
"Raka," cicit Airin saat melihat sosok Raka yang saat ini memamerkan wajah ramahnya.
Julian menoleh ke arah istrinya yang saat ini terkejut, tapi masih bisa memamerkan senyum. Apalagi saat ini wanita itu langsung mengurai lingkaran tangannya layaknya seseorang yang takut.
"Ternyata kalian serempak sekali. Sungguh pasang-"
"Mau apa kau ke sini?" sela Julian dan itu berhasil membuat Raka menoleh ke arahnya.
Walau pun tadi kata-katanya kena potong, Raka masih setia menyunggingkan senyum. Laki-laki berwajah ramah dan selalu terlihat ceria itu sepertinya tidak kecewa.
"Oh, aku ke sini hanya untuk mengembalikan ponsel istrimu yang tertinggal di mobilku." Dengan jujur, Raka berucap. Tangan kanannya pun bergerak terulur untuk menyerahkan barang yang dia maksud tadi.
Julian tidak menanggapi, tapi laki-laki itu bergerak menolehkan kepala untuk melihat sang istri yang meringis dengan pandangan dibuang ke sisi kiri.
Julian menggerakkan kepalanya ke atas, "Apa maksud semua itu? Ponsel, istri, mobil, kau-"
"Begini, Mas. Kemarin dia, Raka teman kerja mas mengajakku olahraga pagi. Awalnya aku menolak kan, tapi katanya itu, Mas yang nyuruh. Aku terima aja." Airin menyela dia sepertinya tahu arah pikiran buruk suaminya.
Julian yang mendengar itu menganggukkan kepalanya paham. Dia kemarin juga melihat, tapi pura-pura tidak tahu saja. (gaya-gayaan lu oncom)
__ADS_1
Laki-laki itu menoleh dan melihat ke arah, Raka. Julian bergerak mengambil ponsel istrinya, "Terima kasih, tapi sekarang kami tidak menerima tamu. Jadi, mohon maaf jika aku tidak memintamu mampir."
Tanpa berpikir, Julian berucap. Laki-laki itu tadi memang tersenyum, tapi dia tiba-tiba membanting pintu dan membuat Raka yang sedari tadi tersenyum ramah langsung menunjukkan wajah datarnya.
Laki-laki itu mengepalkan tangan. Dia tidak bisa diperlakukan seperti ini. Bukankah mereka sudah membuat perjanjian, tapi kenapa si kurang ajar itu bersikap begitu tidak sopan.
"Mas, kenapa kau begitu? Raka tamu dan rekan bisnis, Mas loh."
Raka masih bisa menangkap suara khas Airin. Ternyata wanita itu memikirkan dirinya. Mungkin, hari ini memang sebagai tisak lebih dari tamu dan teman. Namun, tidak ada yang tahu hari esok kan?"
***
Airin meringis. Wanita itu menggaruk kepalanya yang tertutup hijab, "Mas, tapi aku juga dong. Aku kan istri, Mas." Dia tidak mau kalah dan Julian yang mendengar itu berdecak.
"Tapi, tetap saja namaku yang ada di surat kepemilikannya. Jadi, aku yang punya dan lebihnya lagi aku bayar pajak."
Airin langsung dibuat bungkam. Julian yang melihat itu berjalan masuk ke ruang tv lebih dulu, "Ingat, ponsel ini aku sita lagi." Laki-laki itu berucap membuat, Airin membulatkan mata.
Airin berlari mengejar suaminya, "Jangan dong. Beberapa hari lalu aku dapat notif kalau episode Upin dan Ipin terbaru bakalan datang, Mas."
__ADS_1
Dengan memegangi lengan suaminya, Airin berucap. Sungguh, ini kali pertama mereka sering berkontak Fisik. Julian yang dipegang pun tidak sadar dan terus saja mendorong-dorong tubuh istrinya menjauh.
Jika kalian ada di sana, mungkin kalian akan tertawa melihat tingkah suami istri itu yang kayaknya bocah.
"Mas, balikin gak!" Dengan nada yang mengancam, Airin berucap. Wanita itu bahkan mengacungkan jari telunjuknya ke arah Julian.
Julian terenyuh mendengar penuturan Airin. Laki-laki itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, "Akan aku kembalikan jika kau berhasil meraihnya."
Airin menyeringai wanita mungil itu langsung melompat untuk meriah ponselnya yang ternyata sangat tinggi. Namun, biar begitu dia tetap berusaha hingga lama kelamaan ia berhasil menyentuh ujung ponslenya.
Julian khawatir. Laki-laki itu berjinjit agar semakin tinggi. Airin tidak tinggal diam. Satu tangannya mulai bergerak menarik baju kaos, Julian dan ternyata itu adalah pilihan yang salah.
Iya, karena itu inisiatif untuk memegang baju Julian, laki-laki itu oleng kebelakang dan mwreka berdua tersungkur jatuh hingga tubuh mereka berhasil melewati punggung sofa.
...T.B.C...
...Julian oh Julian ...
...Dia kerasukan apaan yah? ...
__ADS_1