
"Ada apa? Apakah ada masalah?" Julian bertanya saat melihat gelagat Clara yang seperti orang panik, melirik ke kanan dan kiri layaknya ingin mencari sesuatu, tapi matanya tak bisa menemukan itu.
Clara menoleh ke arah, Julian. Wanita itu tersenyum kikuk sembari memindahkan surai blondenya yang menghalangi pandangan.
"Ti ... tidak ada apa-apa. Tapi, hanya saja aku merasa ada orang yang mengawasi gitu, Yan," terang Clara jujur. Bahkan wanita itu kembali mengedarkan pandangannya ke segala arah hanya untuk mencari tahu, di manakah orang yang dia maksud.
Julian menaikkan kedua alisnya. Laki-laki itu ikut mengedarkan pandangannya untuk melihat ke sekeliling area parkir restoran, tapi kedua matanya tidak menemukan apa pun selain kekosongan dan beberapa mobil yang berjejer di sebelah kiri serta kanan kendaraan roda empatnya.
"Tidak ada, Ra," ujar Julian setelah memastikan lebih dalam lagi suasana yang ada di sekitar restoran ini.
Clara mengangguk dan wanita mungil itu langsung bergerak merangkul lengan kekar, Julian, "Kalau begitu, ayok." Seperti biasa, wanita itu menggeret Julian dan yang diperlakukan seperti itu malah diam-diam saja.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Julian dan Clara sekarang sudah duduk di salah satu meja yang ada di Restoran The Acre yang berlokasikan di Jl. HOS. Cokroaminoto 100, Menteng, Kec. Menteng, Jakarta pusat itu, menjadi tempat makan yang dipilih oleh pasangan tersebut.
Mereka berdua terlihat duduk berhadapan. Tidak ada yang berbicara karena sekarang Julian tengah fokus melihat daftar menu sedangkan Clara. Wanita itu fokus bermain ponsel.
"Mau makan apa?"tanya Julian dengan pandangan fokus melihat deretan tulisan menu makanan yang semuanya berbahasa Inggris.
"Terserah, tapi aku mau salat untuk makanan pembuka." Julian menaikkan pandangannya untuk melihat sang kekasih yang ternyata bicara tanpa melihat ke arahnya.
"Wah sudah menjadi pecinta salat ternyata. Jadi ingat orang yang dulu hampir muntah karena aku suapi setumpuk sayur." Clara berhasil dibuat berpaling dari ponselnya.
Wanita itu memicingkan mata untuk melihat rupa yang tadi mencibirnya. Clara meletakkan ponselnya di atas meja, "Itu kan dulu, Iyan." Setelah mengatakan itu, Clara memanyunkan bibir tidak terima.
__ADS_1
Julian yang melihat itu terkekeh geli dan langsung menyerahkan buku menu kembali ke tangan pelayan wanita yang sedari tadi menunggu di sebelahnya.
"Salat untuk dia dan makanan utamanya tolong kau hidangkan yang paling terkenal di sini." Si pelayan mengangguk kepalanya dan dia langsung beranjak pergi untuk menyampaikan pesanan pengunjung kepada sang koki di restoran ini.
Julian menyatukan tangan yang di mana kedua sikut sudah bertengger rapi di permukaan meja, "Sumpah, itu tidak bisa aku lupakan. Entah kenapa membekas loh."
Clara semakin memanyunkan bibir saat dia mendengar godaan yang keluar dari mulut Julian.
Julian yang melihat itu semakin gencar menggoda sang kekasih. Dia ingin melakukannya lagi, tapi sebuah dering panggilan masuk terdengar keluar dari dalam ponsel Clara, membuatnya menaikkan satu alisnya.
"Nomer tidak dikenal?" Clara dengan cepat meraih ponselnya dan langsung menolak ajakan panggilan suara dari nomer tidak diketahui itu atau lebih tepatnya, dia tak menyimpan nomer itu di kontak ponselnya.
"Apaan sih?" Dengan judes Clara berucap, membuat Mike menaikkan satu alisnya.
***
Setelah menempuh perjalanan selama 13 menit, akhirnya mobil yang Mike kendarai dan Airin tumpangi sudah memasuki salah satu perumahan yang ada di kecamatan tanah Abang.
Iya, keluarga Airin tinggal di Tanah Abang, tapi setelah menikah dengan Julian. Airin langsung diangkut oleh suami ke Kecamatan Menteng.
"Kompleks nomer berapa?" tanya Raka sembari menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat-lihat bentuk bangunan di tempat ini.
Airin yang saat ini mati-matian berpikir tentang apa yang akan terjadi, tidak menjawab. Lebih tepatnya, dia tidak mendengar Raka.
__ADS_1
"Rin ...." Raka memanggil dan ternyata itu berhasil mengangetkan si wanita yang sepertinya tengah khawatir.
"Eh, iya, apa?" tanyanya dengan kikuk.
Raka tersenyum, "Kediaman keluargamu nomer berapa?" tanya laki-laki itu kembali dan Airin hanya bisa menggaruk kepalanya yang terbungkus hijab.
"Jalan aja. Tapi, kalau denger suara tokek berhenti di sana." Raka menaikkan kedua alisnya bingung. Laki-laki itu menghentikan mobilnya, untuk mencoba mencerna perkataan yang tadi terlontar dari dalam mulut, Airin.
"Tokek? Hubungannya dengan, Bapakmu apa?" tanya Raka dengan garis wajah yang memang terlihat kebingungan sekaligus penasaran.
Jujur saat ini, Raka merinding. Mendengar nama tokek di sebut-sebut membuat bulu kuduknya berdiri. Airin yang mendengar itu tersenyum kikuk.
Dia menoleh ke kanan kiri, "Bapak dan tokek adalah satu kesatuan. Bagi bapak, hidup tokek adalah hidupnya-"
"Singkat saja, Airin!" sela Raka dan Airin yang mendapati itu cengegesan.
"Dia seorang pecinta, Tokek. Singkatnya lagi, dia di rumah memerihara hewan itu." Raka terkejut dan laki-laki itu semakin terkejut saat suara hewan itu terdengar keluar dari rumah yang di mana, saat ini dia memberhentikan mobilnya.
"Kita sudah sampai. Jadi, ayok!" Airin turun lebih dulu, tapi Raka diam. Gerakan tangannya entah kenapa menjadi kaku dan tidak mau melepas kemudi mobil.
"Sial, aku lupa bapak Airin cinta matinya tokek." Dengan wajah nalangsa, Raka bergumam pun keringat dingin mulai bercucuran di keningnya.
"Eh, emang kau sudah tahu Bapakku pecinta Tokek dari mana?" Airin mengintip dari kaca mobil yang sedikit terbuka dan itu berhasil membuat Raka, tersentak kaget.
__ADS_1
...T.B.C...