Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 31. Fobia Tokek.


__ADS_3

The Acre


Clara bergerak memeriksa tiga bilik toilet. Saat ini dia sedang berada di WC milik The Acre, restoran yang tadi dia singgahi bersama Julian.


Iya, Clara masih di sini dan mereka berniat pulang setelah menongkrong lima belas menit lamanya. Namun, sebelum pergi. Dia izin ke Julian untuk ke WC dulu.


Alasannya ada sesuatu yang harus dia buang. Julian yang emang tidak terburu-buru menyanggupi saja. Toh dia juga senggang. Maksudnya, dia libur kerja.


Clara masih saja terlihat mengabsen setiap sudut ruang WC. Dengan raut wajah yang penuh kehati-hatian, wanita itu mulai memainkan ponselnya untuk mencari nomer telepon yang tadi ajakan panggilan suaranya tidak dijawab.


Clara bergerak menempelkan benda pipih itu di depan telinganya. Tanpa ada satu nada dering menunggu, teleponnya ternyata sudah tersambung.


"Kau tidak lupa kan? Apa aku harus mengintakannya lagi?"


Clara langsung gemetar. Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan mimik wajah yang takut-takut.


"Bukankah kemarin aku sudah memberikannya?" ujar Clara dengan nada bicara layaknya orang bertanya.


"Apa itu bisa membayar segalanya. Apa aku harus menyebutkan rentetan kesalahanmu?"


"Kesalahanku? Aku tidak mengenalmu, tidak pernah merasa bertemu, tap-"


"Aku tunggu secepatnya sebelum dia kau lihat kehilangan nyawa."


Panggilan terputus dan Clara langsung ambruk terduduk di lantai saat mendengar kata-kata terakhie dari pemilik si nomer tidak diketahui itu.


Wanita itu menangis dalam diam. Dia bingung, harus melakukan apa. Perempuan itu ingin menangis, tapi kedua matanya tidak sengaja menangkap sosok Julian yang menjadi wallpaper kunci ponselnya.


Clara semakin menangis dalam diam. Dia sudah banyak menyusahkan laki-laki itu, "Kau tidak mau memyusshkanmu lagi." Wanita itu berucap sembari menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Clara meriah ponselnya yang tadi sempat terlepas dari pegangannya. Wanita itu membuka aplikasi kontak.


Wanita itu mencari nomer telepon yang kiranya bisa membantu dirinya untuk keluar dari masalah hari ini. Dia tidak ingin meinta lebih dari Julian, karena laki-laki itu dari dulu sudah banyak membantu hidupnya.


Clara tidak mau terlalu membebankan, Julian. Masih dicintai laki-laki itu saja sudah membuat dia senang.


"Halo, manis, ada apa menelepon?" Clara memejamkan mata. Wanita itu mencoba untuk mengontrol diri. Dia berusaha untuk tidak lagi menangis.


"Apa Daddy punya waktu malam nanti?" Dengan mengeluarkan suara secentil mungkin, Clara berucap.


"Apa kau merindukan, Daddy?" Clara memejamkan mata. Jujur dia sebenarnya malu melakukan ini. Namun, situasilah yang membuat dia melakukan ini.


"Tentu saja rindu. Aku akan menunggu Daddy di tempat biasa." Clara langsung memutus panggilannya sepihak. Dia kembali menangis. Sungguh dia benci situasi seperti ini.


***


Julian menoleh ke arah jalan yang akan membawa dia ke WC untuk mencari keberadaan dari Clara, kekasihnya. Pasalnya ini sudah terbilang cukup lama, tapi wanita itu masih belum keluar juga.


Julian bangkit dari duduknya dan hendak melangkah untuk menyusul sang kekasih, tapi ternyata Clara jauh lebih dulu menampakkan diri.


"Iyan, bisa antar aku pulang sekarang?" Clara langsung bertanya kedua tangannya tidak lupa menggenggam lengan Julian.


Julian menaikkan satu alis matanya, "Pulang, tapi bukannya-"


"Tidak, kita pulang saja. Aku juga merasa lelah. Kau pun pasti sama, kan? Jadi, pilihan terbaik ya pulang."


Julian menatap Clara dengan curiga, tapi laki-laki itu menganggukkan kepalanya untuk menjawab, "Baiklah."


Dua pasangan itu berlalu pergi meninggalkan restoran untuk kembali ke apartemen, Clara.

__ADS_1


***


"Gitu dong. Sama tokek aja takut. Lemah!" Airin mencela. Setelah lima belas menit dia merayu dan membujuk Raka, akhirnya laki-laki itu menurut dengan jaminan dia akan dilindungi dari hewan melata yang menempel di tembok, yang dipanggil dengan sebutan tokek oleh rakyat Indonesia.


Sedikit cerita, Raka itu fobia dengan hewan tokek itu. Dulu waktu kecil saat dia sedang bermain robot-robotan, Raka tidak sengaja melihat ada seekor hewan yang dia kira ibu cicak karena tubuhnya sanga besar.


Nah yang namannya anak kecil pasti ingin tahu banyak. Waktu itu Raka masih berusia delapan tahun. Dia masih agak-agak jahil gitu.


Sebenarnya Raka juga waktu itu tidak ingin melakukan apa-apa. Dia hanya mau fokus bermain robot, tapi suara bising tokok membuat bocah laki-laki itu risih dan secara spontan melemparkan satu mainan robotnya, hingga mengenai tokek dan sialnya hewan itu terjatuh tepat di muka, Raka.


Menangis?


Tentu saja. Bayangkan, tokek yang yang daya rekat kakinya sangat kuat itu jatuh ke wajah, Raka yang masih cute.


"Tadinya aku mengira kau dan Bapak akan selaras, tapi rupanya kau fobia sama kecintaan bapak. Padahal dari sikap dan tingkah laku, kalian berdua itu mirip. Ngeselin dan suka bikin orang mar-"


"Tok-kek!" Raka langsung terjungkal kaget dan berlari di belakang, Airin saat dia melihat tepat di depan pintu ada seekor tokek yang menganga.


Airin tertawa. Wanita itu tidak terkejut, karena dia sudah tahu pasti kalau Bapak akan mengagetkannya seperti itu.


Benar saja, suara tawa seorang laki-laki langsung memenuhi sudut rumah, "Selamat datang anak, Bapak." Dengan suara yang riang, Bapak menyambut kedatangan anaknya. Di tangan laki-laki tua itu juga masih ada seekor tokek.


"Fix, aku pulang, Rin." Raka berbalik dan hendak melangkah, tapi Bapak jauh lebih dulu berlari dan menghadang jalan keluar laki-laki itu.


"Oh tidak boleh. Pantang pulang sebelum perut kalian kenyang. Jadi, mari. Yang lain sudah menunggu di halama belakang rumah." Raka tidak bisa berkata apa-apa saat Bapak menakut-nakutinya dengan ekspresi wajah konyol. Persis layaknya seorang bocah.


Apakah dia bersikap seperti ini hingga Airin mengatainya sebelas dua belas dengan laki-laki pecinta Tokek di depannya.


...T.B.C...

__ADS_1


__ADS_2