Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 62. Terlambat.


__ADS_3

30 Oktober


Julian menghentikan mobilnya disebuah restoran outdoor yang di mana, di saat ini tengah ramai didatangi orang. Bukan pengunjung, tapi lebih tepatnya para pekerja dekorasi.


Iya, sesuai yang direncanakan kemarin. Julian berniat mengungkapkan cintanya kepada sang istri. Dia sudah tidak ragu lagi dengan perasaan ini.


Setelah mendapati perhatian dari istrinya beberapa hari terakhir ini, Julian ternyata percaya kalau perasaan yang terpendam itu adalah cinta.


Dulu dia tidak menyadarinya karena, Clara lebih mendominasi hatinya. Namun, sekarang tidak lagi. Julian sudah sadar dan dia juga mulai membuka diri kepada sang istri.


Itulah kenapa rasa cintanya bisa muncul. Aneh, kan? Iya, Julian memang keanehan yang nyata di dunia ini.


"Yan? Kau kapan datang?" tanya Samsul yang tadi asik mengkordinir para pekerja dekorasi.


Laki-laki pengusaha lalapan itu dari kemarin sibuk sendiri. Dia sepertinya merasa senang, karena melihat sahabatnya sudah terbebas dari Clara.


Memang dari setelah kuliah dulu, Samsul mewanti-wanti kalau si arang-arang itu bukan orang yang baik. Mukanya aja yang polos, tapi oh tapi dia ternyata tidak lebih dari seorang simpanan om-om gendut yang banyak wanita muda memanggilnya, Sugar dedeh.


"Baru saja, Sul. Gimana? Semua lancar 'kan?" tanya Julian dengan senyum ramah yang sangat-sangat lebar.


Samsul tersenyum. Laki-laki itu mengangguk kepalanya dan langsung berjalan kesamping, Julian, "Semua sesuai yang engkau minta. Lihat, apa ada yang kurang?" Samsul memperlihatkan dekorasi yang didominasi warna putih dengan banyak sekali foto-foto kartun yang menghiasi.


Julian memberikan hiasan kartu karena sang istri, Airin menyukai itu, "Bagus," pujinya dengan tersenyum semakin lebar, karena sekarang di dalam kepalanya. Dia tengah membayangkan ekspresi, Airin yang akan mengeluarkan binar bahagia nantinya.


Julian tahu itu, karena dia mengenal Airin. Tiga tahun bersama, membuat dia tahu segaalnya tentang wanita itu. Iya, walau hubungan mereka tidak baik-baik saja, Julian tetap tahu.


"Acaranya kapan?" tanya Samsul dan Julian langsung melihat ke arah jam tangan yang melingkar di lengan kirinya.


"Jam sembilan nanti," jawab, Julian dan Samsul yang mendengar itu langsung menepuk punggung sang sahabat.


"Semoga berhasil, kawan." Samsul mendoakan dan Julian mengangguk kepalanya dengan terus menyunggingkan senyum.


Julian bergerak merangkul sahabat karibnya itu, "Terima kasih atas bantuannya."


***


Kediaman keluarga besar Pranata.


"Tidak mungkin, Julian melakukan hal seperti itu, Nak." Arum dengan mimik wajah yang dipenuhi oleh kekagetan, langsung berucap. Bahkan sekarang kedua tangannya sudah menutup mulut.


Airin yang mendapati kata-kata terkejut itu, hanya bisa diam. Wanita itu menundukkan kepala. Sumpah, dia sebenarnya tidak ada niatan untuk mengadu seperti ini, tapi dia terpaksa karena waktu yang sudah ditentukan telah datang.


Tiga puluh hari yang sudah dijanjikan, Raka sudah sampai penghujung. Saat ini, dia dan Raka yang duduk di sebelahnya sedang berada di kediaman keluarga sang suami.


Sebanarnya bukan hanya mereka berdua saja. Di sana, ada keluarga besar Airin juga. Mereka semua berkumpul untuk membahas tentang tindakan apa yang harus diambil.

__ADS_1


"Begitulah, Bibi. Kalau tidak percaya. Aku akan memutar rekaman kata-kata Julian saat dia memberikan istrinya padaku." Raka menjawab sembari mendorong ponselnya ke tengah-tengah meja kecil yang ada di antara sofa.


