Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 39. Ditinggal Lagi


__ADS_3

"Tidak lupa bawa list kan?" tanya Julian yang saat ini tengah berkutat dengan stir kemudinya.


Laki-laki itu bergerak menginjak rem saat mobil yang ada di depannya berhenti mendadak. Julian memanjangkan kepalanya untuk mencari tahu, kenapa kendaraan di depannya itu tiba-tiba menghentikan laju.


Airin yang tadinya hendak menjawab pertanyaan sang suami malah terlempar ke depan, hingga kepalanya nyungsep ke dashboard. Wanita itu meringis, tapi Julian tidak peduli.


"Ini ngapain lagi. Udah tahu jalan raya malah berhenti. Mau mati atau apa nih orang?" Julian mendumel dengan wajah yang kesal.


Airin yang melihat ketidakpedulian suaminya meringis dengan menggeluarkan suara mengerang nyeri. Satu tangannya bergerak mengelus kening. Sungguh perih cuy. Rasanya udah kek kejedot pintu.


Namun, Airin tidak menangis karena kejedot melainkan karena Julian yang tidak memperhatikan dirinya dan malah membunyikan klakson, sembari memunculkan kepalanya di celah kaca mobil yang ada di pintu bagian kanan.


"Hai goblok! Bisa nyetir enggak?" Dengan nads tinggi, Julian berteriak. Jangan tercengang, karena ini salah satu sifat Julian. Tidak bisa dipungkiri, dia masih seorang laki-laki Indonesia berusia dua puluh tujuh tahun. Jadi, maklumi hormon bapak-bapaknya keluar, walau dia masih belum punya anak.


Padahal laki-laki itu baru xsja keluar dari area kompleks, eh sudah dapat kejadian sial begini. Bahkan Airin yang tadi berusaha langsung diam agar kemarahan sang suami tidak teralihkan kepadanya.


Julian memasukkan kembali kepalanya setelah mendapatkan perkataan maaf dari pengemudi mobil yang berhenti di depannya.


Dengan masih mendumel, Julain kembali melajukan mobilnya. Laki-laki itu berhenti tepat di sebelah kendaraan yang tadi ngerem mendadak.


"Pak, cuma mau ngasih tahu. Kalau mau mati jangan ngajak-ngajak." Airin hanya menundukkan kepalanya. Dia takut sekaligus terhibur dengan sikap suaminya yang selalu saja mengomel.


"Maaf pak, sekali lagi saya mohon maaf."


Julian tidak menanggapinya. Dia memilih untuk tancap gas. Sementara, Airin. Wanita itu sekarang tengah cekikikan. Sungguh, padahal semalam dia tidak mimpi apa pun, tapi tiba-tiba dia mendapati suaminya bertingkah seperti ini.


"Dia pada ketawa enggak jelas. Kau pungut daftar list belanja kau itu," kesal Julian yang samar-samar mendengar suara cekikikan, Airin.


Airin langsung memunguti kertas panjang yang berisikan list belanjaannya. Wanita itu tidak berbicara, karena sekarang mood suaminya buruk. Maklum, Julian 'kan hari ini aneh. Jadi, moodnya sering memburuk.


"Udah tahu benda penting malah dibuang," imbuh Julian dengan nada yang sudah tidak ngegas, tapi tetap saja terkesan penuh kekesalan.

__ADS_1


Airin menoleh ke arah Julian, "Aku bukannya mau buang, Mas. Tadi jatuh pas mau nunjukin ke kamu, eh kamunya malah ngerem mendadak. Mana kejedot lagi." Airin memelankan suara terakhirnya.


Julian melirik ke arah istrinya, "Emang aku peduli?" tanya laki-laki itu tanpa ekspresi dan juga hati.


***


"Cumi-cumi, Mas."


"Lewat!" jawab Julian dan Airin yang mendengarnya langsung menghentikan langkah. Wanita itu memutar tubuhnya menghadap ke arah, Julian yang saat ini sedang melihat-lihat ke arah cumi dengan tatapan geli.


Sudah dari beberapa jam lalu mereka sampai ke pusat perbelanjaan bahan makanan.


Sekarang mereka tengah berada di tempat khusus makanan laut, "Tidak yang ini. Kita harus membelinya." Airin menolak dengan mimik wajah yang benar-benar tidak terima.


Pasalnya, Julian sedari tadi tidak ingin mengambil makanan laut jenis apa pun. Tadi dia menolak udang, tapi Airin tidak terlalu mementingkan itu karena Airin tidak terlalu menyukai. Dia suka, tapi sedang gitu.


