
"Tidak! Aku mencintai, Raka," tolak Airin dengan memalingkan wajah.
Julian yang melihat itu tersenyum kecut. Dia bergerak bangkit dan langsung menarik kasar lengan kanan milik mantan istrinya.
"Cinta?" beo Julian dan itu berhasil membuat, Airin menaikkan satu alis matanya, "benar kau mencintainya?" imbuh laki-laki itu dengan memamerkan senyum puas.
Airin yang mendengar itu tersentak kaget. Mimik wajahnya langsung berubah tegang. Jujur, sebenarnya Airin masih belum mencintai, Raka.
Tidak bisa dipungkiri, dalam waktu sebulan. Dia tidak bisa jatuh hati dengan laki-laki itu. Malah satu bulan lalu, Airin hampir goyah. Dia ingin kembali ke pelukan, Julian lantaran dia melihat sikap tidak menyerah dari pria itu.
"Apa urusanmu? Kenapa kau akhie-akhir ini selalu mengurusku, hah? Bukankah dulu, kau tidak pernah melirikku dan bahkan menganggapku ada. Jadi, apa ini?"
Airin mengubah topik pembicaraan lantaran dia tidak ingin menjawab pertanyaan yang tadi, Julian lontarkan.
Julian yang mengetahui maksud itu terkekeh, "Aku mencintaimu. Awalnya aku hanya ingin meminta maaf dan menebus kesalahanku, tapi aku terjebak dalam sebuah perasaan yang aku pun tidak tahu kenapa bisa begitu." Biar pun, Julian tahu kalau Airin berniat mengubah topik pembicaraan, dia tetap menjawab pertanyaan mantan istrinya itu.
"Jujur, aku juga sudah tahu kalau ini bukan acara pernikahan. Iya, 'kan?" imbuh, Julian menebak dan itu semakin membuat, Airin terkejut.
Julian tersenyum penuh kemenangan, "Kau mengira dengan pura-pura begini, aku akan berhenti menganggu hidupmu dan keluargamu?" Laki-laki itu terus saja berbicara dan Airin malah semakin dibuat terkejut.
Iya, sebenarnya ini bukanlah pesta pernikahan, tapi ini adalah acara pesta untuk memperingati hari pernikahan Haidar dan Laras.
Nah karena yang buat acara adalah, Haidar. Laki-laki itu membuat pesta yang bertemakan pengantin baru dan keluarga Airin memanfaatkan itu untuk membuat, Julian berhenti meneror rumah mereka.
Iya, selama satu bulan. Selain berdiri di depan pagar, Julian juga banyak mengirimkan hadiah kepada, Airin. Namun, tetap saja laki-laki itu tidak mendapatkan apa pun.
"Kau, kenap-"
"Aku tahu, Airin. Kau lupa aku siapa?" potong Julian bertanya dan lagi-lagi, Airin bungkam, "aku memang tidak paham masalah agama, tapi tidak dengan keluargamu. Kalian semua sangat taat akan agama. Jadi, mana mungkin kau akan menikah disaat usia perceraian kita baru satu bulan," imbuh, Julian dan itu berhasil membuat, Airin mati kutu.
Sumpah, Airin bingung. Dia tidak bisa melontarkan sepatah kata untuk menyanggah ucapan-ucapan benar yang keluar dari mulut, mantan suaminya itu.
"Nak, Airin, calon suamimu sudah menunggu dengan penghulunya, Say-"
Kata-kata girang Haidar langsung tertahan. Laki-laki paruh baya yang siang hari ini sudah rapi dengan tukedo itu, langsung dibuat menganga dengan dua sosok manusia yang seharusnya tidak bersama.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Haidar dengan mata mendelik dan nada yang menggelegar.
Bahkan suaranya tadi berhasil mencapai kamar sebelah, yang di mana di sana, tempat Dafa dan istrinya tengah bersiap-siap untuk mengikuti, tema gila yang dibuat oleh Haidar di perayaan hari pernikahannya ini.
__ADS_1
"Papa ada ap- Kau?" Dafa yang baru datang langsung dibuat marah. Laki-laki yang menggunakan setelan tukedo itu langsung melangkah masuk ke depan.
Di belakang Dafa ada sang istri yang sudah berpakaian pengantin rapi, sedang menggendong anaknya dan datangnya wanita itu berbarengan dengan sampainya Laras.
Semua keluarga Airin berkumpul di sana, kecuali sang anak bontot. Mereka semua berjalan masuk dengan ekspresi yang sangat tidak bersahabat.
Airin yang melihat itu langsung berlari untuk bersembunyi di balik punggung keluarganya. Wanita itu sungguh tidak ingin bertemu dengan mantan sang suami, karena dia tidak ingin merasa goyah sedikit pun.
"Apa yang kau lakukan di sini? Siapa yang mengundangmu, hah? Jangan bilang kau ingin merusak pernikahan ad-"
"Dia sudah mengetahui semuanya, Kak," potong Airin dengan berbisik dan itu berhasil membuat Dafa menoleh ke arahnya.
