
Julian menegakkan kepalanya, "Eh, kau sudah bangun?" Dengan sedikit terkaget laki-laki itu berbicara, tapi mimik wajahnya terlihat biasa saja. Tidak tersenyum, tadi dia senyum sih, tapi ke arah makanannya.
Airin semakin dibuat terkejut saat mendapati reaksi dan nada bicaranya yang tidak seperti biasa. Airin berjalan mendekat ke meja makan yang di mana, di sana masih ada Julian.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Airin layaknya orang dungu.
Julian yang mendengar itu langsung memamerkan wajah datarnya, "Main bola tangkis. Tadi aja selesai." Laki-laki itu menjawab dengan sekonyong-konyongnya. Dia melawak tapi tidak tertawa. Dia marah tapi tidak berbicara dengan suara tinggi.
Iya, sikap aneh Julian ternyata masih ada, "Tuh lihat banyak telur pecah aku pukul-pukulin." Laki-laki itu kembali bercanda. Dia bohong hanya untuk menjawab sinis, Airin yang bertanya seperti orang bodoh.
Airin meringis. Ternyata tidak seharusnya dia bertanya seperti itu. Padahal tadi, Julian menyapa dengan nada biasa-biasa saja, tapi karena pertanyaan bodohnya, laki-laki itu kembali sinis.
"Salah yah aku nanyak gitu?" Lagi-lagi Airin mengeluarkan kata-kata bodoh. Dia sudah tahu kalau dirinya salah, tapi masih aja bertanya seperti itu.
Julian menatap wanita itu dengan datar, "Enggak, bener kok. Bener banget. Di sini aku yang salah jawab, tapi ada baiknya kau pikir dulu sebelum bertanya. Kau lihat aku sedang masak, tapi dengan bodohnya kau bertanya sedang apa?"
Bener dugaannya. Suaminya langsung hilang mood, 'aku kan hanya nanyak, astaga sensitif bener kek orang datang bulan,' dumel Airin dalam hati, karena jika itu dia keluarkan. Habis sudah hari Minggu mereka.
"Enggak, aku kok yang salah, Mas. Aku yang selalu salah, tapi seharunya Mas enggak perlu repot-repot begini-"
"Tunggu, tunggu. Repot? Jangan bilang kau berpikir aku memasak, karena mengambil pekerjaanmu?" Julian menjeda dengan tatapan mendelik.
Airin yang mendengar itu mengangguk kepalanya, "Iya, kalau bukan mengambil pekerjaan, namanya apa?"
"Jangan ge'er. Aku masak karena rindu dengan masakanku. Buat apa mengambil pekerjaanmu? Sekarang lebih baik kau mandi, karena aku sudah menyiapkan air untukmu." Julian memerintah dan dia kembali bergerak untuk menyajikan masakannya yang masih ada di pentry menuju meja makan.
__ADS_1
Airin yang mendengar kata-kata menyiapkan air, kembali diserang keterkejutan. Wanita itu melongo layaknya orang bodoh, "Air, kau menyiapkannya untukku?"
Julian menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah, Airin, "Sebenarnya tidak, tapi itu bekasku."
Harapan Airin runtuh, tapi wanita itu tetap saja tersenyum. Dia tidak mengobrol sesantai ini dengan Julian, yah walau laki-laki itu sedikit sewot sih.
Namun, tetap aja bagi Airin itu suatu hal yang baru. Wanita itu kembali berjalan naik ke lantai dua, 'dua puluh empat hari lagi. Semoga saja kita berbicara seperti ini terus,' batinnya menjerit senang.
***
"Hai, buruan! Apa kau mau membuatku mati kelaparan?"
Airin menyudahi acara rias merias wajahnya saat dia mendapati teriakan suaminya yang ada di lantai satu.
Airin bergerak bangkit dari kursi meja riasnya setelah berhasil menyatukan hijabnya dengan sebuah jarum pentul.
Dengan paras yang ayu dan baju santai, Airin berjalan keluar kamar. Sesampainya di luar dia langsung mengayunkan langkah mendekat ke tangga.
"Kau mandi apa lagi semedi, hah?" tanya sewot Julian yang ternyata sudah menunggu di ambang tangga dengan satu tangan bertengger di tembok.
"Ya ampun, Mas. Aku mandi cuma lima bekas menit loh. Malahan itu lebih singkat dari kamu." Airin menjawab karena dia tidak mau dikatai yang tidak-tidak.
Wanita itu bergerak turun dengan tersenyum. Julian yang melihat itu langsung membuang pandangannya, tapi dia kembali menghadap ke arah Airin karena indera penciumannya samar-samar mencium bau yang sangat familiar.
"Tunggu, jangan bilang kau." Julian tidak melanjutkan perkataannya karena dia yakin, kalau Airin pasti mengerti.
__ADS_1
Sementara, Airin, wanita itu menganggukkan kepalanya, "Iya, bukankah kau tadi memintaku mandi dengan bekasmu?"
Julian melongo. Padahal laki-laki itu tadi hanya bercanda tapi dengan nads yang terdengar seperti perintah. Jujur, dia baru sadar kalau istrinya punya sikap seperti ini. (dari dulu lu kemana aja oncom)
"Ka-"
Perkataan Julian terhenti saat suara ketukan pintu terdengar menyalami gendang telinganya, "Kau punya tamu?" tanya Julian dan Airin menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya tidak, mungkin kau kali." Airin menjawab.
Julian yang mendengar itu menggelengkan kepalanya, "Tidak, Clara kemarin mengatakan kalau dia akan pergi. Jadi, tidak mungkin punyaku," jawabnya dan dua pasutri itu saling menatap.
"Jangan-jangan." Julian dan Airin tidak melanjutkan perkataannya. Mereka berdua memilih berjalan ke pintu depan.
Jukian berdeham dan laki-laki itu memberikan tanda untuk Airin melingkarkan tangan di lengannya.
Airin yang mengerti langsung mengikuti. Julian yang sudah mendapati istrinya begitu, langsung bergerak meriah gagang pintu.
"Selamat pagi Ma-"
"Hai." Airin dan Julian langsung menganga kala kedua mata mereka melihat sosok Raka yang ternyata berdiri di depan pintu dan menjadi seorang tamu.
...T.B.C...
oleng-oleng nih.
__ADS_1