Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 63. Permohonan


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


ruang kamar yang berantakan adalah pemandangan pertama yang menyambut pandangan mata, Julian.


Laki-laki itu terlihat menelisik ruang kamarnya dengan tatapan mata yang kelewat datar. Tidak ada ekspresi yang dia keluarkan selain mimik wajah ironi yang dipadukan dengan seutas senyum kecut.


Julian terlihat menghedikkan bahu seolah ingin acuh. bahkan laki-laki itu mengayunkan langkahnya tepat di lantai yang dipenuhi oleh beling dari vas bunga, yang dia hancurkan satu bulan yang lalu.


Iya, keadaan kamar yang layaknya seperti kapal pecah ini sudah dari satu bulan lalu, atau lebih tepatnya dari kepergian Airin dulu.


Iya, satu bulan lalu, Airin benar-benar pergi. Waktu itu Julian mencoba untuk menghentikan setengah mati, tapi tetap saja wanitanya, mantan istrinya itu memilih berpaling dengan alasan lelah.


"Tolong maafkan aku. Jujur, aku mengaku salah dan aku juga tahu kalau semua yang telah kuperbuat padamu tidak bisa dimaafkan, tap-"


"Semua sudah berakhir seperti yang kau inginkan, Mas." potong Airin, membuat JUlian yang tengah bertekuk lutut di ambang pintu masuk rumah, langsung bungkam.


Airin yang melihat bungkamnya sang suami hanya bisa terkekeh. Entah karena merasa ironi atau apa, dia tak tahu. saat ini wanita itu hanya mengetahui kalau apa yang saat ini suaminya perbuat adalah tidak lebih dari lawakan.


Iya, Airin melihat kalau saat ini Julian sedang melawak. Kenapa begitu, karena dia tidak pernah memikirkan kalau situasi penerimaan untuk tetap tinggal ini akan terjadi.


Jujur, dia dulu akan mengira kalau Julian akan membukakan pintu untuknya. Namun, lihat. Laki-laki itu justru menghalangi pintu keluar.


"Mas, entah kenapa saat ini aku merasa lucu," ujar Airin tiba-tiba dengan terkekeh geli. Wanita itu masih menangis. Jujur, sebenarnya dia berat melakukan ini.


Mengingat beberapa hari terkahir ini, Julian banyak bersikap baik padanya, membuat Ra berat itu timbul. Saat ini dikepala, Airin bayang-bayang perlakuan manis Julian, masih melekat.


Bahkan sekarang bayang-bayang itu sedang terputar jelas layaknya sebuah film berdurasi pendek, tapi memberikan dampak sangat besar.


Sementara, Julian. Laki-laki itu menaikkan kedua alis matanya bingung. Sumpah. Dia tidak mengerti dengan maksud perkataan, istrinya, eh mantan istrinya karena tadi, Airin sudah menandatangani surat cerai.


"Aku merasa lucu karena sikapmu ini. Entah kenapa akhir-akhir ini sikapmu berubah drastis. Seandainya, kau tidak mengetahui kebusukan, Clara, apa yang akan kau lakukan?" ujar Airin lagi dan kata-kata itu berhasil membungkam telak mulut, Julian.


Julian langsung memikirkan perkataan, Airin. Iya, bagaimana jika dia tidak tahu kebusukan, Clara. Apa laki-laki itu akan sampai hormat di saat permintaan pergi ini datang?


Airin hanya tersenyum kecut melihat sang mantan suaminya yang langsung bungkam, "Kau tidak bisa menjawabnya, 'kan? Jadi, percuma aku tetap tinggal, bukankah lebih baik aku pergi sesuai keinginanmu. Lagian aku juga sudah jatuh cinta kepada, Raka, laki-laki tempat kau mempertaruhkan istrimu sendiri," jelasnya dengan menekan kata terakhirnya.


