Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 52. Bahagia, Tapi Entah


__ADS_3

Sore harinya. Suasana kompleks perumahan tempat Airin dan Julian menetap semakin ramai. Saat ini, Julian tengah duduk santai di teras rumah.


Sebatang rokok yang diselipkan di celah jari telunjuk dan tengah, menjadi teman laki-laki itu untuk menikmati suasana sore hari di kompleksnya yang pasti akan sangat ramai.


Apa lagi ini hari Minggu yang di mana, semua orang yang ada di perumahan itu libur bekerja dan tentu saja akan memilih menghabiskan waktu di rumah.


Pernahkan aku beritahu kalau kompleks perumahan tempat Julian dan Airin menetap itu bukanlah, milik kalangan elit. Palingan yang tinggal di sini hanya orang-orang kelas menengah yang bekerja di kantoran, tapi posisi mereka tidak main-main.


Contohnya tetangga Julian yang berada tepat di seberang rumahnya sana. Kalau tidak salah, tempat itu ditinggali oleh pasnagan suami istri yang di mana, sang suami beketja di sebuah properti dan menjabat sebagai dewan direksi dan istrinya sendiri adalah seorang guru disalah satu sekolah bertaraf internasional.


Bagaimana? Tidak main-main 'kan? Tapi, anehnya mereka memilih tinggal di kompleks sederhana ini karena tempat itu adalah awal dari kesuksesan mereka.


Julian pun begitu. Saat dulu dia masih menjabat jadi seorang karyawan biasa di perusahaan keluarga. Dia menabung semua gajinya hanya untuk membeli persinggahan di sini untuk menetap dengan, Clara. Namun, takdir malah berkata lain.


Julian menggelengkan kepala, tatkala dia mulai berpikir aneh-aneh, sabar, beberapa hari lagi pasti laki-laki itu bisa membuat istriku jatuh cinta dan setelah itu, aku bisa bebas, batinnya berbisik.


Julian bergerak menempelkan puntung rokok ke bibirnya. Laki-laki itu kembali menyesap nikotin yang terkandung dalam barang itu.


Julian menyesap cukup lama, hingga abu yang ada di ujung lainnya terjatuh. Laki-laki itu menjauhkan puntung rokoknya dan setelah itu, dia mengembuskan kepulan asap dari mulut dan hidungnya.


Seperti inilah kehidupan Minggu sore, Julian. Dia akan bersantai dengan segelas kopi panas dan sebatang rokok. Namun, itu dia lakukan di saat, Clara hilang kabar atau tepatnya melakukan pemotoran di luar kota (itu yang Julian ketahui). Jadi, itulah kenapa dia memilih di rumah aja.


Untuk, Airin sendiri. Wanita itu ada di kamar. Lagi bersiap-siaplah entah mau pergi ke mana, tapi semalam dia sudah minta izin dan Julian memberikan.


"Mobil?" Julian bergumam dengan kedua alis terangkat. Pasalnya kendaraan roda empat itu tidak asing di matanya dan bahkan parkir di depan rumahnya.


"Mau apa dia ke sini?" Julian melontarkan pertanyaan dengan suara bergumam, saat melihat sosok Raka yang keluar dari dalam mobil.


Iya, yang mengendarai dan memarkirkan mobil itu adalah Raka. Saat ini laki-laki itu sudah tampan dengan rambut yang tersisir rapi, kaca mata hitam, baju kaos lengan panjang warna abu-abu, dan celana jeans yang dipadukan dengan sepatu kets.


Laki-laki itu berjalan masuk ke dalam pekarangan rumah Julian dan Airin dengan sudut bibir terangkat untuk membuat senyum, yang akan menghasilkan dua lesung pipi yang sempurna.


"Selamat sore." Raka menyapa dengan nada bicaranya yang begitu khas.


Julian diam dengan kedua mata yang membulat sempurna. Laki-laki itu gidsk bisa mencerna dan mencari tahu, maksud kedatangan sang rekan bisnis ke sini.


"Selamat sore, Tuan Pranata." Raka kembali menyapa dan suaranya yang ini berhasil mencapai indera pendengaran, Julian.


Julian tersentak kaget, tapi dia bisa menyembunyikannya dengan menyunggingkan senyum, "Selamat sore, Tuan Satriawan. Apakah ini sebuah kebetulan?" Julian membahas sapaan dengan nada bicara yang jenaka, pun setelahnya laki-laki itu bertanya dengan senyum kikuk dan tangan yang sudah siap menjabat.

__ADS_1


Raka menaikkan kedua alis matanya. Laki-laki itu bingung, tapi dia tetap menjabat tangan besar Julian, "Kalau boleh tahu, maksud, Anda?" tanya Raka setelah jemari tangannya bertemu dengan tangan milik, Julian.


Jukian terkekeh. Dia menarik tangannya, "Duduk dulu!" perintah laki-laki itu sembari menunjuk kursi yang ada di sebelah kanannya.


Raka mengangguk. Laki-laki itu mendudukkan pantatnya di kursi yang tadi ditunjuk oleh, Julian.


"Rokok." Julian menawarkan dan Raka menggeleng untuk menjawab.


"Maaf, tidak mood," ujar, Raka menolak dengan tersenyum.


Julian tertawa, "maaf, lupa," tutur laki-laki itu dan kembali menyeret rokoknya ke sisi meja yang emang bagiannya.


