Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 56. Kecewa


__ADS_3

8 Tahun lalu.


Suara motor king menggema memenuhi kawasan parkiran kampus. Semua orang yang berlalu lalang di tempat itu, langsung berhenti dan mereka memilih menoleh untuk melihat siapa gerangan orang yang menciptakan kebisingan di pagi hari ini.


Sekarang, semua pandangan mengarah ke tempat parkir yang di mana, di sanalah asal suara bising khas motor king.


Sementara di tempat parkir sendiri, ada seorang laki-laki muda yang saat ini dengan sengaja menarik tuas gas motornya.


Laki-laki yang saat ini memakai setelan celana jeans longgar dan baju kaos itu, terus saja membunyikan knalpot kingnya. Di rasa sudah cukup mengambil perhatian. Dia bergerak mematikan mesin kendaraan roda duanya dengan cara memutar kunci motor yang terpasang di tempatnya.


Laki-laki muda itu mencabut kunci motornya dan setelahnya kedua tangannya bergerak membuka pengait helm Yamaha RX king, yang terpasang di kepalanya.


"Weh motor baru, Yan!" Julian menoleh saat ada seorang laki-laki menyeletuk dan bahkan pria itu bergerak menepuk jok belakang motornya.


Iya, laki-laki itu adalah Julian. Usianya saat ini masih sembilan belas tahun. Wajahnya nampak muda dengan model rambut berdiri seolah tidak tersisir rapi, kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, dan jangan lupakan kalung bermanik-manik silet yang melingkar di lehernya.


Jika dibayangkan, Julian saat itu berpenampilan khas seperti anak muda di zaman itu. Laki-laki itu tersenyum.


"Iya dong. Masa iya anak orang kaya naik angkutan umum." Dengan jumawa, Julian berucap.


Laki-laki itu sebenarnya hanya bercanda. Buktinya. Dia— Samsul yang tadi menyapanya itu langsung memiting lehernya.


"Anak Tuan Pranato emang bedo yo." Samsul yang tadi sibuk membisikkan kekesalannya kepada, Julian langsung menegakkan kepalanya, melihat ke dia— Sunanto, laki-laki seusia Julian dan Samsul yang tadi menyeletuk.


Julian pun begitu. Laki-laki itu sedikit mendongakkan kepalanya, untuk melihat ke arah Sunanto, "Kau ngomong gitu sekali lagi."


Julian menyingkirkan tangan Samsul dari lehernya. Laki-laki itu langsung menatap tajam Sunanto. Bahkan dia mulai pasang tubuh, tapi Samsul dengan cepat memeluk perutnya.


"Udah, Yan, udah. Kau tahu 'kan Anto orangnya gitu." Samsul mencoba menenangkan Julian yang saat ini menatap Sunanto dengan tajam.


Sunanto yang di tatap, hanya bisa me.amerkan mimik wajah tanpa senyum, "Kalian lagi gulat?" Laki-laki itu berkata sekonyong-konyongnya.

__ADS_1


Samsul dan Julian yang mendengar itu menatap, Sunanto dengan datar, "Enggak lagi nari jaipong nih." Samsul yang tadinya mencoba menenangkan Julian, justru dia yang dibuat kesal oleh teman satunya ini.


"Nto, udah pernah bejek-bejek kertas enggak?" tanya Julian dan itu berhasil mengambil perhatian, Samsul.


Sunanto yang mendengar itu menganggukkan kepalanya, dengan mimik wajah datar tanpa ekspresi, "Masak bro Iyan lupa. Pas UTS kemarin kita kan bejek-bejek kertas terus saling lempar untuk ngasih jawaban," jawab Sunanto dan itu berhasil membuat kekesalan, Julian berada di ubun-ubun.


Samsul yang mendengar jawaban Sunanto cekikikan, tapi dengan cepat dia menahan Julian, "Sabar, Yan, sabar."


Julian berdecak kesal dan laki-laki itu langsung berlari pergi dari hadapan dua teman curutnya.


Sunanto yang melihat itu menatap, punggung Julian dengan tanpa ekspresi, "Aku ngomong salah yah, Bro Sul?" tanyanya dan Samsul yang mendengar itu menggelengkan kepala.


