Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 41. Di Penghujung Hari Kala Itu


__ADS_3

12 Tahun lalu


Suara gesekan roda kereta memenuhi jalanan kota Jakarta. Semua kendaraan yang tadinya berlalu lalang terpaksa berhenti tatkala peron, turun menghalangi mereka.


Embusan angin, membuat semua orang yang berhenti di sana sedikit mundur. Mungkin takut tersenggol, karena mereka mengira kereta itu tepat melaju di depan wajah.


Semua orang juga menutup hidung tatkala bau khas besi merambat masuk ke hidung, mengganggu indra penciuman mereka.


"Raka mau bawa aku ke mana sih?" Dari banyaknya orang yang tengah menunggu kereta berhenti melintas, suara seorang bocah perempuan kecil terdengar di antara decitan roda dan lintasan kereta.


Dia, Airin Putri, bocah 12 tahun yang sekarang tengah dibonceng menggunakan sepeda ontel oleh seorang laki-laki rambut gondrong yang ujungnya keriting.


Airin saat ini masih menggunakan baju Pramuka khas siswa SD. Bocah itu sekarang duduk dengan gaya menyamping dan kaki terjuntai di sisi kiri.


"Ketempat yang tidak akan pernah bisa kau lupakan." Dia— Raka Satriawan, laki-laki remaja berusia lima belas tahun itu menjawab dengan sedikit tersenyum.


Laki-laki kelas dua SMP itu sekarang tengah mengendarai sebuah sepeda ontel yang di mana, si masa itu para remaja lebih suka memakainya. Maklum masih dibawa umur. Jadi, sekaya apa pun kedua orang tuanya mereka pasti akan diberikan kendaraan bertenaga manusia itu seagai alat transportasi.


Airin menyengir. Bocah dua belas tahun itu menyelipkan anak rambutnya yang tidak berhenti berterbangan karena embusan angin yang diciptakan oleh kecepatan kereta.


"Tapi, nanti Bapak dan Mamak nyariin aku loh, Ka." Dengan nada bicara imut, bocah dua belas tahun itu berucap membuat, Raka menurunkan pandangannya.


Laki-laki remaja berparas hitam manis dengan warna kulit sawo matang itu, tersenyum. Dia selalu seperti itu, "Jangan pedulikan itu. Mungkin sekarang bapak kau sedang sibuk dengan tokeknya." Raka menjawab.


Airin yang mendengar itu menyengir. Dua pasangan yang masih dibilang cukup dini itu fokus melihat ke depan, tatkala tiang peron yang tadi menghalangi mulai naik.


Bunyi klakson bajaj, sepeda, angkot, dan masih banyak lagi langsung bersahutan. Raka menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat situasi dan setelah di rasa aman, laki-laki itu langsung mengayuh sepedanya keluar dari kerumunan.


***

__ADS_1


Hari sudah mendekati penghujung. Namun, itu tak membuat Raka— remaja yang saat ini berpakaian pramuka itu untuk berbalik pulang.


Malahan laki-laki remaja itu semakin mengayuh sepedanya masuk ke sebuah tempat terpencil yang ada di tengah-tengah kota Jakarta, tepatnya kawasan Thamrin.


Airin yang dibawa hanya diam. Bocah dua belas tahun itu justru sibuk menelisik tempat yang saat ini mereka datangi.


Sepi.


Itulah kata-kata pertama yang muncul di benak Airin. Takut? Tentu saja tidak. Dia jika sudah bersama dengan Raka, pasti bawaannya berani.


Bahkan beberapa waktu yang lalu, mereka berdua uji nyali dengan diam di gazebo kompleks tempat mereka tinggal, hanya untuk menguji benarkah wewe gombel akan menculik mereka jika masih berkeliaran di luar saat hari menjelang petang.


Namun, ternyata itu tidak terjadi dan mereka berhasil membantah cerita fiktif ibu-ibu kompleks yang sering menakuti anak-anak mereka dengan itu.