"Jadi kau sudah tahu, tapi biarpun kau tahu. Jangan, harap aku mengizinkanmu menemui adikku. Lagian siapa yang mengundang-"
"Papa. Tiga hari lalu, Papa mengundang semua keluarga Pranata. Lagian, kita kan semgaja mengundangnya, agar dia tahu kalau Airin sudah akan menikah." Haidar memotong dengan tatapan mata yang lurus ke depan, melihat, Julian yang masih berdiri diam.
Dafa yang mendengar itu berdecak kesal, "Biar pun kau diundang, lebih baik pergi. Acara ini untuk orang yang mempunyai pasangan dan kau-"
"Airin. Dia pasanganku. Bahkan aku sudah membawa cincin pernikahan kami. Jadi, dari pada bohongan aku ingin menikahi, Airin lagi."
Semua keluarga Haidar terkejut mendengar penuturan, Julian yang berbicara dengan begitu gamblangnya.
"Satu lagi. Dari pada memakai penghulu bohongan, aku bisa menelepon penghulu beneran untuk kami berdu-"
"Jaga bicaramu, Julian!" Airin yang sedari tadi diam, memilih untuk mengangkat suara. Julian yang mendengar itu menyunggingkan senyum penuh arti, "aku tidak akan pernah kembali bersama laki-laki sepertimu. Lagian, aku kan sudah memaafkanmu. Jadi, berhenti mengangguku dan biarkan keluargaku hidup tenang."
"Kalau tidak bagaimana?" tanya Julian dan itu berhasil membuat semua keluarga Haidar terkejut. Sumpah, keluarga yang konyol, tapi anehnya, Julian tidak terhibur.
***
Di sisi lain.
Saat ini, Raka tengah berbaur dengan semua orang yang berpakaian sama dengan dirinya, yaitu, tukedo.
Bahkan saat ini mereka semua— para tamu undangan termasuk Raka sudah duduk di sebuah kursi yang di mana, di depan mereka ada satu orang yang berpenampilan layaknya penghulu.
Sungguh, sebenarnya, laki-laki itu hendak tertawa saat beberapa hari lalu dia mendapat kabar, kalau Haidar— ayah dari kekasih hatinya akan mengadakan pesta perayaan pernikahan dengan tema pengantin baru.
Nah, Airin menelepon Raka untuk dijadikan pasangan, karena syarat untuk menghadiri pesta itu haruslah menjadi seorang pengantin.
__ADS_1
Raka menerima, dia berpikir akan belajar juga bagaimana nanti cara dia menyunting, Airin dengan sah.
Selain itu, Raka sendiri yang menyarankan untuk membuat rencana pernikahan palsu dirinya dan juga Airin agar, Julian berhenti mengganggu kehidupan wanita itu serta keluarganya.
"Apa setiap orang yang melangsungkan pernikahan akan tegang seperti ini?" tanya Raka kepada penghulu yang ada di depannya.
"Nah, enggak tahu, Tuan. Saya aja masih lajang, tapi diminta jadi penghulu." Dengan malu-malu laki-laki itu berucap dan Raka yang mendengar itu membulatkan mata terkejut.
"Sung- bentar!"
Raka bergerak meronggoh saku celananya saat sebuah dering telepon terdengar dari sana.
Laki-laki itu bergerak berdiri saat ternyata dia kesulitan mengeluarkan ponslenya dalam posisi duduk.
Ekspresi wajah, Raka langsung berubah. Tanpa berlama-lama atau pun mengucapkan kata permisi. Dia pergi ke arah balkon.
Sesampainya di sana, Raka menoleh ke arah belakang dengan mimik wajah yang serius. Disaat dia tidak melihat orang di sekelilingnya, Raka langsung menerima ajakan panggilan suara dari kontak yang bernama, "Wife"
"Sayang, bukankah ini sudah lebih dari satu bulan. Bahkan udah dua bulan loh, tapi kenapa kau masih belum kembali?"
Gendang telinga Raka langsung mendapati suara bernada menggerutu dari seberang sana, tepatnya dari Amerika.
"Sabar, sweetheart. Bukankah semalam aku mengatakan padamu untuk menunggu dua bulan lagi? Jadi, tenanglah. Percaya, aku akan kembali ke sana dengan seorang bayi. Beri aku waktu sebentar lagi, untuk membuat dia jatuh cinta."
Raka berucap dengan sangat lembut, tapi saat diakhir kalimat. Ekspresi wajahnya langsung berubah drastis.
...The End. ...
Gimana, plot twist enggak nih?
Padahal aku sudah niat untuk publish bab ini untuk besok, agar tamat sesuai jadwal dan kita bisa lanjut ke cerita berikutnya atau bisa dibilang season dua dari cerita ini.
Iya, sebenarnya aku sengaja mempercepat, karena inti kisah ini ada di season dua. Itulah kenapa aku tidak memperlihatkan adanya krenyes-krenyes di sini. Karena semua itu akan ada di lanjutannya.
Yang nyari perjuangan Raka dan Julian. semua akan terjadi di season duanya. Untuk cerita ini hanya berfungsi sebagai penuntut kalian. Padahal aku udah tahan untuk publish besok nih.
Jadi, sampai jumpa di hari Senin yah. Kita akan bertemu di season dua kisah Airin. Semoga ada yang mengikuti.
__ADS_1