"Enggak, Nto. Kau tahu sendiri 'kan kalau yang paling bener di sini kau." Samsul berlari pergi. Sunanto yang melihat kedua temannya itu melenggang pergi, ikut berjalan.


Di sisi Julian. Dia tiba-tiba saja menghentikan langkah saat kedua matanya mendapati sosok gadis ayu bertubuh mungil dengan model rambut yang dikepang dua dan mata yang dilindungi kaca minus.


Julian terlihat tersenyum ke arah wanita itu, "Jodoh emang enggak akan ke mana yah," gumam laki-laki itu dan dia langsung tersentak kaget saat mendapati tepukan di pundaknya.


"Nah lagi ngapain ayo," ujar Samsul dengan nada yang terdengar penuh selidik. Laki-laki itu langsung berdiri di sebelah, Julian.


Julian hendak bicara tapi, tubuhnya tiba-tiba terhuyung, Karen dari sisi kanan dia mendapat senggolan, "Iya bro Iyan, ada apa hayo?" Dengan wajah datar dan tanpa rasa bersalah, karena sudah menyenggol pundak, Julian, Sunanto berucap.


Julian yang sudah kelewat kesal, karena tadi hampir saja jatuh, mengeram marah. Dia bergerak untuk berdiri tegak dan kedua matanya langsung menatap tajam Sunanto.


Bawaan Sunanto ini berwajah datar. Dia tidak pernah tertawa, walau sering melucu. Menyebalkan, tapi karena adanya dia, kehidupan sekolah Julian dan Samsul terasa penuh warna.


"Yan, hiraukan dia. Lihat, Clara mau pergi!" Julian yang tadinya hendak marah, malah langsung menoleh ke arah lorong jalanan kampus, tempat tadi dia melihat ayu yang dia ketahui namanya, Clara, tapi dia panggil dengan nama Ara.


"Urusan kita belum selesai, Nto!" Julian berteriak sembari berlari mengejar, Clara.


Julian yang tadinya berlari mulai merubah langkahnya menjadi jalan cepat, "Hai, selamat pagi." Julian menyapa dengan senyum bahkan saat ini dia sudah berdiri di depan wanita ayu yang langsung menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Itulah yang membuat Julian jatuh hati. Dia suka saat melihat Clara yang langsung menundukkan kepalanya jika berhadapan dengan seorang, pria.


***


Julian mundur dengan langkah yang begitu lemah. Laki-laki itu menggelengkan kepala. Kedua matanya entah sejak kapan langsung berkaca-kaca.


"Apa kamu benar-benar, Ara yang aku kenal?" tanya Julian dengan nada tidak percaya.


Clara yang mendengar itu tidak mampu berucap. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Satu tangannya bergerak untuk meraih lengan, Julian, tapi sialnya itu tergantung di udara.


"Aku yakin kau ini bukan, Ara." Julian masih tidak bisa percaya, tapi mau disangkal sebanyak apa pun. Wajah wanita yang ada di depannya itu adalah, Clara.


Wanita yang delapan tahun lalu masih takut menatap seorang laki-laki.


Waita delapan tahun lalu yang terlihat masih sangat polos, dan


Wanita yang delapan tahun lalu masih memiliki warna rambut hitam.


"Iyan, aku bis-"


"Tutup mulutmu! Kau bukan, Ara. Dia yang aku kenal tidak sehina dirimu."


Clara membulatkan mata terkejut. Dia tidak percaya kalau, Julian tega berteriak seperti itu, "Iyan, deng-"


"Aku kecewa padamu." Julian memutar tubuhnya dan langsung melangkah pergi, tapi dua tangan mungil, Clara menggengam jemarinya.


"Iyan, kau salah paham. Aku bisa menjelaskan ini semua. Tolong jang-"


"Jangan menyentuhku!" Julian menyentak tangannya dan itu berhasil membuat, Clara terjatuh dan menjadi pusat perhatian.


"Entah kenapa aku mulai merasa jijik denganmu." Dengan mengelengkan kepala, Julian berucap dan laki-laki itu langsung melengos pergi. Padahal niatnya datang ke sini untuk menengakan diri, tapi bukannya mendapat ketenangan justru kebenaran yang dia lihat.

__ADS_1


Clara yang melihat kepergian Julian, dia langsung bangkit dan berlari mengejar laki-laki itu.


...T.B.C...


__ADS_2