Namun, ini cumi-cumi. Airin tidak terima jika Julian menolak ini, "Ambil enggak?" dengan sedikit mendelik, Airin berucap.


Julian hanya menaikkan kedua alisnya, "Buka kah aku sudah hilang kita lewat, ya lewat. Kau tahu aku paling anti memakan makanan laut. Jadi, kita pindah dan melihat-lihat makanan ringan saja." Dengan santai, laki-laki itu menjawab.


"Ambil dan bersiaplah aku buang ke jalanan kompleks." Gerakan Airin terhenti.


Dengan mimik wajah nalangsa, wanita itu melepas menjauhkan tangannya, "Aku akan memberimu nanti."


Julian berdecak. Laki-laki itu mendorong troli belanjaan untuk jalan lebih dulu. Dia malas mendengar rengekan Airin yang entah sejak kapan terlihat imut di matanya.


***


"Ditunggu yah, Mas." Wanita penjaga jadi berucap sangat ramah. Julian yang mendengar itu hanya tersenyum kecil dan laki-laki itu mulai bermain dengan ponselnya.


Iya, setelah menghabiskan waktu berbelanja selama dua jam. Sekaramg, Julian sudah berdiri di kasir. Laki-laki itu sendirian, karena tadi Airin izin pergi mengambil cumi-cumi dan juga udang.

__ADS_1


Iya, pas akhirnya Julian mengizinkan istrinya untuk membeli makanan yang sangat-sangat tidak suka dia konsumsi itu. Sungguh, dia tidak tahu kenapa dia bisa berubah pikiran. Padahal dia sangat sulit merubah keputusannya, tapi entah kenapa saat melihat wajah merengek, Airin, dia mengalah.


Jujur, ini kali pertama mereka pergi-pergi bersama dengan suasana yang semestinya. Iya, suasana layaknya suami istri yang tadi berdebat hanya karena lupa mengambil cabai, kemudian mendebatkan tidak ingin ke tempat makanan laut. Pokoknya gitu deh.


Entah kenapa, Julian juga merasa bahagia dan batinnya sedikit terhibur, "Masih belum?" tanya Julian yang sepertinya sudah jengah.


"Sebantar lagi, Mas." Wanita penjaga kasir itu begitu ramah menangapi Julian yang tadi sedikit berdecak kesal.


Julian yang mendengar jawaban itu hendak kembali fokus ke arah ponselnya, tapi kedua matanya melihat sosok wanita mungil yang sangat-sangat familiar di matanya.


"Ara." Julian langsung memasukkan ponselnya dan laki-laki itu berlari meninggalkan depan kasir. Padahal hitungan total pembelanjaannya hampir selesai, tapi dia malah pergi, dan itu bersamaan dengan datangannya, Airin.


Airin yang tadinya hendak menyapa dengan ucapan terima kasih, malah langsung diam. Dia melihat suaminya yang saat ini sedang berpelukan dengan, Clara.


Senyum Airin memudar, semua indra yang ada di tubuhnya tak berfungsi. Padahal saat ini dia tengah dipanggil oleh sang kasir.


Mata Airin mulai berkaca-kaca tatkala dia melihat suaminya pergi dengan merangkul Clara, Apa secepat itu dia melupakan orang yang pergi bersamanya ke sini? batin wanita itu bertanya dan dia langsung tersentak kaget saat sebuah tangan menyenggol bahunya.


"Mbak, dipanggil tuh."


Air mata yang tadinya hendak tumpah, langsung tertahan. Airin tersenyum getir dan langsung menghampiri kasir, "totalnya, 3,5 juta, Mbak. Mau cash atau debit?"


Airin membulatkan mata terkejut, "Apa sebelum pergi suami saya tidak membayar?" tanya wanita malang itu dan Mbak kasir menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Tidak, Mbak." Airin meringis. Dia tidak membawa uang sebanyak itu dan sekarang wanita itu benar-benar diserang kepanikan.


"Bagiamana, Mbak?" tanya penjaga kasir itu kembali.


"Aku akan membayarnya." Seorang laki-laki datang dari sebelah, Airin.


Airin menoleh dan wanita itu langsung tersenyum saat melihat sosok Raka, "Berapa, Mbak?" tanya Raka sembari mengedipkan mata ke arah Airin.

__ADS_1


...T.B.C...


...Komen hujatan kalian untuk Julian...


__ADS_2