"Turun!" Raka berucap, dengan menarik tangannya yang sedari tadi memegangi setang untuk kembali ke sisi pinggang.


Airin yang mendapati itu langsung meloncat turun. Kaki mungilnya yang sedari tadi berayun, sudah menemukan pijakannya lagi, "Raka tahu tempat ini dari siapa?" tanya bocah yang akan mendekati remaja itu dengan nads riang. Senyum khas terukir nyata di parasnya yang ayu.


Suara besi yang terjatuh, membuat Airin kecil tersentak kaget. Bocah dua belas tahun itu menoleh ke arah, Raka yang tetiba menarik tangannya dan langsung berlari mendekati sebuah bangunan yang temboknya menghitam, karena beberapa bulan lalu terbakar.


Bangunan itu dulunya adalah pabrik tembakau. Namun, sekarang sudah ditinggalkan kerena adanya kecelakaan kerja yang melenyapkan kisaran sepuluh pekerja.


"Raka, pelan!" Airin mencibir saat Raka menariknya tergesa-gesa untuk masuk ke pabrik lantau tiga yang hanya sisa tiang penyangganya saja.


"Keburu gelap. Nanti bapak kau marah karena aku ngajakin keluyuran." Raka menaiki anak tangga gedung dengan cepat dan itu otomatis Airin ikuti.


Dua pasangan dini itu menghentikan langkah tepat di atap gedung. Airin sedikit berkeringat, tapi buliran aie asin itu menghilang karena embusan angin menerpa wajahnya.


Binar bahagia yang dihiasi semburat warna jingga langsung memenuhi wajah, Airin. Sekarang gadis yang mau mendekati usia remaja itu tengah menatap matahari yang sudah berads di ujung barat.

__ADS_1


Raka tersenyum. Laki-laki itu tidak melihat ke arah senja, tapi dia lebih memilih untuk fokus menatap wajah Airin yang berbinar.


Entah kenapa setiap kali menatap paras ayu tetangga kompleksnya itu, membuat debaran jantungnya, kencang. Raka tidak tahu perasaan ini, tapi jika dia samakan dengan film telenopela yang sering kali dia dengar saat, Mamanya menonton, perasaan yang dia rasakan ini persis seperti yang Sergio katakan kepada Marimar.


"Ra-"


"Aku akan pergi, Rin."


Airin yang tadinya ingin berucap, malah didahului oleh Raka yang tetiba mengatakan kata, Pergi. Iya, hanya satu kata itu yang tertangkap jelas oleh telinga Airin. Selain kata itu, dia tidak mendengar apa pun karena angin berembus sangat kencang.


"Papa dan Mamaku akan pindah keluar negeri," sambung Raka dan Airin tetiba mengeluarkan air mata.


"Mungkin ini terakhir kali kita akan bermain dan besok, kita tidak akan lagi bertemu." Raka kembali berucap, dengan nada yang terdengar lirih, Airin menggelengkan kepalanya.


"Terus, jika kau pergi, aku akan bermain dengan siapa? Bukankah kau janji kalau kita akan selalu bareng-bareng?" Airin sepertinya tidak ikhlas karena beberapa Minggu lalu, Raka sudah berjanji akan menjadi kakak kelasnya di SMP nanti.


***


Kembali ke masa kini.


"Kau pasti tidak mengingatku, karena waktu itu kau masih sangat dini, Rin." Raka melanjutkan kata-katanya, tapi dia masih belum mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya.


Laki-laki itu menghela napas. Dia bergerak meronggoh saku celana jeansnya, "Dua belas tahun yang lalu aku memberikan benda yang seperti padamu. Kalau tidak salah waktu itu aku sudah mau meninggalkan rumah dan aku memberikan ini un-"


"Hadiah ulang tahunku." Airin tanpa sadar menyela dan Raka yang mendengar itu tersenyum. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya.


...T.B.C...


...Feel zaman bahulanya ngena enggak?...

__ADS_1


...Semoga kena, karena aku hanya meraba-rsba kehidupan masa 90an...


__ADS_2