Raka membuka kacamata hitamnya, "Kalau boleh tahu, maksudmu yang tadi itu apa?" tanya Raka setelah menggantung kacamata hitam itu di leher baju kaosnya.


Julian tertawa dan menarik napas dengan kasar, membuat hidungnya mengeluarkan suara, "Maksudnya, seingatku kita tidak membuat janji atau apa, tapi kenapa Anda ke sini. Bukan, apa-apa yah, tapi kalau weekend, aku paling tidak suka membahas pekerjaan," jelasnya dan itu berhasil membuat, Raka terkekeh.


"Ands salah paham. Aku ke sini karena sudah membuat janji dengan sahabatku, untuk pergi ke suatu tempat," jelas Raka dengan sedikit terenyuh.


Julian berpikir. Sedetik kemudian, dia menarik kedua Ali matanya ke atas pun mengangguk kepalanya, "Maksudmu dia?" Laki-laki itu tidak menyebut nama, tapi menunjuk ke dalam rumah.


Raka yang melihat itu menganggukkan kepalanya, "Iya, aku dan Ririn sudah membuat janji. Apa dia belum memberitahukan itu padamu?" tanya Raka dan Julian tersenyum.


Raka mengangguk dan Julian yang melihat itu langsung nyelonong masuk ke dalam rumah.


***


"Ada apa ini? Kemarin kau bilang akan pergi, tapi kenapa tidak mengatakan kalau kau akan bersama, Tuan Satriawan."


Suara Julian yang mengomel, langsung memenuhi ruang kamar. Airin yang sudah tinggal merapikan hijabnya, diam. Setelah dirasa sempurna, barulah wanita itu memutar tubuh menghadap ke Julian.


"Memang kenapa? Jangan bilang kau marah dan tidak setuju." Bukannya menjawab, Airin malah bertanya dan bahkan menerka.


Julian jelas langsung menggelengkan kepalanya. Dia bertanya seperti itu, karena sedikit kaget, "Tidak, tapi aku hanya kaget melihat dia datang ke rumah," jawab laki-laki itu sekenanya.


Airin tersenyum, tapi hatinya sakit saat melihat mimik wajah suaminya yang biasa sjaa. Di sana, tidak ada raut ketidakrelaan. Julian, sepertinya mengizinkan dirinya pergi dengan laki-laki lain.


"Kalau tidak ada masalah, boleh dong aku pergi." Julian mengangguk kepalanya tanpa ada sedikit pun keraguan.


Ternyata, Airin terlalu berharap lebih. Padahal siang tadi, dia sudah mendengar penolakan dan itu sudah bisa menjadi bukti, kalau Julian tidak akan mar dengan apa pun yang akan dia lakukan.

__ADS_1


"Boleh, tapi makan malam dan air mandiku, Bagaimana?" tanya Julian dengan mimik wajah khawatir.


Airin tersenyum, "Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi. Kalau, makan malam akan aku buatkan setelah pulang nanti," jawab Airin dan Julian langsung memperlihatkan sorot mata menelisik.


Airin terkekeh, "Aku hanya pergi sebentar. Sebelum makan malam, aku jamin sudah ada di rumah," jelas wanita itu dengan nada bicara yang santai.


Entah kenapa setelah siang tadi, cara mereka berkomunikasi semakin baik. Kata orang ternyata benar tentang masalah yang harus di bicarakan dan bukan dipendam.


"Baiklah." Julian pada akhirnya mengizinkan dan Airin yang mendengar itu tersenyum, sekaligus terserang rasa sakit.


***


"Aku pegang spa yang tadi kau katakan." Julian mengingatkan dan Airin menganggukkan kepalanya. Wanita itu tidak henti-hentinya tersenyum kepada sang suami, yang sepertinya perlahan sudah menganggap dirinya manusia.


Untuk Raka. Laki-laki itu memilih menunggu di dalam mobil. Sekarang dia sedang memperhatikan Airin yang sedang berbicara dengan suaminya.


"Iya, aku pergi dulu."


"Salim ke suami wajib loh."


Airin yang tadinya hendak berbalik langsung berhenti bergerak. Sungguh, wanita itu tidak percaya dengan apa yang tadi terucap dari dalam mulut suaminya.


"Salim?" beo Airin sembari kembali menghadap ke arah suaminya.


Julian menganggukkan kepalanya dan menyodorkan tangannya ke depan sang istri, bersikap semestinya sebelum dia pergi, tidak masalah bukan? batin laki-laki itu bertanya.


Airin tersenyum dan tentu saja dia langsung menyambar tangan sang suami, "Kalau boleh tahu kalian akan pergi ke mana?" tanya Julian penasaran.


Airin yang sudah selesai menegakkan tubuhnya. Sungguh, senyum wanita itu sepertinya tidak bisa memudar. Dari mimik wajahnya, semua bisa menebak kalau wanita itu sekarang diselimuti kebahagiaan.


"Rahasia." Airin langsung melengos pergi.


Julian yang mendengar itu, tertawa bahagia. Iya, dia senang melihat kedekatan Airin dengan Raka. Namun, terlepas dari itu, ada sedikit rasa tak suka saat melihat sang istri begitu lebih bebas berbicara dengan laki-laki, rekan bisnisnya itu.


Julian bahagia, tapi dia juga merasa entahlah. Laki-laki itu memilih masuk ke dalam rumah dan meninggalkan cangkir kopinya di teras.


...T.B.C...


...Done yah...

__ADS_1


__ADS_2