
"Julian Pranata?" beo Raka dengan tiga lipatan tercipta di kening pemuda itu.
Airin menganggukkan kepalanya. Wanita itu pun menarik kembali tangannya dari genggaman besar jemari, Raka.
Wanita itu memperbaiki posisi duduknya, "Iya, apa kau mengenalnya?" tanya Airin dengan menyunggingkan senyum ragu-ragu.
Iya, ragu. Pasalnya laki-laki di depannya ini menatap dengan ekspresi yang membuat, Airin risih. Mulai dari cara laki-laki itu menatap dirinya dengan sorot mata hitam kecokelatan yang terkesan sangat memerhatikan.
"Apa ada yang salah denganku?" Airin menyeletuk, membuat Raka terkaget dan langsung mengulas senyum.
Airin yang melihat senyum itu dengan terpaksa membuang pandangannya ke kanan. Tidak bisa dipungkiri, ternyata Raka memiliki senyum yang sangat manis. Terlebih lagi ada lesung pipi yang tercipta di kedua pipi laki-laki itu.
Sedikit tengang karakteristik Raka. Dari parasnya, laki-laki itu seperti baru berusia dua puluh tujuh tahun dengan garis wajah khas orang dewasa, punya mata yang selalu memancarkan aura-aura baik, menurut Airin. Kemudian rahang laki-laki itu dihiasi oleh jambang yang terpotong rapi.
Raka juga memiliki bibir yang tipis dan di bibir bagian atas, ada kumis yang terpotong rapi, tidak lebat dan tidak gundul. Semua dalam kapasitas yang pas. Rambut laki-laki itu dipotong dengan gaya undercut.
"Maaf aku tidak bermaksud melihatmu, tapi hanya saja paras cantikmu tidak bisa membuat mataku berpaling." Dengan ceplas-ceplos, Raka berucap dan percaya tidak percaya, ini kali pertama Airin mendapatkan pujian setelah menikah.
Airin memerah, malu dan bahkan wanita itu menundukkan wajahnya, "Maksudku anu-"
"Terima kasih atas pujiannya, tapi tidak seharusnya kau mengatakan itu kepada wanita yang sudah bersuami sepertiku." Airin yang sudah meredam rasa malunya, langsung berbicara.
Raka yang mendengar itu menghilangkan ekspresi di wajahnya. Laki-laki itu mengangguk kepalanya, "Kau benar, maafkan aku. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu," sesal Raka dengan menyunggingkan senyum kecil.
Airin yang mendengar itu tiba-tiba merasa kasihan. Sumpah, dia tidak ada niatan untuk menyinggung laki-laki itu. Ia hanya mengatakan sebenarnya.
"Oh iya, nama suamimu tadi, Julian Pranata, benar kan?" Raka menyeletuk dengan suara yang terdengar kembali biasa saja.
Airin bahkan terkejut saat melihat perubahan laki-laki itu. Padahal baru saja Raka terlihat seperti orang yang patut dikasihani, tapi lihatlah. Laki-laki itu kembali memperlihatkan mimik wajah ceria dengan senyum manis miliknya.
"Iya, apa kau mengenalnya?" tanya Airin kembali dengan ekspresi yang sudah terlihat lebih santai dari sebelumnya.
Sementara, Raka. Laki-laki itu mengangguk kepala, "Tentu. Siapa pengusaha yang tidak mengenal Julian Pranata?" jawabnya dengan nada bicara yang tegas.
__ADS_1
Airin mengangguk kepalanya, "Apakah kau pengusaha juga?" tanya Airin dengan nada bicara yang seperti menebak.
"Permisi, Tuan, Nyonya. Maaf menggangu."
Baru saja Raka hendak menjawab, laki-laki itu malah kalah cepat dengan suara Mamang si pedangan nasi goreng.
Raka berdecak kesal, tapi laki-laki itu menyembunyikannya dengan tersenyum me arah si Mamang.
"Ini pesanannya, maaf lama yah," ujar si Mamang dengan menyunggingkan senyum malu-malu.
Raka dan Airin menganggukkan kepalanya secara bersamaan, "Makasih, Mang." Mereka berdua mengucapkannya secara bersamaan, membuat si Mamang diam dengan posisi membungkuk.
Airin dan Raka pun diam saling pandang, tapi sedetik kemudian mereka berdua tertawa karena merasa lucu.
Si Mamang semakin tak enak. Dia dengan cepat meletakkan dua piring nasi goreng itu ke hadapan Airin dan juga Raka.
"Semoga kalian berdua menikmati." Si Mamang langsung tunggang langgang pergi meninggalkan dua orang yang dia duga sedang melakukan kencan.