"Wisnu, aku tidak menyangka kalau anakmu akan setega itu kepada putriku. Kami melakukan perjodohan, karena kalian mendesak. Tapi, lihat, to tahun putri kami menderita karena anakmu."


Haidar yang terkenal receh bahkan sekarang berucap tegas dan itu tanpa sadar membuat air mata, Airin menetes.


Dafa yang duduk di samping kiri Airin, langsung merangkul pundak sang adik. Dia marah, tapi tak bisa berbuat apa-apa, karena adiknya itu ternyata menutupi semua kesakitan yang telah dia derita.


Sungguh, jika saja Dafa mengetahui ini. Dia pasti akan murka. Mungkin, laki-laki itu akan membawa parang dan melabrak suami adiknya yang tak beradab itu.


Dafa buar hobi melihara ikan, dia juga dulu seorang lulusan STM. Main pukul sudah mendarah daging di dirinya. Jadi, untuk membunuh Julian dia berani.


"Rin, ceraikan dia." Wisnu Pranata— ayah Julian berucap dengan wajah yang datar. Mungkin laki-laki paruh baya itu malu.


Jika kalian mengenal, Wisnu. Laki-laki itu murah senyum sebenarnya. Dia sangat menyayangi, Airin. Jadi, itulah kenapa dia meminta wanita itu untuk memilih jalur ceria.


Sementara untuk, Arum. Wanita paruh baya yang sangat sayang kepada, Airin itu hanya diam. Dia bingung mau bereaksi seperti apa, karena semua ini sungguh membuat dia syok.


"Rin, keputusan ada di tanganmu. Kami tidak memaksa untuk kau melakukan ini itu, tapi coba pilih jalan yang paling benar." Raka berucap dengan kepala menoleh ke sebelah kiri untuk melihat, Airin yang ternyata juga melihat ke arahnya.


"Aku sudah mengambil keputusan, Ka," ujar Airin dengan tatapan mata yang tidak memancarkan keraguan lagi.


Iya, dari tiga hari lalu Airin sudah mengambil keputusan dan dia memilih itu setelah memikirkan matang-matang.


***


Sedari tadi wanita itu sibuk mengeluarkan baju-bajunya dari dalam lemari sana, lalu dia pindahkan ke sebuah koper.


kau jangan berharap lebih. Kita bersatu karena perjodohan. Aku tidak mencintaimu dan kau pun begitu. Ada baiknya, tanda tangani surat cerai ini setelah satu bulan nanti kita bersama. Bilang saja kau tidak betah dan ingin pisah.


Airin memejamkan mata. Itu kata-kata pertama yang dia dengar setelah datang ke rumah ini. Iya, Julian memang dari pertama tidak pernah ingin menjalin rumah tangga bersama.


Namun, Airin tetap saja nakal. Dia tidak ingin mengecewakan ibu mertua dan ibu kandungnya. Wanita itu awalnya ingin membuat, Julian luluh, tapi belum genap satu hari pernikahannya mereka, laki-laki itu sudah membawa wanita lain.


Siapa lagi kalau bukan, Clara. Waktu itu Airin marah. Dia ingin mengadu, tapi kata-kata suaminya waktu itu menghentikan dirinya.


Jika kau gisak kuat, tanda tangani surat itu. Jadi, kau tidak perlu mengadu seperti itu.


Kata-kata Julina waktu itu terlintas di kepalanya.


Airin menghela napas. Wanita itu menutup pintu lemari dan setelah itu, dia berjalan sembari menenteng koper yang sudah dia tutup, menuju meja riasnya.


Airin duduk di sana. Tangan kanannya terulur untuk mengambil sebuah bolpoin. Wanita itu memejamkan mata sembari mengarahkan ujung alat tulis itu ke sebuah kertas bertuliskan surat cerai, yang di sana sudah ada satu tanda tangan. Siapa lagi kalau bukan milik Julian.


Iya, Airin sudah memutuskan untuk berpisah dengan Julian. Memang beberapa hari terkahir ini, laki-laki itu berubah. Namun, itu masih belum bisa menghilangkan sakit hati yang diberikan oleh sang suami.

__ADS_1


Terlebih lagi, dia juga sudah mulai jatuh cinta kepada Raka. Dari pada diserahkan secara terang-terangan, mending dia sendiri yang memutuskan terlebih dulu.


Buat rongsokan itu jatuh cinta padamu dalam waktu tiga puluh hari. Jika kau bisa melakukannya, maka kau bisa ambil rongsokan itu.