Julian tersadar dan dia menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak ingin kau pergi, Rin. Aku akan terus di sini hingga permintaan pergi itu kau urung-"


"Nak, cepatlah. Orang tuamu sudah menunggu di rumah." Julian menoleh kebelakang dan kedua matanya langsung menatap sosok pria yang wajahnya sangat miring dengan dirinya. Namun, laki-laki itu versi tua dari, Julian.


"Papa?"


Julian membanting lemari bajunya dan itu berhasil membuat bayang-bayang kejadian satu bulan lalu menghilang.

__ADS_1


Iya, satu bulan lalu orang tuanya juga ada di sini. Bahkan karena dua orang itulah, Airin berhasil pergi. Seandainya dulu, Mama dan Papanya tidak ada di sini, mungkin Airin masih berada di rumah ini.


Mungkin, wanita itu juga sudah berhasil membersihkan kekacauan yang ada di ruang kamar ini. Namun, itu jika dia masih di sini yah, karena nyatanya Airin sudah pergi.


Namun, Julian tentu tidak menyerah begitu saja. Laki-laki itu berusaha meminta, Airin kembali. Dia tidak peduli dengan kondisi tubuhnya dan bahkan beberapa hari lalu, laki-laki itu pergi ke rumah mantan istrinya tanpa mandi dengan baju berantakan.


Akan tetapi, tetap saja dia tidak mendapatkan kebahagiaan. Belum masuk pekarangan rumah. Dia malah berhenti di depan gerbang, karena tidak ads yang membukanya.


Bahkan pernah, Julian diam dua hari dua malam di depan gerbang, Airin hanya untuk mendapatkan permohonan acc masuknya di terima. Namun, tetap saja dia kena tolak.


Masih mending ditolak dengan kata-kata halus, tapi ini. Dia ditolak tanpa ad ayang keluar dan menyuruhnya pergi.


Semua keluarga Airin seperyinya sudah sepakat memperlakukan, Julian layaknya sebuah patung selamat datang.


Lamunan, Julian lagi-lagi terhenti dan sekarang penyebabnya adalah sebuah dering ponsel yang ada di ranjang.


Laki-laki itu berjalan mendekat ke ranjang. Dia tidak memperdulikan telapak kakinya yang mengeluarkan darah, Karen tadi sudah dipastikan tergores oleh beling yang berserakan di depan pintu kamar mandi.


Julian meletakkannya jas biru dongker, kemeja putih, dan celana kainnya yang berwarna senada dengan jas itu ke atas ranjang.


Setelah itu, laki-laki tersebut meraih ponsel. Julian memicingkan mata saat dia mendapati, nama Mamanya terpampang di layar ponsel.


Tanpa mau menunggu lama, Julian langsung menerima ajakan panggilan suara itu, "Selamat siang, Ma," sapanya dengan kedua sudut bibir yang tertarik membentuk seutas senyum.


Laki-laki itu membuang ponselnya kembali ke atas ranjang. Dia melirik ke arah nakas yang ada di sebelah kanan ranjangnya.


Di sana ada sebuah cincin. Julian meraih cincin itu dan laki-laki itu tersenyum. Dia memutus pandangan dari cincin dan memilih untuk menelisik ruang kamarnya yang berantakan.


"Akan aku lakukan apa pun," gumam laki-laki itu dan setelahnya dia langsung bersiap-siap untuk pergi.


***


Kurang lebih setengah jam Julian menempuh perjalan dari kompleks perumahannya, hingga kini laki-laki itu sudah memarkirkan mobilnya di sebuah hotel.


Julian saat ini masih duduk di dalam mobilnya, tapi pandangan matanya sudah tertuju ke arah hotel yang ternyata, ada banyak orang yang berlalu lalang.


Pakaian yang mereka kenakan pun sama seperti yang saat ini, Julian kenakan, yaitu, sebuah setelan formal.


Laki-laki itu menghela napas. Julian, bergerak mengenakan kaca mata hitamnya dan setelah itu, dia bergerak keluar dari dalam mobil.


Julian tanpa berlama-lama melangkah mendekati pintu masuk hotel dan setelah sampai. Dia menghentikan langkah untuk dicek keamanannya.


