Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 45. Sadar.


__ADS_3

"Jika saja aku mendengar desas desus yang jelek tentangku dari, Mama. Berarti itu karena mulut Bapak dan Mamakmu."


Julian berbicara dengan nada yang jelas-jelas terdengar memperingati. Airin yang saat ini tengah duduk di jok sebelah, suaminya, menoleh.


"Enggak akan. Lebih baik kau fokus dengan kerjaankmu saja." Dengan nada bicara yang biasa saja, Airin berucap. Julian yang saat ini terkena lampu merah menghentikan laju kendaraannya.


Iya, setelah berdebat cukup lama. Akhirnya Julian mengalah. Jangan mengira kalau, laki-laki itu mengaku kalah dengan mudah.


Malahan, dia tadi kekeh untuk cuti, tapi saat Airin mengingatkan kalau ada meeting penting, barulah dia menyerah dan membiarkan istrinya itu pergi sendiri.


Namun, dengan catatan dia yang harus mengantar. Bukan apa-apa, Julian hanya ingin memperlihatkan wajah di mertuanya, biar nanti di sana orang tua itu tidak mengibahinya.


Selain pecinta Tokek. Mertuanya itu sangat suka dengan bau pergibahan. Bahkan dia rela meninggalkan malam Jum'at bersama sang istri, demi ikut meronda yang akan membuat mereka membicarakan orang bersama bapak-bapak lainnya.


"Kau dari kemarin kenapa?" tanya Julian dan Airin yang mendengar itu hanya menghedikkan bahu.


Wanita itu sudah menanamkan dalam diri, kalau dia tidak boleh terlalu berharap lagi kepada, laki-laki itu. Bukan apa-apa yah, tapi dia masih sakit hati dengan kejadian di mall.


Saking sakit hatinya, dia tadi sampai kebawa mimpi dan itu hanya untuk mendekati laki-laki itu meminta maaf. Namun, lihat, bahkan sedari ayam berkokok, dia masih belum mengatakan itu.


"Enggak ada, lagi dapet." Airin menjawab dengan singkat. Julian diam dengan kening mengerut.


Laki-laki itu kembali melajukan mobilnya menuju kawasan Tanah Abang. Seperti biasa, lalu lintas pagi, Jakarta selalu macet, tapi tidak terlalu.


"Tumben." Dengan mata yang melihat fokus ke depan, Julian berucap dan itu berhasil menarik perhatian, Airin untuk menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Tumben?" Airin membeo dengan wajah yang terlihat ironi, "emang kau tahu kebiasaanku?" imbuhnya dengan sedikit sinis sembari kembali menoleh ke arah luar mobil.


Mungkin menurut, Airin melihat pejalan kaki di trotoar jalan lebih menghibur dari pada wajah suaminya yang masih tidak menampakkan rasa bersalah, karena kejadian siang kemarin.


"Tentu saja. Kau mengira sudah berapa lama kita bersama, hingga aku tidak mengetahui kalau kau akan banyak bicara jika dapat."


Airin langsung memerah malu dan bahkan dia menoleh ke arah Julian yang saat ini tidak menunjukkan sedikit pun raut wajah.


Memang, biar pun kita tidak menganggap orang itu spesial. Yang namanya udah tinggal seatap, sadar tidak sadar, mereka akan saling mengenal satu sama lain.


Contohnya Airin dan Julian.


***


"Eh anak dan menantuku sudah datang." Haidar melepas selang air yang dia gunakan untuk memandikan si Jojo— tokek peliharaannya yang masih menyandang status duda.


Laki-laki yang sudah pensiun dalam dunia kerja itu, bergerak membuka gerbang rumahnya, "Eh tumben ke sini. Jangan bilang kau kangen bapak yah."


Julian hanya terkekeh saat mendapati perkataan mertuanya yang begitu kepedean, "Iya, ini anak bapak maksa minta di antar. Jadi, yah aku antar." Dengan sedikit tidak jujur, Julian berucap. Padahal tadi di rumah sudah jelas kalau dia yang maksa mau mengantar. Bshkan dia berniat untuk cuti bekerja.


"Terus mau mampir atau bagaimana?" tanya Haidar sembari menunjuk ke arah rumahnya dengan jari jempol.


"Tidak, Mas Julian ada pertemuan penting. Jadi, dia tidak akan mampir."


Julian menaikkan kedua alisnya, tapi laki-laki itu tersenyum, "Iya, paling nanti aku akan datang sore." Airin menoleh menatap sang suami yang berbicara beda dengan apa yang sudah di sepakati.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang?" tanya Julian sembari melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


Airin yang mendapati perlakuan seperti itu langsung diserang oleh degupan jantung yang cepat, "kenapa jadi begini? Bukankah-"


"Kalian kenapa bisik-bisik? Udah kek tetangga yang ngomongin orang aja." Airin langsung menghadap ke depan dan di memberikan senyum kikuk untuk Haidar.


Sedangkan Julian. Laki-laki itu tersenyum. Entah itu palsu atau asli, tetap saja Airin akan memasukinya ke dalam golongan senyum pura-pura.


"Biasa, Pak. Privasi antar pasangan. Bapak juga pasti dulu sering begini kan." Dengan sedikit jenaka, Julian menanggapi dan Haidar yang notebenenya mempunyai selera humor yang sangat receh, tertawa.


Padahal itu tidak lucu, tapi Haidar terbahak-bahak dibuatnya, "Iya, dulu Bapak sama Ibu sering bisik waktu itu."


Airin mencubit perut Haidar, membuat laki-laki paruh baya itu berteriak lebay, "Enggak baik loh ngomongin itu, Pak." Dengan sedikit mencibir, Airin berucap.


Julian yang melihat tingkah laku istrinya yang seperti itu sedikit kaget. Jujur, dia tidak pernah mendapati Airin seperti ini. Yang dia tahu itu, Airin orang yang penurut dan tidak membantah.


Julian sepertinya baru menyadari, kalau Airin juga punya suara tawa yang berbeda. Maksudnya, suara bahagia itu menular. Buktinya sekarang, Julian tengah tersenyum dan sedikit terkekeh kecil.


"Emang, Bapak tadi mau ngomong apa?" tanya Haidar dengan sewot. Airin yang mendengar itu tidak menjawab, tapi Ra malu langsung menyelinap masuk ke dalam raganya, "jangan bilang kamu berpikiran aneh-aneh."


"Bukan berpikiran, Pak. Dari nada bicara dan kata-kata yang keluar pasti itu merambat ke itu, 'kan?" Airin tidak kalah sewot. Julian semakin dibuat sadar kalau jika dilihat-lihat istrinya itu berbeda. Dia tidak pernah melihat ini sebelumnya, karena sikapnya yang selalu menganggap sang istri tidak ada.


Julian baru Mera sedekat ini dengan, Airin karena kejadian di malam itu, "Enak aja. Wong bapak mau bilang kalau aku karo ibumu itu bisik-bisik, pas ngomongin tetangga. Masa iya kita gibah teriak-teriak." Airin yang mendengar penuturan, Haidar langsung dibuat melongo.


Sementara, Julian. Laki-laki itu langsung tertawa dan membuat dua pandangan istri dan mertuanya teralihkan kepadanya.

__ADS_1


"Mas, sehat?" Airin dan Hadar berucap bersamaan, membuat Julian diam dengan pupil mata yang melebar.


...T.B.C...


__ADS_2