
...Bertahan dalam sebuah hubungan yang pelik itu bukan sesuatu hal yang bodoh. Mereka yang bertahan, mungkin tengah menanti sesuatu keajaiban yang kiranya bisa menjadi nyata...
^^^•Lombok, 11 Maret 2022•^^^
...Stay reading yah...
***
"Ya, maaf karena seringkali meminta lebih padamu, maaf karena sering kali merepotkanmu dalam segala hal. Pokoknya aku minta maaf, Yan."
Dengan kegugupan yang telah menguap, Clara menjawab. Wanita bertubuh mungil itu sekarang tengah tersenyum.
Warna jingga mulai menyelimuti kota yang di mana, kalau di ujung barat sana Matahari sudah mulai kembali dari peradabannya.
Julian menatap wajah Clara dengan lembut. Dia tersenyum, tertawa, dan paras tampannya yang tegas sangat kentara memancarkan kebahagiaan.
"Bukankah itu yang seharusnya aku lakukan? Jadi, buat apa minta maaf? Toh aku kerja untukmu."
Kata-kata yang seharusnya pantas dia lontarkan untuk, Airin malah didengar oleh seorang yang hanya berstatus selingkuhan. Iya, selingkuhan.
Terserah mereka saling mencintai kek, saling menyayangi kek, saling apalah. Namun, di saat salah satu di antara mereka sudah memiliki status sah, tetap saja hubungan yang mereka jalin itu adalah sebuah perselingkuhan.
Bukan begitu?
Julian menghela napas. Laki-laki itu bergerak bangkit dari duduknya, "Kita pulang sekarang?" tanya laki-laki itu dan Clara yang mendengarnya langsung menjawab dengan anggukan kepala.
Julian tersenyum. Dia bergerak mengacak-acak rambut blonde milik kekasihnya, "Dasar."
Kata singkat yang dikeluarkan Julian itu mampu mengartikan betapa menggemaskannya, Clara. Lihat, laki-laki itu. Mulai dari tutur kata, tatapan mata, dan suara dia sangat lembut. Namun, entah kenapa saat bersama Airin, pria itu menjadi sosok yang berbeda.
"Ayok!" Dengan riang Clara berucap. Bahkan wanita itu tanpa malu melingkarkan tangannya di lengan Julian.
__ADS_1
Lagi-lagi Julian dibuat gemes. Dia kembali mengacak rambut Clara, "Kau tahu. Aku lebih suka rambut hitammu."
Mereka berdua kembali berjalan ke mobil. Suara tawa menyertai langkah mereka, membuat orang-orang mungkin berpikiran kalau mereka adalah pasangan serasi yang saling mencintai.
Walau aslinya mereka tidak lebih dari seorang pasangan selingkuhan yang begitu buruk di mata semua orang.
Itulah kenapa jangan menatap sesuatu hal hanya dari sudut pandang yang sama dengan orang lain. Coba cari sudut yang lain dan pasti kalian akan melihat suatu hal yang berbeda.
Contoh, tukang parkir Alfamart. Saat ini dia melihat dari sudut pandang apa yang sedari tadi dia saksikan hingga berpikir, kalau di insan manusia itu adalah pasangan yang sempurna.
Jika kalian mengikuti sudut pandang si tukang parkir, maka kalian akan mendapatkan pengelihatan yang sama dan kalian juga akan berpikiran sama.
"Terima kasih dan berbahagialah kalian." Tukang parkir itu berucap dengan nada bicara bahagia, karena Julian ternyata memberikan dia jumlah yang lebih dari biasanya.
Tanpa mengetahui kebenarannya, tukang parkir memanjatkan doa, mendukung perbuatan perselingkuhan yang di mana dilarang agama.
Namun, laki-laki lanjut usia itu juga tidak salah. Dia mengatakan itu karena sudut pandangnya membuat dia mengeluarkan doa bahagia selalu untuk, Julian dan Clara.
***
Airin baru selesai beberes rumah. Dia juga baru saja menyudahi peperangannya di dapur dengan alat-alat masak.
Sekarang wanita cantik itu tengah menata meja makan serapi mungkin. Dia berulang kali mengecek debu yang kiranya tertinggal di permukaan meja.
Dirasa tidak ada secuil pun, Airin menghela napas dan mengayunkan langkah meninggalkan meja makan untuk pergi ke ruang tv.
Sudah jam delapan malam, tapi wanita itu belum melihat tanda-tandanya pintu depan terbuka. Dia juga tidak mendengar sedikit pun suara mesin mobil yang masuk ke dalam pekarangan rumah.
Airin duduk termenung di ruang Tv. Sekarang wanita itu tengah menonton Upin dan Ipan, lumayan sedikit bisa menghibur di saat rasa jenuh karena menunggu kepulangan suaminya.
Padahal dia lapar dan ingin makan malam. Namun, karena suaminya belum pulang, dia tidak berani menyentuh makanan.
__ADS_1
Bukan apa-apa yah. Jukian itu paling benci jika Airin menyentuh makanan sebelum dirinya. Jadi, itulah alasan kenapa wanita itu tidak makan lebih dulu.
"Apa, Mas lembur?" tanya Airin kepada kekosongan ruang Tv.
Airin terlalu positif. Dia tidak pernah sekali pun berpikiran negatif kepada suaminya. Entah, dia juga tidak tahu, tapi itulah dia.
Beberapa jam telah berlalu dan Airin masih setia duduk termenung menanti kehadiran sang suami. Bedanya, sekarang dia sudah pindah tempat ke ruang tamu.
Kedua matanya fokus melihat ke arah pintu, kedua telinganya fokus mendengarkankan suara-suara yang agaknya bisa memastikan kalau suaminya datang.
Airin menghela napas. Dia melirik ponsel yang berada tepat di sebelah piring yang tadi digunakan sebagai alas makannya.
Iya, Airin tidak tahan. Dia akhirnya memilih untuk makan duluan, karena jika dia menunggu kepulangan sang suami, pasti asam lambungnya naik.
Airin meraih ponsel dan menyalakannya. Pukul sepuluh lebih tiga puluh menit dan ini sudah kelewatan. Dia kembali meletakkan ponselnya di meja mungil yang ada di depan sofa.
Airin merebahkan punggungnya di sandaran sofa, "Apa kau pergi ke dia lagi, Mas?" Wanita itu mulai berpikir negatif. Bukan berfikir sih, tapi lebih tepatnya menebak dan itu benar.
Iya, dia lupa kalau ini hari malam Sabtu yang di mana, Julian— suaminya akan pulang ke rumah selingkuhannya.
"Padahal aku berharap di 26 hari terakhir ini, kita selalu bersama. Tapi, aku ternyata sedikit berekspektasi tinggi padamu." Airin bergumam dengan mimik wajah lemah.
Satu lagi alasan yang membuat dia memang benar-benar yakin ingin pergi dari Julian, kembali tercipta.
...T.B.C...
...Bab ketiga yah. ...
...Yuk kasih gift, vote, dan juga komen biar aku semangat...
...Bab ke empat dan lima agak siang yah...
__ADS_1