
Pagi menjelang, Airin tiba-tiba mengeluarkan ringisan saat dia merasakan kalau ada bias cahaya yang menerpa wajahnya.
Dalam benak, Airin bertanya, jam berapa ini? Kenapa bisa ada cahaya sebelum dia terbangun?
Airin mencoba mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia bahkan bergerak bangkit dari tidurannya dengan sedikit meringis, karena persendiannya merasa pegal.
Siapa sih yang tidak akan pegal kalau tidur di sofa, luasnya aja tidak seberapa dan sialnya wanita itu sudah biasa merasakan pegalnya leher di kala bangun, sakitnya lengan kanan, dan masih banyak lagi.
Namun, itu sekarang tidak jadi masalah karena yang lebih mendominasi kepalanya hanya ada satu pertanyaan, siapa yang menyingkap gorden.
Airin mengucek matanya, berniat untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih bergelantungan manja di bulu matanya.
"Selamat, pagi." Kedua mata, Airin membulat terkejut saat suara serak sang suami menyalami gendang telinganya.
Karena sekarang kedua matanya sudah terbuka, Airin bisa melihat kalau tepat di depan jendela yang terbuka, ada Julian. Sekarang, laki-laki itu tengah menoleh dengan kedua sudut bibir yang mengulas senyum.
Airin kikuk. Dia bingung harus mengeluarkan reaksi apa. Pasalnya, ini sudah dua kali dia bangun sesudah sang suami. Julian juga, laki-laki itu entah kenapa bersikap aneh.
"Aku sudah menyeduh kopi untukmu. Jadi, aku tunggu di balkon." Setelah mengatakan itu, Julian sedikit berjalan ke samping kiri dan laki-laki itu langsung melangkahkan kakinya keluar menuju balkon.
Airin semakin dibuat bingung, tapi dia tetap menurut. Wanita itu langsung menyusul suaminya ke balkon. Dia tidak membawa serta gelas berisikan kopi panas yang ada di nakas sebelah tempat tidur.
"Pagi yang indah bukan?" Julian bertutur dengan nada biasa saja.
Airin yang baru saja tiba tentu langsung mengerutkan kening, ada apa? Kenapa sikapnya seperti ini?
"Duduklah. Aku ingin mengatakan sesuatu." Dengan menolehkan kepalanya untuk melihat sang istri, Julian bertutur sangat lembut. Sungguh. Airin merasa kalau saat ini dia berada di dalam mimpi, tapi entah kenapa, Julian terlihat begitu nyata.
Dari senyum, cara pandang, dan bentuk alisnya. Tidak ada yang mengarah kalau ini adalah mimpi. Semua sama seperti di Duni nyata.
__ADS_1
Airin menganggukkan kepalanya dan dia langsung duduk di salah satu kursi yang ada di sana, tepat di sebelah kiri suaminya.
Saat ini mereka berdua duduk bersama, menatap objek yang sama, dan merasakan hawa dinginnya suasana pagi.
"Kau baik-baik saja? Apa kepalamu sakit?" tanya Airin yang masih tidak bisa mencerna apa yang saat ini tengah terjadi.
Sementara Julian, laki-laki itu tersenyum. Dia tidak menjawab, tapi malah meraih jemari Airin dan menempelkannya ke kening, "Apa suhu tubuhku panas?" tanya Julian dan Airin menggelengkan kepala untuk menjawab.
Julian tersenyum. Dia bergerak melepaskan tangan, Airin. Laki-laki itu kembali menghadap ke depan, melihat sang fajar yang hendak muncul ke permukaan.
"Maaf."
Airin lagi-lagi dibuat terkejut dan bahkan wanita itu menoleh untuk melihat ke arah Julian yang masih menatap lurus ke depan.
"Heh?" cicit Airin dan itu berhasil membuat, Julian menoleh ke arahnya. Laki-laki itu tersenyum, membuat kedua pupil matanya menyipit.
