Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 58. Maaf Untuk Segelanya


__ADS_3

Pagi menjelang. Suara ringisan terdengar keluar dari mulut Airin yang saat ini tengah tidur di ranjang. Wanita itu menggeliat sembari mengeluarkan suara mengerang, karena persendian di sekujur tubuhnya mengeluarkan suara.


Airin bangkit dari tidurnya dengan masih menggeliat dan mengeluarkan suara dikala matanya tengah terpejam. Wanita itu juga saat ini tengah terenyuh karena tengah memikirkan sesuatu kejadian yang dia duga mimpi tapi nyata.


Iya, subuh tadi dia bermimpi kalau ada seorang pria yang sangat mirip dengan Julian, membopongnya dan kembali merebahkannya di atas ranjang. Sialnya lagi, Airin melihat mimpi itu seperti nyata.


Saat ini, Airin masih duduk di atas ranjang. Kedua matanya perlahan terbuka, dan bibirnya tidak berhenti untuk menyunggingkan senyum.


Airin membulatkan mata terkejut saat tangannya merasa kalau saat ini dia berada di sebuah tempat yang empuk. Wanita itu menunduk, *Astaga, ranjang?" ujarnya dengan mata yang membulat terkejut.


"Iya, ini ranjang. Jadi, tadi." Airin tidak melanjutkan kata-katanya dan dia lebih baik memilih untuk menoleh ke arah kiri.


Wanita itu merangkak turun saat tidak mendapati Julian di sana. Selepas menapakkan kaki di lantai, Airin langsung berlari keluar kamar.


***


Di dapur.


Terlihat Julian saat ini tengah memotong-motong wortel dengan gaya ala koki profesional. Wajah laki-laki itu sudah terlihat segar, karena sebelum keluar kamar dia mandi terlebih dulu.


Itu memang sudah kebiasaannya. Dia kalau belum mandi, pasti tidak mau menyentuh apa pun. Namun, semua berubah saat dia menikah dengan Airin.


Kebiasaanya yang akan langsung mandi setelah membuka mata sedikit berubah. Kalian sudah tahu kan, jika Airin telat menyiapkan air, dia akan diminta menunggu dengan segelas kopi di ruang tv.


Dulu sebelum menikah, Julian paling anti yang namanya mengonsumsi kopi sebelum mandi, tapi begitulah. Demi membuat Airin jengah dan merasa dijadikan babu, Julian terpaksa mengubah kebiasaannya.


Namun, entah keterpaksaan itu dari tahun ke tahun menjadi kebiasaan. Julian juga sering menikmati kopi sebelum mandi.


Aneh, bukan?


Iya, sangat aneh. Namun, begitulah manusia. Awalnya seperti itu, tapi jika melakukannya berulang kali dia akan terbiasa juga.


"Kau?"


Julian mendongak melihat ke arah meja makan dan kedua matanya mendapati, Airin dengan model rambut singa dan ada sedikit belek di sudut matanya.


Bukan mau menjelekkan yah, tapi bukankah semua orang yang baru bangun tidur pasti akan mendapatkan hadiah spesial di sudut mata. Bahkan ratu, aktris, model pun mendapati itu. Tidak ada yang namanya, wanita atau laki-laki itu langsung ganteng setelah bangun tidur.


"Selamat pagi." Julian menyapa sembari menuangkan wortel yang sudah dia potong masuk ke dalam panci.


Laki-laki itu sekarang tengah membuat sup. Jadi, dia memasukkan semua sayuran yang ada di kulkas untuk dia olah. Walau yang ada hanya kol dan wortel itu saja. Ada sedikit ayam juga sih.

__ADS_1


"Selamat pagi," jawab Airin kikuk sembari menggaruk kepalanya yang tak berhijab.


