
Siang menjelang dan Airin masih berada di rumah keluarganya. Dia sekarang sedang berkumpul bersama ibu dan kakak iparnya di gazebo taman belakang yang berada tepat di atas kolam ikan.
Jika Haidar pecinta Tokek, anak pertamanya— Dafa suka sekali yang namanya ikan. Puluhan macam ikan koi ada di kolam itu. Malahan dulu, Dafa berniat mendirikan sebuah tempat ternak ikan, tapi itu ditolak oleh Bapak lantaran tidak ada yang memimpin perusahaan.
Dafa awalnya tidak setuju, tapi Bapak mengatakan setelah adiknya yang paling kecil si Kai gede, perusahaan akan dialihkan ke laki-laki remaja itu. Itulah kenapa Dafa menerima dan menunda pembuatan bisnis ternak ikannya.
Jika dikulik lebih dalam lagi. Keluarga Airin ini beragam. Mereka semua mempunyai warna hidup tersendiri. Contohnya Haidar. Biar tua-tua begitu dia masih bisa tampil penuh enerjik, kemudian ada Leras.
Dia ibu paling cerewet, tapi nurut dengan suami. Itulah kenapa, Airin juga sangat menurut dengan suaminya. Dia tidak goblok atau apa yah. Airin dari saat dia beranjak remaja sudah mendapatkan pendidikan dari ibunya, tentang menjadi istri yang baik.
Namun, ibunya juga tidak mengajari untuk sabar jika berhadapan dengan laki-laki modelan Julian. Kesabaran itu Airin dapatkan dari dirinya sendiri. Dia bisa begitu, masih berharap kalau suaminya itu bisa menjadi seorang suami yang dia bayangkan. Akan tetapi, tidak. Laki-laki itu tidak melakukan perubahan sedikit pun.
Kalian pasti bertanya, kenapa dia tidak melapor kelakukan, Julian. Jawabannya, satu. Airin tidak mau melihat laki-laki itu malu di depan ibunya. Apa lagi dia tahu kalau Julian sangat sayang dengan ibunya.
"Kenapa malah bengong, Rin? Sambelnya di ulek dong." Airin tersentak saat suara Laras membangunkan dia dari lamunannya.
"Lagi mikirin apa hayo?" Dengan kerutan di kening dan senyum curiga, Laras bertanya.
Airin menggelengkan kepalanya. Wanita itu tersenyum malu dan dia memilih melanjutkan pekerjaannya mengulek sambel untuk membuat rujak buah.
"Malah geleng-geleng. Mau cosplay lagu kuburan yang bilang digeleng-geleng, yah?" Laras kembali menyeletuk, membuat— Maya, menantu yang dia dapatkan dari Dafa tertawa.
"Ma, sudah. Lihat! Airin jadi malu." Maya dengan masih tertawa menengahi, mencoba untuk menghentikan ibu mertuanya itu untuk tidak menggoda, adik iparnya lagi.
Benar, Airin saat ini mencibir. Wanita itu selalu kesal jika sudah berhadapan dengan ibunya, "Garing tahu enggak." Dengan kesal, Airin menjawab. Wanita itu bahkan menghujamkan ulekan ke atas cobek dengan sedikit bertenaga.
"Mbak, Jason mana?" tanya Airin membuat, Mbaknya menoleh.
Jason adalah anak dari Dafa dan Maya. Patut anda ketahui, Haidar selalu saja mengatakan kalau cucunya itu memiliki nama aneh. Padahal namanya, Jason Wigantara, keren, kan?
__ADS_1
Namun, Haidar tidak suka. Menurutnya nama yang cocok untuk cucunya adalah Daya Wigantara. Dia mendapati nama itu setelah berdiskusi dengan Jojo.
"Di kamar. Tadi habis ***** langsung tidur." Maya menjawab dengan terus mengiris daging mangga yang kulitnya sudah dikupas oleh Laras.
"Anak orang mulu yang dicariin. Buat ndiri dong." Tanpa memikirkan dampak dari perkataannya, Laras berucap dan itu berhasil membuat, Airin diam dengan air muka yang tiba-tiba berubah suram.
Maya yang mengetahui itu menaikkan kedua alis matanya, "Enggak boleh ngomong gitu, Mak. Mungkin Adikku belum dikasih sama yang di atas. Maya juga dulu gitu, kan?"