"Maaf karena sudah meninggalkanmu wak-"
08 Oktober
Airin terjatuh dari atas sofa panjang. Wanita itu langsung mengeluarkan ringisan sembari mengusap keningnya yang tadi lebih dulu jatuh membentur lantai.
"Kenapa harus jatuh pas dia mau minta maaf sih."
Airin bangkit dari terjatuhnya dengan satu tangan berada di pinggang dan satunya lagi masih mengelus kening.
Sial, ternyata itu memang mimpi. Mana mungkin Julian yang sinis, pemarah tiba-tiba bersikap baik seperti itu ada di dunia ini. Itu nol besar. Mustahil ada.
Airin melihat ke sekeliling masih sepi, lampu di kamar juga masih menyala, dan ranjang tidur terlihat masih tertata rapi.
__ADS_1
Airin mengernyitkan kening. Dia melirik ke jam dinding, pukul lima pagi, "Kau sudah bangun?" Airin tersentak kaget saat dia mendapati Julian tiba-tiba keluar dari kamar mandi dengan hanya sehelai handuk yang melingkar di pinggangnya.
Airin dengan cepat menormalkan ekspresinya, "Seperti yang kau lihat," jawab wanita itu dengan nada biasa tanpa ada embel-embel mas yang ternyata sudah berganti menjadi kata kau.
Julian menaikkan satu alisnya, tapi dia sedikit tersenyum kecil, "Padahal aku buru-buru keluar dari kamar mandi hanya untuk mendengarmu mengigau menyebut namaku." Dengan berjalan mendekati lemari, Julian berucap dan laki-laki itu pura-pura buta dengan ekspresi malu yang dikeluarkan istrinya.
Airin malu dan dia langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Dia sampai-sampai lupa kalau banyak kejadian aneh di lagi ini. Mulai dari, Julian yang mandi tanpa harus disiapkan air terlebih dulu, hingga dia tidak menyadari kalau suaminya itu tengah membongkar lemari untuk mencari pakaian.
"Apa sebaiknya aku cuti saja hari ini?" Langkah kaki Airin berhenti tepat di ambang pintu.
Wanita itu memutar tubuhnya untuk melihat sang suami yang ternyata sudah menutup kembali lemari dan sekarang sedang menyandarkan satu pundaknya di sana.
"Buat apa?" tanya Airin dengan tatapan mata yang tidak suka.
"Tentu saja pergi ke rumahmu. Nanti kalau aku tidak ikut, Bapakmu akan menelepon dan mengomeliku sepanjang hari. Kau tahu aku tidak suka jika seperti itu," jawab Julian dengan posisi yang masih sama.
"Tidak usah. Lagian orang tuaku tidak mengundangmu. Kau lebih baik kerja." Airin berjalan mendekati Julian.
Julian yang melihat itu langsung merubah posisi berdirinya. Dia bahkan sedikit mundur untuk memberikan ruang gerak untuk, istrinya.
"Nanti kakak iparku akan datang menjemput. Jadi, kau lebih baik pakai ini dan bersiap-siaplah bekerja." Airin menyerahkan satu set baju kantor dan Julian malah kembali melempar pakaian itu ke dalam lemari.
"Kau punya suami. Jadi, buat apa meminta orang lain mengantarmu pergi? Pokoknya hari ini aku cuti dan ikut mengunjungi keluargamu."
Airin melongo. Baru kali ini dia mendapati Julian keras kepala terhadap dirinya. Padahal dulu, laki-laki itu selalu bersikap acuh 'tak acuh.
"Bukan apa-apa yah. Aku ke sana untuk jaga image. Takutnya, Karen aku tidak menemanimu, mereka melapor ke keluargaku bilang tidak-tidak. Tahu sendiri Bapak dan ibumu itu hobinya berpikiran negatif."
Setelah mengatakan itu, Julian langsung beranjak pergi keluar dari kamar. Sekarang tujuannya adalah ruang tv.
__ADS_1
"Siapkan air untukku. Aku tadi hanya cuci muka." Airin semakin melongo. Jadi, laki-laki itu belum mandi dan dia tadi salah mengira kalau sang suami sudah berubah.
...T.B.C...