
"Halo!" Dengan tampang yang bersahabat Raka menyapa. Tidak lupa dia melambaikan tangan dan juga menarik kedua sudut bibirnya.
Airin cengo. Otaknya masih berpikir dan matanya berkedip-kedip untuk memastikan kalau orang yang saat ini tengah berdiri di depannya adalah pria yang sama seperti kemarin.
Raka menaikkan kedua alis matanya, bingung. Dia melihat ujung kakinya dan kembali menegakkan kepalanya, saat merasa tidak ada yang aneh. Laki-laki itu kembali menatap Airin yang masih melongo.
Jujur, sekarang laki-laki itu tengah gembira. Dia tadi mengira kalau yang akan membuka pintu adalah, Julian, rekan bisnisnya. Namun, ternyata yang membukanya adalah Airin.
Iya, Raka itu adalah rekan bisnis Julian. Dia ke sini sebenarnya untuk bertemu dengan laki-laki itu dan sumpah tidak ada maksud lain.
"Hai." Raka melambaikan tangannya di depan wajah, Airin yang pagi hari ini nampak cerah. Terlebih lagi di sana hijab sudah terpasang rapi menutupi uratnya.
Airin tersentak kaget dan wanita itu menormalkan mimik wajahnya, "Kau, apa yang kau lakukan di sini?" Dengan sedikit gugup, Airin bertanya, pun wanita itu memalingkan wajahnya agar terhindar dari tatapan Raka.
"Aku ke sin-"
"Jangan bilang kau membuntutiku dan-"
"Apa begitu caramu berbicara dengan rekan bisnisku, hah?" Perkataan Airin terhenti dan wanita itu menolehkan kepala ke belakang dan entah sejak kapan di sana ada, Julian.
Airin semakin dibuat terkejut.
"Selamat pagi, Julian." Raka menyapa dari ambang pintu. Laki-laki itu sepertinya masih belum niat untuk masuk ke dalam rumah.
Airin kembali menghadap ke depan dan pandangan matanya sekarang melihat Raka yang melemparkan senyum untuk suaminya.
Seketika wanita itu tidak bisa berpikir. Dia bingung tentang semua ini dan tiba-tiba saja dia memikirkan kejadian kemari saat di mana, ia bertemu dengan Raka di warung nasi goreng.
"Silahkan, masuk. Kau, pergi ke dapur dan siapkan kopi untuk kami berdua." Julian memerintah istrinya tanpa bernada romantis. Padahal di depan mereka ada tamu, tapi laki-laki itu tidak bisa sedikit pun berakting sejenak?
Bukan apa-apa, tapi kemarin Airin bwrcerita kalau hubungannya dengan sang suami sangat baik dan juga romantis. Namun, setelah Raka melihat ini, dia pasti sudah jelas akan merasa malu.
"Dengan senang hati, tapi aku tak butuh kopi. Bukankah kita akan langsung berangkat ke kantor?" ujar Raka sembari berjalan masuk. Laki-laki itu lewat dari sebelah kanan, Airin yang masih tak bergeming.
"Kalau begitu, baiklah. Tapi, ada baiknya mampir dan saparan dulu bersama dengan kami." Sepertinya, Julian tidak mau mengalah dan laki-laki itu terus saja memaksa.
Raka yang sepertinya tidak punya pilihan menolak mau tidak mau, menganggukkan kepalanya. Layaknya seorang teman, Julian merangkul Raka.
Padahal laki-laki itu baru mengenal Raka kurang dari dua bulan, tapi karena sikap Raka yang mudah bergaul membuatnya akrab dengan orang.
__ADS_1
Airin sadar dari keterdiamannya. Wanita itu baru menyadari kalau Raka sudah tidak ada lagi di depan. Dia menoleh ke arah belakang dan dari arah dapur, ia mendengar suara obrolan.
"Mas Julian dan Raka adalah rekan bisnis. Apakah ...." Airin menggelengkan kepalanya saat pikirannya mulai menerka-nerka kalau, Raka adalah orang yang empat hari lalu berbicara dengan Julian tentang tiga puluh hari itu.
"Tidak mungkin. Julian punya banyak rekan bisnis dan suara itu bukan milik Ra-" Airin terdiam. Otaknya mulai menyamakan suara Raka dan suara rekan bisnis Julian yang empat hari lalu membicarakan tentang itu.
***
"Rin, kenapa kau tidak ikut makan?" Raka menyeletuk saat dia melihat Airin hanya berdiri di sebelah kiri suaminya dengan tangan yang sibuk melayani Julian.
Airin mendongak dan sedikit tersenyum, "Kau nikmati saja makanannya, Ka. Tidak baik berbicara disaat menyantap makanan." Airin berucap dengan nada bicara layaknya seorang teman. Julian yang sedari tadi memperhatikan cara komunikasi rekan bisnis dan juga istrinya itu sedikit kaget, tapi sedetik kemudian dia terlihat tidak peduli.
"Dari mana kau mengetahui nama wanita ini? Apakah kalian sudah saling mengenal satu sama lain?" tanya Raka sembari mulai menyantap sarapannya.
Raka menganggukkan kepalanya. Dia bergerak meriah gelas bening yang sudah berisikan air putih.
