Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 29. Mengunjungi Calon Katanya.


__ADS_3

...•...


...Istilah benci jadi cinta? Benarkah adanya? Jika benar, apakah kita bisa menyimpulkan kalau Julian seperti itu? Benci dan Cinta, mempunyai garis pemisah yang sangat tipis hingga kita tidak bisa membedakan dua perasaan itu....


...• ...


^^^•Lombok, 12 Maret 2022, 12.17am•^^^


...Stay reading...


•••


"Bukankah dia Airin?" celetuk Clara kembali dan itu berhasil membuat, Julian sadar dan langsung memalingkan wajah.


Laki-laki itu memilih untuk melihat ke arah pujaan hatinya yang tengah menatap ke arah, Airin.


Julian meraih jemari sang puan yang tadi terlihat menunjuk ke tempat di mana sekarang, Airin dan juga Raka sedang bercengkrama. Saling bertukar tawa, saling melucu, dan tidak jarang mereka ngakak bareng. Entah apa yang di orang itu lihat, tapi Clara dapat menangkap kalau di sana, Airin bahagia.


Wanita itu baru kali ini melihat istri dari kekasihnya itu, tersenyum, "Iya kan, Yan? Dia istri-"


"Lebih baik kita kembali. Bukankah tadi katanya kau capek?" Julian menarik Clara untuk berbalik.


Padahal tadi, dia hendak mendekati Airin. Namun, langkahnya terhenti saat Raka datang dengan tergesa-gesa, pun Clara yang juga ikut menghentikan dirinya.


"Iya, tapi karena kau lama makanya aku niat nyusul, eh malah ketemu di sini." Clara langsung melupakan tentang, Airin.


Julian yang mendengar penuturan kekasihnya itu, tersenyum, "Maaf," ujar singkat laki-laki itu.


Clara tersenyum dan mengangguk kepalanya. Dia bergerak menarik tangannya dari genggaman jemari, Julian yang besar.


"Ayok!"


Julian terseret saat Clara menariknya. Laki-laki itu tersenyum, tapi saat dia menoleh ke belakang. Senyumnya memudar.

__ADS_1


'bukannya menjaga rumah. Kau ternyata begini,' batin laki-laki itu layak sebuah lawakan.


Menjaga rumah, katanya. Percuma di jaga kalau pemiliknya juga gidak pulang. Omong kosong, bukan?


***


Di sisi Raka dan Airin.


"Astaga, lucu, Ka. Terus gimana nasib orang yang ngatain kamu bapak-bapak itu?" tanya Airin dengan suara tawa yang tidak bisa mereda.


Raka juga ikut tertawa, tapi mimik wajahnya kelihatan memerah menahan malu. Pasalnya tadi ada anak remaja tempat dia membeli air mineral ini memanggilnya bapak-bapak.


Tentu Raka cengo. Dia tidak tahu kalau yang dikira bapak-bapak itu dirinya. Jadi, Raka diam saja walau si anak remaja penjaga toko itu memberikan belanjaan, sampai ada ibu-ibu yang menyeletuk dan membuat, Raka sadar kalau dialah bapak-bapak itu.


Sebenarnya tidak masalah sih dia dipanggil seperti itu, asal berada di kantor. Namun, jika diluar jam itu, kebanyakan Raka dipanggil, Bang.


Bahkan orang tuanya saja manggil Raka dengan sebutan, Bang. Ini malah anak bau kencur panggil dia bapak, apakah wajah, Raka setua itu?


"Makanya, nikah." Airin terbawa suasana dan dia tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang pasti akan membuat Raka menggodanya.


Tuh, baru saja kan.


Airin langsung diam. Tawanya yang tadi menggelegar langsung menguap digantikan oleh tatapan mata yang tajam.


Raka tersenyum seolah ekspresi yang Airin keluarkan saat ini tidak berdampak sama sekali, "Ka-"


Perkataan Airin terhenti saat suara dering ponselnya terdengar. Wanita itu bergerak untuk meronggoh kantung celana trainingnya.