Airin tersenyum. Wanita itu bergerak mencuci tangannya dan setelah itu, bergerak turun dari gazebo, "Aku mau lihat Jason dulu." Airin memasang sendal jepitnya dan langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Laras yang melihat gelagat anaknya menoleh ke arah menantunya, "May, dia kenapa?" tanya wanita paruh baya itu kepada istri anak pertamanya, "apa kata-kata mamak tadi salah?" imbuhnya dan Maya hanya menghedikkan bahu acuh.
"Kenapa tanya Maya?" Laras langsung menoyor kepala menantunya, membuat wanita itu cekikikan sembari mengunyah mangga yang tadi dia lumuri sambel rujak, "Mak, ini enak loh."
Laras mengambil seiris mangga dan ikut mencobanya, "Ah, iya. Tangan anakku emang ajaib."
Airin menghentikan langkah, matanya memicing saat dia melihat ada seorang laki-laki yang berdiri sembari menimang anak balita.
Terlebih lagi suara serak laki-laki itu tertangkap jelas oleh gendang telinga, Airin yang baru saja masuk ke dslam rumah. Padahal tadi dia hendak naik ke lantai atas untuk bertemu, Jason, tapi langkahnya malah berhenti di ruang tengah.
"Raka?" Airin mencicit, membuat laki-laki tinggi berpakaian semi kantoran tanpa jas itu menoleh.
Senyum dan lesung pipi khas milik, Raka langsung tertangkap oleh netra hitamnya. Airin ikut tersenyum dan dia berjalan mendekat kala mengetahui, kalau yang ada di gendongan laki-laki itu adalah Jason.
"Kenapa bocah tengil itu ada bersamamu?" tanya Airin yang sepertinya semakin hari, berbicara menggunakan nada santai dengan Raka.
Raka menunjukkan bayi laki-laki itu kepada, Airin, "Tadi, Bapak yang ngasih," jawab laki-laki itu sembari terus membuat gerakan, agar Jason nyaman.
Airin mengangguk kepalanya. Dia menoleh ke balik tubuh, Raka, "Bapak ke mana?" tanya wanita itu, membuat Raka ikut menoleh.
__ADS_1
"Tadi dia mengatakan mau main catur ke rumah pak Suheb."
Airin kembali mengangguk kepalanya. Wanita itu tersenyum sembari mengulurkan kedua tangannya untuk mencubit pelan, pipi gembul Jason yang ternyata tenang dj gendongan, Raka.
"Sepertinya kau sudah cocok jadi ayah. Lihat, Jason begitu tenang di gendonganmu." Dengan terus membuat wajah konyol, Airin berucap.
Raka yang mendengar itu hanya bisa terkekeh, "Lihat, Bibimu mengatakan aku sudah cocok jadi seorang ayah." Dengan menirukan suara anak kecil, Raka berucap. Airin yang mendengar itu terkekeh geli.
"Duduk sini." Airin berjalan mendekat ke sofa yang ada di ruang tengah, "kamu kok bisa ke sini? Padahal acaranya sore nanti," ujar kembali wanita itu sembari bergerak duduk.
"Kebetulan lagi senggang, Rin. Makanya aku ke sini. Semua pertemuan penting udah selesai," jawab, Raka sembari duduk di sebelah, Airin.
Sekarang laki-laki itu memangku Jason yang sedari tadi tidak berhenti mengeluarkan suara, membuat liurnya bercucuran ke tangan, Raka.
Balita laki-laki itu sepertinya suka bersama dengan, Raka. Buktinya saja dia selalu tertawa, menunjukkan gusinya yang belum ditumbuhi oleh gigi.
"Tuh beneran. Jason suka loh sama kamu, Ka." Airin berdecak sembari melihat ke arah Raka yang ternyata sedari tadi menatap ke arahnya.
"Keponakannya udah suka, Bibinya gimana? Kamu suka enggak ke aku?" tanya Raka spontan dan itu berhasil membuat Airin berpaling.
Dari arah pintu, terlihat Julian diam. Baru saja laki-laki itu mau masuk, pemandangan yang membuat suasana hatinya tidak enak langsung menyambut kedatangannya.
Kenapa begini? Ada apa denganku? batin laki-laki itu yang ternyata bingung dengan suasana hatinya.
Julian menggelengkan kepalanya, ini baru tujuh hari, tapi kenapa bisa mereka sedekat itu, batin Julian bertanya dengan mimik wajah yang tidak percaya.
...T.B.C...
...Bisa dong, Mas Jul. wong mereka sahabat kecil. lu tahu apa selain, Clara?...
__ADS_1