
"Buat apa kau ke sini?" tanya Julian dengan nada bicara yang sudah tidak lagi santai.
Kemarahan tiba-tiba menggerogoti hatinya dan itu tentu dibarengi oleh rasa kecewa yang teramat saat kedua matanya dengan jelas menatap, Clara yang saat ini berpenampilan sangat berantakan.
Tidak ada make up dan malahan warna hitam di kantung matanya terlihat sangat jelas. Jangan lupakan rambutnya yang berantakan dan baju yang tidak ada kata elegan di sana.
"Iyan, aku mohon jangan seperti ini. Aku bisa jelaskan semuanya. Jadi, tolong kita bicarakan baik-baik." Clara bergerak maju dan Julian tentu saja langsung bangkit dari duduknya, membuat wanita itu diam ditempat.
"Mau menjelaskan apa? Apa yang coba kau jelaskan, Sialan?" Julian berteriak, membuat urat yang ada di lehernya tercetak jelas.
Julian saat ini sedang sangat marah. Pikirannya langsung buyar dan itu semua karena sosok Clara.
Sementara, Clara yang mendapati kata-kata itu dari Julian, langsung diam dan mati kutu. Tadinya dia ingin mengatakan kalau dia terpaksa melakukan itu. Namun, entah mengapa lidahnya tiba-tiba jadi kelu. Suara yang tadi hendak dia keluarkan tersekat di tenggorokan.
Melihat Clara yang diam, membuat Julian terkekeh. Entah merasa geli, ironi, atau apa yang jelas laki-laki itu tersenyum begitu pilu. Kedua matanya berkaca-kaca dan jujur. Dia masih ada rasa kepada, Clara karena wanita itu adalah cinta pertamanya.
Kalian tahu sendirikan betapa spesialnya seorang cinta pertama?
"Kau tahu. Semua rasa percayaku padamu sudah memudar. Aku kecewa, Ra. Aku tidak menyangka wanita yang aku cinta dan puja tak lebih dari sekedar pemuas ranjang sepertimu."
Clara memejamkan mata. Wanita itu mengeluarkan sebutir air hangat, karena kata-kata yang Julian lontarkan, berhasil menancap di hulu hatinya.
Entah kenapa, Clara menyesal sudah melakukan itu. Namun, percuma dia merasa seperti itu karena semuanya sudah hancur.
"Ara, maafkan aku. Sepertinya kita sudah cukup sampai di sini dan terima kasih atas kebenaran yang telah kau tunjukkan kepadaku."
Julian pergi meninggalkan Clara dan meninggalkan Samsul serta Sunanto yang sedari tadi hanya menonton. Beruntunglah restoran ini sepi. Jadi, tidak ada yang menonton selain dua orang itu.
Clara menangis. Wanita itu tanpa kata langsung memalingkan wajah dan berjalan keluar dari restoran.
Dia tidak ingin berusaha lagi, karena yang Julian katakan benar. Semua telah hancur dan Clara harus menerima itu semua.
***
Clara menghentikan mobilnya di sebuah rumah besar yang ada daerah terpencil seperti perkampungan. Tidak ada rumah yang berdiri di sisi kiri, kanan, depan, dan belakang.
__ADS_1
Clara masih menangis. Dia bahkan saat ini sedang terisak dengan kening ditempelkan ke stir mobil.
Sungguh, wanita itu sangat membenci hidupnya. Jika sebelum dilahirkan dulu dia bisa memilih, Clara pasti akan pilih tidak ingin lahir ke dunia busuk ini.
Namun, percuma saja dia menginginkan hal yang tidak mungkin. Dia sudah lahir dan dia benci itu.
Clara menarik napas lalu membuangnya untuk menormalkan degup jantung yang saat ini berdetak kencang.
Setelah dia merasa sedikit tenang. Clara bergerak turun dan langsung melangkah masuk mendekat ke pintu masuk bangunan bertingkat itu.
Sedampainya di dalam, Clara kembali berjalan dan tujuannya adalah lantai dua. Namun, langkahnya terhenti saat dia berlalu di ruang makan.
"Hai, baru pulang?" Suara seorang laki-laki yang sangat lembut, menyapa indera pendengaran. Namun, entah kenapa Clara malah mengepalkan tangan dengan tatapan mata lurus ke arah tangga yang tak jauh di depannya.
