Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 49. Kenapa Kau Menyetujuinya


__ADS_3

"Mas, Bakso dua." Setelah mengatakan itu, Julian berjalan ke bangku panjang menyusul Airin yang ternyata sudah ada di sana.


Di tatapan mata Julian, Airin terlihat gugup. Buktinya sedari tadi dia melihat kalau istrinya itu menoleh ke arah kanan dan kiri seolah merasa terganggu. Padahal, di warung bakso itu hanya ada mereka berdua dan beberapa orang tua lainnya.


"Santai aja." Julian merebahkan pantatnya tepat di sebelah kanan, Airin.


Airin hanya tersenyum kikuk dia mengangguk kepalanya, "Tumben ngajak makan di luar, bakso lagi. Padahal tadi kita baru selesai bakar lemak loh." Dengan malu-malu Airin, berucap membuat Julian terkekeh.


Entah, laki-laki itu sekarang sangat suka tertawa jika mendengar suara sang istri. Dia tidak tahu kapan yang jelas begitu lah.


"Kenapa? Aku mengajakmu hanya karena tidak mau sendiri di sini. Jangan ge'er." Dengan sedikit sewot, Julian menjawab. Laki-laki itu bergerak meraih sendok dan cakar.


"Mau ngapain? Baksonya aja belum datang." tanya Airin bingung.


Julian menghedikkan bahunya, "Kau akan lihat. Ini cara jitu untuk dilayani cepat-cepat. Aku dan Ara dulu sering begini."


Lihat, laki-laki itu tanpa berpikir menyebut nama selingkuhannya. Padahal, sekarang ada istrinya, "Kalau kau dulu, bagaimana?" tanya Julian yang di mana, sekarang sudah siap dengan dua sendok dan garpu di tangannya.


Airin menaikkan alis matanya, "Maksudnya?" tanya wanita itu tidak mengerti.


Julian berdecak, "Kau dan Raka kan dulu sahabat. Pasti sering dong jalan bareng atau apa gitu." Airin menarik kedua sudut bibirnya.


Wanita itu menundukkan kepalanya, "Kami waktu itu masih kecil. Jadi, paling hanya bermain-main." ujar Airin sedikit malu.


Julian yang mendengar itu tersenyum, "Jadi, waktu itu kalian terlibat cinta monyet?"

__ADS_1


Airin mendongak ke sebelah kanan. Dia menggelengkan kepalanya, tapi juga mengangguk dan wanita itu melakukannya dengan ekspresi wajah panik.


Julian tertawa sekarang cukup keras dan Airin yang mendengar itu langsung melengos ke sebelah kiri, untuk menyembunyikan wajah.


"Mana yang bener? Gelengan atau anggukan?" tanya Julian dengan nada dan mimik wajah yang terenyuh.


"Iya, itu benar. Aku suka sama Raka pas masih bocah, lalu apa masalahmu?" tanya Airin sewot.


Julian menaikkan kedua alisnya. Laki-laki itu menarik bibir bawahnya ke atas, hingga garis lengkung ke bawah tercipta di sana.


"Jadi, bagaimana untuk saat ini?" tanya Juli dan sekarang giliran Airin yang bingung.


"Maksudnya?" tanya Airin yang tidak mengerti.


"Jawab jujur. Bagaimana perasaanmu ke laki-laki itu? Kau mencintainya, 'kan?" tanya Julian kembali dan itu pasti dengan nads bicara yang mengalir begitu saja tanpa ada hambatan.


Dia kan emang berencana untuk membuat, Airin berpaling agar wanita itu menanda tangani surat cerai yang dari pertama mereka menikah sudah diparaf oleh Julian.


"Tidak," jawab Airin cepat, membuat Julian menarik kedua alis matanya, untuk saat ini belum dan aku tengah berusaha jatuh cinta kepadanya, lanjut wanita itu dalam hati.


***


Siangnya, Airin dan Julian ads di rumah. Mereka hanya nyantai di ruang tv dengan Julian yang meminta, Airin untuk memijat kepalanya.


Itukan rutinitas pasangan suami istri yang katanya tidak saling mencintai, tapi segala keperluan si laki-laki selalu disiapkan oleh sang istri.

__ADS_1


Apa pantas itu dikatakan tidak saling mencintai. Apa lagi sekarang. Julian yang tengah duduk lesehan di lantai ruang tv, sedang merebahkan kepalanya di paha, Airin.


Dia dalam posisi seperti itu agar, Airin tidak kesulitan memijit kepala suaminya. Jadi, itulah kenapa, Airin begitu sulit melepas Julian. Dia memang tidak pernah mendapati perlukan baik, tapi sekalinya baik. Julian bisa membuat dirinya meleleh dan lemah.


"Aku ingin bertanya."


Setelah bungkam cukup lama, Airin akhienya bersuara. Wanita itu meminta izin untuk bertanya dan Julian yang saat ini tengah fokus menonton televisi hanya berdahem untuk menjawab perkataan istrinya.


Airin ragu-ragu. Dai menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba melanda dirinya.


"Apa, Rongsokan?" ujar Julian dengan nada bicara yang biasa-biasa saja. Dia tidak kesal, tapi kalian tahu sendiri kalau laki-laki itu lebih suka memanggil istrinya dengan panggilan itu.


Airin juga sudah terbiasa. Dia sepertinya baik-baik saja dipanggil seperti itu. Mungkin karena faktor kebiasaan yang banyak bermain di sini. Jadi, begitulah.


"Anu. Juju, perkataan ini sudah dari dulu sekali mengganjal di kepalaku." Airin mulai basa-basi dan Julian yang mendengar itu hanya berdahem.


"Katakan!" dengan nada pelan laki-laki itu memerintah. Sekarang dia sedang fokus memainkan remote kontrol untuk mencari siaran-siaran lokal yang menurutnya bermutu untuk ditonton.


"Aku ingin bertanya, kenapa kau menyetujui perjodohan kita dulu. Padahal bisa saja kau menolak dan menikahi, Clara, kan?" Mengalir juga pertanyaan yang sudah lama mengganjal di relung hati serta kepala, Airin dan itu berhasil membuat Julian diam dengan tangan kanan terangkat di udara.


...T.B.C...


...Semoga enggak bosan yah....


...Aku harap kalian suka selalu...

__ADS_1


__ADS_2