Airin yang melihat gelagat aneh penjual nasi goreng itu hanya menghedikkan bahu, "Aku kira dia salah paham, Rin." Layaknya orang yang sudah akrab, Raka sudah berani memanggil Airin dengan nama.
Airin hanya menggelengkan kepalanya, "Tidak, tapi hanya saja caramu memanggilku seperti orang yang sudah mengenal cukup lama," jawab wanita itu sembari mengaduk nasi gorengnya dan langsung memasukkan satu sendok pertama ke dalam mulutnya.
Raka menegakkan tubuhnya. Laki-laki itu menelan makanan yang ada di dalam mulutnya terlebih dulu sembari tangannya bergerak, meraih botol air mineral yang dia simpan di sebelah paha kirinya.
Raka meneguk minuman yang tadi dia beli saat melakukan joging hingga tandas, "Masak sih?" tanya laki-laki itu dengan ekspresi yang dibuat terkejut.
Airin menganggukkan kepalanya, "Iya, tapi tidak masalah. Justru aku suka karena dari dulu aku tidak begitu senang jika dipanggil dengan hanya kata, kau."
Rska menganggukkan kepalanya, "Bener, aku juga tidak suka, tapi orang-orang kantor malah manggil bapak dan itu membuatku berpikir kalau aku sudah tua." Raka berbicara semakin fasih. Laki-laki itu sudah tidak tanggung-tanggung lagi.
Sama halnya dengan Airin. Dia juga tidak malu, "Wajar dong para pegawai panggil atasannya dengan sebutan bapak." Dengan sedikit terkekeh, Airin berucap membuat, Raka tertawa renyah.
"Tapi aku masih bujang, Rin. Belum nikah, belum punya anak, eh tiba-tiba dipanggil bapak. Kan aneh?" Airin tertawa dan Raka yang melihat itu sedikit malu, tapi juga merasa senang.
__ADS_1
"Makanya cari cewek, nikahin dan jangan macarin," ujar Airin dengan mengejek, "minta airnya dikit," imbuhnya dengan tangan terulur.
Raka langsung memberikan botol air mineralnya. Laki-laki itu kembali memegang sendok makannya, "Udah cari, tapi belum nemu yang pas. Percuma suka kalau tak pas kan?"
Airin menganggukkan kepalanya. Wanita itu meletakkan botol air mineral tepat di tengah-tengah meja antara, piring nasi gorengnya dengan milik Raka.
"Bener, emang yang pas ke kriteria kau seperti apa?" tanya Airin sembari kembali menyuapi nasi gorengnya.
"Mau tahu banget?" tanya Raka sok misterius dan Airin menganggukkan kepalanya, "sebelum itu, kau jangan marah yah, Rin."
"Marah, buat apa?" tanya Airin bingung dan Raka justru tersenyum lebar.
"Jika aku mencari wanita sepertimu." Airin melebarkan pupil matanya, tangannya yang tadi hendak memasukkan sendok yang sudah dipenuhi nasi, tertahan di udara.
***
Airin tersenyum. Sekarang wanita itu tengah mengendari mobilnya untuk pulang setelah beberapa jam menghabiskan waktu di warung nasi goreng bersama dengan Raka.
Jujur, baru kali ini dia cepat sekali akrab dengan laki-laki asing setelah menikah. Dulu memang dia termasuk orang yang mudah sekali akrab, tapi setelah menikah ia mengubur sifat itu.
Airin melirik ke arah ponselnya yang berkedip. Wanita itu melihat cepat ke depan dan disaat dia rasa lenggang, ia meraih ponselnya.
Airin melihat ada pesan yang masuk dari seseorang yang dia namakan, Raka.
"[Jangan lupa kau unduh game dari perusahaanku. Aku tunggu rate darimu]." Airin geleng-geleng kepala dengan kedua sudut bibir yang menyunggingkan senyum.
Namun, senyum itu menguap saat dia melihat ada pesan masuk dari kontak yang bernama , Suami.
"[Kau emang manusia lelet, buruan pulang karena ibu menunggumu, rongsokan]." Airin membuang ponselnya ke jok tempat duduk penumpang yang ada di sebelahnya.
Iya, sebenarnya Airin terpaksa menyudahi perbincangannya dengan Raka karena Julian tiba-tiba menelepon dan mengatakan, kalau mertuanya datang berkunjung.
Airin menyunggingkan senyum, karena otaknya tengah menyusun puzzle bayang-bayang sikap Julian setelah dia pulang nanti.
__ADS_1
...T.B.C...
...Part terakhir hari ini. Kita ketemu besok yah. terus kasih dukungan agar aku semangat. share cerita ini, kasih hadiah, dan juga vote jika kakak-kakak berkenan. makasih yah. ...