janji, hal yang layaknya sudah menjadi rutinitas di awal-awal bulan.
Clara tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya, karena itulah yang dia lakukan jika Julian memberikannya janji.
Dia percaya kepada, Julian, kalau suatu hari nanti laki-laki itu pasti menikahinya. Karena jika mengingat hari-hari yang telah mereka lalu dulu, membuat Clara tidak bisa melepaskan laki-laki itu walau pun sudah beristri.
Julian pun begitu. Dia tidak ingin melepaskan, Clara, karena wanita itu sungguh sangat berarti dalam hidupnya. Dia mencintai, wanita itu.
Kalian mungkin tidak terima, tapi jika dilihat dari sisi berbeda. Sebenarnya, hubungan Julian dan Clara sangatlah, miris.
Baynagkan. Sehari sebelum laki-laki itu tahu tentang perjodohan yang dibuat keluarga. Julian sudah melamar, Clara. Dia berniat mengenalkan wanita itu kepada orang tuanya, tapi kaga perjodohan jauh lebih cepat menyapa indera pendengarannya.
"Kalau begitu aku pergi dulu," ujar Clara pamit sembari menarik tangannya dari genggaman jemari, Julian.
Julian langsung menaikkan satu alis matanya saat mendengar kata-kata pamit keluar dari mulut, Clara.
"Pergi? Emang enggak ada pemotretan?" tanya Julian dan Clara yang mendengar itu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Tidak," jawabannya singkat dan itu berhasil membuat Julian mengangguk kepala mengerti.
__ADS_1
"Kalau begitu, pulang nanti aku akan mampu ke apartemenmu." Clara menganggukkan kepalanya dan wanita itu langsung melangkah keluar dari ruangan sang kekasih dengan tangan melambai.
Julian yang melihat itu tersenyum. Jujur, dia tidak percaya kalau wanita polos yang bisa membuat dia jatuh cinta di pandangan pertama, bisa berubah senakal itu.
Julian menghela napas. Laki-laki itu bergerak meraih gagang telepon, "Kita berangkat sekarang!"
***
Clara berjalan keluar dari kantor kekasihnya. Setelah berada di depan, kaki mungilnya, langsung melangkah ke tempat parkir.
Tidak membutuhkan waktu yang lama sekarang wanita itu sudah berdiri di pintu bagian kemudi mobil merahnya.
Clara tak mau berlama-lama di luar. Dia bergerak menarik pintu mobil dan langsung memasukkan seluruh tubuh mungilnya ke dalam sana.
Suara helaan napas memenuhi sudut mobil. Clara menyandarkan punggungnya dan satu tangan bergerak untuk memijat pelipisnya.
Suara dering ponsel membuat wanita itu terpaksa menaikkan sedikit kepalanya. Clara melihat ke arah benda pipih yang tersimpan rapi di dashboard.
Clara menerima ajakan panggilan suara itu, "Aku akan menemuimu sekarang, sialan."
Clara membuang ponselnya ke jok mobil yang ada di sebelah. Wanita itu lagi-lagi menghela napas. Wajahnya yang tadi nampak berseri langsung terlihat suram.
"Maaf, Iyan." Clara berucap lirih dengan kedua mata melihat ke arah Julian yang ternyata baru kelaut dari dalam kantornya.
Kesedihan tergambar jelas di wajah wanita itu. Namun, Clara tidak mau tenggelam dalam kepedihan ini. Dia hadus kuat. Wanita itu menghela napas untuk terakhir kalinya dan setelah itu, dia langsung melajukan mobilnya untuk pergi dari area kantor sang pujaan hati.
***
Kediaman, Julian dan Airin.
__ADS_1
Di sisi lain tengah manis-manis dan di rumah Airin malah meringis. Iya, meringis, tapi bukan karena apa-apa yah. Wanita itu sekarang tengah kebingungan.
Dia sedari tadi membongkar lemari bajunya, tapi tetap saja Airin tidak menemukan apa yang saat ini dia cari.
Dari tadi wanita itu sudah uring-uringan. Dia bingung, dia pusing, pokoknya dia hari ini pening.
Airin menghela napas dan wanita itu kembali merapikan baju-baju yang tadi dia keluarkan.
Airin terus memasukkan bajunya dengan sangat hati-hati, tapi wanita itu terpaksa menghentikan pekerjaannya karena teleponnya tiba-tiba berdering.
Iya, benda pipih yang disita oleh, Julian kembali dia dapatkan. Entahlah. Pokoknya tadi pagi, sebelum berangkat laki-laki itu memberikan ponselnya kembali.
Senang?
Tentu. Gara-gara disita, Airin tidak bisa lagi nonton kartun. Namun, sekarang dia sudah mendapatkannya kembali dan sudah siap nonton banyak serial animasi lagi.
Bunyi dering ponsel semakin menggema memenuhi ruang kamar. Airin melepas tumpukan bajunya di lantai, lalu setelah itu dia berjalan mendekat ke ranjang.
Airin meraih ponselnya dan kedua matanya langsung menampilkan sosok Raka, "Kenapa aku melupakan dia."
Layaknya orang yang sudah kembali menemukan jalan. Airin, tersenyum. Dia tanpa menunggu lama, dia langsung mengangkat telepon.
.
"Raka, antar aku pergi beli baju olahraga!" Baru saja dia tersambung, Airin langsung meminta dan itu tentu saja membuat perkataan Raka yang tadi ingin menyapa malah tertahan.
...T.B.C...
...bab kedua. semoga suka....
__ADS_1
...Jangan lupa kasih hadiah yah, kasih vote, kasih komen juga....