Airin mengembuskan napas dengan terengah-engah setelah tadi dia berusaha menanda tangani surat cerai itu. Wanita itu menangis dengan nada yang lirih.


"Airin, kenapa kau begitu lam- eh apa-apaan ini? Kenapa kau belum bersiap-siap dan koper, kau mau pergi ke mana?" Julian yang sudah rapi dengan setelan kemeja putih dipadukan dengan jas hitam dan celana kain yang berwarna senada, tiba-tiba masuk dan laki-laki itu langsung mengerutkan kening.


Airin yang mendengar suara suaminya yang akhir-akhir ini sering menyebut namanya langsung, menghentikan tangis. Dia bahkan bergerak bangkit dan tidak lupa membawa serta surat cerai yang warnanya sudah menguning, karena dimakan usia itu.


Bagaimana tidak menguning, surat ceria itu ada saat kehidupan pernikahan mereka terjalin. Tepatnya, beberapa jam setelah akad.


Airin menyeret kopernya dan sekarang dia sedang mengayunkan langkah mendekati, Julian yang saat ini diam di ambang pintu masuk.


"Kau mau ke mana? Bukankah tadi aku sudah meminta-"


"Kau sudah bebas." Airin menyela sembari tangannya menyerahkan secarik kertas yang sudah dia tanda tangani itu ke hadapan, Julian.


Julian bingung, tapi dia tetap mengambil alih secarik kertas itu dari tangan suaminya, "Apa si-"


Ucapan Julian terhenti saat dia melihat satu tanda tangan ada di sana. Laki-laki itu membulatkan mata terkejut dan dia melihat ke arah, Airin yang saat ini tengah tersenyum sumir.


"Kau bebas. Tiga puluh hari yang kau berikan kepada, Raka sudah berhasil dia lakukan. Aku jatuh cinta padanya." Julian semakin kaget saat mendengar penuturan yang keluar dari mulut, Airin.


Sungguh, dia tidak pernah memberitahukan ini pada wanita itu. Padahal, Julian sudah berniat untuk membatalkan perjanjian itu setelah malam ini, tapi ternyata Raka curang dan memberitahukan itu kepada, Airin.


"Raka tidak memberitahukan itu. Aku sendiri yang mendengar kau mengatakan itu." Julian semakin terkejut dan Airin menikmati itu. Dia tersenyum, tapi kedua matanya berkaca-kaca, "tanggal dua puluh tujuh September." Airin menjeda ucapannya hanya untuk menghilangkan sesak di dada.


"Kau mengatakan ini, "Buat rongsokan itu jatuh cinta padamu dalam waktu tiga puluh hari. Jika kau bisa melakukannya, maka kau bisa ambil rongsokan itu," apa kau sudah mengingatnya?" imbuh, Airin dengan senyum yang terkesan pilu.


Julian yang mendengar itu menggelengkan kepala. Dia membuang surat cerai yang ada di tangannya, lalu bergerak untuk meraih tangan, Airin.


Namun, Airin dengan cepat mundur, "Aku pergi dulu dan semoga kau bahagia, Mas Julian." Airin berjalan keluar.


Julian diam sesaat, tapi setelah itu dia berbalik lalu memeluk sang istri dari belakang, "Tolong jangan tinggalkan aku," ujar laki-laki itu saat dia berhasil menghentikan langkah, Airin.


"Aku butuh kau di sini. Jika kau pergi, siapa yang akan mengurusku. Seharusnya aku tidak bersikap seperti ini setelah memberimu banyak luka, tapi aku mohon. Tetaplah bersamaku. Aku akan sulit mengurus diri jika, kau pergi, Rin."


Julian memohon. Laki-laki itu bahkan saat ini sudah menangis. Sementara, Airin. Dia hanya bisa memejamkan mata.


"Semua sudah terlambat, Mas. Jadi, maaf, aku tidak mau terperangkap untuk kedua kalinya."


Kekuatan pelukan, Julian mengendor dan itu berhasil memberikan, Airin kesempatan untuk berjalan pergi.


...T.B.C...

__ADS_1


Guys. aku ada bawa rekomendasi cerita lagi nih. judulnya, "Ibu Izinkan Aku Bahagia" Karya dari kak, "Sutihat Basti Wibowo"



__ADS_2