Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 07. Perubahan Sikap Julian


__ADS_3

Deburan ombak menyapa indera pendengaran Airin yang sore hari ini ternyata berada di Ancol. Dia berniat untuk melihat indahnya matahari tenggelam.


Iya, wanita itu menghiraukan perintah Julian dan entah dapat pikiran dari mana, dia ingin pergi refreshing. Walau sendiri, tak masalah. Namun yang jelas dia merasa senang.


Beberapa jam lalu sebelum ke Ancol, dia menghabiskan waktu menjelajahi semua wisata yang ada di tempat ini. Seperti, bermain-main di Dufan, berinteraksi dengan burung dan melihat atraksi lumba-lumba di Ocean Dream Samudera.


Selepas dari sana dia pergi ke Ocean Eco Park untuk belajar tata cara bercocok tanam, kemudian ke Atlantis Water Adventure untuk bermain di dalam kolam layaknya anak kecil.


Tidak sampai di situ. Pokoknya Minggu ini, Airin pergi bersenang-senang. Setelah puas bermain air, dia pergi ke pasar seni. Dia tidak membeli apapun, tapi hanya melihat karya-karya orang kreatif yang berkumpul di tempat itu.


Selepas dari sana, Airin langsung pergi ke Stasiun Gondola. Tidak berhenti di sana, Airin kembali melanjutkan perjalanan hingga dia masuk ke wahana laut.


Iya, selepas melihat pemandangan dari ketinggian, Airin memanjakan matanya melihat biota laut.


Nah setelah itu, barulah Airin menyudahi penjelajahannya di sini, di bebatuan tepi pantai Ancol. Wanita itu menatap lurus ke depan tepat ke arah sang surya yang hendak berpulang dari peradabannya.


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit. Airin bergerak meronggoh sling bag miliknya. Wanita itu mengeluarkan ponsel dan langsung mengaktifkannya.


Iya, dia sengaja mematikan ponselnya, karena tidak ingin diganggu oleh spam chat atau spam panggilan suara dari Julian.


Sekali-kali bolehlah dia jual mahal. Lagi pula ini waktu yang tepat bagi perempuan itu untuk mendapati perhatian Julian.


Bener saja. Setelah ponsel itu aktif. Notifikasi puluhan pesan langsung membombardirnya. Nama Julian paling sering kelihatan.


Wanita itu tersenyum senang. Dia membuka aplikasi what*app dan langsung masuk ke dalam room chat antara dia dan suaminya yang ternyata sudah memuat dua puluh pesan lebih.


Kau, sudah berani membantah?


12.00am


Apa begini sikap seorang istri kepada suaminya?


12.05am


Aku belum sarapan, aku belum mandi, aku belum melakukan apapun. Jadi, cepatlah pulang sebelum, Mama datang!


12.05am

__ADS_1


Pulang sebelum aku hilang kesabaran, Rongsokan!


12.11am


Itulah sedikit pesan singkat yang Airin baca dengan mengeluarkan suara cekikikan. Wanita itu menggulir layar ponselnya ke bawah, hingga dia sampai di bagian paling bawah.


Baiklah, jangan menyesal kalau aku melakukan hal yang lebih padamu, Rongsokan.


16.30pm


Airin mengulas senyum. Wanita itu mulai mengetikkan pesan balasan untuk sang suami.


^^^Aku akan pulang sekarang. Jadi, berhentilah mendumel di rumah. Aku tahu kau lagi uring-uringan, Mas🤪^^^


Airin membalas dengan sedikit bercanda. Jujur, dia tidak pernah mendapatkan chat sebanyak ini. Jangankan banyak, dulu dia tidak pernah mendapatkan satu pun pesan. Jadi, dia tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk menggoda suaminya.


Airin menekan tombol kembali dan kedua matanya langsung melihat ada satu notifikasi pesan dari, Raka.


Wanita itu masuk ke dalam room chatnya dengan Raka. Airin menaikkan dua alisnya bingung.


