
25 Oktober.
Julian melirik jam dinding yang saat ini menunjukkan pukul tujuh malam. Tatapan mata laki-laki itu terlihat tajam. Belum lagi sedari tadi dia melirik ke arah lawang masuk ke ruangan ini, yang tidak ada sedikit pun memperlihatkan tanda-tanda orang masuk.
Sudah sedari pulang ke kantor, Julian berada di sana. Pakaian yang dia kenakan untuk kerja terlihat masih terpasang di tubuhnya.
Suara beradunya meja kecil yang ada di tengah-tengah sofa dan tak tv memenuhi ruangan itu, saat Julian tanpa hati menendang barang tersebut.
Tatapan tajam penuh akan kemarahan tersirat nyata di netra hitamnya. Bukan hanya itu, sedari tadi rahang laki-laki itu tidak berhenti mengetat.
Julian bergerak menunduk dan tangannya langsung terulur untuk memungut ponsel yang ternyata tergeletak di atas lantai.
Julian dengan marah memainkan benda itu. Dia mengusap layar ponselnya untuk mencari aplikasi kontak telepon. Setelah ditemukan, laki-laki itu menekannya, menggulir untuk mencari nomer yang dia namai "Rongsokan".
Tidak sulit, Julian mencari nomer itu. Dia langsung menekan kontak bernama rongsokan itu dengan kasar dan langsung menempelkan bends pipih tersebut di depan telinga.
Julian mengeram dan laki-laki itu langsung melempar ponselnya saat dia mendapati suara operator yang mengatakan, kalau nomer yang dituju sedang tidak aktif.
Suara ponsel yang berada dengan layar tv, kembali memenuhi ruangan itu. Bahkan pecahan kaca mulai bertebaran di sana.
Julian meraup wajahnya dengan kasar dan dia juga menjambak rambutnya prustasi. Sungguh, beberapa hari terkahir ini dia dibuat kesal oleh sikap, Airin yang sejak saat itu berubah drastis.
Padahal, Julian rela loh menghilangkan sikap acuh tak acuhnya pada, Airin, karena dia mengira kalau beberapa hari terakhir lagi, wanita itu akan pergi.
Namun, di saat dia berubah baik, Airin malah bersikap sangat berbeda dari dia biasanya. Sudah 11 hari, Julian mendapati sikap dingin sang istri.
Bukan dingin sih, tapi lebih ketidak peduli. Iya, Airin mulai mengeluarkan sikap tak peduli kepadanya. Contoh, sebelas hari terkahir ini wanita itu sudah jarang memasak, jarang menyiapkan air, dan bahkan lebih parahnya. Airin tidak pernah menemaninya lembur lagi.
Memang, jika terang-terangan, Julian pasti akan menolak dengan keangkuhan. Namun, dslam hati. Laki-laki itu sangat gusar. Dia bahkan sampai tidak ada waktu untuk memikirkan, Clara hanya karena ingin mencari tahu ada apa dengan istrinya.
Pernah malam itu dia mengintip sang istri. Waktu itu dia sedang lembur dan butuh sekali teman di ruang kerjanya. Awalnya, dia berniat memanggil, Airin untuk meminta wanita itu membuatkan kopi.
Sebenarnya itu hanya alasan sih, karena setelah wankta itu membuatkan kopi. Dia akan samar-samar memintanya untuk diam menemani. Namun, semua skenario yang sudah dia buat, memudar kala mendengar suara Airin yang tengah melakukan panggilan suara dengan, Raka.
Julian tidak akan syok jika nada bicara wanita itu biasa saja, tapi yang laki-laki itu dengar adalah suara, Airin yang begitu manja dan terkesan penuh sayang. Dia yang berstatus suami, tidak pernah mendapati nada bicara seperti itu.
Namun, Raka yang berstatus entan apa malah mendapati nada bicara itu. Julian, hendak marah, tapi ego dalam otaknya lebih cepat membuat laki-laki itu sadar.
"Sialan!"
Julian berteriak marah karena laki-laki itu sudah jengah. Dia bergerak bangkit dari duduknya. Kedua matanya melihat ke arah lawang masuk.
