Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 23. Cocok dan Pas


__ADS_3

"Eh, Nyah, mau ke mana?" Airin yang baru keluar dari dalam pekarangan rumahnya, langsung di sapa oleh Fatma yang di mana, saat ini wanita paruh baya dan berapa perempuan sebaya dirinya tengah berkumpul di sebuah gazebo, tempat di mana para bapak-bapak kompleks berkumpul untuk meronda.


Airin dan Julian tidak tinggal di kompleks perumahan elit. Mereka menetap di perumahan biasa-biasa saja, yang di mana penghuninya masih mengenal kata ramah.


Airin tersenyum. Wanita yang sudah cantik dengan pakaian khasnya itu melambaikan tangan sembari berjalan mendekat ke gazebo tersebut.


"Wah lagi ngapain?" tanya Airin dengan nada riang.


Bu Fatma, orang yang bekerja di sebelah rumah Airin sebagai serang asisten itu, terlihat tersenyum menunjukkan giginya.


"Biasa lagi ngomongin satpam malem, Nyah." Dengan sedikit tersenyum nakal, wanita itu menjawab membuat Airin terkekeh geli.


"Mana ada. Palingan tadi kami gosip, Nyah. Tahu sendiri kalau ibu-ibu kek kita ini udah kumpul enggak jauh dari kata ngomongin orang."


Wanita bertubuh bongsor yang tengah mengupas mangga menyeletuk. Airin yang mendengar itu mengeluarkan tawa kecil. Iya, jawaban, Bu Kalsum bener. Kalau para ibu-ibu sudah yang namanya kumpul, pasti akan bahas orang.


"Btw, lagi ngomongin siapa, aku kepo." Dengan mimik yang ingin tahu, Airin berucap. Iya, tidak bisa dipungkiri kalau wanita itu juga suka yang namanya gosip.


Toh dia orang Indonesia juga. Darah yang mengalir di nadinya itu asli darah Negera +62. Jadi, maklumi kalau sikap keingintahuannya itu memang sama dengan para perempuan lainnya.


"Biasa, bosnya si ini." Bu Kalsum menunjuk, Bu Ririn yang saat ini tengah mengulek sambel.


Airin yang mendengar kata bos, langsung membulatkan mata dia ingin tahu, tapi suara klakson mobil, membuat wanita itu mengurungkan niatnya.


"Nah, temenku udah datang. Aku pergi dulu yah. Nanti spill lanjutannya." Airin berjalan cepat ke arah mobil, Raka yang sudah terparkir di depan rumahnya.


Bu Fatma dan ibu-ibu lainnya langsung mengacungkan jari jempol untuk menjawab perkata, Airin tadi.

__ADS_1


Begitulah, Airin. Dia wanita yang lebih terkenal di kalangan art para tetangganya. Mereka semua berkumpul di gazebo karena pekerjaannya telah usia. Jadi, mereka bersantai-santai. Majikan wanitanya pun tidak melarang, karena mereka juga ikut-ikutan berkumpul.


Jadi, bisa dikatakan status sosial di kompleks perumahan itu tidak ada. Mereka berbaur satu sama lain, cari bahan gosip dari ibu-ibu mulut ember, hingga pekerjaan baru datang.


***


"Ternyata kau terkenal juga yah," ujaf Raka sembari menoleh ke arah Airin dan laki-laki itu kembali menghadap depan untuk melihat jalanan kota Jakarta yang memadat.


Iya, mereka sekarang sudah berada di tengah-tengah jalanan kota Jakarta.


Airin tersenyum saat mendengar penuturan yang keluar dari mulut, Raka.


Raka menoleh dan itu ternyata bertepatan dengan senyum Airin yang semakin mengembang. Jantung laki-laki itu langsung berdebar.


"Kita akan pergi sekarang atau bagaimana?" tanya Raka mencoba untuk menghengikan degup jantungnya yang semakin lama, semakin cepat saja.


"Nanti saja setelah kau turun jum'atan." Airin melihat ke arah Raka yang sudah bergerak mengangguk kepalanya.


"Ide bagus. Kalau gitu kita cari masjid dulu." Raka melajukan mobilnya untuk mencari masjid setempat yang kiranya tidak jauh dari pusat perbelanjaan yang nanti akan dia datangi.


***


"Yang ini cocok kalo yah, Ka?" tanya Airin sembari menunjukkan sebuah kaos dan celana training kepada, Raka.


Saat ini, tepatnya jam dua siang, mereka berdua, Airin dan Raka sudah ada di pusat perbelanjaan yang beberapa hari lalu dikunjungi oleh wanita itu dan juga mertuanya.


Jujur, ini kali pertamanya, Airin berbelanja baju setelah sekian lama. Padahal dia wanita yang menganut sakte asal muat, biarpun bolong pakai aja.

__ADS_1


Raka menelisik baju ditangan Airin. Laki-laki itu menerka dan mulai membayangkan apakah baju dan celana training itu akan pas dipakai oleh wanita itu.


Dia tidak ingin mencari cocok, karena sepuluh pakaian sebelumnya terlihat cocok, tapi mereka mungkin bisa saja tidak pas.


"Pas, warnanya juga lumayan bagus." Airin menghela napas. Akhirnya setelah mengelilingi toko baju olahraga ini. Dia bisa mendapatkan jawaban memuaskan dari dalam mulut, Raka.


"Sini biar aku yang bayar." Tanpa menunggu persetujuan, Raka langsung meraih baju kaos dan celana training itu dari tangan, Airin.


Airin pasrah dan hanya mengikut dari belakang, "Ka, tapi aku suka yang warna hijaunya loh. Kelihatan cocok gitu dj tubuhku."


Raka berhenti dan dia menoleh untuk melihat, Airin, "Rin, kau pernah denger istilah cocok bukan berarti pas enggak?" tanya Raka sembari memutar tubuhnya menghadap ke arah, Airin.


Airin menggeleng tidak tahu. Dari dulu dia hanya membeli baju jika dia merasa itu cocok. Raka tersenyum. Laki-laki itu melipat tangan di depan dada.


"Gini yah. Kau tidak boleh menilai sesuatu hanya dari cocok saja. Kau juga harus memikirkan pas atau tidaknya barang itu. Jadi jika ingin sesuatu harus melihat cocok dan pasnya enggak untuk kita." Raka menjeds ucapan hanya untuk menunjuk dirinya dan melihat, Airin yang diam mendengarkan.


"Seperti aku yang merasa cocok dan pas jika bersama denganmu." Raka langsung berlalu pergi ke kasir meninggalkan Airin yang tetiba bersemu merah. Sumpah ini kali pertama dis mendapatkan kata-kata seperti itu dari lawan jenis.


...T.B.C...


...Ea babang Raka mah...


...Jangan lupa kasih hadiah, vote, dan komen agar kita semua bisa cocok dan pas....


...Luve yu...


...Part dua agak sore yah. ...

__ADS_1


__ADS_2