"Silahkan," ujar seorang security dan Julian hanya mengeluarkan decakan kesal sebagai jawaban.

__ADS_1


***


Di dalam hotel, tepatnya di ballroom. Sekarang tempat itu sudah dipenuhi oleh para tamu, ada yang duduk di kursi dan bahkan ada yang berbincang.


Di salah satu kamar yang ada di hotel itu, tepatnya ruangan nomer 303 yang saat ini digunakan sebagai tempat rias.


"Kau kelihatan cantik, Rin," puji dia— Raka yang saat ini ada di dalam kamar nomer 303 itu.


Sementara, Airin yang saat ini sedang duduk di meja riasnya hanya bisa cekikikan. Saat ini wanita itu sidah terbungkus oleh pakaian putih khas seperti gaun pengantin muslim.


"Kau juga terlihat tampan," balas Airin memberikan penilaian kepada, Raka yang juga sudah terlihat gagah dengan setelah tukedo warna merah tua.


Iya, dua orang itu adalah, Airin dan Raka. Setelah satu bulan, mereka akhirnya memutuskan akan melakukan pernikahan hari ini.


Kaget, tentu saja. Sebenarnya ini sudah direncanakan satu bulan lalu. Setelah kondisi sudah bisa dikatakan kondusif, pernikahan Raka dan Airin akan dilaksanakan.


Julian datang ke sini hanya untuk menjadi tamu undangan saja. Jadi, jangan berharap lebih kepada laki-laki aneh itu.


"Tuan, bisakah Anda menunggu di luar? Jika pengantin wanitanya diajak bicara terus, kami tidak bisa fokus meriasnya," pinta seorang penata rias dan itu berhasil membuat, Raka terkekeh geli.


"Baiklah, kalau begitu aku keluar. Ingat, kalian harus merias calon istriku secantik mungkin." Setelah mengatakan itu, Raka benar-benar keluar.


Sialnya, setelah kepergian, Raka. Dari arah pintu, masuk sosok laki-laki yang mengenakan jas biru dongker. Dia saat ini berdiri di belakang pintu yang sudah dia tutup dengan sangat pelan.


"Permisi, bisa kalian meninggalkan kami berdua?" Julian, menyeletuk dan itu berhasil membuat, Airin menoleh dengan kedua mata membulat terkejut.


Sementara para penata rias yang memang sudah dibayar oleh Julian, langsung pergi tanpa sepatah kata pun.


"Eh kalian mau ke mana?" Airin panik. Wanita itu bahkan sudah bangkit dari duduknya dan bersiap-siap untuk melangkah pergi.


Namun, Julian jauh lebih dulu mengambil langkah dan berdiri di hadapan sang wanita, "Apa kau tidak lelah menghindariku, heh?" tanyanya dengan sorot mata yang tajam dan kedua sudut bibir tersenyum.


Airin yang melihat itu langsung ketakutan. Dia memposisikan tangannya berada di depan untuk menghentikan Julian, jika laki-laki itu bergerak mendekatinya.


Namun, sesuatu yang terduga terjadi. Julian malah bertekuk lutut dengan tangan kanan terulur ke depan, "Tolong batalkan ini dan kembalilah bersamaku, Airin," ujar laki-laki itu sembari memperlihatkan cincin pernikahan yang dulu pernah tersemat di jari manis, Airin.


...T.B.C...


Sebelumnya, saya katakan. Jujur, aku belum ada keahlian nulis novel tema rumah tangga seperti ini. Sumpah ini itu pengalaman pertama banget. Jadi, tolong maklum jika tak segereget novel rumah tangga yang kalian pernah baca.


Sebelumnya, gue mau tanya. ending yang kalian inginkan seperti apa sih? Yuk coret-coret dulu.


Oh satu lagi. aku ada rekomendasi cerita nih. Temanya kek mafia gitu. Judulnya, "Tuan Mafia" dari penulis, "Selvi_19' tunggu apa lagi, yok cus baca.

__ADS_1



__ADS_2