"Kemarin kami tidak sengaja bertemu di salah satu warung nasi goreng, bukan begitu, Rin?"
Airin mengangguk kepalanya dan Julian yang mendengar jawaban yang keluar dari mulut, Raka langsung mendongak melihat mimik wajah, istrinya yang entah sejak kapan merasa malu.
"Kenapa tidak bercerita kalau kau bertemu, Pria? Ohh, jadi gini yah kelakuanmu. Tanpa memberitahuku, kau pergi dari rumah dan mengatakan kalau hanya jalan-jalan, tapi apa ini?" Julian marah, entah itu hanya sandiwara atau apa, Airin tidak tahu.
"Sudahlah, Julian. Kami berdua tidak sengaja bertemu. Lagian istrimu tidak melakukan apapun. Dia tidak seperti wanita lainnya jika didekati akan memperkenalkan diri dan mengatakan kalau dia lajang." Raka menjeda ucapannya. Laki-laki itu bergerak meneguk air minum yang hanya tersisa setengah gelas, hingga habis.
"Dia malah mengatakan kalau sudah bersuami dan yang lebih mengagumkannya, Airin selalu menyanjungmu. Jujur, kau beruntung sek-"
"Beruntung dari mana? Malahan wanita itu selalu membuatku susah. Jika kau mau, ambil saja." Julian berucap begitu gamblangnya. Laki-laki itu seolah tidak memikirkan perasaan Airin.
Raka yang mendengar perkataan Julian menaikkan kedua alis matanya, "Apakah maksud dari perkataanmu itu-" Airin menjatuhkan sendok, membuat Raka menghentikan ucapannya.
"Ma ... maaf," wanita itu berucap dengan gugup sembari bergerak memunguti sendok yang tadi tiba-tiba terlepas dari tangannya.
Julian yang melihat istrinya yang teledor berdecak, "Kau memang tidak pernah bisa benar jika melakukan sesuatu." Laki-laki itu mengomel dan dia bahkan bergerak bangkit dari duduknya.
"Maaf, Mas. Tadi aku tidak seng-"
"Bisakah kau membuatku tenang sebentar saja, hah?" Julian melayangkan tatapan mata yang tajam untuk, Airin.
Laki-laki itu menoleh ke arah Raka yang juga sudah bangkit dari duduknya, "Tolong maafkan saya atas ketidaknyamanan ini, Tuan Satriawan." Raka menganggukkan kepalanya, tapi matanya sekarang fokus melihat Airin yang panik.
__ADS_1
"Lebih baik kita berangkat sekarang." Julian langsung berlalu pergi saat Raka menjawab ajakannya dengan anggukan kepala.
"Mas, sarapannya!" Airin berteriak dan itu berhasil membuat Julian menghentikan langkah.
"Habiskan saja sendiri!" Laki-laki itu kembali berjalan dan Airin yang mendapati jawaban sepeti itu langsung duduk di bangku dengan mimik wajah yang juga kesal.
"Terima kasih, aku tidak pernah memakan makanan seenak ini." Raka berucap dengan satu kedipan mata. Laki-laki itu mencoba untuk menghibur Airin yang pasti dalam kondisi mood yang tidak baik.
***
Siang harinya, restoran bintang lima.
"Sayang, kau beneran tidak ingin bergabung dengan Mama?" tanya Arum dan Airin yang sudah duduk di meja restoran untuk pengunjung biasa menggelengkan kepalanya.
"Aku nunggu di sini saja, Ma," jawab Airin dengan sopan dan mimik wajah yang terlihat sedikit malu-malu.
Mendapati jawaban yang tidak berubah, Arum hanya mengulas senyum, "Baiklah, kalau begitu, Mama pergi bertemu teman-teman dulu."
Airin mengangguk kepalanya dan Arum yang melihat itu langsung berlalu pergi menuju ruang VIP restoran.
Iya, setelah kejadian di ruang makan pagi tadi, Airin mendapatkan telepon dari mama mertuanya.
Wanita paruh baya itu meminta Airin untuk menemaninya pergi ke perkumpulan ibu-ibu sosialita yang kurang lebih akan membahas seputar barang bermerek dan semacamnya.
Airin yang tidak terlalu suka dengan itu semua memilih untuk menunggu di tempat khusus tamu biasa seperti pada umumnya.
Saat ini wanita berhijab dengan pakaian santai seperti kemeja cokelat dengan jeans panjang berwarna hitam sebagai bawahannya itu, tengah menikmati secangkir kopi di siang hari.
Dia tidak melakukan apapun selain membaca majalah, "Permisi, Nona. Apakah saya boleh bergabung?"
Airin yang mengenal suara ini langsung menaikkan pandangannya, "Kau?" Mata wanita itu terbelalak saat tepat di depannya wajah ramah, Raka terlihat jelas. Lagi-lagi untuk ketiga kalinya, Airin bertemu dengan laki-laki itu, apakah ini masih bisa dinamakan sebuah kebetulan?
...T.B.C...
...Part kedua nanti yah agak malam. ...
...Makanya kasih dukungan dengan berikan gift, vote, like, dan juga komen kalian. Satu lagi, jangan lupa share yah. ...
...Makasih...
__ADS_1
...Salam manis dari aku, SuKa_PaRiS...