Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 13. Siapa Kau?


__ADS_3

Julian menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang kompleks perumahannya. Laki-laki itu membunyikan klakson untuk membuat, Airin yang dia kira ada di dalam rumah keluar menemuinya seperti biasa.


Iya, jika laki-laki itu malas masuk ke dalam rumah. Dia akan membunyikan klakson, "Kenap wanita itu tak keluar juga." Julian mulai menggerutu dengan mengeluarkan decakan di awal.


Julian mulai membunyikan klaksonnya berulang kali, membuat suara melengking memenuhi kompleks. Sepertinya laki-laki itu tidak peduli dengan sekitar, karena sekarang dia dslam suasana hati buruk. Sangat buruk hingga memikirkan hal lain saja dia tidak mampu.


"Sialan, kenapa dia lama sekali?" Julian kembali menggerutu tentu tanpa mau menyebut nama sang istri.


Laki-laki itu seperti tidak sudi menyebut nama Airin. Mungkin mulutnya akan mengeluarkan busa jika mengeluarkan satu pun huruf yang menyusun nama wanita itu.


Padahal nama istrinya terbilang bagus, Arini. Namun, entah kenap Julian tidak pernah ingin menyebutnya.


Julian masih setia di dalam mobil. Laki-laki itu semakin gencar membunyikan klakson hingga tepat di jendela mobilnya, ada sebuah tangan yang mengetuk.


Julian menurunkan kaca mobilnya dan kedua matanya langsung melihat sosok laki-laki tua, "Nak, bisa hentikan suara yang kau buat. Klakson mobil kau membuat ikan-ikan bapak panik." Pria tua itu mencoba menghentikan. Aktivis Julian yang memang benar sangat menganggu.


"Apa masalah, Anda, Pak. Saya membunyikannya di depan rumah saya. Jadi, terserah dong. Kalau merasa terganggu pindah dan bawa ikan-ikan bapak sekalian." Julian yang saat ini sedang kesal, berucap seenak jidat.


Laki-laki tua yang mendapatkan jawaban seperti itu langsung melongo pergi kembali ke rumahnya. Dia khawatir kalau-kalau nanti ikan-ikannya pada mati, karena tidak tahan mendengar bunyi bising yang diciptakan oleh tetangga tak berbudinya itu.


"Kau sudah mengujiku terlalu lama, rongsokan."


Dengan kekesalan yang ada, Julian keluar dari dalam mobil. Dia bergerak membuka pintu kendaraan roda empatnya dengan kasar dan menutupnya pun dengan cara di banting.


Julian berjalan ke gerbang dan kedua mata laki-laki itu membulat saat pagar rumanya digembok, "Pantas saja wanita itu gidak keluar." Julian kembali ke mobilnya.


Dengan kekesalan yang masih membara, dia membuka pintu mobil, lalu memasukkan setengah tubuhnya. Laki-laki itu meraabaa dashboard untuk mencari kunci serep rumah dan gerbang.


Setelah menemukannya, Julian kembali mengeluarkan tubuhnya dan menutup pintu mobil itu dengan kasar. Dia tidak peduli kalau-kalau mobil itu akan rusak.


Mungkin dalam hati dia bergumam, rusak beli lagi.


"Kenapa dia tak memberitahu kalau akan pergi. Tidak biasanya wanita itu keluar tanpa pamit kecuali hari Minggu kemarin."


Julain mencabut kunci saat gembok yang mengikat pengait gerbang sudah terlepas. Laki-laki itu dengan cekatan membuka gerbang, lalu masuk ke pekarangan rumah.

__ADS_1


Dia meninggalkan mobil di luar, karena laki-laki itu pulang hanya untuk mengambil flashdisk dan kembali ke kantor setelah itu.


Julian kembali memasukkan kunci untuk membuka pintu rumahnya dan tidak memerlukan waktu yang lama, Lawang cokelat itu berhasil terbuka.


Laki-laki itu melangkah masuk. Dia langsung berjalan cepat menaiki snak tangga untuk ke kamarnya yang ada di lantai atas.


Sesampainya di dalam kamar. Julian langsung membuka lemari pakaiannya dan dia menarik laci yang ada di dalam sana. Laki-laki itu langsung mengambil flashdisk dan kekesalan di wajahnya langsung menghilang.


"Semoga masih sempat." Julian bergumam dengan penuh harap.


Laki-laki itu berbalik dan hendak kembali berjalan keluar, tapi alunan dering ponsel membuat langkahnya terhenti.