Julian tersenyum dan itu bukan kebiasaannya. Laki-laki itu bergerak menghidupkan keran wastafel tempat mencuci piring, "Mandi dan bersiaplah. Kita akan makan dan sehabis itu pergi ke rumah Papa, Mama," ujarnya sembari menoleh untuk melihat, Airin yang masih memasang wajah bingung.


Bingung dengan sikap laki-laki yang katanya berstatus suaminya itu, kenapa dia jadi aneh lagi, apa semalam aku terlalu keras menampar wajahnya? batin wanita itu bingung.


Julian hanya bisa cekikikan sembari kembali menghadap ke depan. Entah kenapa dia selalu seperti ini. Laki-laki itu bergerak mematikan keran dan meraih lap tangan yang ada di sisi kiri.


"Mandi sendiri atau aku mandikan?" Sembari memutar tubuh menghadap kembali ke kompor, Julian mengancam.


Airin yang mendengar itu tentu langsung mengambil tindakan. Dia berlari kembali ke kamar dengan sangat cepat, hingga jari kakinya terbentur di undakan tangga.


Julian tertawa saat mendengar jeritan, Airin, tapi wanita itu lanjut berlari. Tidak ada tuh dia akan sok dramatis merasakan sakit, hingga membuat pasangannya panik. Padahal, jika Airin begitu. Dia tadi akan berlari dan mengecek mana yang sakit, tapi sialnya tidak.


"Dasar," gumam, Julian sembari menurunkan panci yang berisikan sup hangat beraroma sangat lezat itu dari atas kompor.


***


Tak terasa waktu bergulir sangat lah cepat di hari Sabtu ini. Padahal, Airin merasa kalau dirinya baru saja membuka mata dan mendapati hiasan mentari, tapi kenapa dia begitu cepatnya melihat bulan merenggut tahta sang surya.


Sekarang Airin tengah berada di dalam mobil yang berhenti di pekarangan rumah mertuanya. Tentu di sebelahnya ada Julian yang mengenakan baju santai warna abu-abu yang dipenuhi oleh keringat dan celana jeans sebagai bawahan.


"Kau tidak berniat turun?" Julian menyeletuk dan itu berhasil membuat, Airin tersadar dari lamunannya.


Airin tentu setuju, tapi bukannya ke rumah orang tua. Julian malah mengajaknya ke taman Senopati. Tidak berolahraga, tapi hanya jalan-jalan santai dan lebih anehnya, Julian tidak malu-malu untuk bercanda gurau dengannya.


Setelah selesai di Taman Senopati, Julian mengajaknya ke pusat perbelanjaan dan Airin tercengang karena laki-laki itu membawanya ke Timezone, tempat laknat yang katanya Julian tidak akan pernah dia datangi.


Mereka menghabiskan waktu bersama di sana. Bermain, seperti mandi bola, dan banyak hal. Anehnya, Julian juga ikut.


Setelah dari sana, mereka pergi kebanyak hal. Hari ini, Airin sangat senang dan itulah kenapa dia juga merasa kalau waktu bergulir sangat cepat.


"A ... Airin," panggil Julian dengan nada terbata dan itu berhasil membuat, Airin menolehkan kepala dengan mimik wajah terkejut.


Dia tidak menyangka kalau Julian menyebut namanya. Sementara, Julian. Laki-laki itu menaikkan kedua alis matanya merasa bingung.


"Namamu benar, 'kan? Seingatku aku menyebut nama itu di ijab kabul dulu."


Airin tersentak dan wanita itu langsung tersenyum kikuk. Dia mengangguk dan langsung menundukkan kepalanya saat menyadari kalau, Julian tengah menatap ke arahnya.


Julian diam dan laki-laki itu ikut menundukkan kepalanya dengan mata yang terpejam. Dia bingung harus memulai obrolan dari mana.

__ADS_1


Airin yang mendapati kalau tidak ada yang mengeluarkan suara lagi, menegakkan kepalanya. Dia menoleh melihat Julian yang menunduk.


