Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 40. Aku Adalah Raka.


__ADS_3

Julian memperlambat laju larinya saat dia sudah mendekati pintu keluar perbelanjaan bahan makanan. Laki-laki itu memicingkan matanya, menelisik benarkah itu Clara.


"Kenapa dia ada di sini? Bukankah katanya dia ada pemotretan di luar daerah?" Julian bergumam sembari terus melangkah dengan pelan hingga dia berhasil keluar, laki-laki itu diam lebih dulu.


"Ara?" panggil Julian dengan nada ragu-ragu, karena dia takut salah orang. Namun, jika dilihat dari segi postur tubuh, laki-laki itu tidak salah mengenali.


Sementara orang yang dipanggil Ara itu langsung membulatkan mata terkejut. Dia sangat mengenal dengan jelas pemilik suara ini.


"Kau, Ara 'kan?" Wanita itu bergerak menolehkan kepalanya dengan gerakan patah-patah.


"Iyan?" Clara terkejut dengan mimik wajah yang begitu kentara dan sorot mata yang juga membulat terkejut.


Namun, sedetik kemudian wanita itu mengubah mimik wajahnya menjadi sedih. Julian yang melihat itu berjalan cepat dengan kepanikan.


Baru saja dia berdiri di sebuah, Clara. Wanita itu langsung berhamburan masuk ke dalam pelukannya, "Iyan."


Dengan sedikit merengek, Clara memanggil nama sang kekasih. Julian yang mendengar itu memeluk erat tubuh sang puan.


Dia mengusap-usap punggung, Clara yang ternyata sudah bergetar hebat, "Kenapa kau bisa di sini? Bukankah?"


"Anter aku pulang sekarang!" sela Clara dengan nada bergetar layaknya orang yang memang menangis.

__ADS_1


Julian yang mendengar itu menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu seketika lupa dengan keberadaan Airin. Buktinya, tanpa menoleh, pria itu merangkul pundak Clara dan menuntunnya untuk pergi meninggalkan pusat perbelanjaan.


***


Masih di kawasan kota Jakarta, di kawasan Thamrin, terlihat sebuah bangunan tua yang berada jauh dari jalan raya.


Gedung dengan tembok yang sudah dibekap lumut dan dinding yang menghitam layaknya sudah hangus terbakar itu sekarang dikunjungi oleh, Raka dan Airin.


Setelah tadi dari pusat perbelanjaan, wanita itu tidak ingin dibawa pulang. Dia meminta kepada Raka untuk diajak ketempat yang mampu menjernihkan pikiran dari segala hal yang namanya kepelikan.


Sumpah, dibilang malu, tadi Airin malu banget. Dia tidak menyangka Julian akan seperti itu. Padahal, wanita itu tadi sudah sedikit bahagia. Namun, rasa itu ternyata terkesan tidak nyata.


Iya, tidak nyata. Seperti halusinasi yang datang sekilas lalu pergi tanpa bisa diingat, "Mau sampai kapan kau membiarkan aku membawa benda makanan manis ini?"


Airin diam sesaat, karena perasaan de jovu kembali menyelinap ke relung hatinya. Iya, setiap kali melihat senyum, Raka, Airin merasa tidak asing.


Bahkan pancaran kebahagiaan yang dikeluarkan laki-laki itu dari matanya juga terkesan tidak asing.


Sementara di sisi, Raka. Laki-laki itu menjentikkan jarinya tepat di depan wajah, Airin, "Malah bengong, ambil!" Dengan cengengesan dia berucap, membuat Airin tersenyum. Bahkan wanita itu juga tiba-tiba menitikkan air matanya.


"Menangis aja. Lagian di sini sepi. Tidak ada yang akan menertawakanmu." Raka bergerak mengubah posisi duduknya. Dari yang bersila menjadi menurunkan kedua kakinya hingga menjuntai di sisi bangunan lantai dua.

__ADS_1


Airin yang mendengar itu menggelengkan kepalanya. Wanita itu terenyuh, "Tidak ...." Airin menjeda ucapannya yang bergetar karena menahan tangis, "hanya saja aku malu, Ka. Tatapan orang-orang tadi terlihat mengiba dan itu untukku. Apa aku begitu menyedihkan di mata mereka?"


Setelah berhasil mengutarakan itu, Airin kembali terenyuh dengan air mata yang memaksa untuk keluar, "Bukankah sudah aku katakan. Jangan berharap kepada laki-laki itu? Tapi, lihatlah. Kau sudah tahu sikapnya seperti itu, tapi tetap saja membuka hati."


Airin menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bermaksud. Hanya saja, Julian." Wanita itu tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena memikirkannya saja itu membuat dia semakin ingin menangis.


Airin malu, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Raka yang melihat itu diam. Dia membuka bungkus gulali yang tadi dia beli hanya untuk Airin.


Dia tahu, disaat seperti ini, wankta itu akan suka memakan gulali, "Kau ternyata tidak berubah, Sek."


Punggung Airin yang tadinya bergetar langsung berhenti. Wanita itu menoleh dengan mata yang memerah dan dipenuhi air.


"Sek," beo Airin yang sepertinya kembali merasa de javu.


Raka tersenyum, "iya, Ririn pesek. Apa kau melupakan panggilan itu?" Raka menyobek sedikit gulali berwarna merah itu dan langsung dia suapi ke dalam mulut Airin yang tengah menganga.


Sementara, Airin. Wanjta itu memang merasa tidak asing dengan panggil yang dilakukan Raka tadi. Dia tahu, tapi tidak bisa mengingatnya. Persis seperti orang yang berada di ruangan yang di mana itu dia kenal dengan baik, tapi waktu dimatikan lampu dia tidak bisa menemukan jalan keluar.


Nah, Airin seperti itu. Dia merasa oermah mendengar, tapi tidak bisa mengingat dengan jelas. Raka menghela napas saat melihat mimik wajah bingung Airin.


"Rin, Sebenarnya aku adalah Raka." Laki-laki itu menjeda ucapannya hanya untuk menoleh ke arah, Airin yang saat ini fokus melihat ke arahnya.

__ADS_1


...T.B.C...


...Jeng, jeng, jeng...


__ADS_2