Julian meronggoh saku celana kainnya dan dia langsung menerima ajakan panggilan suara dari sekertarisnya, "Katakan!" kata-kata singkat padat dan jelas, langsung terlontar keluar dari mulut laki-laki itu.


"Tuan, Pak Suryo telah pergi dan sudah tidak ingin lagi menjalin kerja sama dengan, kita."


Dada Julian mulai turun naik dengan cepat dan laki-laki itu berteriak marah sembari melempar ponselnya hingga benda pipih itu beradu dengan lantai, "Sialan, ini semua gara-gara dia. Wanita itu memang pembawa sial dalam hidupku."


Lagi-lagi Airin disalahkan. Tak pernah sekali pun Julian tidak menyalahkan Airin. Laki-laki itu sekarang dalam keadaan murka dan entah apa yang akan dia lakukan kepada istrinya nanti.


***


Tak teras waktu bergulir dengan sangat cepat. Sekarang Airin dan Raka tengah berjalan santai menikmati embusan angin laut yang datar dari pantai Ancol.


Kedua orang itu berjalan beriringan. Tidak ada yang mengobrol, karena sekarang Airin tengah menikmati es krim berbentuk. Spongebob.


Sementara untuk Raka sendiri. Laki-laki itu justru memilih melihat ekspresi wajah, Airin yang kelihatan sangat imut.


"Terima kasih untuk hari ini." Airin mencicit dengan mulut yang masih menikmati es krimnya dan bola mata terasa ke atas untuk melihat wajah, Raka.


Raka tersenyum. Lesung pipinya yang menggoa langsung terpahat, membuat ketampanan laki-laki dua puluh tujuh tahun itu terlihat nyata di mata, Airin.


"Sama-sama," jawab Raka dengan wajah yang menggambarkan kesenangan.


Airin tersenyum dan wanita itu kembali fokus menikmati es krimnya. Kepala wanita itu juga sesekali menoleh ke sebuah kanan untuk menikmati indahnya laut Ancol.

__ADS_1


Iya, Minggu kemarin, Airin pernah ke sini tapi pergi sendiri dan sekarang dia kembali dengan Raka yang menemaninya.


Tidak ada yang berbeda, kecuali suasananya yang terasa ramai karena beberapa jam lalu Raka tidak berhenti bicara.


Iya, berbicara. Dia menceritakan kenangan buruknya saat laki-laki itu memergoki mantan kekasihnya berselingkuh di sini.


Airin yang mendengar itu merasa miris sekaligus lucu. Wanita itu menggelengkan kepala mengenyahkan ingatan tentang kejadian beberapa jam lalu.


"Kenapa terenyuh seperti itu, apa ada yang lucu?" tanya Raka dengan bingung.


Airin menggeleng kepalanya, "Tidak, hanya saja." Wanita itu menjeda ucapannya, membuat Raka penasaran.


"Hanya saja, apa?" tanya Raka yang ternyata sudah menghentikan langkah kakinya.


"Hanya saja aku lelah dan ingin duduk." Raka melongo dan Airin terkekeh. Tadi laki-laki itu berpikir kalau wanita kemasukan.


Raka mengedarkan pandangannya dan sa'i melihat sebuah kursi panjang, "Kita duduk di sana. Sepertinya di situ juga pas untuk menikmati matahari tenggelam."


Airin menganggukkan kepalanya. Dua orang itu kembali berjalan dengan langkah yang beriringan.


"Oh iya, Ka. Dari mana kau mengetahui semua kesukaanku?" tanya Airin, membuat Raka menoleh.


Laki-laki itu tidak menjawab dan dia memilih untuk merebahkan pantatnya di permukaan kursi. Airin yang melihat itu, ikut duduk.


"Entah, hanya menebak saja." Dengan sedikit tertawa Raka menjawab.


Airin yang mendengar itu mencibir.


Mereka berdua diam. Tidak ada yang berniat untuk kembali memilai obrolan karena sekarang pandangan mata mereka, fokus melihat ke depan, tepat ke hamparan samudra.


"Raka." Akhirnya Airin memcah keheningan. Wanita itu sekarang sudah menoleh melihat ke arah Raka yang ternyata juga menatap dirinya.


"Sebenarnya siapa kau?" tanya Airin dengan mata menatap tajam laki-laki itu, "jangan bilang kau orang yang waktu itu berbicara dengan suamiku, tentang tiga puluh hari itu?" imbuhnya dan Raka yang mendengar itu langsung dibuat terkejut.


...T.B.C...

__ADS_1


...Part kedua agak malam yah. ...


...Semoga suka dan jangan lupa kasih hadiah, kasih vote, dan bantu share. Satu lagi, jangan lupa komen. ...


__ADS_2