"Aku tidak tahu harus memulai dari mana, tapi yang jelas aku minta maaf." Julian menjeda ucapannya, karena tiba-tiba rasa sakit menerpa hatinya, membuat sebutir air hangat mengalir keluar dari sudut matanya.


Dia mengingat kejadian semalam, saat bertemu dengan Clara. Entah kenapa, bayang-bayang itu selalu saja menggangu dirinya di kala seperti ini. Namun, anehnya jika bersama, Airin, contohnya mengobrol dengan wanita itu, membuat bayang-bayang Clara hilang.


Hal itu terjadi bukan baru-baru ini, tapi kejadian di mana dia melupakan sosok Clara sudah sering terjadi. Entah itu saat dia ditemani lembur, entah itu saat dia menatap diam-diam Airin saat wanita itu tidur.


Iya, dia sering turun dari ranjang dan memilih untuk duduk menatap Airin yang terlelap di sofa, hanya untuk mendapati rasa kantuk.


Aneh. Itulah Julian. Dia adalah sebuah keanehan yang nyata di dunia ini. Jukian itu plin-plan. Kadang senang bersama dengan istrinya dan dia juga bisa marah.


"Selama ini aku sudah banyak melukaimu. Aku tahu kau pasti membenciku dan ras cinta yang kau katakan beberapa hari lalu itu adalah rasa kasihan. Iya, 'kan?" Julian menoleh dengan sorot mata merah yang memancaekan kesedihan.


Airin terkejut, "Kau kasihan padaku, karena aku begitu percaya dengan wanita yang bernama, Clara, benar begitu, kan?" imbuhnya dengan suara yang bergetar.


Ingin sekali Airin berucap, tapi lidahnya begitu kelu dan suaranya seperti tersekat ditenggorkan, "A ... ada apa ini, Julian? Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti ini dan kenapa kau bersikap aneh hari ini?"


Akhirnya suara Airin keluar juga, walau tersebut sedikit gugup. Julian yang mendengar itu terenyuh, dia bergerak menyeka air matanya.


"Aku dikhianati oleh dia yang aku anggap baik dimataku. Padahal aku sangat mencintainya, tapi dia membalas cintaku dengan perlakuan buruk." Julian mengadu dengan kepala yang menunduk.


Airin yang bingung, akhirnya menemukan jawaban dan setelah itu dia terenyuh, "Jadi, kau sudah mengetahui betapa busuknya dia yang kau sayang itu?" tebak, Airin dan Julian hanya bungkam.


Airin semakin tertawa. Entah miris atau bagaimana, yang jelas dia tertawa dengan air mata yang tergenang di pelupuk.


"Jadi, begitu." Airin kembali berucap dan itu berhasil membuat Julian mendongak melihat dirinya dengan tatapan bingung, "setelah dia yang begitu kau cintai mengkhianati, kemudian kau mau kembali padaku yang selalu disakiti ini? Begitu?" imbuh Airin dengan senyum ironi dan air mata yang mulai mengalir keluar.


"Aku istrimu, tapi bukan berarti aku mau kau jadikan pelarian seperti itu disaat dia yang kau puja-puja membuat hatimu kecewa."


Julian menggelengkan kepalanya seolah menyalahkan kata-kata yang keluar dari mulut, istrinya, "Bukan. Aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Hanya saja, aku ingin minta maaf untuk semua yang aku lakukan."


"Dan aku tidak ingin memaafkanmu," jawab Airin tegas, walau suaranya bergetar.


"Jika begitu, aku akan tetap berusaha untuk membuatmu memaafkanku," ujar Julian tak kalah tegas.


...T.B.C...


Guys. aku mau rekomendasikan cerita nih dari temen authorku. Judulnya Zafrina Mendadak Nikah dari Kak Emma Risma. ceritanya keren loh.


__ADS_1


Seru kan kakak🙃. Cus cari judulnya atau nama pena yang sudah tertera di sana.


__ADS_2