Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 27. Sama Cantiknya


__ADS_3

...Apakah takdirku memang harus bahagia dengan dia. Namun, jika boleh memilih aku ingin dia yang lainlah memberiku kebahagiaan yang seharusnya. ...


^^^•Lombok, 11 Maret 2022•^^^


...Stay reading...


***


06 Oktober, 06.15


Airin meringis saat rasa pegal menjalar dari lehernya. Wanita itu perlahan membuka mata saat gendang telinganya mendengar suara berisik di luar rumah.


Airin mengusap lehernya yang masih dibungkus kain jilbab, "Jam berapa sekarang?" tanya wanita itu dengan rasa kantuk yang masih bergelantungan di bulu matanya.


Wanita itu meringis sembari merentangkan tangannya untuk melemaskan persendian yang dia rasa sedikit nyeri, karena hari beristirahat di sofa ruang tamu.


Iya, karena menunggu kepulangan sang suaminya Airin ketiduran di ruang tamu. Padahal wanita itu sudah tahu, tapi dia tetap saja menunggu.


Airin mengucek matanya untuk mengenyahkan rasa kantuk. Wanita itu bergerak meriah ponselnya dan dia langsung menyalakan benda pipih itu.


Airin sedikit menyiputkan pupil matanya, saat cahaya ponsel memapar wajah bantal baru bangun tidurnya. Namun, mata yang tadinya menyipit itu langsung terbuka sempurna saat melihat deretan pesan dan panggilan tak terjawab masuk dari Raka.


"Astaga, kenapa aku ketiduran seperti ini." Perkataan Airin langsung disambut oleh suara ketukan pintu depan.


Airin tentu langsung mengarahkan pandangannya ke pintu. Wanita itu bergerak bangkit dan bergerak mengayunkan langkah mendekat ke pintu.

__ADS_1


Dia tidak memperdulikan kalau di sudut matanya masih ada belek yang berwarna hijau muda. Airin menarik pintu dan sosok Raka yang tadi hendak kembali mengetuk pintu langsung terlihat.


Raka— sekarang laki-laki itu sudah siap dengan baju kaos abu-abu dan juga celana pendek training itu, tengah menatap Airin yang ternyata baru bangun tidur.


"Selamat pagi." Dengan sedikit kikuk, Airin berucap membuat Raka menurunkan tangannya yang tadi menggantung d udara.


"Selamat pagi." Raka mengulangi kata-kata Airin dengan sedikit menirukan suara wanita itu.


Airin yang melihat tampang mengejek Raka, tentu langsung dibuat kesal. Padahal ini baru pagi loh, dia baru bangun tidur dan belum menyantap sarapan, tapi Raka sudah buat gara-gara.


"Ka-"


"Iya, kau. Ini sudah jam berapa, Airin? Bukankah dua hari lalu kita janjian mau joging bareng di weekend, tapi lihat. Kau baru bangun tidur dan-"


Tanpa menunggu jawaban dari Raka, Airin langsung menutup pintu dengan cara dibanting. Padahal tadi Raka sudah berniat meminta izin untuk menunggu di dalam, tapi belum sempat kata-kata itu terlontar. Airin jauh lebih dulu menutup pintu rumah untuknya.


Bukan tidak sopan atau bagiamana yah. Airin bersikap seperti itu karena sekarang hanya dia yang berada di dalam rumah. Dia takut orang-orang kompleks berpikir yang tidak-tidak untuk. Jadi, itulah kenapa Raka tidak diizinkan masuk.


"Tidak apa-apa kau menutup pintu rumahmu, Rin. Tapi, aku pastikan tidak untuk pintu hatimu," gumam Raka dengan kedua sudut bibir tersenyum dan tatapan mata tajam seolah ingin menembus pintu cokelat penghalang dirinya dan juga puan yang entah sejak kapan sudah mengobrak abrik relung hatinya.


***


"Tuh, pilihanku enggak salah kan?" Raka yang sedari tadi menunggu Airin di kap mobil tiba-tiba menyeletuk, saat kedua matanya melihat sosok wanita itu keluar dari pekarangan rumahnya.


Suasana kompleks masih sepi, fajar dari ufuk timur perlahan semakin benderang dan Airin tersenyum kikuk saat mendapati sebuah baju olahraga terpasang di tubuhnya.

__ADS_1


Sungguh, ini kali pertama wanita itu mengenakan baju seperti ini dan ini juga kali pertama setelah menikah, dia akan pergi berolahraga.


Terlebih lagi orang yang menemaninya adalah, Raka, laki-laki yang baru dia kenal seminggu terakhir ini.


"Rin, sudah mandi kan?" tanya Raka dan senyum di wajah Airin langsung menghilang.


Mimik wajah wanita itu berbuah judes dengan lirikan yang begitu sinis dan bibir yang terlihat mencibir.


Raka tersenyum dalam hati, tapi laki-laki itu masih memperlihatkan raut wajah yang bertanya-tanya.


"Belum, siapa suruh tadi cepet-cepet. Aku jadinya hanya mandi dengan air, wudhu." Airin menjawab sinis. Dia bahkan tidak lagi melihat ke arah Raka.


Raka yang mendengar itu tersenyum. Dia bergerak memajukan wajahnya, hingga bibirnya tepat di depan telinga Airin yang tertutup hijab, "Tapi, biar enggak mandi rupanya sama saja." Airin menjauhkan wajahnya dari Raka, karena dia merasa kalau laki-laki itu sudah terlalu dekat.


"Sama apa?" tanya Raka dengan masih sinis dan Raka yang mendengar itu bergerak memajukan wajahnya.


Sekarang laki-laki itu tengah menyunggingkan senyum, "Sama cantiknya dengan Airin yang sudah mandi." Raka langsung melengos pergi saat mendapati wajah Airin yang sudah memerah.


Padahal baru digombalin dengan gombalan murahan, tapi dia sudah baper begitu, "Cantik, naiklah sebelum hari semakin pagi. Bisa-bisa nanti kita kejebak macet." Raka yang sudah berada di dalam mobil meminta, Airin yang masih berdiri dengan pipi memerah untuk masuk ke dalam mobil.


"Nyebelin!" Dengan malu-malu Airin berteriak dan wanita itu langsung masuk ke dalam mobil dengan kepala yang menunduk.


Dari sini kita menyimpulkan, sepertinya Raka adalah orang yang benar-benar pas dan cocok untuk Airin. Bukankah begitu?


...T.B.C...

__ADS_1


__ADS_2