Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 28. Pertemuan Tidak Terduga.


__ADS_3

...•...


...Membahas perihal berpisah memang mudah. Sangat mudah, tapi melakukannya itu yang sulit dan sekarang Airin dalam fase seperti itu. Dia ingin pisah, tapi hatinya menolak. Bukankah kita sudah membahas perihal hati yang tak sejalan dengan pikiran yang di mana itu akan menempatkan manusia di dalam kebimbangan. Iya, begitulah Airin sekarang....


...•...


^^^•Lombok, 11 Maret 2022, 21.30pm•^^^


...Stay reading...


***


Taman Suropati, 07.00am


Weekend, hari di mana semua orang melepas penat setelah lima hari berkutat dengan pekerjaan yang bisa dibilang banyak menguras tenaga.


Saat ini Raka sudah memarkirkan kendaraannya di parkiran taman Suropati. Mobil hitam mewah itu terlihat berbaur dengan beberapa mobil lainnya yang memang seperginya sudah datang lebih dulu.


Raka menoleh ke arah Airin yang sepertinya tengah melihat ke luar mobil, "Dari pada mengintip seperti itu, kenapa tidak turun saja?" Laki-laki itu menyeletuk, membuat Airin terkaget dan langsung menoleh ke arah, Raka yang sialnya saat ini tengah memberikan senyuman manis untuknya.


Sial, padahal Airin sangat hati-hati dengan senyuman itu karena bagaimana pun, dia tetaplah seorang wanita yang di mana jika mendapatkan sunggingan garis lengkung yang begitu tulus, pasti akan salah tingkah.


"Sepertinya itu lebih baik." Airin langsung bergerak untuk keluar dari dalam mobil. Sumpah, wanita itu langsung terserang yang namanya penyakit canggung. Dia emang mulai membuka hati, tapi tidak gini juga kali. Masa iya dengan hanya senyuman Raka, dia akan klepek-klepek.


Tapi ada yang aneh. Airin merasa de javu dengan senyuman dan lesung pipi Raka. Dia sepertinya pernah melihat, tapi lupa di mana yang pasti dia merasa seperti itu.


Sementara untuk, Raka. Laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya sembari menyebutkan nama Airin berulang kali dengan senyum yang tidak memudar.


Sumpah, Raka itu adalah satu dari spesies laki-laki Indonesia yang memiliki paras yang terbilang sangat manis. Jujur, kulit pemuda itu tidak terlalu putih, gaya rambutnya juga tidak klimis.

__ADS_1


Dia hanya laki-laki Indonesia biasa dengan paras lumayan tampan. Potongan rambut juga undercut biasa, tapi itu membuat kadar ketampanannya yang tadi biasa menjadi sedikit luar biasa. Terlebih lagi bawaan pemuda itu yang selalu ceria dan tidak pelit senyum.


"Raka, buru! Tadi kau ngajak turun, tapi malah diam."


Suara gerutuan yang penuh akan kekesalan itu berhasil menyalami gendang telinga Raka, membuat laki-laki itu tertawa dan langsung bergerak untuk keluar dari dalam mobilnya.


***


Seperti weekend pada umumnya. Sekarang taman Suropati tengah ramai-ramainya didatangi entah itu para, anak muda, orang tua, dan bahkan orang lanjut usia pun datang.


Mereka tidak lain melakukan olahraga, seperti, joging, jalan santai, dan bahkan ada beberapa anak muda yang terlihat duduk-duduk dengan pasangan masing-masing.


Sekarang Airin dan Raka tengah joging mengitari taman Suropati. Mereka berjari pelan beriringan dengan sesekali berbagi cerita lucu, seperti kak Ros yang bernyanyi dan menyebabkan bohlam pecah pun diceritakan oleh, siapa lagi kalau bukan Airin.


Sementara, Raka. Dia hanya menceritakan tentang kantornya yang sedang membuat sebuah game baru untuk para wanita. Di game itu avatarnya akan mengenakan baju-baju dari perusahaan, Julian.


Iya, itulah kerja sama mereka.


Padahal baru dua kali putaran, tapi dia sudah capek dan Raka yang melihatnya mulai kasihan. Dia menghentikan larinya dan itu tentu membuat Airin juga berhenti.


"Kita istirahat di sana aja." Raka menunjuk ke salah satu kursi yang ada di bawah pohon.


"Eh, kenapa? Aku masih kuat kok." Dengan terengah-engah Airin berucap. Padahal nih yah, mukanya aja kek orang udah mau pingsan, tapi masih sok dan belagu seperti.


"Aku yang lelah." Pada akhirnya, Raka lah yang jarus mengalah agar wanita itu tidak sakit hati nantinya.


Benar saja. Airin langsung mencibir, "Dasar. Laki kok lemah." Dengan melangkah mengikuti Raka, Airin berucap mengejek.


Raka tidak marah. Malahan laki-laki itu terenyuh dan dia langsung mendudukkan pantatnya di permukaan kursi. Tidak lupa dia mengeluarkan mimik wajah lelahnya, agar dikira benar-benar seperti itu.

__ADS_1


"Lebay, deh. Padahal baru dua puteran." Airin mencibir membuat Raka tersenyum.


Wanita itu bergerak merebahkan pantatnya tepat di sebelah kanan Raka. Dia langsung menyandarkan punggung dan menghela napas.


"Setelah sekian lama berhenti melakukan aktivitas fisik seperti ini, ternyata melelahkan juga." Airin berbicara dengan kepala mendongak ke atas, melihat hijaunya daun dari pohon mangga.


Raka yang mendengar itu menghela napas. Laki-laki itu tersenyum dan bergerak bangkit dari duduknya.


Airin yang mengetahui pergerakan teman sebangkunya itu melirik ke samping kiri, "Mau ke mana?" tanya wanita itu dengan posisi duduk yang masih sama, yaitu, menyandarkan punggung dengan satu kaki terulur.


"Beli air. Jadi, kau tunggu sebentar. Enggak lama kok." Tanpa mendengar jawaban dari Airin, laki-laki itu langsung berlari untuk membeli air.


Airin yang memang juga butuh minum hanya bisa diam. Dia sekarang tengah menikmati kelelahannya. Betisnya serasa gatal, maklum karena tidak pernah berlari dan itulah kenaoa dia bisa mendapat rasa penat begitu banyak.


Selain butuh air, Airin sekarang butuh angin. Dia sungguh membutuhkan embusan nikmat Tuhan itu.


Sementara tidak jauh dari tempat Airin berada. Terlihat Julian tengah berdiri dengan mata memicing. Ditangan laki-laki itu sudah ada sebotol air mineral dan beberapa cemilan.


"Tidak salah lagi. Ngapain dia di sini?" gumam Julian sembari mengayunkan langkah untuk mendekat ke arah wanita yang dia duga, Airin.


Di sisi, Airin. Wanita itu bergerak menegakkan tubuhnya saat dia sadar kalau sekarang tengah berada di tempat umum.


"Ini untukmu." Airin langsung tersenyum saat suara laki-laki yang sudah dia kenal, menyapa indera pendengarannya.


"Makasih, Ka," jawab Airin dan wanita itu langsung bergerak mengulurkan tangan untuk meriah sebotol air mineral itu.


Sementara itu, Julian yang tadinya ingin melangkah mendekati Airin malah berhenti. Laki-laki itu langsung memperlihatkan wajah datarnya.


"Iyan, dari tadi aku tungguin ternyata kau-" Clara yang datang menghentikan perkataannya saat dia menyadari arah tatapan, kekasihnya itu ke mana.

__ADS_1


...T.B.C...


__ADS_2