"Sini, makan siang dulu, Ara." Laki-laki yang saat ini duduk di meja makan, mengajak Clara makan siang.
Pria itu kelihatan sudah duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Wajahnya dihiasi oleh senyum yang sangat lebar dan terkesan seperti orang mengejek.
Clara memejamkan mata. Kedua tangannya semakin terkepal sangat kuat, "Semua ini gara-gara kau! Hidupku yang dulunya normal, hancur gara-gara kau, Sialan!" Wanita itu berteriak dengan amarah yang menggebu.
Seandainya mereka semua yang menilai, Clara jahat itu tahu, tentang betapa busuknya hidup yang wanita malang itu jalani.
Jika kalian tahu, mungkin tatapan cemooh yang kalian layangkan untuk, Clara akan menjadi iba. Namun, wanita itu tidak suka dikasihani dan dia memilih untuk menjadi seorang antagonis, hingga orang-orang mengecapnya sebagai wanita jahat.
"Kau menghancurkan hidupku, Rama! Kau perusak kebahagiaanku." Clara terduduk jatuh kelantai. Sungguh, wanita itu sekarang ingin melenyapkan diri.
Sementara, laki-laki yang dipanggil Rama tadi hanya menyeringai. Dia melempar garpu yang ada di genggaman tangannya dan setelah itu, dia beranjak untuk mendekati, Clara.
Rama berjalan dengan mimik wajah yang terlihat bahagia. Laki-laki yang memiliki perawakan tinggi, dengan wajah tampan dan kulit khas orang Indonesia itu bergerak duduk di depan, Clara.
Rahangnya yang kokoh terlihat mengetat, tatapan mata yang tadinya lembut berubah tajam, dan senyumnya yang lebar langsung berubah menjadi sebuah seringai.
Rama mengangkat tangan dan mengangkat kepala Clara yang menunduk dengan hanya menggunakan jari telunjuk.
"Kau menderita dan aku bahagia dengan itu semua, Sayang." Dengan mimik wajah yang tidak berubah, Rama berucap dan Clara yang mendengar itu hanya bisa menangis.
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Clara dengan nada sendu.
"Kenapa setiap hari kau menanyakan hal yang sama, Ara? Tentu aku melakukan ini untuk membalas perbuatan yang kau buat kepada keluargaku." Rama awalan berbicara dengan tenang, tapi setelahnya laki-laki itu langsung menunjukkan mimik wajah yang terlihat layaknya seorang iblis tanpa hati.
"Aku tidak akan berhenti sebelum kau hancur sehancur-hancurnya, hingga kau sendiri sudah tidak ingin hidup lagi."
"Bunuh aku sekarang!" Clara berbicara dengan tanpa ada keraguan sedikit pun.
Rama yang mendengar itu menyeringai, "Tidak sebelum aku puas memberikan penderitaan."
***
29 Oktober
"Samsul, bagaimana? Apa kau sudah menemukan tempat yang spesial?" tanya Julian dengan mimik wajah yang dipenuhi oleh kebahagiaan.
Saat ini laki-laki itu tengah berads di kantor. Dia menelepon dengan Samsul, untuk menanyakan tentang tempat yang akan dia jadikan sebagai lokasi mengungkapnya perasaannya.
Iya, setelah berpikir semalaman, Julian akhirnya tidak lagi ragu. Dia sudah putuskan kalau perasaan yang ada dihatinya untuk Airin ini adalah cinta.
Aneh bukan. Dia baru saja berpaling dari Clara, tapi dengan cepat dia jatuh cinta kepada, Airin.
Mungkin karena sering bersama dan dapat perhatian lebih, Julian jatuh cinta. Sebenarnya, perasaan suka sudah dari dulu dia punya, tapi yah begitu.
Karena hadirnya, Clara membuat, rasa suka itu hilang.
"Iya, semua sudah kami dapatkan dan Ki tinggal mendekorasinya." Julian tersenyum kala mendapati laporan itu dari Samsul.
"Baiklah, kita akan mulai mendekorasinya esok pagi," jelas Julian dengan masih terus menyunggingkan senyum.
...T.B.C...
Guys. aku ada satu rekomendasi bacaan lagi nih. Siapa tahu suka. judulnya, "The Ugly Duckling" karya dari kakak, "Black Rose"
__ADS_1