"Mama," gumam, Airin saat dia mendapati nomer dengan nama kontak, Mama tertulis di layar ponselnya.


Airin tidak mau berlama-lama. Wanita itu langsung menerima ajakan panggilan suara itu dan dia bergerak cepat menempelkan benda pipih itu di depan telinga.


Airin seketika melupakan kemarahannya kepada, Raka. Saat ini wanita itu tengah tersenyum dan Raka sedang mengabsen setiap inci garis wajahnya yang tertarik gara-gara senyum yang dia buat.

__ADS_1


"Ada apa, Ma? Tumben nelepon." Airin memulai obrolan.


"Lagi apa, Sayang?" Airin tersenyum tatkala suara riang milik ibunya menyalami gendang telinganya.


"Enggak lagi ngapa-ngapain. Cuma duduk-duduk bareng sama temen, Ma. Emang ada apa?" tanya Airin basa basi. Dia tidak mengetahui kalau sekarang Raka tengah memandangnya cukup dalam. Bahkan laki-laki itu sesekali mengeluarkan sebuah tawa kecil.


Airin melirik ke arah Raka karena dia merasa sedari tadi diperhatikan. Namun, saat dia melihat, ternyata Raka tidak meliriknya sedikit pun. Malahan laki-laki itu sedang bersiul dengan mata menerawang udara.


Apakah Airin terlalu ge'er?


Wanita itu menghedikkan bahunya dan memilih fokus kepada lawan bicaranya di telepon.


"Temen, emang Julian ke mana?" Ibarat salat wajib, entah kenapa pertanyaan itu selalu muncul. Tidak dari ibu mertuanya atau pun ibu kandungnya. Pasti jika dia menelepon, pertanyaan tentang Julian wajib terlontar dan Airin juga akan menjawab.


"Lagi dinas luar kota. Sepertinya malam nanti pulang." Airin langsung mendapat jawaban oh dari orang yang ada di seberang sana.


"Kau bilang tadi ada di Suropati kan?" Airin mengangguk kepalanya. Padahal wanita itu tidak sedang berbicara tatap muka, tapi tetap saja dia seperti itu.


Mungkin bukan Airin saja, tapi bisa dibilang hampir semua orang jika menelepon pasti melakukan gerakan kepala.


"Iya, terus?" tanya Airin kembali dan gendang telinganya langsung menangkap sebuah suara tawa kecil.


"Kebetulan. Datanglah mampu ke rumah, Rin. papa, mama, dan adikku merindu. Sekalian ajak juga temanmu!" Airin melotot. Dia hendak menolak, tapi bunyi panggilan suara terputus jauh lebih dulu terdengar.


Raka menaikkan satu alis matanya, "Ada apa?" tanya Laki-laki itu setelah bosan diam san hanya memperhatikan Airin yang sedari tadi menelepon dengan banyak ekspresi.


Airin menoleh ke arah Raka dengan mimik wajah yang nalangsa, "Aku di minta, Mama untuk pulang." Wanita itu menjawab, tapi hanya setengah.


Raka yang mendengar itu menaikkan satu alis matanya bingung, "Lalu, bukankah itu bagus?"


"Bagus dari mananya. Dia juga meminta aku membawamu, Ka." Raka langsung tersenyum dan dia bergerak bangkit dari duduknya.


"Kalau begitu, ayok! Bukankah ini langkah besar untuk mengenal calon mertuaku kelak?" Airin semakin dibuat melongo. Melihat reaksi Raka. Dia tidak berani memikirkan seperti apa nanti saat dia bertemu dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Tapi, yang paling dia takut adalah. Dia tidak mau Raka bertemu dengan Bapaknya, karena dalam penilaian Airin. Setelah dia mengenal Raka, dia meras laki-laki itu memiliki sifat yang sama dengan, Papanya. Jadi, itulah kenapa dia mengatakan akan kacau nantinya jika dua orang itu bertemu.


...T.B.C...


__ADS_2