
"Raka?" cicit Airin kembali saat dia sudah sampai dan berdiri tepat di sebelah, Julian, suaminya.
Raka yang tadinya tengah asik berbicara dengan, Julian membulatkan mata terkejut. Namun, senyum sumringah terlukis di wajahnya.
"Airin, kau ternyata ikut juga?" Dengan masih mempertahankan mimik wajah yang kaget, Raka berucap dan Airin hanya bisa tersenyum kecil untuk membalasnya.
Wanita itu menoleh untuk melihat ke arah suaminya yang hanya bisa menampilkan wajah datar, "Maaf, aku mengajak dia dipertemuan ini. Soalnya dia kalau malam takut sendiri di rumah," jelaz Julien dengan menyunggingkan senyum yang terlihat benar-benar meminta maaf.
Airin bingung. Wanita itu masih belum bisa mencerna semua yang terjadi saat ini. Sementara, Raka. Laki-laki itu hanya mengeluarkan tawa seolah menjawab tidak apa-apa.
"Wah, kau perhatian sekali, Tuan. Melihatmu seperti ini, membuat jiwa sendiriku meronta-ronta." Dengan sedikit melawak, Rska berucap membuat Airin yang kebingungan tertawa.
Julian menoleh dan Airin langsung diam kembali. Sungguh wanita itu bingung, apakah dia terlalu berharap?
Iya, mungkin Airin terlalu berharap. Sore tadi memang benar, suaminya, Julian mengajak dinner. Namun, dia tidak mengira kalau makan malam yang dimaksud adalah pertemuan bisnis.
Padahal, Airin mengira kalau dinner ya g dimaksud Julian itu adalah, makan malam romantis.
"Ayok. Tidak enak dilihat diluar." Raka berjalan terlebih dulu untuk masuk ke dalam restoran. Lalu Airin dan Julian mengikuti langkah laki-laki itu dari belakang.
Airin berjalan perlahan, membuat Julain menoleh dengan muka garang, "Jangan lelet jika ada di luar rumah, rongsokan!" tekan laki-laki itu dengan nada pelan, membuat Airin tersentak kaget dan menoleh tak karuan.
Wanita itu mempercepat langkahnya hingga sekarang dia menaiki tangga beriringan dengan sang suami.
"Jangan terlalu dekat juga!" peringat Julian dan itu berhasil membuat Airin menghela napas.
Kapan aku benar di matanya? Wanita itu membatin dengan mimik wajah yang mencibir.
__ADS_1
***
Cloud Longe Jakarta, 20:30pm
Airin duduk dengan kepala yang menoleh ke kanan dan kiri, karena sekarang wanita itu tengah terserang kegugupan.
Bagaimana tidak gugup, di sini, tepat di puluhan banyak orang, Airin duduk di salah satu kursi dengan, Raka tanpa ada sosok, Julian yang menemani.
Tiga puluh menit lalu, afau lebih tepatnya saat mereka bertiga duduk di tempat ini, Julian, suaminya meminta izin ke toilet.
Awlanya, Airin ingin ikut, karena pasti nanti akan canggung dengan Raka. Iya, biar pun mereka sudah sering pergi bersama, Airin akan tetap merasa canggung jika ada banyak orang di sekitar.
Bukannya apa-apa, tapi dia takut orang-orang berpikiran buruk mengenai dirinya. Kalian tahu sendiri kan seberapa pedasnya mulut-mulut netizen.
"Kenapa, santai aja, Rin. Bukankah kita sudah sering seeprti ini. Maksudnya berdua gitu." Airin menyunggingkan senyum dengan gugup.
Bahkan wanita itu sedikit merendahkan kepalanya, "I ... iya," ujar Airin gugup.
Airin semakin resah jika seperti ini. Dia takut kalau orang lain berpikiran yang tidak-tidak, "Ka, tolong telepon, Mas Julian." Wanita itu meminta tolong dengarkan tersenyum kikuk.
Raka yang sedari tadi duduk santai sembari menyesap kopinya, mengangguk kepala, "Baiklah. Apa suamimu itu memang sering begini, Rin?" tanya Raka sembari mencari nama kontak, Julian yang tersimpan di ponselnya.
"Tidak, tapi coba telepon siapa tahu terjadi sesuatu di toilet." Airin menjawab dengan masih berpikiran positif.
Raka menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu menaikkan pandangannya ke atas, pun jari telunjuk kanannya bergerak mengetuk meja kecil yang ada di depannya.
"Bagaimana?" tanya Airin dengan panik.
__ADS_1
Raka menggelengkan kepalanya, "Dia menolak," jawab laki-laki itu dan Airin yang mendengarnya mulai dipenuhi kepanikan.
"Tenanglah, nikmati makananmu. Mungkin sebentar lagi dia akan dat-"
"Aku tidak bisa diam dengan tenaga, Ka. Mungkin, terjadi sesuatu dengan mas Julian di wc sana." Airin menyela dengan kepanikan yang tergambar nyata.
"Aku akan menyusulnya saja." Airin bangkit dan Raka yang melihat itu pun ikut bergerak.
"Kalau begitu aku ikut denganmu."
Airin menghiraukan perkataan Raka, wanita itu malah berjalan terlebih dulu, "Kau salah telah membuang orang sebaik dia." Raka bergumam dan laki-laki itu langsung berjalan cepat menyusul Airin yang mungkin sudah tiba di lantai bawah.
Raka terus berjalan. Dia mulai menuruni anak tangga untuk ke lantai bawah, dan gerakan kaki laki-laki itu terhenti saat melihat Airin yang berdiri mematung di tangga paling bawah.
Raka membulatkan mata saat tubuh Airin mulai goyah dan hendak terjatuh ke belakang. Laki-laki itu melangkah cepat dan dia langsung menangkap sosok, Airin yang ternyata menangis.
Raka mengikuti arah pandang wanita itu dan betapa terkejutnya dia saat melihat, Julian yang tengah duduk berdua dengan— Clara sembari berpegangan tangan.
"Ka, antar aku pulang sekarang."
"Tap-"
"Aku hanya ingin pulang dan aku mohon antar aku sekarang!" pinta Airin dengan suara yang sudah bergetar. Ternyata suaminya meninggalkan dirinya hanya karena wanita itu.
...T.B.C...
...Ini empat bab loh, guys. ...
__ADS_1
...Masak iya enggak mau kasih aku hadiah lebih. Nanti aku ngambek loh...
...Makanya, kasih tiket vote, kasih kopi atau mawar bisa juga hati. Jangan lupa komentar....