12.30


^^^Maaf aku sudah bersuami.^^^


Airin membalas dengan cekikikan dan kepala yang menggeleng. Baru saja Airin hendak pergi ke beranda ponselnya, tiba-tiba layarnya yang tadi menampilkan aplikasi Whats*app, langsung berubah menjadi pemberitahuan ajakan panggilan suara. Tentu saja itu berasal dari suaminya sendiri.


Airin tanpa lama-lama.menerima ajakan panggilan suara tersebut. Kedua matanya sudah siap terpejam, karena dia pasti akan mendapatkan omelan dari sang suami.


"Sayang, kau kemana, cepatlah pulang. Apa begini sikapmu saat ibu mertua sedang berkunjung ke rumah, kita?" Bukannya terpejam, Airin justru membulatkan mata terkejut.


Saat ini dia otaknya seperti tidak bisa mengolah apapun, karena saking kagetnya, "Sayang? Apakah kau men-"


"Biarkan saja istrimu menikmati hari liburnya, Julian. Mama juga tidak sedang buru-buru."


Airin mendengar jelas, kata-kata seorang wanita yang sangat dia kenali memotong perkataan suaminya.


"I ... iya, Ma."

__ADS_1


Airin terkekeh dalam hati saat mendengar nada bicara Julian yang terbata-bata.


"Cepatlah pul-"


"Aku akan pulang sekarang." Airin memotong perkataan bisik-bisik suaminya dan dia langsung memutus panggilannya sepihak sebelum kata-kata yang tidak ingin dia dengar, terlontar dari mulut laki-laki itu.


Airin bergerak memasukkan ponselnya ke dalam tas dan dia langsung berjalan dengan langkah cepat untuk kembali ke mobil. Iya, seperti yang dikatakannya tadi, kalau dia akan pulang.


***


Tepat pukul enam petang saat adzan magrib berkumandang, Airin sampai di rumahnya dan dia sudah memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil sang suami.


Beruntunglah tadi di jalan dia tidak terkena macet, hingga dia berhasil sampai di rumah dengan cepat.


Airin bergerak membuka sabuk pengamannya dan tanpa berlama-lama lagi, dia langsung keluar dari dalam mobil.


Dengan langkah tergopoh-gopoh, Airin berjalan mendekati pintu masuk rumahnya. Wanita itu mendorong lawang ke depan, "Mas?"


Kedua matanya langsung menangkap sosok Julian yang ternyata sudah berdiri di belakang pintu dengan tubuh bagian atas yang polos dan bagian bawah hanya di bentengi sebuah handuk.


"Airin!" Ibu mertua, Airin, Arum Pranata langsung menjerit bahagia saat melihat sosok cantik menantunya.


Wanita paruh baya itu hendak mendekati, Airin, tapi tangan Julian jauh lebih dulu menghadangnya, "Apa yang kau lakukan, Julian?" Arum bertanya dengan tatapan mata yang mendelik tajam kepada anaknya.


Julian diam dan laki-laki dua puluh tujuh tahun itu lebih memilih untuk fokus melihat, Airin, "Pergi ke mana?" tanya pria itu layaknya seorang suami posesif.


Sementara di sisi, Airin. Laki-laki itu mulai merasa tidak karuan, "Anu, ak-"


"Apa kau begitu tega meninggalkan suamimu tanpa terlebih dulu menyiapkan segala hal yang dia perlukan. Kau mau membuatku mati kelaparan?" sela Julian dengan nada bicara yang sedikit marah.


...T.B.C...


...Sebenarnya ini akan publish kemarin, tapi karena ada masalah review yang lama, ya gitulah. ...


...Bab dua akan nyusul setelah ini....


...Rajin-rajin kasih vote, kasih hadiah, dan komen yang membuat moodku membaik, aku jamin akan rajin juga update. ...

__ADS_1


__ADS_2