Petaka Karena Perjodohan

Petaka Karena Perjodohan
Part 17. Dinner


__ADS_3

Julian bungkam. Dia tidak menjawab atau pun bereaksi. Pria itu malah memilih untuk mengepulkan asap rokoknya dan setelah dirasa habis, barulah laki-laki itu tersenyum pun bergerak bangkit dari duduknya.


"Silahkan masuk, Tuan Satriawan." Julain dengan nada sopan mengundang, Raka Satriawan untuk masuk ke dalam.


Raka, menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu menoleh keluar, "Terima kasih," ujarnya sopan kepada seorang pelayan yang tadi menuntunnya ke tempat pribadi ini.


Laki-laki itu masuk dengan kepala yang mengabsen seluruh isi ruangan yang dipenuhi dengan warna putih. Bahkan sofa tempat Julian tadi merebahkan pantatnya itu berwarna putih.


"Jangan terlalu gugup, Tuan. Di sini hanya ada kita berdua. Jadi, santai." Julian melangkah ke depan degan tangan kanan yang terulur, berniat mengajak Raka berjabatan.


Raka yang melihat itu tentu berdiri diam dan menyambut jabatan tangan dari, rekan bisnisnya ini. Dia bahkan tidak lupa menghadiahkan senyum untuk Julian yang berwajah datar.


Iya kan, siapa tahu dengan dia memberikan senyum. Julian bisa sedikit mendapatkan sikap ramah tamah dan tidak muda marah-marah.


"Silahkan duduk." Julian menyamping memberikan, Raka jalan untuk mendekati tempat duduknya.


Raka mengangguk. Laki-laki itu sepertinya tidak bisa berhenti untuk tersenyum, "Makasih." Dengan langkah yang tegas, dia mendekati sofa dan langsung merebahkan pantatnya di sana.


Raka menyusul laki-laki itu. Dia bergerak untuk mendekat ke sofa yang tadi dia duduki, "Santai, Tuan. Kita hanya akan melakukan oba-"


Perkataan Julian terhenti saat ketukan pintu terdengar menyalami gendang telinganya. Laki-laki itu menoleh ke arah pintu dan itu bersamaan dengan raka yang juga melakukan hal sama.


"Masuk!"


Pintu itu langsung terbuka saat, Julian berseru. Di depan pintu terlihat dua pelayan wanita berdiri dan langsung melangkah masuk dengan kedua tangan yang membawa nampan.


Yang masuk pertama adalah seorang wanita yang membawa nampan berisikan makanan Beef Tanderloin.


Salah satu makanan yang cukup diminati di restoran ini. Pelayan wanita itu meletakkan sepiring Beef Tanderloin di hadapan Julian dan satu lagi di hadapan Raka.


"Silahkan dinikmati." Si pelayan wanita itu menepi, membuat pelayan yang ada di belakangnya bergerak maju.


Pelayan yang baru maju itu langsung memberdirikan gelas kaca berkaki tinggi itu tepat di sebelah piring makanan Julian dan Raka.


Setelah melakukan itu, si pelayan wanita langsung membuka tutup botol, membuat aroma khas red wine menusuk indera penciuman, Raka dan juga Julian.


Dengan gaya yang elegan, wanita itu menuangkan isi yang ada di dalam botol. Dirasa cukup, dia langsung beralih ke gelas kaca milik, Raka.

__ADS_1


"Terima kasih," ujar Julian, membuat dua pelayan wanita itu menundukkan kepala hormat.


Sementara, Raka sendiri. Dia hanya melayangkan senyum untuk berterima kasih, "Pelayanan yang sempurna, bukan?" tanya Julian setelah dua wanita tadi pergi.


Raka tersenyum, "Yap, tapi menurutku ini terlalu berlebihan, Tuan Julian. Kenapa Ki tidak membahas tentang pekerjaan di kantor saja?"


Julian menyeringai. Dia meriah bungkus rokok yang beberapa menit lalu dia letakkan di atas meja kecil yang ada di tengah-tengah sofa.


Julian mengeluarkan sebatang rokok lagi dari dalam sana, "Rokok." Laki-laki itu menawarkan barang yang mengandung nikotin itu kepada, Raka.


Raka menolak dengan kepala menggeleng. Julian yang melihat itu menaikkan kedua alisnya, "Anda tidak mengkonsumsi rokok?" tanya laki-laki itu dengan garis kebingungan yang sangat kentara.


"Saya merokok, tapi jarang. Paling di kala suntuk atau sedang tidak enak," jawab Raka dan itu berhasil membuat Mike yang sudah berhasil membakar ujung rokoknya, mengangguk.


