Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 14. Kemarahan Julian


__ADS_3

Raka diam tidak bisa bicara atau lebih tepatnya bingung. Dia tidak tahu harus menjawab apa, hingga deburan ombak pantai Ancol yang menggulung tenang, berhasil menarik kesadarannya kembali.


Raka dengan mimik wajah yang gugup melihat, Airin yang sore hari ini nampak sangat ayu walau tidak ada seutas senyum pun yang terukir di wajah wanita itu.


Namun, entah kenapa Raka selalu terkesima dengan wajah Airin yang bercahaya. Padahal wanita itu tidak merias diri dengan over. Paling cuma mengoles lipstik dan itu pun yang berwarna kalem.


Airin yang melihat Raka diam dengan tatapan mata mengarah kepadanya langsung menghela napas. Dia beralih untuk melihat hamparan samudra yang mulai dipercantik oleh cahaya terang dari senja.


"Diammu aku artikan iya, Ka," ujar Airin dengan pandangan masih lurus ke depan.


Raka menghela napas. Laki-laki itu menenggerkan kedua sikut lengannya di lutut pun jemarinya mulai saling menyelip satu sama lain.


"Iya, itu aku." Raka menjawab sekenanya dan itu berhasil membuat Airin menolehkan kepala.


Wanita itu melayangkan tatapan tajam. Mimik wajah yang dia keluarkan terlihat jelas masih tidak ingin mempercayai itu.


"Airin, aku tertarik kepadamu." Raka kembali mencicit sembari menolehkan kepalanya ke arah Airin.


Kedua netra mereka saling beradu. Dua manusia beda kelamin itu tidak peduli kalau sekarang wajah mereka terpapar oleh bias jingga dari sang surya, yang mulai menenggelamkan diri ke tengah-tengah samudra.


"Aku berpikir, Julian tidak pantas untukmu, sangat tidak pantas untuk wanita baik sepertimu. Dia laki-laki brengs*k yang berani menyerahkan istrinya kepada laki-laki lain. Dia juga laki-laki tidak tahu diri yang berani membuat hubungan di belakangmu."


Suara tegas Raka mengalun diiringi deburan ombak pantai Ancol yang menghantam karang.


Airin tersenyum sumir. Wanita itu mengeluarkan sebuah tawa sumbang, "Kau bisa pergi darinya, Rin. Kau jug-"


"Aku akan pergi, Ka. Tapi tidak sekarang." Airin menyela dengan nada bicara yang bergetar.


Wanita itu sedih. Dia mengira kalau hubungan Clara dan Julian itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tapi ternyata Raka juga mengetahui tentang itu.


"Lalu kapan?" Raka bertanya dengan nada tegas dan sorot mata begitu dalam melihat manik Airin. Laki-laki itu mulai merubah posisi duduknya menjadi tegak.


Airin menoleh, memutus kontak matanya dengan netra Raka, "Entah, aku juga tidak tahu, Ka. Satu sisi aku ingin pergi, tapi ingin juga tinggal. Jujur, aku masih berharap, Mas Julian bisa berubah."


Raka terenyuh saat mendengar penuturan Airin. Dia menggelengkan kepala, "Berubah?" beo Raka sembari bergerak bangkit dari duduknya dan langsung berdiri tepat di depan Airin.

__ADS_1


Airin mau tidak mau mendongak untuk melihat ke wajah, Raka yang sekarang tengah menunduk menatap dirinya.


"Rin, ini dunia nyata dan bukan di dalam film yang di mana, laki-laki itu akan berubah sesuai skenario yang ditulis di sana." Raka menjeda ucapannya dan dia memilih untuk mendongak, "takdirmu bukan untuk dijelekkan atau disiksa oleh, Julian. Kau juga bisa mengubah takdirmu sendiri, Rin."


***


Jakarta pusat, 20.00


"Sekali lagi terima kasih ya, Ka." Airin berucap dengan nada sopan dan juga terlihat tulus. Raka yang saat ini berdiri dengan pantat bersandar di body mobil, tersenyum.


"Makasih untuk apa?" tanya laki-laki itu dengan sedikit terkekeh geli karena melihat mimik wajah, Airin yang mencibir.


Suara kekehan Raka berubah menjadi tawa saat Airin menatap sinis dirinya. Sementara, Airin, wanita itu malah ikut tertawa.


"Terima kasih karena sudah buat aku senang, terima kasih karena sudah buat aku tertawa seharian, dan terima kasih karena sudah memberikan aku nasihat.