"Aku membiarkanmu, tapi kali ini sudah kelewatan. Kau sungguh memaksaku kembali seperti dulu."
Julian yang sudah lelah berada di ruang tv berjalan pergi meninggalkan tempat yang sudah bisa dikatakan seperti kapal pecah itu. Masalahnya di sana, pecahan kaca banyak berhamburan di lantai. Belum lagi, tv yang tiba-tiba hidup dan memperlihatkan warna abu-abu dengan layaf buram.
__ADS_1
***
Mobil sedan hitam berhenti tepat di depan gerbang rumah, Airin dan Julian. Dua orang yang ada di dalam sana, bergerak turun secara bersamaan.
Raka yang keluar dari pintu bagian kemudi langsung berlari ke tempat, Airin. Laki-laki itu bergerak menyodorkan ponsel milik, sahabat sekaligus pujaan hatinya.
"Makasih," ujar Airin sembari bergerak meraih benda itu ditangan, Raka.
Airin mencoba menekan power on ponslenya, tapi benda itu tetap tidak bisa menyala, "Ka, bagaimana dong? Ini satu-satunya hpku loh. Kalau rusak, kita enggak bisa ngobrol lagi." Dengan nada yang terdengar sedikit merengek, Airin berucap.
Raka yang mendengar itu hanya bisa terkekeh pelan, "Kita tidak perlu benda itu. Kalau kau mau ngobrol, panggil aja namaku tiga kali-"
"Habis itu kau datang, gitu?" sela Airin dan Raka menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tapi aku yakin. Kau pasti akan tenang." Airin menaikkan satu alis matanya bingung.
"Kok bisa?" tanya wanita itu dan Raka yang mendengarnya tersenyum.
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya, "Tentu saja bisa, karenakan namaku sudsh mulai terukir kembali di sini." Raka menggombal sembari menunjuk dadanya.
Airin yang mendengar itu langsung memerah. Dia bahkan membuang pandangannya ke sebuah kiri, untuk menyembunyikan raut wajahnya yang termakan oleh gombalan receh, Raka.
"Ada-ada aja. Udah yah, aku masuk dulu. Makasih, karena mau menemaniku pergi ke rumah Bapak, walau di sana kau selalu ketakutan."
Raka mengangguk kepalanya, "Sama-sama. Masuk gih." Airin mengangguk kepalanya. Wanita itu melangkah masuk. Dia menoleh ke belakang.
Raka ikut melambaikan tangan dengan tersenyum. Setelah, melihat Airin masuk ke dalam pekarangan. Dia langsung berlari mengitari mobilnya.
Raka membuka pintu mobil bagian kemudi. Laki-laki itu tidak bergerak masuk. Dia justru diam dengan pandangan mata mengarah ke persinggahan, Airin dan Julian.
semakin hari hubunganku dengan Airin meningkat. Aku harap berjalan lancar hingga akhir bulan ini, batin, Raka dan setelah itu dia bergerak masuk ke dalam mobil.
***
Airin menghela napas. Wanita itu sekarang sudah berada di dalam rumah dan dia sekarang sedang mengunci pintu. Ternyata keasikan mengobrol dengan keluarga, membuat dia lupa waktu pulang.
Namun, lihat. Wanita itu saat ini sedang tersenyum karena masih mengingat kejadian konyol, Raka yang tidak sengaja menduduki Jojo.
Setelah selesai mengunci pintu, Airin memutar tubuhnya dan laki-laki itu tersentak kaget saat mendapati suaminya entah sejak kapan berada di lawang menuju ruang tv.
Dari raut wajahnya, Airin dapat menebak kalau laki-laki itu sedang marah. Namun, sialnya dia sudah tidak peduli lagi. Setelah mengungkapkan isi hatinya waktu itu, Airin sudah bertekad untuk mengubah tingkah lakunya.
Dia sudah tidak peduli kalau nanti dicap menjadi seorang istri durhaka. Bukan apa-apa yah. Airin bersikap seperti itu, agar nama Julian yang terukir di hatinya cepat menyingkir.