Laki-laki itu langsung mengapit batang rokoknya di antara celah jari telunjuk dan tengah, "Berarti kita sama. Saya juga menyesap rokok jika dalam keadaan tidak enak."


Raka langsung menaikkan sebelah alisnya bingung. Julian yang melihat itu menghela napas, membuat asap rokok yang tadi dia sesap berterbangan di udara.


"Aku tidak mau banyak omong. Langsung saja, kau kemarin membawa istriku ke mana?" Raka bertanya dengan nada bicara yang sudah terdengar serius. Sorot matanya pun sudah berubah dan raut wajahnya kembali datar dan terkesan tidak bersahabat.


Raka menyeringai dia meraih gelas berkaki tinggi itu, "Memang kenapa? Bukankah kau sudah mengizinkanku untuk melakukan apa pun selama tiga puluh hari?" Bukannya menjawab, Raka malah balik bertanya. Setelah itu dia dia bergerak menempelkan sisi gelas di bibir bawahnya.


Sementara di sisi, Julian. Laki-laki itu memicingkan mata. Dia paling tidak suka pertanyaannya di jawab dengan pertanyaan.


"Iya, aku memang memintamu melakukan itu. Tapi kenapa berlebihan seperti itu? Dia juga punya kehidupan lain."


"Kehidupan lain?" beo Raka dengan satu sudut bibir terangkat.


"Iya, dia istriku." Julian menjawab dengan tegas.


Raka menyeringai, "Istrimu? Sejak kapan kau menganggap, Airin itu sebagai seorang istri? Bukankah dia hanya rongsokan dan kau akan menyerahkan wanita itu jika aku berhasil membuat dia jatuh cinta?"


Julian langsung bungkam, Karen Raka berhasil menskak mat dirinya. Iya, kenapa akhir-akhir ini dia berperilaku aneh?


***


Jakarta pusat, 17.30pm

__ADS_1


Julain menghentikan mobilnya tepat di sebuah gerbang besar milik rumah keluarganya. Seperti biasa, laki-laki itu hanya akan membunyikan klakson untuk memanggil wanita yang ada di dalam sana.


Iya, kalian udah tahu kan kenapa dia begitu. Yap, Julian malas turun dan masuk ke dalam. Dia juga malas berakting di depan Mama serta Papanya nanti.


"Mas!" Airin menyapa sembari melambaikan tangan. Wanita dore hari ini masih keliatan cantik dengan setelan hijabers masa kininya, berlari mendekati mobil suaminya.


Dia mengitari bagian depan, mobil agar sampai di pintu penumpang bagian depan. Julian yang melihat itu langsung bergerak membuka pintu, agar, sang istri bisa masuk.


"Akhirnya, kau tahu, Mas. Tadi si-"


"Diam. Berhenti bicara di saat aku menyetir." Airin langsung bungkam. Dia menyengir.


"Maaf, lupa." Airin layaknya seorang yang penurut langsung tidak bersuara dan dia memilih untuk mengaitkan sabuk pengamannya.


Julian yang sudah melihat istrinya siap, bergerak mengendari mobilnya. Sekarang tujuan mereka adalah pulang ke rumah.


***


"Tadi pagi bukannya kau menemani, Mama ke mall?" Julian bertanya dengan pandangan lurus ke depan.


"Aaa?" Airin malah menganga dengan mata membulat terkejut, karena baru kali ini Julian memulai percakapan.


Jika kalian tahu saja yah. Sepanjang pernikahan mereka. Julian sangat jarang sekali membuka pembicaraan maksudnya, pembicaraan yang santai, kalau marah-marah dia mah sudah ada di urutan nomer satu.


"Kau tidak membeli sesuatu?" Jukian tidak mengulangi pertanyaan sebelumnya.


Airin meringis dan menggaruk kepalanya yang terbalut hijab, "Enggak," jawab waita itu dengan nada pelan.


"Kenapa? Aku setiap bulan memberikanmu uang, kan? Jangan bilang kau sengaja seperti itu, karena ingin menjatuhkan imageku di depan, Mama."


Tuh kan, baru saja Airin senang karena ditanya dengan baik-baik, tapi tidak kurang dari semenit, dia sudah menerima Omelan.


"Aku tidak suka berbelanja baju, Mas. Di rumah, aku sudah punya banyak, masa iya mau beli lagi? kan enggak banget." Airin menjawab dengan tenang dan Julian yang mendengar itu hanya berdecak.


"Terserah kau. Tapi, satu hal. Nanti malam bersiap-siap. Pakai pakaian yang cantik, karena kita akan pergi dinner."


"Aaa?"

__ADS_1


...T.B.C...


__ADS_2