Raka menghentikan suara tawanya. Laki-laki itu menarik kedua sudut bibirnya, "Sepertinya aku tidak butuh kata terima kasih." Dengan mimik wajah penuh menyimpan misteri, Raka berucap membuat Airin menaikkan dua alisnya tidak mengerti.


Airin mulai meras takut saat mata Raka menatap tajam dirinya. Dia melihat ke sekeliling dan sepi, tidak ada satu pun orang yang berlalu lalang di kompleks perumahan ini.


Raka yang mendengar itu hanya menyeringai. Dia bergerak menegakkan posisi berdirinya, pun laki-laki itu langsung memajukan wajah dengan tampang yang sangat berbeda dari biasanya.


Airin semakin panik. Keringat dingin mulai bercucuran keluar dari keningnya, "Ra-"


"MONKS besok jam delapan malam, gimana?"


Airin langsung memcingkn mata kesal dan wanita itu tanpa sadar bergerak mencubit perut Raka yeng sudah mengeluarkan tawa.


"MONKS, kau tahu tempat itu?" tanya Airin dan Raka menjawab dengan anggukan kepala.


"Tau dong. Di sana tempat aku besar. Maksudnya aku sering nongkrong di sana saat masih SMA dulu," jawab Raka dengan tersenyum, "Bagaimana, mau?" imbuhnya dan Airin terlihat berpikir.


"Kita lihat besok. Tapi untuk sekarang kita sudahi. Makasih atas harinya dan sampai jumpa." Raka menganggukkan kepalanya dan dia juga melambaikan tangan membalas, Airin yang diam.


Laki-laki itu diam tak bergerak dan itu sama halnya dengan Airin. Wanita itu ikut diam dengan kedua alis terangkat,

__ADS_1


"Selamat jalan," cicit Airin kembali dan Raka menjawab dengan bibir menyunggingkan senyum dan kepala mengangguk, "selamat jal-"


"Iya, Airin. Silahkan kau masuk duluan. Aku akan pergi jika sudah melihatmu pulang dengan selamat." Raka menyela dan Airin yang mendengar itu melongo.


"Tidak, kau saja yang pergi duluan. Aku akan melihat hingga mobilmu melaju dengan selamat." Bukannya menurut, Airin malah mengulang kata-kata, Raka.


"Kau saja yang duluan masuk," ujar Raka membalas dan laki-laki itu sepertinya kekeh.


Airin mengalah. Wanita itu mengangguk kepalanya, "Baiklah. Kalau begitu aku masuk dulu yah." Raka mengangguk, membuat Airin mau tidak mau langsung masuk ke dalam rumahnya.


Airin berjalan dengan kepala gidak berhenti menoleh ke belakang. Wanita itu melemparkan senyum saat dia mendapati Raka yang ternyata masih menatapnya dengan tajam.


Raka menghela napas saat dia mendapati Airin sudah masuk ke dalam pekarangan rumahnya, "Semoga kebahagiaan di hari ini sedikit membuatmu lupa tentang masa lalu, Rin."


Raka masuk ke dalam mobil dan laki-laki itu langsung melajukan kendaraan roda empat tersebut keluar dari kompleks perumahan di mana, Airin dan Julian tinggal.


***


Airin dengan wajah yang nampak berseri berjalan di pekarangan rumahnya, menuju ke beranda depan.


Wanita itu masih tersenyum dan kesenangan tergambar jelas di paras wajahnya.


"Apa, Mas Julian masih belum pulang? Tapi kenapa gerbang depan terbuka? Kalau pulang, kenapa mobilnya enggak ada?" Airin bergumam, tapi sedetik kemudian wanita itu menggelengkan kepalanya layaknya orang tidak mau tahu.


Airin meraih gagang pintu, "Tidak dikunci juga?" gumamnya kembali dan lagi-lagi wanita itu menggelengkan kepala tidak peduli.


Airin mendorong pintu dan bersiap-siap untuk melangkah masuk ke dalam rumah, namun, gerakan kakinya terhenti tepat di ambang pintu.


"Baru inget rumah?" tanya Julian dengan rahang yang mengeras dan tatapan mata yang menajam.


...T.B.C...


...Maaf yah kemarin enggak up karena outhornya pergi healing...


...Semoga suka dan jangan lupa kasih hadiah, tiket vote juga, komen juga, like juga, dan bantu share. ...

__ADS_1


__ADS_2