Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 34. Jangan Tinggalkan Aku.


__ADS_3

"Kenapa kau beru ah pucat seperti itu?" tanya Raka yang sekarang tengah mengendarai mobilnya untuk mengantar Airin pulang.


Airin diam. Wanita itu memilih untuk membuang pandangannya keluar. Dia juga mendongak untuk menatap langit yang lama kelamaan dikerubungi oleh pekatnya awan kelabu.


Raka yang merasa didiamkan berdecak, tapi dia tidak lagi berbicara. Laki-laki itu memilih untuk melihat lurus ke depan sembari sesekali menoleh kr arah Airin yang sama sekali tidak bergerak.


"Apa kau takut dengan kilatan petir?" Raka kembali menyeletuk dan itu berhasil membuat, Airin melirik ke arahnya.


Wanita itu menggelengkan kepala untuk menjawab, "Lalu kenapa saat kau melihat ke langit, tiba-tiba raut wajahmu berbuah pucat?" tanya Raka kembali dengan gerakan menoleh cepat ke arah Airin, lalu kembali melihat ke depan.


"Tidak, tapi aku hanya ingin pulang sekarang." Kata-kata yang keluar dari mulut Airin itu adalah percakapan terakhir mereka sebelum hujan jatuh mengguyur Jakarta ditemani Sambaran kilat yang tidak ada henti-hentinya.


***


"Kau yakin turun di sini?" tanya Raka yang saat ini sudah memberhentikan mobil tepat di depan gapura jalan masuk kompleks wanita itu.


Sembari membuka sabuk pengaman, Airin menganggukkan kepalanya. Setelah selesai, wanita itu langsung menghadap ke arah Raka yang sekarang fokus menatapnya.


"Mohon maaf banget, Ka. Bukan apa-apa, tapi aku dari sini ke rumah jalan kaki aja. Sebelum hujan tambah lebat, kau pulanglah. Makasih atas hari ini dan aku pulang dulu."


Airin keluar dari dalam mobil, membuat kata-kata Raka tertahan. Jujur, dia bingung dengan sikap wanita itu, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain melajukan mobilnya untuk pulang.

__ADS_1


Hujan semakin turun dengan lebat, membuat malam hari ini dibekap kedinginan dan di penuhi suara bisingnya Sambaran geledek.


Airin berjalan di tengah hujan dengan langkah yang lebar. Raut cemas terlihat sangat jelad di mimik wajah Airin yang sekarang sudah basah diguyur air yang turun dari langit.


"Kenapa cuaca tiba-tiba berubah seperti ini." Airin meronggoh saku celana trainingnya dan kedua matanya membulat saat dia tidak mendapati adsnya ponsel di sana.


Airin memukul pelan keningnya saat dia lupa, kalau ponselnya tadi dia letakkan di dashboard mobil, Raka. Terlebih lagi kunci rumah dan gerebangnya ada di dalam silikon ponselnya.


Airin menggerutu di dalam perjalanan untuk pulang, "Mobil. Berarti, Mas Julian." Wanita itu tidak melanjutkan perkataannya. Dia memilih untuk membuka gerbang yang ternyata tidak tergembok ataupun terkait.


Airin mendorongnya dan langsung melangkah masuk ke dslam pekarangan rumahnya yang gelap. Dia tidak mau menunggu lama, karena kedua matanya menangkap pintu rumah yang terbuka lebar.


Wanita itu berlari. Dia gidaj peduli jejak kakinya tertinggal di lantai rumah. Airin berjalan dengan sangat cepat padahal rumah sekarang dalam situasi gelap, tapi itu tidak ads masalah baginya yang sudah mengurusi bangunan itu.


Airin menoleh dan itu bertepatan dengan sambaran kilat yang mengeluarkan sekelabat cahaya putih, "Mas Julian." Dengan panik wanita itu berlari ke arah sisi tangga saat tadi dia melihat, Julian meringkuk di sana dengan tubuh yang bergetar.


Sementara di sisi Julian. Laki-laki dua puluh tujuh tahun itu menutup telinga dan memejamkan mata. Dia paling benci jika sudah seperti ini.


Jujur, dia takut. Laki-laki itu tidak pernah berani jika sudah melihat yang namanya Sambaran kilat dan bunyi gemuruh. Jika mendapati itu, ingatannya pasti akan kembali saat dulu dia hampir menjadi korban sambaran cahaya itu.


"Mas."

__ADS_1


Julian langsung memeluk Airin yang baru saja berjongkok di depannya, "To...tolong, hentikan suara itu!" perintah Juli seolah Airin bisa melakukan itu.


Airin diam dan tidak menanggapi. Dia milih untuk membantu suaminya untuk berdiri. Ini sebenarnya sudah sering terjadi. Namun, dia tidak pernah melihat Julian meringkuk.


Jika dia melihat langit tiba-tiba mendung. Julian akan bersiap-siap menutup semua ruangan hingga dia tidak bisa melihat sambaran kilat. Kalau suara sih sebenarnya tidak masalah, walau tetap sekujur tubuhnya akan bergetar.


Fobia ini dia dapatkan saat dia berusia 12 tahun. Waktu itu Julian pergi mengunjungi rumah kakek dan neneknya.


Waktu itu kalau tidak salah sore hari yang di mana, langit tiba-tiba menjadi kelabu. Julian di minta oleh kakek dan neneknya untuk masuk ke dalam rumah, tapi laki-laki itu keras kepala.


Bukannya menurut dia malah melanjutkan bermain di bawahan pohon mangga. Dia beranjak pulang karena hujan mulai turun rintik-rintik.


Julian pergi dari bawah pohon, tapi bocah dua belas tahun itu balik lagi karena mainannya tertinggal. Namun, belum sempat dia melangkah sambaran kilat begitu jelas terekam oleh matanya, membuat kedua indera pengelihatan yang dia punya mengabur.


Iya, Julian sempat buta, tapi laki-laki itu mendapatkan kembali pengelihatannya, tapi ketakutannya dengan kilatan putih itu membekas hingga sampai saat ini.


***


"Tutup pintu, jendela, dan gorden!" Julian memerintah, tapi laki-laki itu tidak melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri.


Airin menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Julian, "Tapi, kau tetaplah di sini. Jangan tinggalkan aku." Entah itu kata-kata yang keluar karena rasa takut, Airin tetap merasa senang dan dia terpaksa harus bermalam dengan baju yang basa dan tangan yang mengusap kepala sang suami.

__ADS_1


Mendengar itu salahkah Airin jika meminta kepada Tuhan untuk terus memunculkan kilatan petir.


...T.B.C...


__ADS_2