Lagian, percuma juga 'kan nama orang itu ada di sana jika, dia yang bersangkutan dan sudah meminta untuk pisah.
__ADS_1
"Main di mana?" tanya Julian ambigu dan Airin yang mendengar itu membulatkan mata terkejut.
"Jaga bicara-"
"Kenapa? Tersinggung? Salahkah aku berpikir seperti itu?" Dengan masih menatap tajam, Airin, Julian berucap. Bahkan saat ini laki-laki itu sedang memperlihatkan senyum mengejeknya.
Airin semakin tidak bisa menerima. Mungkin jika masih mencaci, dia akan diam saja, tapi kata-kata Julian tadi sudah jelas sedang merendahkannya.
Airin berjalan cepat dan langsung menampar pipi sang suaminya. Cukup keras, hingga membuat telapak tangan wanita itu memerah.
"Jaga bicaramu! Emang kau kira aku wanita apa, hah?" tanya Airin menggebu. Tadi padahal dia sudah berniat untuk masuk ke kamar, membersihkan tubuh, dan langsung tidur.
Namun, niatnya itu menghilang. Sedang, Julian. Laki-laki itu tersentak kaget, tapi sedetik kemudian dia menyeringai.
Julian dengan cepat menegakkan kepalanya yang tadi sempat menoleh ke samping kanan. Laki-laki itu bergerak mencengkeram dagu, Airin, "Jal*ng! Apa pantas wanita bersuami sepertimu pulang selarut ini, hah? Pantaskah itu?" Julian bertanya tepat di depan wajah, Airin yang mendongak.
Yang dikatakannya beberapa jam lalu ternyata benar dia lakukan. Laki-laki itu kembali ke sikapnya semula, yaitu, kasar dan selalu berteriak.
Namun, Airin tidak takut. Mungkin dulu dia akan menunjukkan kepalanya, tapi sekarang laki-laki itu justru menatap tajam wajah, Julian seolah ingin membalas tatapan mencela suaminya itu.
"Istri? Emang kau menganggapku seperti itu?" Airin mendorong, tubuh Julian, membuat laki-laki itu sedikit mundur dan bahkan tangannya yang mencengkram dagu wanita itu, langsung terlepas.
"Bukankah, kau mengatakan yang pantas menyandang status istri itu adalah, Clara tercintamu itu? Jadi, ada apa ini? Kenapa sikapmu tiba-tiba berubah? Apa wanita murahanmu itu tidak memberimu jat-"
Julian langsung menampar wajah, Airin yang terbalut hijab. Jangan terkejut, karena dulu laki-laki itu memang sering sekali main tangan.
Airin yang mendapati tamparan itu, tidak menangis seperti yang dulu dia lakukan. Wanita itu justru tersenyum. Dia dengan cepat menegakkan kepalanya.
"Kenapa, marah. Asal kau tahu saja. Clara yang kau puja-puja itu tak lebih dari simpanan orang. Dia barang siap pakai kapan pun."
"Kau ...." Juliam mengeram marah. Airin yange mendengar itu tidak takut. Dia malah semakin memajukan wajahnya.
"Kenapa, mau nampar? Atau mau cekiki? Silahkan. Dasar pecundang!" Airin mendorong tubuh, Julian hingga laki-laki itu menepi.
Sungguh, ini diluar ekspektasi, Airin. Padahal tadi dia mengira rumah akan sepi, karena mengingat ini hari Jum'at.
Sementara, Julian. Laki-laki itu pun tidak jauh terkejutnya dengan sikap, Airin. Dia tidak menyangka kalau, wanita yang dulunya penurut itu, punya sifat berani seperti ini. Bahkan dia berhasil dibungkam oleh istrinya itu.
Julian berteriak dan laki-laki itu memukul dinding, untuk menyalurkan kekesalannya. Setelah itu, dia berlalu keluar dari dalam rumah. Entah, laki-laki itu mau ke mana, tapi yang jelas sekarang suasana hatinya tidaklah enak.
...T.B.C...
...Aku usahakan akan tamat sebelum puasa. ...
...Siap?...
__ADS_1
...Yok penghujatan dibuka untuk kalian semua. ...