Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 33. Hanya Ingin Pulang.


__ADS_3

Kediaman Julian dan Airin, 19.30pm


Julian membuka pintu rumahnya. Gelap langsung menyapa indera penglihatan laki-laki itu. Padahal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak pernah.


Malahan setiap dia pulang, rumahnya pasti dalam keadaan terang. Kemudian telinganya pasti menangkap suara berisik Airin. Hidungnya pasti mencium bau khas kopi yang diseduh wanita itu, dan kedua matanya selalu menatap sosok Airin di ruang tv dengan film kartun yang dia putar.


Namun, entah kenapa semua itu hilang sekarang dan anehnya lagi, Julian merasa asing dengan rumahnya sendiri.


Asing dalam artian dia tidak mengetahui di mana saklar lampu berada. Padahal dulu sebelum menikah, dia tahu. Mungkin karena setelah menikah, dia tidak pernah mengurus hal-hal remeh seperti itu membuat dia tidak terlalu tahu tata letak barang-barang rumahnya.


Julian masih berdiri di teras rumah. Di luar juga gelap, tapi cahaya bulan dan beberapa remang lampu-lampu jalan sedikit mampu mengusir kegelapan itu.


'apa dia belum pulang juga?' laki-laki itu membatin dengan tangan terkepal dan rahang yang mengeras.


Julian masih diam. Dia tidak ada niatan untuk beranjak masuk. Laki-laki itu malah berbalik dan berjalan ke sisi teras.


"Mendung di malam bulan Oktober?" Julian berucap dengan kepala yang mendongak melihat suasana langit yang terselimuti mendung.


Di sana tidak ada bulan, tidak ada bintang. Hanya ada langit terkepung awan kelabu. Persisi seperti dirinya. Di sini tidak ada siapa pun selain pekatnya kegelapan malam.


Sungguh baru kali ini Julian merasa kan kesepian seperti ini. Laki-laki itu begini bukan karena rindu dengan, Airin. Dia hanya sedang bernostalgia.

__ADS_1


"Lebih baik aku masuk." Julian kembali memutar tubuhnya dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah.


Laki-laki itu berjalan dengan sedikit meraba. Sekarang dia hanya bisa mengandalkan insting sentuhan jari tangannya.


"Ini aku di mana pula. Sialan, punya istri keluyuran tisak jelas." Laki-laki itu mendumel. Biarpun wajahnya gidak keliatan, tapi kita bisa menyimpulkan kalau dia tengah kesal hanya mendengar dari suaranya.


Julian terus berjalan dan suata benturan antara lutut dan sisi sofa terdengar. Laki-laki itu merintih tatkala rasa nyeri menjalar dari jempol kaki naik ke sekujur tubuh.


"Penerang rumah ini di mana sih?" Julian mulai marah-marah. Laki-laki itu kembali berjalan dan dia merubah arah jalannya sedikit ke kanan.


Pasalnya dia tahu kalau sofa yang tadi adalah ruang tamu dan setelah itu ada lorong di sebelah kanan yang akan membawanya masuk ke ruang tv.


Namun, langkah Julian berhenti. Sekujur tubuhnya bergetar, keringat dingin keluar dari keningnya saat tadi ada sekelabat kilat menerangi rumahnya dan setelah itu suara gemuruh yang keluar dari langit menyambut cahaya tadi.


Alun-alun Monas, 19.30pm


Di waktu yang sama sekarang Airin tengah cekikikan bahagia saat dia melihat di hidung Raka ada sisa-sisa es krim.


Wanita itu tertawa terbahak saat Raka menjulurkan lidah untuk memberishakan noda es krim yang bertengger di ujung hidungnya.


"Ayok pasti bisa!" Airin dengan masih tertawa menyemangati, Raka membuat laki-laki itu menaikkan pandangannya ke arahnya.

__ADS_1


"Kurang ajar," ujar Raka memerah malu dan dia langsung menghentikan tingkah konyolnya. Namun, Jujur dia terlihat sangat risih dengan adanya Nia es krim di hidungnya.


Seandainya dua tangannya sekarang tidak penuh oleh tas makanan. Raka pasti dengan mudah membersihkan itu.


"Eh kenapa?" tanya Airin yang tadi tidak sengaja mendengar kata-kata Raka.


Raka menoleh menghadap ke arah, Airin dan laki-laki itu terkejut saat wanita itu bergerak mengulurkan tangan dan membersihkan noda es krim itu menggunakan telapak tangannya.


Padahal, Airin juga lagi membawa beberapa tas makanan. Namun, ternyata wanita itu menyemoatkan dirj membantu Raka.


"Kalau enggak bisa, usahakan minta tolong." Airin berucap tanpa melihat ke arah Raka yang diam dengan kedua sudut bibir menyunggingkan senyum dan tatapan mata yang begitu tajam, tapi terkesan lembut.


"Makasih," tutur Raka setelah menyadari situasi saat ini.


Airin menoleh, "Sama-sama," ujar wanita itu dengan tersenyum.


Percaya tidak percaya, dari banyaknya muda-mudi, hanya Airin dan Raka yang mengenakan kostum berbeda. Iya, kalian tahu kan kalau orang pergi malam mingguan, pasti pakai baju yang keren-keren dan tubuhnya dipenuhi wewangian parfum.


Nah, Airin dan Raka malah pakai baju olahraga. Terlebih lagi dari tadi pagi mereka tidak mandi-mandi dan otomatis bau keringat yang menempel di baju tercium jelas.


Namun, biar begitu tidak ada yang berkomentar sama sekali, "Sekarang mau ke mana?" tanya Raka dan itu bersamaan dengan munculnya sekelabat kilat di langit dan setelah itu suara gemuruh menyambut.

__ADS_1


"Pulang." Raka menaikkan kedua alis matanya bingung, "aku ingin pulang sekarang," imbuh Airin dengan lirikan mata yang tajam ke arah, Raka.


...T.B.C ...


__ADS_2